ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 48


__ADS_3

Baru kemaren rasanya Nirmala hamil namun, kini dirinya sudah berada di ruang bersalin untuk melahirkan anak pertamanya di temani Dafa, suaminya. Seluruh wajahnya sudah di penuhi peluh sebesar biji jagung kala berusaha melahirkan anak pertama mereka. Ada rasa tak kuat yang dirasakan Nirmala kala merasakan seluruh tubuhnya yang seakan di patah menjadi satu. Sungguh sangat besar perjuangan Nirmala untuk melahirkan buah cintanya bersama Dafa, suami bocah yang dulu dia nikahi secara paksa.


"Sayang, kamu pasti bisa. Ayo Sayang, semangat demi anak kita," Dafa mengenggam erat tangan istrinya memberikan kekuatan untuk wanita yang telah rela mengandung anaknya.


"Aku sudah nggak kuat Mas, rasanya sakit banget," keluh Nirmala mengatakan sendu suaminya.


"Aku yakin kamu pasti bisa Sayang,"


"Sedikit lagi Bu, kepalanya sudah kelihatan," ujar Dokter yang membantu persalinan Nirmala.


"Errrrr aaaarghhhtttt!!!" Sekuat tenaga Nirmala mengejan agar anak yang ada di dalam perutnya cepat keluar, namun anak itu seakan ingin mempermainkan dirinya. Padahal saat ini wajah Nirmala sudah penuh dengan keringat. Meski Dafa sering kali mengusap peluh itu dengan tisu tetap saja akan keluar lagi kala Nirmala kembali mengejan.


"Ayo Sayang, sedikit lagi." kembali Dafa memberikan senjata bintik sang istri.


Tangan Nirmala yang awalnya dinoengang Dafa kini sudah bertengger indak di atas kepada Dafa. Menarik rambut suaminya dengna brutal agar suaminya itu bisa merasakan betapa aku sakit yang saat ini dia rasakan.


"Sayang sakit!!!" Dafa berteriak kala tarikan pada rambutnya semakin menguat saat Nirmala mulai mengejan. Tapi ejanan yang di lakukan Nirmala masih saja belum berhasil. Kepala bayi Nirmala lagi-lagi hanya terlihat sedikit lalu kembali masuk. Seakan batu yang belum lahir itu ingin mempermainkan mereka yang ada di sana.


"Awas kamu Mas!!!! Gara-gara ulat-ulat keong kamu itu aku sulit melahirkan. Andai saja kamu tidak memintanya semalam maka bayi kita pasti tidak akan ngambek seperti ini!!!" Nirmala melampiaskan amarahnya kepada sang suami yang sudah tampak kacau. Rambut yang tadinya rapi kini sudah tak berbentuk lagi. Persis seperti orang utan yang tak pernah bersisir.


"Sayang kenapa kamu malah nyalahin Mas? Bukankah kamu nyang maksa Mas semalam untuk melakukan itu? Bukankah kamu juga sangat menikmatinya? Lantas kenapa sekarang kamu malah nyalahin Mas, Sayang?" Dafa tidak terima dengan apa yang di ucapkan Nirmala. Padahal dirinya yang meminta lantas kenapa malah dia yang disalahkan.


"Pokoknya ini semua gara-gara kamu, Mas. Apa salahnya kamu semalam menolak untuk tidak melakukannya maka, bayi kita sudah pasti keluar dengan lancar. Mungkin saja kini jalan tempat dia keluar tersumbat karena getah pepaya yang kamu tinggalkan!!! Astaga Dokter kenapa malah semakin sakit!!!" Nirmala berterima kesetanan karena rasa sakit yang semakin menjadi. Namun anak itu engan untuk keluar dari dalam perutnya. Mungkin saja rasa nyaman yang di hasilkan getah pepaya milik Dafa membuat bayi itu tidak mau keluar dengan segera.

__ADS_1


"Ayu Bu, dorong dengan kuat. Kepalanya sudah keliatan jelas dari yang tadi." ujar dokter yang membantu mendorong perut besar Nirmala kebawah untuk memudahkan jalan lahir bayi malu-malu siput itu.


"Aaaarrreggghhhhtttt!!!" Dengan tarikan nafas panjang Nirmala melakukan ejana sekuat tenaga agar batu itu elak keluar.


"Ampun Sayang!!!!" Dafa menahan tangan Nirmala yang bertengger indah di rambutnya. Bahkan bisa Dafa prediksi saat ini rambutnya sudah banyak yang rontok ulah istrinya.


"Oek..., oek...., oek...," Nirmala bernafas lega kala mendengar suara tangis bayinya yang terdengar sangat nyaring memenuhi ruangan itu. Tangan yang tadi berada di kepala Dafa kini sudah berada di sisi samping Nirmala. Senyum mengembang terbit di wajah Nirmala.


Rasa sakit yang tadi dirasakan Nirmala seakan lenyap dalam seketika kala mendengar tangis bayinya.


