ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 08


__ADS_3

Dafa sudah rapi dengan pakaian kuliahnya. Laki-laki itu menuju kamar Nirmala yang tampak tertutup rapat. Mungkin saja gadis itu belum keluar dari kamarnya.


Tok!!!


Tok!!!


"Mbak!!" Dafa berteriak memanggil Nirmala.


Ceklek!!!


"Ngapain lo teriak-teriak di depan kamar gue? Gue nggak budek ya! Jadi biasa saja kalau lo manggil gue." sinis Nirmala.


"Heheh maaf Mbak, gue mau minta uang dong. Uang gue habis Mbak," Dafa menyodorkan telapak tangannya kepada Nirmala.


"Nggak malu lo minta uang sama gue?" sinis Nirmala kepada suaminya itu.


"Ya nggak lah Mbak, buat apa gue malu sama lo. Lagian lo kan tahu jika gue nikah sama lo saat gue masih kuliah. Dan itupun karena ulah lo yang nggak lihat-lihat siapa yang lo ajak nikah. Makanya sekarang jangan salahkan gue jika minta uang sama lo."


Nirmala melenggos malas menatap suaminya itu. Meninggalkan Dafa yang masih mematung di depan pintu kamarnya.


"Mbak kok gue lo tinggal, gue mau minta uang loh ini?" Kembali Dafa berteriak. Ingin rasanya Dafa memasuki kamu istrinya, namun dia takut jika Nirmala marah. Apalagi sudah ada surat perjanjian yang dia tandatangani.


"Berisik!!" Nirmala meletakkan uang ke kertas pecahan 100 ribu di atas tangan Dafa sebanyak 2 lembar. "cukup 'kan?"


"Cukup-cukup Mbak." Dengan senyum manis Dafa menerima uang itu. Memasukkan ke dalam saku celana.


Jika di rumah Mamanya akan memberi 100 ribu tidak akan pernah lebih. Bersyukurnya Dafa memiliki istri sebaik Nirmala.


"Bi sudah masak 'kan?" Dafa menarik kursi untuk di dudukinya.


"Sudah Den," balas Bibi Keke tersenyum manis kepada Dafa. Laki-laki remaja yang sangat tampan di penglihatan Bibi Keke. Tapi jika dilihat lagi, akan banyak wanita akan mengakui ketampanan paripurna milik dafa. Bibit yang sangat unggul, itulah sekiranya kata orang.


Dafa langsung mengambil nasi dan meletakkan di atas piringnya. Menyantap sarapan paginya dalam diam. Jarang sekali dirinya makan satu meja dengan Nirmala. Jikapun gadis itu ada maka dia hanya duduk sambil meminum segelas jus atau bahkan hanya duduk dan mencari gara-gara dengan Dafa.


"Ehhh buset!! Lo makan jangan kek gitu, malu gue lihat cara lo makan." Nirmala yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya menghampiri meja makan. Dia akan ikut sarapan pagi ini, namun matanya menangkan cara Dafa makan membuat tidak suka.

__ADS_1


"Suka-suka gue, ngapain lo yang repot." Dafa melanjutkan makannya dengan tenang. Membiarkan gadis itu mengatakan apapun sesuka hati. "Gue tahu kalau gue itu ganteng Mbak, jadi nggak perlu natap gue segitunya. Ntar lo jatuh cinta lagi sama gue," Pede Dafa dengan menampilkan senyum jahilnya.


"Amit-amit cabang bayi. Gue nggak akan jatuh cinta sama lo. Lo itu hanya anak ingusan yang mampir sebentar di dalam kehidupan gue. lagian lo itu bukan selera gue," Nirmala mendudukkan tubuhnya di sebatang Dafa. Tempat biasa gadis itu duduk.


"Hati-hati loh Mbak dengan ucapannya. Biasanya kalau ngomong kek gitu bisa jadi kenyataan. Apalagi gue ganteng gini, siapa sih yang tidak akan tertarik sama gue. Sudah ganteng, tinggi, putih, apalagi yang kurang dari gue? Nggak ada. Semuanya ada dalam diri gue, Mbak."


"Percuma ganteng, tinggi atau apapun itu. Kalau nggak modal ya percuma." Nirmala menatap sengit laki-laki itu. Sungguh dirinya sangat kesal dengan kelakuan Dafa.


"Ehhh Mbak, sekarang gue memang miskin semenjak menikah dengan lo. Asal lo tahu dulu gue itu kaya ya? Apalagi kebutuhan gue terpenuhi oleh orang-tua gue," Dafa tak terima dikatakan tidak bermodal. Ahhh, tapi memang benar sih dirinya tidak bermodal. Hanya bermodalkan uang orang-tuanya. Namun sekarang sudah bermodalkan uang Nirmala, istri yang tak menganggap dirinya seorang suami. Istri yang hanya menjadikan dirinya korban keegoisan gadis itu.


"Alahh, emang sebelum nikah sama gue lo ada usaha? Nggak kan? Jadi jangan bangga dengan hasil jerih payah orang-tua lo. Yang harus lo banggakan itu hasil jerih kayah lo sendiri."


"Sumpah kata-kata lo bikin gue sakit hati Mbak. Ok ,gue memang belum memiliki apapun untuk saat ini. Lo tahu sendiri kehidupan gue jungkir balik kek gini juga gara-gara lo, Mbak. Lo pernah bayangin apa yang gue rasakan saat menikahi lo? Nggak kan?" Kini Dafa menatap tajam pada gadis yang sudah berstatus sebagai istrinya. Gadis yang tak menghargainya sebagai seorang suami. Gadis yang bisa melakukan sesuatu kepada dirinya dengan cara mengancam.


