
Dafa tengah mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk karena dua hari tidak masuk kantor ulah istrinya yang terus minta di temani. Jika tidak maka, istrinya itu akan ngambek sepanjang hari yang membuat Dafa sakit kepala.
Usia kandungan istrinya yang sudah memasuki bulan kedelapan membuat wanita itu semakin manja setiap harinya. Meski begitu Dafa sangat suka dengan tingkah istrinya yang tidak dia dapatkan saat istrinya tidak sedang hamil. Apalagi istrinya semenjak hamil sering kali meminta jatah yang membuat Dafa berjingkat kegirangan. Kucing kalau di kasih ikan tidak akan pernah nolak, sama halnya dengan Dafa yang tidak akan pernah nolak untuk menaburkan ulat-ulat sawah di tempat hangat istrinya.
"Pak boleh saya masuk?" Rima membuka pintu ruangan Dafa tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ntah kemana Sina sang sekretaris sehingga Rima dengan mudahnya membuka pintu ruangannya.
"Silahkan, ada apa?" tanpa mengalihkan penglihatannya dari berkas yang ada di depannya.
Wanita itu duduk di kursi yang di sediakan di depan meja Dafa. Dengan mudah Rima menikmati ketampanan wajah laki-laki yang berstatus bosnya itu dengan senyum mengembang. Semenjak menjadi CEO, Rima sangat susah untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Karena kesibukan Dafa di ruangannya dan banyaknya pertemuan yang dilakukan Dafa membuat Rima sering kali uring-uringan tidak jelas.
Rasa cinta yang semakin tumbuh di hatinya membut Rima nekat menemui Dafa dan akan mengatakan isi hatinya hari ini juga. Sesuai dengan apa yang sudah rencanakan semalam. Tak ada lagi waktu bagi Rima untuk bertemu dengan Dafa saat melihat betapa sibuknya laki-laki itu akhir-akhir ini. Apalagi Rima tahu jika usia kandungan istri Dafa yang sudah semakin besar dan mungkin saja hampir melahirkan.
Rima tak akan memikirkan bagaimana perasaannya Nirmala, yang jelas kepentingannya sendiri sudah di sampaikan. Lagian Rima juga tidak bisa menolak kemana hatinya akan berlabuh bukan? Hatinya sudah jatuh kepada Dafa semenjak dirinya bekerja di perusahaan milik Nirmala.
"Ada perlu apa?" tanya Dafa saat tak ada reaksi dari Rima. Bahkan terlihat wanita itu sedari tadi memperhatikan dirinya yang membuat Dafa risih.
"Emm, sa-saya mau ngomong sesuatu sama Bapak." jawab Rima dengan grogi.
"Ngomong apa? Bukankah saya udah ngomong kamu mau apa?" Dafa menghentikan kegiatannya sebentar lalu kembali lagi pada kertas yang sedari tadi dibacanya.
"Emm, sa-saya cinta sama Bapak." Pergerakan mata Dafa kini terhenti kala mendengar ucapan Rima. Wanita yang dulu satu defisit dengan dirinya sebelum menjabat sebagai direktur perusahaan.
"Bisa kamu ulangi?" Mata Dafa memicing mendengar ucapan Rima yang terkesan konyol.
__ADS_1
"Saya cinta sama Bapak!" tegasnya yang kini menatap balik ke arah ada Dafa meski dengan tangan dan kaki bergetar.
"Cinta? Kamu tahu jika saya sudah punya istri dan sekarang dia lagi hamil bukan? Tidak salahkan kamu mengatakan cinta kepada seorang laki-laki yang jelas sudah berkeluarga?" Dafa terkekeh mendengar ucapan Rima. Ada-ada saja wanita itu mengatakan cinta kepada dirinya yang jelas sudah memiliki istri.
"Saya tahu Pak,"
"Lalu?"
"Saya tidak bisa menampik jika saya benar-benar mencintai Bapak. Tidak apa jika saya menjadi yang kedua asalkan kita bisa bersama Pak. Saya sangat mencintai Bapak semenjak awal saya bekerja disini," Jujurnya menatap Dafa.
"Kamu jangan aneh-aneh, tidak akan ada seorang wanita yang mau menjadi yang nomor dua," Sinis Dafa menatap wanita di depannya.
