
"Astafirullah, Bu Nirmala!!!" teriak Sina yang baru saja masuk ke dalam ruangan bosnya. Menyaksikan adegan 18 tahun ke atas itu tengah panas-panasnya.
Nirmala yang mendengar teriakan sekretarisnya langsung saja berdiri dari pangkuan suaminya. Lipstik yang dipakai Nirmala bahkan sudah berlepotan. Bergegas Nirmala menuju mejanya mengambil tissu untuk mengelap bibirnya yang sudah seperti badut.
"Masuk ruangan saya di ketuk dulu pintunya jangan asal masuk kek gini!!" Nirmala menatap nyalang sekretarisnya. Jujur saja di dalam hatinya Nirmala sangat malu karena kepergok berciuman dengan suaminya oleh orang lain. Apalagi Nirmala juga lupa untuk mengunci ruangannya.
"Saya sudah mengetuk pintu ruangan Ibu sebanyak 5 kali tapi tidak ada sahutan. Jadi saya memilih untuk masuk ke dalam sini Bu," jujur Sina kepada bosnya.
"Ahhh, sudahlah. Ada apa kamu keruangan saya?" Malas berdebat Nirmala memilih untuk mengalihkan ucapannya.
"Saya hanya ingin meminta tandatangan Ibu pada berkas ini. Klien kita yang minggu lalu menyetujuinya proyek baru yang kita buat." Sina memberikan berkas penting itu kepada Nirmala yang langsung di sambut bosnya.
Nirmala membubuhkan tandatangan pada berkas tersebut. Setelahnya langsung memberikan kepada Sina. "Silahkan keluar, jika ada sesuatu tunggu sampai saya mempersilahkan kamu masuk. Jangan ulangi lagi hal seperti tadi!" ucap Nirmala memperingati Sina.
'Huhhh, kakau gue tahu lo lagi ciuman sama suami lo ya amit-amit gue masuk ke sini kali.' rutuk Sina di dalam hatinya. Lagian siapa juga yang ingin melihat adegan seperti itu secara live.
"Baik Bu,saya permisi." Sina langsung keluar dari ruangan Nirmala dengan hati dongkol.
Kini pandangan Nirmala beralih kepada suaminya yang asik memejamkan magatnha dengan tenang. Seakan tidak ada yang terjadi di ruangan itu.
"Hehhh, gara-gara lo, gue jadi malu!!" Nirmala berkacak pinggang di hadapan suaminya yang tak membuka mata itu barang sedikitpun.
"Lo denger gue ngomong nggak!!!" bentak Nirmala saat ucapannya tidak digubris suaminya.
__ADS_1
"Astaga Mbak, lo berisik banget sih!! Pliss jangan jangan ganggu gue sebentar saja Mbak. Gue lelah ingin tidur sebentar saja." jawab Dafa yang masih setia memejamkan matanya. Sungguh rasanya sangat malas berdebat dengan istrinya itu. Seakan tiada hari tanpa berdebat di dalam hidup Dafa semenjak menikah dengan Nirmala. Berdebat seakan sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Dafa maupun Nirmala.
"Enak banget lo ngomong gitu ya!!! Lo itu sudah membuat gue malu dihadapan sekretaris gue, dan sekarang dengan seenak jidatnya lo minta tidur sebentar!" Nirmala semakin menatap wajah suaminya yang masih terpejam dengan nyalang.
"Astaga Mbak! Lo bisa diem sebentar nggak sih? Gue beneran ngantuk banget Mbak. Sebentar saja biarin gue tidur. Setelah itu lo boleh marah-marah sama gue." Dafa membuka matanya sebentar lalu kembali menutup netra itu rapat.
"Nggak bisa!!! Setelah lo membuat gue malu dan sekarang Lo malah lari dari rasa malu yang gue miliki. Enak banget hid---"
Dafa segera meraih tubuh istrinya untuk kembali duduk dipangkuannya. Kembali menyatukan kedua bibir itu dan ********** dengan lembut menimbulkan rasa manis dari bibir istrinya. Mata Dafa tetap terpejam menikmati bibir istrinya begitupun dengan Nirmala yang menikmati permainan suaminya. Sekaan rasa marah yang tadi menggelora hilang dalam sekejap.
