ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 32


__ADS_3

Akhirnya waktu pulang dari kampus sudah tiba. Tidak seperti biasanya Dafa akan ikut ngumpul bareng kedua sahabatnya. Namun kali ini Dafa memilih untuk pulang lebih dahulu karena, saat ini istrinya sudah berada di dirumah sesuai dengan isi pesan istrinya saat jam istirahat tadi.


Kendaraan roda dua yang membawa Dafa akhrinya sampai di rumah. Langsung saja Dafa meloncat dari motornya. Mematikan mesin motor itu lalu berlari masuk ke dalam rumah untuk segera bertemu istrinya.


"Mbak Mala!!! Gue pulang!!" teriak Dafa saat sudah berada di dalam rumah.


"Jangan berisik, gue nggak budeg sampai lo teriak-teriak kek dihutan gitu." ucapan Nirmala yang tengah duduk di ruang tamu sambil menikmati film korea yang tayang di televisi.


"Heheh gue kira lo di kamar Mbak, makanya gue teriak," jawab Dafa yang langsung mendudukkan tubuh yang di samping sang istri.


Nirmala tak menjawab ucapan suaminya, melainkan terus menatap pada film yang tengah tayang. Film romatis yang baru saja dia beli kasetnya.


"Ehhh, tapi tumben lo siang-siang gini sudah di rumah Mbak? Emang lo ngga kerja apa?" tanya Dafa bingung. Biasanya istrinya itu pulang nanti siap sholat asar namun, kini waktu baru menunjukkan pukul satu siang yang artinya masih ada 2 atau 2 setengah jam lagi waktu Nirmala di kantor.


"Noh," Tangan Nirmala menunjuk pada pagian meja yang berada di samping lemari. Dafa mengikuti arah tunjuk Nirmala.


"Jadi lo bawa kerjaan kantor pulang Mbak?" tanya Dafa memastikan.


"Menurut lo?" Nirmala menatap sekilas kearah suaminya, lalu kembali lagi pada televisi.


"Tapi kok tumbenan?"


"Suka-suka gue," jawab Nirmala yang kembali pada televisi yang menampilkan film kesukaannya.


Dafa hanya menarik nafasnya dalam. Reflek tubuhnya langsung berdiri hendak meninggalkan ruang tamu menuju kamar.


"Mau kemana lo?" tanya Nirmaka menangkap tangan suaminya.


"Kamar Mbak, gue mau mandi gerah banget." jawab Dafa membuat Nirmala melepaskan tangan suaminya. MembiarkanDafa meninggalkan dirinta seorang diri di ruang tamu.

__ADS_1


*******


Dafa dana Nirmala kini tengah berbaring di atas ranjang. Apalagi sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Mbak," panggil Dafa saat Nirmala asik bermain di area dada Dafa. Membentuk garis-garis lurus di dada bidang itu.


"Hmmm, ada apa?" tanya Nirmala yang tetap asik dengan pekerjaannnya.


"Gue mau nagih hak gue malam ini boleh?" tanya Dafa membuat Nirmala menghentikan aksinya.


"Gue belum siap Daf, gue takut sakit," ungkapnya jujur. Nirmala takut merasakan sakit seperti yang pernah dia dengar dan dia baca melalui internet. Nirmala belum sanggup untuk merasakan sakit itu.


"Kapan lo siapnya Mbak? Ini sudah terlalu lama gue nugguin lo siapa Mbak. Sudah terlihat lama gue nahan diri gue untuk nggak nyentuh lo. Gue nggak sanggup nahannya nahannya terlalu lama kek gini Mbak, apalagi lo sering mancing-mancing gue, Mbak," Jujur Dafa. Lagian sekarang miliknya sudah bereaksi saat Nirmala bermain di area dadanya. Membuat simbol-simbol yang membuat Dafa menginginkan hal lebih.


"Gue beneran belum siap Dafa, gue takut, takut jika rasanya sangat sakit." ungkapnya jujur.


Tangan Nirmala merasakan Leno yang sudah hidup di balik baju yang menutupinya. "Dafa," Nirmala menatap suaminya yang memejamkan matanya merasakan kenikmatan tangan Nirmala yang berada tepat diatas Leno.


"Mbak gue nggak kuat jika nahan lagi malam ini Mbak, malam kemaren gue sudah nahan juga hingga pagi sampai membuat kepala gue sakit Mbak," Netra Dafa terbuka perlahan. Menatap sayu wajah istrinya yang juga tengah menatap dirinya.


