ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 45


__ADS_3

Nirmala membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada di dalam ruangan tersebut. Nirmala membalikkan badannya saat merasakan lengan kokoh tengah memeluk dirinya dari belakang.


Jemari lentik Nirmala mengusap lembut wajah tampan suaminya yang tengah terpejam. Menyusuri pahatan wajah bak dewa Yunani itu dengan lembut.


"Mas," kejut Nirmala saat mata tegas itu terbuka dengan sempurna. "Sejak kapan kamu bangun Mas?"


"Semenjak kamu membalikkan tubuh kamu, Sayang." jawab Dafa mengembangkan senyumnya.


Nirmala mengangguk. "Apa Mas sudah selesai rapat?"


"Sudah dari tadi Sayang, makanya Mas ikut tidur bareng kamu karena tidak ada lagi rapat yang akan Mas ikuti. Pekerjaan Mas hanya tinggal memberi tandatangan pada beberapa lembar kertas saja. Dan itu bisa Mas lakukan nanti saat di rumah." jawab Dafa yang masih tetap memeluk perut sang istri sambil mengelusnya lembut.


Nirmala menganggukkan kepalanya. "Sudah jam berapa sekarang Mas?"


"Jam 11 Sayang, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Dafa yang asik dengan perut buncit istrinya.


"Aku pengen makan rujak Mas," pinta Nirmala dengan mata berbinar.


"Ya sudah, Mas minta tolong sama Mbak Sina dulu ya,"


"Aku nggak mau kalau di beliin Sina Mas, maunya kamu yang beli ke bawah," ujar Nirmala manja. "ini permintaan dedek bayi loh," Mata Nirmala berkedip-kedip lucu.


"Benarkah permintaan dedek bayi, Sayang?" Nirmala hanya mengangguk cepat sebagai respon. "baiklah karena dedek bayi yang ingin maka Ayah pasti akan nurutin kemauannya. Apaa masih ada yang mau dibeli Sayang? Nasi atau apa gitu? Biar sekalian Mas beli,"


Nirmala menggeleng. "Nggak ada Mas, itu saja. Dua porsi ya Mas."


"Baik Sayang,"


"Mas," panggil Nirmala saat tangan Dafa yang hendak memegang handel pintu.


"Apa Sayang?"


"Tapi buahnya nggak mau keduannya yang kek biasa yang Mas makan ya? Aku maunya yang satu buah pisang semua. Pasti enak deh Mas," Dafa melongo mendengar permintaan istrinya. Dimana ada orang yang ngejual rujak pisang? Kalau mangga sudah pasti ada, tapi ini pisang? Pisang loh?!

__ADS_1


"Nggak ada orang yang jual rujak pisang Sayang. Kamu jangan ada-ada saja deh," Kini tubuh Dafa menghadap Nirmala dengan sempurna.


"Oo nggak ada ya Mas?"


Dafa mengangguk. "Iya nggak ada Sayang, apa mau yang lain?"


"Ya sudah Mas, ganti saja sama rujak wortel." pinta Nirmala yang kembali membuat Dafa melongo. Apa-apaan istrinya itu, dari yang sulit malah semakin sulit.


"Nggak ada yang jual Sayang, yang ada itu hanya rusak mangga, jambu, bengkoang,"


"Pokoknya aku mau itu Mas, kalau kamu nggak mau beliin nanti malam kamu tidur di luar sampai apa yang aku inginkan kamu dapatkan!" rajuknya mengalugkan penglihatan ke arah lain.


Dafa menarik nafasnya panjang, jika tak menuruti keinginan istrinya dirinya tidak akan mendapatkan pelukan hangat dari sang istri. Mana mau Dafa tidur di luar seorang diri dengan diselimuti kedinginan.


"Baiklah Sayang, Mas akan usahain nyari buat kamu dan dedek bayi. Kamu jangan keluar dari sini ya Sayang, ingat kamu nggak boleh lelah Sayang." Dafa keluar dari kamar peribadi itu meninggalkan Nirmala seorang diri setelah wanita itu memberikan anggukan dengan senyum merekah di bibirnya.


Satu jam lamanya Dafa pergi membeli rujak wortel. Karena memang tidak ada yang menjual rujak wortel maka mau tidak mau Dafa harus pergi mencari wortel dan membawanya ke tukang penjual rujak untuk diiris dan di kasih sausnya.


