
Nirmala menyusul suaminya ke kamar mandi untuk melihat keadaan suaminya yang masih muntah-muntah. Nirmala memijit tengkuk Dafa agar rasa mual yang dirasakan Dafa segera menghilang.
"Mas,kamu sakit apa? Kenapa nggak bilang-bilang sama aku?" tanya Nirmala yang masih setia memijit tengkuk suaminya.
Sedangkan Rima yang terkejut melihat laki-laki pujaan hatinya juga menyusul ke kamar mandi. Bahkan Dafa belum juga berhenti muntah-muntah.
"Huek!!!! Huek!!!" Mata Dafa sudah tampak berkunang-kunang karena air mata yang memenuhi pelupuk mata nan tegas itu.
"A-aku nggak apa-apa Sayang," Sebisanya Dafa menahan gejolak yang semakin ingin keluar dari perutnya. Padahal tidak ada satupun yang keluar dari perut itu melainkan air bening.
"Nggak apa-apa gimana Mas? Lihatlah tubuh kamu bahkan sudah lunglai," lirih Nirmala menatap iba suaminya.
"Bi-bisakah kamu menyuruh dia keluar dari sini?" pinta Dafa kepada istrinya.
Nirmala yang tidak menyadari jika Rima masih berada di ruangannya menatap gadis itu yang mematung di depan pintu. "Kenapa masih di sini Rima? Apa masih ada yang harus kamu bahas sama saya?" tanya Nirmala tak suka. Dapat Nirmala lihat wajah Rima yang khawatir dengan keadaan suaminya.
"Emm iya ad, eh nggak ada lagi Bu. Saya permisi." Gegas Rima keluar dari ruangan Nirmala.
Dafa menghela nafas lega saat Rima sudah tak lagi ada di ruangan istrinya. Bau parfum gadis itu membuat Dafa tak nyaman. Menurut Dafa baunya sungguh sangat menyengat.
Nirmala menuntun suaminya menuju sofa tempat dimana mereka duduk. "Mas kita ke rumah sakit aja yuk? Aku takut sakit kamu semakin parah," ajak Nirmala dengan penuh khawatir.
"Tidak usah Sayang, Mas baik-baik saja kok," jawab Dafa menampilkan senyum manisnya.
Dafa memeluk erat pinggang ramping istrinya. Membenamkan kepalanya pada ceruk leher istrinya yang putih. Bau stroberi membuat Dafa nyaman bahkan sering kali Dafa mengendus-endus leher istrinya membuat Nirmala kegelian.
"Iss geli loh Mas," protes Nirmala saat suaminya semakin menjadi. Bahkan tangan suaminya sudah bergerak dengan sendirinya menuju tempat yang paling di sukainya.
"Nyaman loh Yang, apalagi bau kamu membuat Mas nggak mau jauh-jauh dari kamu" jawab Dafa yang masih asik dengan pekerjaan yang tanpa henti. "Yang pesanin Mas rujak dong? Mas pengen banget loh Yang?" pinta Dafa menatap sendu wajah istrinya.
"Mas tunggu disini dulu biar aku temuin Sina buat beliin Mas rujak. Rujak yang sebrang jalan kan Mas?" tanya Nirmala memastikan karena, tidak mau kembali membeli yang baru lantaran salah tempat.
Daf menganggukkan kepalanya sebelum laki-laki itu merebahkan kepalanya pada sofa untuk memejamkan matanya sejenak. Sedangkan Nirmala keluar dari ruangannya untuk menemui sekretarisnya, Sina.
"Sudah Yang?" Dafa duduk kala mendengar langkah kaki istrinya.
"Sudah." jawab Nirmala.
__ADS_1
Nirmala mengusap kepala suaminya yang berada di atas pahanya. "Kamu kok manja gini sih Mas? Tak biasanya loh kamu seperti ini?" tanya Nirmala bingung.
"Nggak tahu Yang, tiba-tiba saja Mas pengen kek gini terus sama kamu. Bahkan Mas pengen sekali kita pulang dan menghabiskan waktu berdua di rumah Yang," ungkap Dafa jujur.
"Apa kamu sakit Mas? Tapi dahi kamu nggak panas loh Mas," Nirmala meraba dahi suaminya yang masih dengan suhu normal.
"Aku memang nggak sakit kok Yang, Mas hanya ingin bermanja-manja sama kamu," Kini tangan Dafa membelit erat pinggang istrinya. Membenamkan kepalanya pada perut sang istri yang tampak rata tanpa ada lemak.