Dafa melepaskan tautan bibirnya dari bibir Nirmala. Menatap sendu wajah istrinya. Tatapan yang meminta lebih dari sekedar sebuah ciuman. sudah terlalu lama rasanya Dafa menahan gejolak didalam dirinya kepada sang istri.
"Mbak," Panggil Dafa dengan suara parau. "apa pintunya sudah Lo kunci? Gue nggak mau jika kejadian tadi terulang untuk kedua kalinya." ucap Dafa menatap istrinya dengan mata penuh kabut gairah.
Kembali Dafa menyatukan bibir mereka sebelum turun pada leher jenjang sang istri yang tampak menggoda iman. Memberikan tanda kepemilikan pada leher jenjang nan putih itu.
"Ssstttttt," Nirmala mendesis saat Dafa membuat tanda kepemilikan di lehernya. Rasa perih serta nikmat dirasakan Nirmala sekaligus.
"Mbak boleh yang ini?" Dafa nenunjuk daerah depan Nirmala dengan matanya.
Nirmala tak menjawab melainkan hanya memberikan anggukan kecil kepada suaminya. Memberikan izin kepada suaminya untuk melakukan apapun yang diinginkan Dafa.
Mendapat lampu hijau dari istrinya membuat hati Dafa bersorak gembira. Langsung saja Dafa melakukan imajinasi yang sudah jelas tergambar di fikirannya. Melakukan apapun yang ingin dia lakukan kepada bagian depan istrinya. Sungguh sesuatu yang baru pertama kali Dafa lakukan.
__ADS_1
Beberapa kali lengguhan keluar dari mulut istrinya membuat Dafa semakin bersemangat. Semangat 70 yang menggelora keluar dari dalam diri Dafa. Bahkan tangan itu tak berhenti dari benda yang sangat dia sukai itu. Sekaan menjadi candu bagi Dafa. Sungguh nikmat yang baru pertama Dafa rasakan. Tak ingin rasanya melepaskan tangannya dari sana saking nikmatnya benda yang dia pegang dengan lembut.
"Mbak boleh gue minta hak gue sekarang?" Bukan Dafa tak ingin melakukannya langsung, hanya saja dia tidak mau melakukan jika istrinya tidak mengizinkan. Meskipun Dafa tahu Nirmala sudah menjadi miliknya bukan berarti seenak jidatnya Dafa melakukan keinginan meski Nirmaka menolak keras. Sungguh itu bukan diri Dafa sedikitpun.
Kembali Nirmala mengangguk pasrah atas apa yang diinginkan suaminya. Lagian tubuhnya juga sudah menginginkan apa yang Dafa inginkan.
Dafa melanjutkan aksinya pada tahap selanjutnya. Hingga bagian atas mereka sudhs tidak tertutup apapun.
"Dafa dikamar saja, jangan di sini," ucap Nirmala menunjuk pintu khusus yang membuat orang terkecoh jika itu adalah sebuah kamar pribadi.
Dafa menggendong Nirmala ala bridal style. Mendudukkan tubuh istrinya diatas ranjang empuk itu. Kembali mereka menyatukan benda kenyal itu untuk memberikan kenikmatan satu sama lain. Menyesap manisnya bibir pasangan mereka.
Tangan Dafa tidak tinggal diam, meraih apa saja yang bisa diraihnya. Hingga akhirnya tubuh istrinya tidak mengenakan apapun. Memperlihatkan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Bentuk tubuh yang amat sangat sempurna. Bak gitar spanyol yang mengeluarkan nada yang amat indah.
"Indah banget tubuh Lo, Mbak. Gue suka," Dafa berdecak kagum melihat tubuh indah istrinya. Bahkan untuk beberapa saat Dafa tidak melakukan apa-apa hingga akhirnya pikirannya kembali pada mode awal. Penuh dengan gairah yang menggelora.
Dafa membuka satu-satunya penutup yang berada di tubuhnya, hingga memperlihatkan aset berharga yang selama ini dia jaga jenuh cinta.
Nirmala tidak mampu untuk melihat bagian inti suaminya. Rasa takut menyeruak didalam hatinya hingga tubuhnya semakin banyak mengeluarkan keringat.
Sedangkan Dafa kembali mendekati sang istri dengan senyum mengembang dibibir tebalnya.
"Mama!!!!"
__ADS_1
TBC