Dengan antusias Nirmala membuka kresek tersebut dan mengeluarkan kedua rujak itu dengan binar mata bahagia.


"Nah untuk kamu, Mas," Nirmala menggeser satu kotak rujak kepada suaminya dan satu untuk dirinya.


"Kok untuk Mas, Sayang?" Binggung Dafa melihat rujak wortel yang berada di depannya.


"Iya itu untuk kamu, Mas. Dedek bayi ingin Ayahnya yang makan rujak wortel itu," ujar Nirmala dengan senyum merekah di bibirnya.


"Tapi Mas nggak mau makan rujak Sayang," Dafa mendorong rujak itu kepada istrinya, membuat Nirmala mengerucutkan bibirnya.


"Ingat!! Mas nanti malam tidur di luar!!" tekan Nirmala membuat Dafa dengan spontan kembali mengambil rujak wortel itu.


Dengan tak rela Dafa membuka klep yang ada di kotak rujak itu. "Baiklah Sayang, Mas akan makan rujaknya dan nanti malam Mas nggak mau tidur di luar." Dengan terpaksa Dafa menyuap rujak itu ke dalam mulutnya.


"Iya Mas, kamu tidur bareng aku dan dedek bayi nanti malam," jawab Nirmala dengan senyum mengembang.

__ADS_1


Dafa ingin muntah rasanya makan rujak wortel yang rasanya sungguh tidak enak dan aneh namun, itu semua Dafa tahan demi tidur bareng sang istri di ranjang dan kamar yang sama.


"Wajah kamu kenapa Mas? Apa rujaknya tidak enak?" Nirmala sedari tadi memperhatikan mimik wajah Dafa yang terkesan ingin muntah. Jelas terlihat oleh Nirmala.


"Heheh nggak kok Sayang, rujaknga enak," elak Dafa yang memaksakan senyumnya.


Jika saja istrinya itu tidak mengusir dirinya dari dalam kamar nanti malam, Dafa tidak akan rela memakan rujak yang membuat mual itu.


"Terus wajahnya kenapa kek mau muntah gitu Mas?" tanya Nirmala yang membuat Dafa merubah mimik wajahnya seperti semula meski sulit. Apalagi ada wortel di dalam mulutnya yang sangat susah di telannya.


"Heheh nggak kok Yang, aku lagi nikmatin rasa dari rujaknya. Apalagi ini kali pertamanya aku makan rujak wortel," jawab Dafa dengan cengengesan.


Jujur saja Dafa sudah sangat ingin muntah, namun itu semua dirinya tahan agar istrinya itu tak curiga. Yang ada dirinya nanti malam yang apes karena tidur di luar.


"Ya sudah jangan lupa di habisin yang cepat ya Mas, aku saja ini sudah habis," ujar Nirmala saat memasukkan suapan terkahir ke dalam mulutnya. Sedangkan milik Dafa masih tinggal setengahnya lagi. Sulit rasanya Dafa menelan rujak wortel yang rasanya seperti racun.


Dafa menatap nyalang rujak wortel yang masih berada di depannya. Jika saja boleh menghilang, Dafa ingin sekali menghilangkan rujak itu agar tak lagi dirinya makan.


Akhirnya dengan susah payah rujak yang dimakan Dafa masuk ke dalam perutnya dengan sempurna. Senyum mengembang di bibir Nirmala kala melihat rujak suaminya sudah tinggal bumbunya saja. Isinya sudha habis di malam Dafa dengan berat hati.


"Mas pulang yuk, aku suntuk di sini lama-lama," ajak Nirmala.


"Baiklah Sayang. Mas mau masukin berkas-berkas yang akan Mas tandatangani dulu ke dalam tas," Dafa melangkah menuju meja kebesarannya. Menyusun dengan tapi berkas-berkas yang akan dia bawa pulang ke dalam tas kuning yang biasa Dafa bawa.




Dafa dan Nirmala kini sudah berada di perjalanan pulang menuju rumah mereka. Sepanjang jalan Dafa dan Nirmala tak henti-hentinya bercerita layaknya seorang kekasih yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Sekali bertemu maka banyak topik yang akan mereka bahas. Sama halnya seperti saya ini.



TBC

__ADS_1


__ADS_2