ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 15


__ADS_3

Dafa sudah kembali ke aktifitas biasanya, setelah 3 hari tidak pergi ke kampus. Saat ini pinggangnya sudah lumayan sehat, tidak lagi sesakit waktu itu. Meski masih ada rasa nyeri yang tidak terlalu kentara.


"Kenapa wajah lo kusut gitu Za?" Dafa menghampiri sahabatnya yang tengah berdiri di samping motornya.


"Gue bertengkar lagi sama pacar gue. Nggak ngerti gue apa maunya itu perempuan," Keluh Reza yang merasa heran.


"Sabar, nanti pasti juga akan baik sendiri. Kalau sudah habis rasa emosinya pasti akan nyariin lo kembali Za," Hibur Dafa kepada sahabatnya. "Oh ya, Ken belum datang?"


"Keknya belum, motornya juga belum ada di sini,"


"Ya sudah yuk kita masuk, lo sudah sarapan?"


"Belum, ntar sajanlah waktu istirahat. Lagian gue eneg makan sekarang."


Ke-dua laki-laki itu memasuki perkarangan kampus. Banyak mata yang menatap ke arah mereka. Apalagi wajah Dafa dan Reza tampak begitu tampan. Belum lagi dengan Kenan sahabat mereka yang juga banyak di gilai cewek kampus itu.


"Sayang!!" Dafa menghentikan langkahnya begitupun dengan Reza saat mendengar suara yang familiar.


"Itu pacar lo Za," Bisik Dafa di angguki Reza.


"Tapi satunya juga pacar lo," Dafa juga mengangguk. Menatap kedua gadis yang datang bersamaan ke arah mereka.


"Sayang maafin aku, maafkan keegoisan aku kemaren. Aku tidak bermaksud begitu sama kamu, Yang," Nike bergelayut manja seperti monyet di lengan Reza. Bahkan gadis itu tidak malu menjadi tontonan dari para mahasiswi kampus.


"Tidak apa-apa Yang lain kali jangan gitu lagi ya,"


"Iya Yang,"


****

__ADS_1


Pikiran Nirmala tidak fokus pada pekerjaannya. Wajah suaminya terus terbayang di kepala Nirmala. Bagaimana suaminya itu berciuman begitu mesra di kamar membuat pikiran Nirmala kacau. Nirmala tidak terima suaminya melakukan hal seperti itu kepada gadis lain.


Hatinya terasa panas bahkan otaknya sekalipun. Nirmala melempar pulpen yang berada di tangannya ke sembarang arah. Menatap jam pada dinding ruangannya yang mana sebentar lagi suaminya jelas akan pulang.


Gegas Nirmala menarik tasnya yang berada di samping kursi kebesarannya. Meninggalkan ruangan degan setumpuk besar pekerjaan yang belum dikerjakannya.


"Sisi nanti antar berkas-berkas di ruangan saya ke rumah. Saya mau pergi dulu!" ucap Nirmala saat sampai di depan meja sekretarisnya itu.


"Bukankah jam kantor masih panjang Bu?" Sisi menatap bingung atasannya itu.


"Kerjakan saja apa yang saya perintahkan. Jangan banyak tanya!!" Nirmala langsung meninggalkan Sisi yang tampak bersunggut-sunggut karena ulah bosnya.


"Tapi Bu---"


"Jangan banyak membantah jika tidak mau gaji kamu bulan ini di potong!!" Tandas Nirmala yang membuat Sisi terdiam.


Kesal!! Sisi sangat kesal dengan bosnya akhir-akhir ini. Tak biasanya Nirmala bertingkah seperti itu. Biasanya bosnya itu pasti bakalan profesional dalam pekerjaannya. Tak pernah sekalipun Nirmala meninggalkan pekerjaannya sebelum selesai. Tapi kini lihatlah, ntah setan apa yang merasuki Nirmala sehingga gadis itu rela meninggalkan pekerjaannya yang tengah menumpuk bak gunung.


Melirik sana-kemari keberadaan suaminya namun, tak kunjung mata Nirmala menangkap sosok tampan suaminya. Nirmala memilih untuk turun dari mobil, memasuki halaman kampus yang tampak luas.


Mata Nirmala menangkap tiga pasang anak manusia tengah berada di parkiran kampus. Dengan seseorang yang di kenal Nirmala bergelayut manja di lengan kokoh suaminya. Dengan langkah lebar Nirmala mendekati ketiga pasang orang tersebut. Jangan tanyakan nafas Nirmala yang sudah memburu melihat gadis tengil itu seperti monyet di lengan suaminya.