"Tapi gue takut Daf," Lagi-lagi kata-kata itu keluar dari mulut istrinya.


"Gue akan pelan-pelan Mbak. Mau ya Mbak? Lo nggak kasihan apa ngeliat Leno yang sudah seperti itu?" tanya Dafa yang kini sudah mengeluarkan Leno dari bajunya. Membiarkan Leno di terpa angin yang mungkin saja mengenai Leno yang sudah sangat segar dan maco.


Mata Nirmala membesar melihat Leno yang tidak lagi lucu seperti waktu itu yang dia lihat. Bahkan kini Leno sudah berubah menjadi monster yang siap menerkam mangsanya.


"Ta-tapi bagaimana bisa masuk jika sudah sebesar ini? Gue takut Daf?" ujar Nirmala dengan suara bergetar. Si imut yang dulu kini sudah berubah menjadi monster yang gagah perkasa.


"Gue janji akan pelan-pelan Mbak. Sumpah!!!kepalanya sudah sangat sakit Mbak," ujat Dafa yang kembali meraih tangan Nirmala agar memegang Leno.

__ADS_1


Dafa menikmati hangatnya tangan Nirmala yang menyentuh Leno. Dafa memejamkan matanya dengan rapat menikmati tangan istrinya. "Urut Mbak," pinta Dafa membuat Nirmala tidak mengerti.


"Apa yang harus gue urut Dafa?" tanya Nirmala bingung.


Dafa menuntun tangan istrinya untuk mengurut Leno. Nirmala membiarkan Dafa melakukan apa saja dengan tangannya terhadap Leno.


"Mbak malam ini boleh ya Mbak?" Sekali lagi Dafa menatap istrinya dengan sayu. Menghentikan tangan istrinya yang tengah bekerja dengan sedikit kaku karena belum terbiasa.


Nirmala hanya memberikan anggukan kecil petanda dia menyanggupi ucapan suaminya. Toh percuma saja mengundur jika hari ini pasti akan terjadi.


Dafa langsung mendudukkan dirinya. Membaringkan tubuh istrinya dan langsung saja Dafa menempelkan bibirnya dengan milik sang istri. Memberikan kenikmatan pada benda kenyal itu, menyesap dan saling berbagi saliva.


Dafa tidak hanya bereaksi di bibir saja namun bibir itu juga turun di bagian leher istrinya. Memberikan tanda kepemilikan di sekitar leher putih itu. Tidak hanya satu tanda yang di berikan Dafa, namun Dafa memberi tanda itu di bagian leher istrinya yang putih tanda jeda. Leher putih itu kini dihiasi banyakny tanda kepemilikan dari Dafa. Tak ada celah putih yang di tinggalkan Dafa pada leher istrinya. Seperti seorang kesetanan Dafa tak menghentikan aksinya. Cukup lama Dafa berada di daerah leher istrinya barulah dirinya berpindah ke tempat lain.


Dafa menatap kagum ciptaan Tuhan yang berada di depannya ini. Berdecak kagum melihat betapa mulusnya tubuh sang istri tanpa noda sedikitpun.


"Mbak gue suka, tubuh lo mulus banget, juga harum," ujar Dafa jujur gang masih menatapi tubuh sang istri.


Nirmala tersipu mendengar ucapan suaminya. Memang tidak bisa juga Nirmala pungkiri jika tubuhnya menmang putih tanpa noda sedikitpun.


"Mbak gue boleh mulai kan?" tanya Dafa saat telah selasai menikmati keindahan Tuhan didepannya itu.


Nirmala menganggukkan kepalanya mempersilahkan Dafa melakukan apa yang juga kini tengah dia nanti juga.


Dafa akan melakukan apa yang jadi inti dari kegiatan yang mereka lakukan. "Astaga lo datang bukan Mbak?" seketika Dafa menatap sesuatu pada bagian tubuh istrinya. Gagal sudah rencana indah yang sudah dia susun rapi di dalam otaknya.


Nirmala yang terkejut dengan ucapan suaminya langsung saja menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Ahhh, iya gue lupa jika ini memang tanggalnya Dafa, maafin gue. Kegiatannya di mending dulu untuk beberapa hari kedepan ya?" ujar Nirmala merasa bersalah. Lagian dia juga lula jika sekarang tanggal biasanya dirinya datang bulan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2