ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 18


__ADS_3

"Intinya gue nggak sengaja ngeliatin lo!! Sudah deh lo nggak perlu mem---"


Ucapan Nirmala terpotong saat Dafa mendorong keras tubuh istrinya hingga terlentang di atas ranjang miliknya. Langsung saja Dafa menindih tubuh sang istri dengan tubuhnya yang terbilang cukup besar.


Mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir kenyal milik sang istri. Mengecapi manisnya bibir itu degan bibirnya. Sungguh sangat nikmat dirasakan Dafa hingga beberapa kali pukulan yang diberikan Nirmala pada dadanya tak diindahkannya.


"Lo mau bunuh gue ya?!!" bentak Nirmala saat tautan bibir itu terlepas.


"Enak banget Mbak," Bukannya menjawab, Dafa malah berkata lain dan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Nirmala saat dirasa Nirmlaa sudah selesai meraup oksigen di sekitarnya.


Sungguh bibir Nirmala seakan candu bagi Dafa, seakan dia engan untuk melepaskan barang sekalipun.


Nirmala kembali memukul-mukul dada bidang Dafa karena lagi-lagi nafasnya seakan habis. Ciuman yang diberikan Dafa bukanlah ciuman yang terbilang lembut tapi cukup kasar dan menuntut lebih dari sekedar sebuah ciuman. Tapi sialnya Nirmala malah menikmati setiap cecapan yang diberikan Dafa, suaminya.


"Astaga lo mau bunuh gue apa?! Lo nggak lihat nafas gue sudah mau habis?!" Kesal Nirmala mendorong kuat tubuh suaminya. Nafasnya sungguh tersegal-segal karena ulah suaminya itu.


"Bibir lo enak banget Mbak, bikin gue nagih dan nggak mau gue lepasin. Sekali lagi ya," pinta Dafa kembali mendekati istrinya.


"No!! Gue nggak mau la--"


Ucapan Nirmala seakan lenyap begitu saja saat kembali bibir Dafa menempel sempurna di atas bibir pink miliknya. Kembali memberikan sensasi yang membuat Nirmala merasakan nikmat.


"Boleh lebih Mbak?" Dafa melepaskan tautan bibir itu. Menatap sendu wajah istrinya yang sudah memerah.


"No!!" Bergegas Nirmala mendorong tubuh suaminya dengan kuat dan berlari ke luar dari kadang buaya menuju kandang angsa miliknya.


Dengan nafas ngos-ngosan Nirmala berdiri di balik pintu kamarnya. Memegang dadanya yang terasa berdetak lebih kencang dari bisanya. Wajah yang terasa panas serta keringat yang membanjiri pelipisnya.

__ADS_1


"Astaga, kenapa jantung gue serasa mau copot gini sih?" monolog Nirmala yang masih saja memegang dadanya yang terasa berdetak dengan kencang. "Apa gue punya riwayat sakit jantung turunan ya? Nggak bisa di biarin kalau gini, gue harus konsul secepat ke dokter," lanjut Nirmala yang berusaha menetralkan jantungnya yang tak kunjung normal.


Sedangkan di dalam kamarnya Dafa merasa kesal dengan istrinya. Kenapa juga harus kabur dari dalam kamarnya. Padahal dirinya masih menginginkan kelanjutan dari apa yang baru saja mereka lakukan. Pemanasan yang membuat sesuatu di dalam diri Dafa terbangun.


"Sial!!" maki Dafa kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk menyelesaikan sesuatu yang minta di selesaikan. Kepalanya susah mulai berdenyut sakit saat menahan sesak di bawah sana.


*****


Nirmala menunggu suaminya untuk makan malam di meja makan. Sudah lebih dari 5 menit Nirmala duduk di sana namun, suaminya belum juga menapakkan batang hidungnya barang sedikitpun. Nirmala sangat kesal dengan suaminya yang terbilang cukup lelet.


"Lo kemana saja sih? Gue sudah nungguin lo lebih dari 5 menit?!" Nirmala menatap kesal suaminya.


"Yaelah Mbak, baru juga lima menit apalagi kalau satu jam gue nggak datang mungkin lo sudah mengamuk." Dafa mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan dimana tempat biasa Dafa duduk.


"5 menit itu waktu gue yang terbuang sia-sia gara-gara lo!"


"Lagian gue nggak nyuruh lo buat nungguin gue makan malam ya Mbak, jadi jangan salahin gue. Seharusnya lo itu nggak perlu nungguin gue segala. Karena lo bisa makan duluan dari pada gue," ucap Dafa mulai menyendok nasi ke atas atas piringnya.


Sudah untung dirinya mau menunggu Dafa untuk makan malam bersama, lah ini responnya membuat Nirmala jengkel dan juga muak secara bersamaan.


"Non Mala semua baju serta barang-barang Den Dafa sudah Bibi pindahkan ke kamar Non Mala dan juga sudah Bibi rapikan," Bibi Keke menghampiri majikannya yang sedang menyantap makan malamnya bersama sang suami.


"Terima kasih Bi,"


"Sama-sama Non, kalau gitu Bibi pamit dulu Non," Bibi Keke meninggal ruang makan menuju kamarnya. Karena majikannya itu sedang makan maka dari itu Bibi Keke memilih kekamarnya samapi kedua orang itu selesai makan malam.


__ADS_1



"Empuk banget ranjang lo Mbak?" Dafa mengusap-ngusap ranjang milik istrinya sambil memejamkan matanya. "kalau tahu begini mendingan dari awal gue tidur disini Mbak. Mana ranjang lo nyaman banget lagi," Dafa masih setia menutup matanya dengan damai. Menikmati kelembutan ranjang Nirmala yang terasa sangat nyaman.



"Dasar norak!!" ucap Nirmala yang menyisir rambut lurusnya di meja rias.



"Gue bukan norak Mbak, tapi gue itu berkata jujur." Dafa membuka netranya sebentar untuk menatap sang istri yang masih sibuk dengan sisir di kepalanya lalu, kembali menutup netra itu untuk lanjut menikmati ranjang serta harum tubuh istrinya yang tertinggal di sana.



Nirmala hanya menatap malas suaminya yang terkesan sangat berlebihan menurut Nirmala. Bahkan kesannya Dafa itu mirip anak kecil yang di kasih permen sama ibunya.



Nirmala melangkah menuju walk in closet untuk menganti bajunya dengan baju tidur yang biasa dia gunakan. Karena Saat ini Nirmala masih memaki baju yang tadi sore dia pakai setelah mandi.



Nirmala menaiki ranjangnya dan menatap sekilas suaminya yang masih setia mengusap-ngusap ranjang dengan mata terpejam dan senyum mengembang di bibir itu.



"Astaga Mbak! Pakain apa yang lo pakai?!" kejut Dafa saat setelah membuka matanya dan menatap ke arah sang istri yang hendak menarik selimut yang berada pada bagian bawah ranjang.

__ADS_1



TBC


__ADS_2