"Dafa!!!!!" Pekik Nirmala mengundang semua tatapan mahasiswa dan mahasiswi menatap ke arahnya dengan berbagai macam pandangan. Ada yang kagum dengan kecantikan Nirmala ada pula yang tampak heran dengan kehadiran gadis itu. Apalagi mereka tahu jika Nirmala bukanlah mahasiswa di kampus ini. Belum lagi pakaian Nirmala yang menunjukkan pakaian seroang pekerja kantor.


Sedangkan disisi lain Dafa terkejut mendengar suara yang sangat dikenalnya. Langsung saja mata Dafa menangkap sosok istrinya yang melangkah dengan cepat ke arahnya. Tampak wajah cantik itu merah ntah menahan emosi, cemburu atau kesal yang jelas Dafa tidak bisa mendefinisikannya.


"Siapa lo wanita itu Daf?" Kenan menatap sahabatnya heran. Tak biasanya seseorang datang ke kampus untuk menemui Dafa. Apalagi dengan raut marah seperti itu. Atau jangan-jangan Dafa melakukan suatu kesalah hingga wanita itu datang menemui Dafa. Itulah yang ada di pikiran Kenan saat ini.


"Ngapain sepupu kamu ke sini Sayang?" Kini Lala yang menatap heran kekasihnya. Ucapan itu dapat di dengan Reza, Kenan juga kekasih mereka masing-masing.

__ADS_1


"Sejak kapak lo punya sepupu secantik itu Dafa?" tanya Reza bingung. Yang Reza tahu sepupu Dafa tidak ada yang secantik wanita yang berjalan menuju mereka. bahkan ini kalah cantik dari kekasihnya, Nike bahkan tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Nirmala dari anak kampus yang paling cantik menurut Reza.


"Sepupu? Beneran wanita itu sepupu lo, Dafa? Cantik banget!!" Kenan tak kalah bersemangat mengomentari kecantikan Nirmala.


Dafa tak menghiraukan ucapan sahabatnya, bahkan kekasihnya sekalipun. Mata tegasnya menatap istrinya yang tampak sudah ngos-ngosan berjalan menuju dirinya.


"Dafa kenalin dong sama sepupu lo, sumpah ini cantik banget. Dari jauh saja sudah nampak cantiknga apa lagi semakin dekat gini!" Reza tampak antusias berbicara. Bahkan tak menghiraukan kekasihnya yang menatap dirinya tajam.


"Kamu ngomong apa sih Yang? Emang kamu pikir aku ini jelek?" Nike tampak marah dengan kekasihnya itu. Memuji kecantikan wanita lain di saat dirinya tepat berada di sampingnya. Kejam memang.


"Heheh, bukan gitu Yang. Maafkan aku yang salah." Reza menyengir ke arah kekasihnya. Sial sekali mulutnya dengan enteng memuji gadis lain disaat pacarnya ada bersamanya. Andai tak ada Nike mungkin saja Reza akan memuji setinggi langit kecantikan Nirmala yang membuat mata malas untuk teralihkan dari wajah bak bidadari itu. Kulit putih bersih degan bulu mata lentik. Siapa yang tidak akan tertarik kalau ceweknya modelan Nirmala.


"Lepas!!!" Bentak Nirmala saat sudah berada di dekat Dafa. Menarik tangan Lala yang bergelayut bak monyet di lengan suaminya.


Dafa terkejut melihat reaksi istrinya yang tampak berbeda. Memancarkan rasa cemburu yang teramat sangat pada Lala. Dafa tak sanggup mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Masih terperanggah dengan tingkah istrinya.


"Mbak lo kenapa sih? Lagian gue meluk lengan pacar gue kok. Kok lo yang rusuh!" Lala tak terima dengan tindakan Nirmala yang terkesan lancang.


"Gue bilang lepas!!!" Sekali lagi Nirmala menarik kasar tangan Lala dari lengan suaminya. Hingga tangan Lala kini tak lagi memeluk erat lengan kokoh itu.


"Lo apa-apaan sih Mbak? Kenapa lo larang-larang gue untuk meluk lengan kekasih gue?" Lala tampak marah dengan kelakuan Nirmala yang menurutmya kurang ajar.


"Diam lo!!" Bentak Nirmala kepada Lala.


"Suka-suka gue dong Mbak, lagian ini bukan rumah lo yang sesuka hati lo mau ngomong apa. Lagian apa hak lo untuk ngelarang gue meluk lengan Dafa?" Lala kesal, sungguh dia sangat kesal dengan Nirmala.


Nirmala langsung menolehkan kepalanya menatap Dafa, sedikit mendongak karena suaminya itu tinggi dari dirinya yang hanya sebatas bahu Dafa.


"Mbak lo ng---"

__ADS_1


Ucapan Dafa terputus saat Nirmala meraih bibir kenyal milik suaminya. Mengalungkan tangan putih itu di bahu suaminya. Membuat Dafa menunduk karena ulah istrinya.


TBC


__ADS_2