Nirmala bungkam mendengar ucapan Dafa. Tak ada yang keluar dari bibir gadis itu. Tertutup rapat seakan ada yang mengunci bibir itu.


"Sudahlah, gue berangkat dulu." Nirmala beranjak dari duduknya. Perutnya yang tadi merasa lapar kini hilang dalam seketika. Jujur saja Nirmala juga merasa bersalah karena sudah menyerat Dafa dalam pernikahan yang dia paksakan ini. Namun, ego gadis itu yang teramat tinggi. Sulit baginya untuk meminta kata maaf.


Dafa menatap punggung istrinya yang sudah mulai menjauh. Ada rasa sedih di dalam hatinya saat melihat istrinya tak melakukan perannya yang sesungguhnya. Di dalam lubuk hati Dafa yang paling dalam, laki-laki itu sudah menerima Nirmala sebagai istrinya. Impiannya menikah hanya satu kali dalam seumur hidup. Tidak akan pernah ada yang namanya istri kedua atau ke-tiga. Namun, istrinya sendiri malah membuat perjanjian pernikahan yang hanya satu tahun, bahkan dalam setahun pernikahan itu dirinya tidak boleh merasakan surga dunia. Menyentuh wanita itu saja dirinya tidak di perbolehkan.


"Bi, saya pergi dulu," pamit Dafa kepada Bibi Keke yang tengah membersihkan dapur.


Dafa akhirnya sampai di halaman kampus. Tempat dirinya menuntut ilmu agar menjadi orang yang berguna di masa depan.


"Kenapa wajah lo kusut gitu Daf? Kek nggak ada semangat saja," Reza menepuk bahu Dafa dengan sedikit keras.


"Mata lo salah lihat kali. Yang benar saja laki-laki tampan kek gue nggak ada semangat!"


"Yaelah, wajah lo sudah menjelaskan semuanya kali Daf, ada masalah lo?"


"Gue nggak punya masalah kali Za, ya kali anak tampan ini memiliki masalah," kekehnya tak terima dengan ucapan Reza.


"Iya deh gue percaya sama lo. Oh ya si Ken sudah beberapa hari ini tidak masuk lo tahu nggak dia kemana?" Reza teringat akan sahabat mereka yang satu lagi, Kenan.


"Ntahlah gue juga nggak tahu Za. Dia juga tidak memberi gue kabar sama sekali. Bagaimana jika nanti setelah pulang dari kampus kita kunjungi rumah dia?" tawar Dafa yang diangguki Reza.

__ADS_1


"Baiklah gue setuju." balas Reza yang setuju dengan kata-kata Dafa.


Waktu terus berlalu, tak terasa waktu pulang akhirnya tiba. Reza dan Dafa kini sudah sampai di area parkir dimana motor mereka terparkir dengan indahnya.


"Sayang!!!" Suara yang amat dikenal Dafa, membuat laki-laki itu menoleh ke arah sumber suara. Senyum manis terbit di wajah gadis itu.


"Mau kemana?" tanya gadis itu saat sudah sampai di depan Dafa.


"Kita mau ke rumah Ken, Sayang." jawab Dafa membelai rambut kekasihnya itu.


"Mau ikut Sayang," Gadis yang kerap di panggil Lala itu menyenderkan kepalanya di bahu Dafa.


Dafa melirik sekilas ke arah Reza, tampak laki-laki itu hanya mengangguk pelan.


Dia menyetujui jika kekasih sahabatnya itu ikut dengan mereka.


"Baiklah, ayo naik." Dafa mempersilahkan kekasihnya itu baik ke atas motornya. Kekasih yang sudah menjalin hubungan dengan dirinya selama satu tahun ini.


Setelah itu Dafa maupun Reza menjalankan motor mereka masing-masing. Membelah padatnya jalan raya. Meski begitu jalanan siang ini tidak terlalu macet sehingga mereka sampai di perkarangan rumah mewah milik Kenan, sahabat mereka.


"Mbok, Ken ada?" Pintu rumah Kenan di buka asisten rumah tangga di di rumah itu setelah mereka memencet bell yang ada di dekat pintu.


"Ada Den, mari masuk,"


Ketiga orang itu duduk menunggu di ruang tamu karena, si Mbok memanggil Kenan ke kamarnya.


"Ngapain kalian kesini?" Kenan menjatuhkan bobot tubuhnya di sebrang mereka.


"Kita khawatir jika lo sakit atau apanya. Makanya kita kesini buat ngejenguk lo. Ehh, tau-taunya lo baik-baik saja." Reza beralih ke samping Kenan menoyor kepada sahabatnya itu.


"Iya mana lo nggak kasih kita kabar lagi, biasanya lo pasti ngasih tahun kita," tambah Dafa.


"Sorry gue lupa ngabarin kalian. Tahulah tadi pagi saja gue baru pulang dari luar negeri. Mau ke kampus gue sebenarnya, hanya saja badan gue benar-benar lelah." Jelas terlihat raut wajah Kenan yang tampak lelah. Bahkan mata pemuda itu sedikit sayu, mungkin saja dia kurang tidur.


"Iya-iya deh, orang sibuk mah beda kek kita ini, ya nggak Za?" Dafa beralih menatap Reza yang menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapannya.

__ADS_1


Sedangkan Lala hanya sebagai pendengar dari obrolan mereka bertiga. Gadis itu tak ingin ikut campur dalam pembicaraan kekasihnya yang bahkan tak menyinggung dirinya.


TBC


__ADS_2