
Satu minggu sudah terlewat yang artinya masa tamu bulanan Nirmala sudah selesai. Itupun di ketahui Dafa pagi ini karena, melihat istrinya itu sudah keramas. Ingin rasanya Dafa menerjang istrinya, tapi pagi ini dirinya ada jam kuliah. Jadi dirinya tidak bisa menjalankan aksinya apalagi Nirmala juga harus pergi ke kantor yang katanya ada rapat bersama beberapa perusahaan lain.
"Mbak nanti malam kan?" tanya Dafa saat mereka sudah berjalan menuju pintu keluar.
"Nanti makan apa?" tanya Nirmala yang belum konek dengan ucapan Dafa. Bahkan Nirmala lupa dengan apa yang dia katakan saat mertuanya berkunjung ke kediaman mereka.
Dafa mendengus mendengar ucapan istrinya. Ini Nirmala yang benar-benar lupa atau malah dirinya berpura-pura saja. "Kan tamu Mbak sudah selesai nih, nanti malam sudah bisa kan bikin cucu untuk Mama sama Mommy?" ungkap Dafa menatap istrinya yang berhenti kala mendengar ucapannya.
Nirmala menoyor kepala Dafa. " Masih pagi tapi pikiran Lo sudah kotor ya?" ucap Nirmala tak habis pikir. Tapi, jujur saja dirinya bersemu kala mendengar ucapan suaminya.
Nirmala memang lupa akan hal itu, lupa akan janjinya kepada Dafa untuk memberikan hak laki-laki itu jika dirinya sudah selesai datang bulan.
"Gue kan juga mengingatkan lo, Mbak. Mana tahu lo lupa sama janji lo kan?"
"Nggak mungkin gue lupa sama janji gue sendiri Daf," kilah Nirmala. Jelas-jelas dirinya memang melupakan hal itu.
"Baiklah gue percaya lo lupa Mbak," Dafa menyodorkan tangannya pada sang istri untuk di ciumnya.
"Lo nggak bareng gue, Daf?" tanya Nirmala setelah mencium tangan suaminya dengan takzim.
"Nggak Mbak, gue naik motor saja Mbak biar cepat sampai kampus." jawab Dafa lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Nirmala. Menyecapi bibir itu untuk memberikan semangat untuk dirinya hari ini. "Gue berangkat Mbak," pamit Dafa akhirnya hanya diangguki Nirmala.
Nirmala masih mematung di teras rumah dengan bibir berlepotan ulah suaminya. Lipstik yang tadi dipakainya sudah menjalar ke dekat dagunya.
__ADS_1
"Ahhh, Dafa lipstik gue!!" kesal Nirmala saat melihat motor suaminya sudah keluar dari gerbang. Nirmala menatap sekeliling dan mendapati anak buahnya yang membelakangi dirinya karena mereka sadar jika mereka bisa saja di pecat sang bos jika menyaksikan apa yang dia lakukan bersama suaminya.
Nirmala kelas merapikan lipstiknya sebelum menuju kearah mobil yang mana Pak Koko sudah berada di samping pintu mobil yang siap untuk mengantar Nirmala menuju kantornya.
*****
Apa yang di tunggu-tunggu Dafa akhirnya ada di depan mata. Kini dirinya selonjoran di atas ranjang menunggu istrinya yang belum selesai dengan ritual mandinya. Sedangkan Dafa sudah mandi satu jam yang lalu. Tidak mungkin dirinya akan kembali mandi untuk melakukan ritual malam pertama yang tertunda sekian bulannya. Dafa sudah tidak sabar untuk meneguk manisnya surga dunia antara dirinya dan Nirmala.
Ceklek!!!!!
Dafa mengalihkan penglihatannya pada sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan kimono. Kaki jenjang nan putih itu membuat jakun Dafa naik-turun.
"Sini Mbak," pinta Dafa menyuruh sang istri untuk duduk di sampingnya.
"Gue belum pakai baju Daf, tunggu sebentar ya," kaki jenjang itu hendak melangkah menuju kemari namun tertahan karena ucapan suaminya.
Nirmala tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan suaminya. Dengan langkah gontai Nirmala berjalan menuju ranjang dan duduk tepat di samping Dafa yang menatap dirinya tanpa berkedip.
"Setelah ini nggak ada lagi kendala kan Mbak?" tanya Dafa jaga-jaga.
"Maksud lo apa? Gue nggak ngerti," ujar Nirmala yang memang tidak mengerti apa yang dikatakan suaminya.
"Ya seperti seminggu yang lalu," jawab Dafa. Ada juga bukan tamu bulanannya hanya ngeprank beberapa jam saja, namun kembali hadir yang membantu hati jengkel dan kesal. Apalagi jika datangnya pada saat-saat yang tanggung.
__ADS_1
"Ya nggak lah, biasanya kalau memang sudah mandi wajib memang sudah tidak ada lagi yang akan keluar," jawab Nirmala jujur. Memang seperti itulah yang selama ini dialami Nirmala tanpa kembali untuk hari esoknya lagi.
"Syukurlah Mbak, gue hanya mastiin itu saja. Gue nggak mau lagi terjadi seperti minggu lalu," ucapnya jujur. Lagian dirinya benar-benar sangat ingin waktu itu. Disaat sesuatu yang lagi naik-naiknya harus dipaksa turun dengan cara yang tidak hormat. Jika sakitnya satu tidak apa tapi, ini sakitnya untuk semuanya. Kalau sakit kepala bisa di obati kalau sakit yang itu gimana cara ngobatinnya.
"Gue mulai ya Mbak?" pinta Dafa yang di angguki Nirmala.
Dafa mengambil tangan Nirmala. Memegang tangannya itu cukup erat seakan takut jika tangan itu akan lari dari dirinya. Mendekatkan bibirnya pada bibir pink milik sang istri yang sudah siap untuk di cecapi manisnya.
Dafa memulai permainannya pada bibir sang istri yang semakin manis saja rasanya. Bahkan Dafa tak ingin melepaskan tautan bibir itu saking enaknya berbagi saliva satu sama lain.
"Eerrggghhh!!!" lengguh Nirmala saat merasakan kenikmatan yang diberikan sauminya.
Dafa yang yang mendengar itu semakin bersemangat. Gejolak dalam dirinya semakin bangkit bahkan tangan Dafa sudah menuntun jari-jari hangat istrinya menuju Leno yang sudah sangat gagah dan kokoh. Tak ada lagi si imut dan si lucu itu, yang tertinggal hanya si gagah lagi perkasa.
Bibir Dafa kini beralih pada bagian leher istrinya. Memberikan bagian itu dengan banyak tanda kepemilikan dari dirinya. Bahkan tanpa cela kulit putih itu sudah berubah seperti tato ulat sayur yang terukir dengan indahnya.
Sedangkan tangan Nirmala semakin asik dengan Leno yang sudah sangat kuat. Beberapa kali pula Dafa mengerang kenikmatan dari sentuhan lembut tangan istrinya.
Udara didalam kamar yang tadinya terasa dingin kini sudah menghangat lantaran gejolak dalam diri ke-dua insan itu semakin menggelora, siap untuk menikmati surga dunia yang tiada duanya.
"Mbak, gue mulai ya?" ucap Dafa menatap istrinya yang tampak terengah-engah.
"Iya," jawab Nirmala sambil memperlihatkan senyum manisnya.
__ADS_1
" Bismillahi Allahumma jannibnaa asy-syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaktana." ucap Dafa lalu setelahnya melakukan bagian inti dari kegiatan mereka pada malam yang syahdu ini.
TBC