ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 23


__ADS_3

Nirmala terus menikmati kelembutan dari bibir Dafa. Menyesap manisnya bibir suaminya seperti permen yang semakin disesap semakin manis.


"Hmmmm!!!" Nirmala yang hendak melepaskan tautan bibirnya ditahan Dafa karena suaminya itu hanya berpura-pura tidur saat melihat kenop pintu yang di bukan dari luar.


Dafa tidak membalas ciuman istrinya karena ingin melihat sejauh mana istrinya itu akan menikmati bibir tebalnya. Awalnya Dafa hanya mengira Nirmala hanya akan menciumnya sebentar tapi, istrinya itu malah menambah sesapan pada benda kenyal miliknya. Sudah sedari tadi Dafa ingin membalas tautan itu tapi dia urungkan. Makanya sekarang Dafa menahan lantaran sang istri yang akan melepaskan tautan itu.


Nirmala memukul-mukul dada Dafa karena kehabisan nafas. Suaminya tidak memberikan Nirmala waktu untuk menghirup oksigen batang sekalipun.


"Lo apa-apaan sih?!" bentak Nirmala saat bibirnya sudah terlepas dari Dafa. Meraup oksigen di dekatnya sebanyak mungkin. "Lo kalau mau bunuh gue jangan kek gini, napa? Untung gue nggak mati kehabisan nafas gara-gara lo. Kalau itu terjadi siap-siap saja setiap malam gue datangin lo!" ancam Nirmala.


"Coba saja kalau lo emang bisa. Siapa suruh lo nyuri-nyuri cium sama bibir gue malam-malam. Kalau mau tinggal minta aja apa susahnya? Lagian gue pasti bakal menuhin keinginan lo tanpa harus di curi kek gini." ungkap Dafa santai. "Mana mungkin lo bakal mati kehabisan nafas Mbak. Lagian gue masih bisa tranfer nafas buat lo kali,"


Nirmala menatap nyalang suaminya. Berbicara seenak jidat tanpa mau menfilter ucapannya. Namun tatapan itu langsung sirna mengingat kesalahan yang tadi siang dilakukan Nirmala. "Maafin gue, gue benar-benar nggak sengaja lakuin itu sama lo. Gue cuman becanda tadi siang Daf," Nirmala menatap sendu suaminya. Menyesali apa yang sudah dia lakukan pada suaminya.


"Lo mau gue maafin bukan?" Ide licik langsung bersarang dikepala Dafa.


Nirmala mengangguk. "Iya, gue mau lo maafin gue,"


"Cium gue!" ujar Dafa menatap istrinya yang tengah melotot.


"Ngak! Gue nggak mau. Itu sama saja lo nyari kesempatan dalam kesempitan." tolak Nirmala tegas.


"Ya sudah kalau lo nggak mau. Mendingan lo keluar dari sini gue mau tidur." Dafa langsung menarik selimut yang tadi turun hingga perutnya hingga batas dada.


"Lo ngusir gue?"


"Iya! Gue mau tidur mendingan lo keluar deh Mbak. Kembali ke kamar lo." Dafa membalikkan tubuhnya ingin membelakangi Nirmala.


Sebelum itu terjadi Nirmala langsung menaiki tubuh suaminya. Mendaratkan bibirnya pada bibir milik Dafa. Dafa bersorak dalam hatinya mendapatkan serangan dari istrinya. Ikut membalas tautan bibir itu dengan lembutnya dan mengabu.


"Aarrrrhhh!!" Nirmala menghentikan tautan bibirnya saat mendengar Dafa mengerang.


"Kenapa lo?" tanya Nirmala dengan polosnya. Tak tahu kenapa tiba-tiba saja Dafa seperti itu.


"Emmmm," Dafa mengigit bibirnya sendiri menahan gejolak di dalam dirinya.


"Astaga keras!!" Nirmala segera turun dari pangkuan Dafa saat merasa dirinya menghimpit benda yang tiba-tiba saja berubah.

__ADS_1


"Mbak," Dafa menatap sendu istrinya.


"Apa?" Nirmala menjawab panggilan suaminya. Tapi mata cantik itu tidak beralih dari bagian tubuh Dafa yang tadi dia duduki.


"Gue, gue peng--"


"Tidak!! Gue nggak siap!!" tolak Nirmala saat Dafa belum menyelesaikan ucapannya.


Dafa menoyor kepala istrinya. "Nggak siap ngapain lo, Mbak? Pikiran lo jangan melayang-layang dulu sebelum gue selesai ngomong."


"Pokoknya gue belum siapa ngelakukan itu," ungkap Nirmala dengan wajah bersemu. Padahal Dafa tidak mengatakan apa inti dari ucapannya.