Tangan Dafa mengelus perut istrinya dengan lembut. Beberapa kali pula Dafa mendaratkan ciuman pada perut rata itu. Ntah apa yang ada di dalam pikiran Dafa saat ini. Rasanya Dafa sangat bahagia berada di posisi saat ini. Tak ingin waktu begitu cepat berlalu. Dafa hanya ingin waktu bergerak pada tempat yang sama tanpa beralih ke tempat yang lain.
Bunyi ketukan pada pintu ruangannya membuat Nirmala menyuruh sang pengetuk untuk segera masuk. Nirmala yakin jika itu Sina, sekretarisnya.
"Ohh ini untuk suami saya Sin," jawab Nirmala.
"Mungkin saja suaminya Ibu lagi ngidam. Sama kek suami saya dua tahun yang lalu. Saya yang hamil tapi suami yang ngerasain ngidamnya. Bahkan beberapa kali suami saya muntah karena tak suka dengan bau-bau yang menyengat. Contohnya saja seperti bawang, bahkan sampai parfum saya saja di protesnya Bu, hehe," Sina terkekeh kala mengingat ngidam suaminya kala itu.
"Hamil?" Dafa langsung mendudukkan tubuhnya kala mendengar ucapan Sina. "Benarkah kamu hamil Sayang? Benarkah apa yang Mas alami sekarang karena di dalam sini ada bayi kita?" Dafa menatap antusias perut rata istrinya.
Nirmala menggeleng. "Nggak kok Mas, bulan kemaren saja aku masih datang tamu bulanan," Nirmala tidak mau lagi terlaku berharap karena, dirinya takut jika hasilnya malah negatif seperti bulan-bulan sebelumnya.
Dafa menatap sendu istrinya. Padahal dirinya sudah sangat berharap jika apa yang dikatakan Sina memang benar. Dirinya benar-benar mengalami ngindam dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
"Mbak beneran suaminya Mbak persis kayak yang saya alami?" Kini Dafa menatap intesn wajah Sina.
Sina menganggukkan kepalanya. "Benar, bahkan sama persis dengan apa yang Mas alami sekarang. Waktu itu juga suami saya tiba-tiba saja pengen makan rujak." ungkap Sina jujur. "Kapan Ibu terkahir datang bulan? Dan apakah bulan ini sudah mendapat tamu bulanan?" Kini Sina menatap Nirmala. Tak mungkin Sina akan salah menilai lantaran dirinya yang juga sudah berpengalaman.
"Sepertinya bulan ini belum keknya deh, bahkan sudah telat satu minggu," jawab Nirmala setelah membuka gawainya untuk melihat siklus datang bulannya.
Sina tersenyum. "Coba Ibu periksa ke dokter, mana tahu saya tidak salah menilai. Apalagi ini sudah jelas jika Ibu sudah telat selama satu minggu. Biasanya juga kalau telat 2 atau 3 hari itu bisa dibilang wajar tapi ini sudah satu minggu."
"Sayang ayo kita ke dokter, mana tahu memang tahun ini kita di beri amanah sama Allah untuk menyandang status sebagi seorang Ayah dan Ibu," ujar Dafa antusias. Tak henti-hentinya Dafa mengusap perut datar istrinya.
Waktu 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi Dafa maupun Nirmala memang sudah sangat menginginkan kehadiran seorang anak di dalam rumah tangga mereka.
"Tapi aku takut Mas, takut jika kamu kembali kecewa begitupun dengan diriku," ujar Nirmala menunduk. Bulan kemaren saat mereka memeriksa urin Nirmala menggunakan tespek lantaran Nirmala telat 2 hari namun, hasilnya malah zong dan wajah kecewa Dafa yang membuat Nirmala tak enak hati. Nirmala tahu persis hampir setiap malam saat dirinya pura-pura tidur suaminya itu berbicara pada perutnya agar segera hadir sesosok nyawa di dalam perutnya.
"Tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri Bu. Hamil atupun tidaknya itu sudah kuasa Allah. Yang terpenting Ibu maupun Masnya sudah berusaha dan berdo'a. Allah tahu pasti apa yang terbaik untuk hamba-Nya." ujar Sina menatap kedua pasangan itu.
"Iya Sayang, kita periksa ke dokter ya? Tidak apa jika kali ini kita kembali kecewa. Mungkin memang Allah masih menginginkan kita untuk menghabiskan waktu berdua sebelum amanah itu Allah titipkan sama kita," Dafa mengusap punggung istrinya lembut.
"Baiklah Mas, aku mau," jawab Nirmala tak yakin, karena dirinya masih was-was dan takut.
"Terima kasih Mbak," ujar Dafa pada Sina yang dibalas wanita itu dengan anggukan.
TBC
__ADS_1