"Selamat Bu, Pak bayinya berjenis kelamin perempuan tanpa ada yang kurang satupun," Dokter menyerahkan bayi merah itu ke tangan Dafa untuk segera di azankan.


"Terima kasih Dokter," Dengan kikuk Dafa mengendong bayinya. Dafa ingin sekali untuk menangis kala diri ya kini sudah menyandang status sebagai seorang Ayah. Penantian dirinya dan sang istri akhirnya terbayar sudah dengan kehadiran putri mereka.


"Terima kasih Sayang, karena sudah memberikan Mas seorang putri yang sangat cantik. Bahkan saking sayangnya dia sama Mas, wajahnya tak satupun diwarisi dari kamu, Sayang. Melainkan semuanya menurun dari Ayahnya yang garcep, heheh," Goda Dafa dengan jujur. Jika dilihat memang tak satupun wajah putri merahnya itu terdapat duplikat Nirmala namun memang turunan dari Dafa tank terkecuali.


"Iss kamu nggak percaya banget Sayang, kamu bisa lihat nih?" Dafa mendekatkan putrinya kepada Nirmala. Agar memudahkan Nirmala melihat seperti apa rupa wajah sang putri.


"Ehhh, kok bisa gitu Mas?" Bingung Nirmala kala tak mendapatakan sedikitpun ada yang mirip dengannya. Semuanya persie seperti Dafa.


"Mas kan Ayahnya, Sayang? Sudah pasti dong dia akan nurut wajahnya dari Ayahnya ini? Apalagi kita sering memberikan dia siraman ulat-ulat sawah makanya," jawab Dafa menaik-turunkan alisnya.


"Ahhh sudahlah, yang penting dia perempuan yang artinya mirip aku." kesal Nirmala.

__ADS_1


Sedangkan dokter yang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat aksi pasutri itu. Kemang ini kali pertamanya dokter itu melihat ada pasangan seperti Dafa dan Nirmala. Jika kebanyakan pasangan akan bahagia tanpa berdebat tentang rupa sang anak, tapi ini sangat berbeda dengan Dafa dan Nirmala.


Sudah untung anak itu mirip dengan Dafa, jika saja mirip suami tetangga gimana? Kan berabe juga urusannya. Dan lagian bisa jadi Dafa maupun orang-tuanya tidak akan mengakui anak itu cucu mereka lantara mirip tetangga sebelah rumah.


****


"Ulu ulu cucu Oma cantik banget," Rinia menghampiri cucunya yang berada di dalam boks bayi bersama Rika sang besan.


"Iya kamu cantik banget Sayang, nanti kalau sudah bisa jalan kita nginep terus ya di rumah oma, biarkan saja Mommy sama Daddy kamu bikin adik bayi untuk kamu, Sayang," tambah Rika yang tampak bahagia begitulah semuanya.


"Iya kamu bener banget Rik, kita akan membawanya secara bergantian. Satu minggu di rumah kamu dan satu minggu lagi di rumab aku. Biar Mommy dan Daddynya tidak terganggu dalam proses pembuatan adik untuk cucu kita ini,"


Lukman, Faris dan Raihan adik Nirmala hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua wanita paruh baya itu. Padahal anak dan menantu mereka baru saja melahirkan namun mereka sudah membicarakan adik untuk bayi merah yang belum bisa apa-apa itu.


Lain lagi dengan Dafa yang menatap genit istrinya yang di hadiahi Nirmala cubitan pada pinggangnya. "Ahhh, Sayang sakit tahu?" Dafa mengusap pinggangnya yang terasa sakit.


"Apa sudah ada nama untuk putri kamu Dafa, Mala?" Rinia menatap sekilas pada anak dan menantunya. Dan yang lainnya kini malah fokus pada sepasang suami istri itu untuk menantikan jawaban mereka.


Dafa mengangguk. "Sudah Mom, Dara Pranirab yang di ambil dari singkatan nama aku dan juga Mala, Mom. Dia bisa di panggil dengan Dara," jawab Dafa dengan senyum mengembang dengan manisnya.


"Emm nama yang bagus," celetuk Lukman yang diangguki Faris dan yang lainnya.


Dua hari dua malam lamanya Nirmala berada di rumah sakit akhirnya Nirmala sudah di perbolehkan untuk pulang. Keluarga itu tampak bahagia dengan kehadiran putri kecil Nirmala maupun Dafa. Bahkan Rika dan rinia memilih untuk menginap di rumab Dafa ketimbang kembali ke rumah mereka. Bahkan suami mereka malah di acuhkan demi dekat dengan Dara, sang cucu.

__ADS_1


'Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah memberikan keluarga kecil kami seorang malaikat kecil yang akan menemani hari-hari kami untuk kedepannya. Dan semoga saja rumah tangga kami baik-baik saja hingga maut memisahkan' batin Dafa melihat satu-persatu keluarganya yang tampak bahagia.


TAMAT


__ADS_2