"Astaga Mbak, pikiran lo kotor juga ya ternyata. Lagian gue itu mau tidur sudah ngantuk banget. Apa lo nggak kembali ke kamar lo?" Nirmala malu sendiri dengan ucapannya. Salah dirinya sendiri yang tidak mendengarkan lebih lanjut apa yang hendak di ucapkan suaminya.


"Nggak! Gue mau tidur di sini bareng lo. Mata gue nggak bisa tidur di kamar sebelah makanya gue kesini." jujur Nirmala.


"Elehhh, bilang saja lo itu rindu sama bibir gue makanya lo ngak bisa tidur. Kalau memang lo nggak bisa tidur lo nggak bakal nyuri ciuman gue kali Mbak."


"Lo Kalau ngomong sok tahu banget ya!"


"Jujur itu yang lebih utama kali Mbak. Gue juga nggak akan marah jika memang lo ingin. Jikapun gue marah sudah dari awal gue banting tubuh lo ke lantai. Biar lo ngerasain apa yang pernah lo lakuin ke gue,"


"Gue sudah maafin lo kok Mbak. Jadi lo mau ikut tidur di sini?"


Nirmala mengangguk kecil. "Iya,"


"Baiklah, ayo kita tidur. Gue sudah ngantuk banget Mbak," Dafa menarik tubuh istrinya untuk dibawa tidur di sampingnya.


Menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut yang sama dengan dirinya.


Sebenarnya Dafa belum ngantuk tapi lebih tepatnya menahan gejolak didalam dirinya agar tidak meledak. Bagaimana bisa dirinya tidur jika istrinya sudah membangunkan lintah yang sudah sangat lapar.


Dafa memeluk erat tubuh Nirmala dengan sesekali menciumi tengkuk sang istri yang sangat putih dan harum.


"Issss, katanya lo mau tidur, terus sekarang ngapain lo malah ngendus-ngendus di leher gue?!" kesal Nirmala yang merasakan geli di bagian lehernya.


"Leher lo harum banget Mbak, bikin gue tenang," jawab Dafa tak sepenuhnya bohong.

__ADS_1


"Jangan gitu lagi, gue mau tidur." larang Nirmala.


"Lo tidur saja Mbak, lagian gue juga cuma gini doang nggak lebih."


"Gue nggak akan bisa tidur kalau lo gitu terus. Jadi gue minta jangan gitu lagi, mata gue sudah sangat ngantuk. Belum lagi besok gue harus ke kantor.


"Baiklah," jawab Dafa akhirnya dengan tetap memeluk tubuh istrinya dengan erat.


*****


"Lo nggak sarapan Mbak?"


"Nggak, perut gue juga belum lapar. Nanti saja pas di kantor," jawab Nirmala yang menikmati segelas susu putih.


Dafa melanjutkan sarapannya tanpa banyak tanya lagi. Lagian dia juga harus berangkat ke kampus. Apalagi pagi ini ada ujian mendadak yang tadi pagi disampaikan dosennya. Jengkel!! Dafa jengkel dengan dosen yang satu itu yang sering bertindak semaunya tanpa memikirkan mahasiswanya yang sudah siap atau belum.


"Mbak," Panggil Dafa saat istrinya itu hendak pergi.


"Apa? Gue harus pergi ke kantor, jadi kalau lo mau banyak omong nanti saja setelah gue pulang."


Dafa menyodorkan tangannya kepada sang istri.


"Nih," Nirmala memberikan dua lembar pecahan seratus ribu kepada Dafa yang di sambut Dafa dengan senyum mengembang.


"Mbak,"


"Astaga apa lagi sih Daf? Gue bisa telat kalau ngeladenin lo mulu. Apa uangnya masih kurang?" Nirmala menatap tangan suaminya yang masih terulur.


"Kalau mau pergi itu salim dulu sama suami biar Mbak perginya jadi berkah. Ingat ridho Allah itu tergantung ridho suami." Peringat Dafa membuat Nirmala menghentikan tangannya yang sibuk mengambil uang di dalam dompetnya.


"Ngomong dari tadi napa? Bukan malah mbak-mbak mulu," kesal Nirmala meraih tangan suami yang untuk diciumnya.


"Yang ikhlas dong Mbak," ucap Dafa saat Nirmala melepaskan tangannya.


"Astagga lo banyak cincong banget!!" Lagi-lagi Dafa membuat Nirmala semakin kesal tapi tetap kembali menyalami tangan Dafa.


"Mbak,"

__ADS_1


"Astaga Dafa! Apa lagi sih?? Lo ngg---"


"Itu belum," Dafa langsung meninggalkan istrinya setelah mendaratkan bibirnya sekilas di atas bibir sang istri.


__ADS_2