"Ada kok Pak, saya tidak apa menjadi nomor dua. Yang penting saya bisa bersama Bapak maka saya siap akan menjadi yang nomor keberapa saja Pak," jawab Rima menampilkan senyumnya. Senyum yang membuat Dafa muak dan tidak suka.
Dafa menggelengkan kepala mendengar jawaban Rima yang tidak dia suka. "Maafkan saya, meskipun kamu meminta saya untuk menomor berapakan diri kamu saya tidak akan pernah menduakan istri saya. Hanya dia wanita tayang akan selalu menemani saya sampai kapanpun. Hanya dia satu-satunya wanita di dalam hati saya,"
"Ok saya akui kamu memang cantik, tapi di mata saya yang cantik itu hanya istri saya. Istri yang kini tengah megandung anak saya."
"Saya bisa kok hamil anak Bapak, dan saya yakin juga bisa menjadi istri yang tak kalah baiknya dengan istri Bapak yang sekarang. Jadi saya mohon mari kita menjalani hubungan juga Pak. Tidak apa-apa jika kita sembunyi-sembunyi yang penting kita bersama." Rima menagap Dafa dengan sorot mata memohon.
Dafa kembali menggeleng tak setuju. Enak saja wanita itu meminta dirinya untuk menduakan istri yang sangat dicintainya. "Sebaik-baiknya seseorang menyimpan bangkai suatu saat juga akan tercium baunya. Sama halnya dengan saya yang mau-mau saja menerima ajakan kamu yang tak ada manfaatnya bagi saya. Maaf, saya tidak akan menduakan istri saya. Mendingan kamu cari laki-laki yang bisa nerima kamu apa adanya dan jangan berharap kepada laki-laki yang sudah beristri jika kamu tidak ingin di beri gelar seorang pelakor. Sekarang silahkan keluar dari ruangan saya karena, tidak akan ada lagi yang mau kamu ucapkan." usir Dafa lembut. Malas rasanya berlama-lama dengan wanita yang tak di sukainya itu.
"Pak saya mohon beri saya satu kali saja kesempatan untuk merasakan bersama dengan Bapak. Saya tidak akan memberitahukan kepada siapapun hubungan yang akan kita jalani. Cukup kita berdaya saja yang tahu Pak, saya janji!" Rima mengatupkan kedua tangannya memohon kepada Dafa yang masih setia duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Silahkan keluar, karena saya tidak akan memberikan kesempatan kepada siapapun. Yang ada di hati saya hanya istri saya, Nirmala!" Dafa menatap nyalang Rima yang masih saja duduk di kursinya.
"Tolong Pak beri saya kesempatan. Berj saya
Kesempatan untuk membuktikan jika saya juga sanggup untuk membuat Bapak menerima saya sama halnya dengan istri Bapak yang bisa membuat Bapak jatuh cinta kepadanya. saya mohon Pak?" Kini Rima melangkah menuju Dafa yang masih setia duduk di kursinya.
"Ngapain kamu?" ujar Dafa terkejut kala Rima sudah berjongkok di depannya yang.
"Pak Saya mohon, beri saya kesempatan untuk membuktikan jika saya juga bisa seperti istri Bapak. Sumpah Pak, saya sangat mencintai bapak, bahkan sudah saya tepis rasa ini tapi tidak bisa Pak, saya cinta sama Bapak?"
"Berdirilah, dan maaf saya tidak bisa. Saya hanya mencintai istri saya. Hanya dia wanita satu-satunya yang membuat saya jatuh cinta setiap harinya," pinta Dafa lembut.
Rima menggeleng. "Tidak Pak, saya mohon!"
"Berdirilah,"
"Mas kamu ngapain!!!" teriak Nirmala yang membuat Dafa dan Rima terkejut.
"Sayang," ujar Dafa menatap istrinya yang kini menatap nanar kearahnya. Bahkan Dafa melihat jika mata istrinya kini berubah tajam kepada dirinya dan Rima.
"Sayang ini tidka seperti ya---"
Blam!!!!
__ADS_1
Bunyi pintu yang di tutup dengan sekuat tenaga oleh Nirmala membuat ucapan Dafa terpotong.
TBC