ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 16


__ADS_3

"Mbak lo ng---"


Ucapan Dafa terputus saat Nirmala meraih bibir kenyal milik suaminya. Mengalungkan tangan putih itu di bahu suaminya. Membuat Dafa menunduk karena ulah istrinya.


Dafa menikmati benda kenyal milik istrinya yang terasa sangat manis. Bahkan Dafa membalas ciuman kaku yang dilakukan Nirmala tanpa sadar jika saat ini mereka tengah menjadi tontonan seluruh mahasiswa yang tengah berjalan di sekitar sana.


"Lo mau tahu apa hak gue sama dia bukan?" Nirmala melepas paksa tautan bibirnya dari Dafa karena, Nirmala sudah mulai kehabisan nafas lantaran suaminya memperdalam ciuman mereka. "DIA SUAMI GUE!!" Tekan Nirmala kepada Lala yang tampak masih mematung menyaksikan adegan yang baru saja mereka lakukan.


"Lo jangan ngada-ngada Mbak. Lo itu hanya sepupu pacar gue jadi jangan coba ko ngelabui gue dengan ucapan omong kosong lo!!" bentak Lala tidak terima.


Nirmala memicingkan matanya. "Apa yang gue lakuin barusan tidak membuat lo percaya jika gue benaran istrinya Dafa?"


"Gue nggak percaya dengan ucapan lo Mbak, gue yakin lo hanya membual saja. Tidak mungkin pacar gue sudah menikah dengan mbak-mbak seperti lo!"


Kembali Nirmala mengalungkan tangannya pada leher suaminya. Mencium dengan dalam bibir suaminya seakan ciuman itu meminta balasan dari sang suami. Dafa, laki-laki itu membalas ciuman istrinya yang tampak sangat kaku. Menyecapi manisnya bibir itu dengan bibirnya. Hingga Nirmala memukul dada bidang suaminya lantaran kehadiran nafas.


"Apa lo sudah percaya Dafa suami gue?!" Nirmala menatap sengit ke arah Lala yang tampak syok dengan perbuatan Nirmala yang cukup berani.


Lala beberapa kali menggelengkan kepalanya. Dia sungguh tidak percaya dengan setiap ucapan serta tindakan Nirmala. Mengenyahkan ucapan Nirmala dari dalam fikirannya. "Sayang apa yang dikatakan Mbak ini bohong bukan? Dia hanya sepupu kamu kan, Yang?" Mata Lala tampak berkaca-kaca menatap kekasihnya.


Dafa hanya diam mendengar ucapan kekasihnya. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab jika Nirmala istrinya. Bukan Dafa malu, tapi ntah kenapa lidah itu tidak bisa di gerakkan. Apalagi kedua sahabatnya menatap Dafa dengan pandangan menuntut penjelasan dari apa yang mereka lihat dan dengar. Belum lagi dari mahasiswa yang lainnya menonton gratis tayangan yang mereka lakukan.


"Heh, lo nggak percaya banget sama gue ya, sudah gue bilang Dafa itu suami gue dan apa lo nggak mlihat Dafa hanya diam mendengar ucapan lo. Harusnya lo peka dengan tindakan Dafa!!" bentak Nirmala emosi. Ingin rasanya dia menendang Lala dengan sekuat tenaga. Rasa cemburu yang mengebu masih di rasakan Nirmala.


"Yang...,?" Lala tak mengindahkan ucapan Nirmala. Lala terus menantu Dafa untuk menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, La. Apa yang dikatakan Mbak Mala benar. Aku suaminya," ucap Dafa membuat air mata Lala jatuh merembes melalui pipinya yang mulus.


"Ka-kamu bohong kan Yang? Kamu pasti bohongin aku kan Yang? Kamu mau beri aku kejutan kan Yang? Kamu bercandanya nggak lucu banget Yang," Lala sulit untuk mempercayai ucapan kekasihnya. Bibir itu tampak bergetar saat mengatakan kalimat yang keluar dari mulutnya.


Dafa menggeleng. "Tidak La, aku jujur. Aku sudah menikahi Mbak Mala 7 bulan yang lalu," jawab Dafa jujur.


Bibir Nirmala tampak mengembangkan senyum kepausan. Suaminya jujur kepada kekasihnya tentang hubungan mereka yang sudah berjalan lebih dari setengah tahun.


"Lo sudah dengar apa yang dikatakan Dafa, bukan? Jadi gue harap lo nggak lagi berharap pada suami gue. Dia hanya milik gue sampai kapanpun!!" ucap Nirmala menarik tangan Dafa keluar dari perkarangan kampus. Bahkan menghiraukan pandangan semua orang menilai mereka sesuka hati. Terserah mereka mau berkata apa, yang jelas Nirmala mau membawa suaminya dari tempat itu.


Hatinya masih terasa panas saat mengingat kekasih suaminya itu bergelantungan seperti monyet di lengan suaminya. Nirmala tak suka, Nirmala marah bahkan benci dengan kelakuan gadis tengil itu.


"Mbak motor gue?"


"Sayang kamu jahat!!!!! Aku membencimu Dafa!!!" Teriakan Lala seakan angin lalu bagi Dafa maupun Nirmala. Kedua orang itu tetap terus melangkah hingga sampai pada mobil biru langit milik Nirmala.


"Mbak," panggil Dafa saat dia telah memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.


"Hmm, ada apa?" Nirmala menatap ke arah suaminya sekilas sebelum menghidupkan mesin mobil untuk di jalankan.


"Lo udah jatuh cinta ya sama gue?" tanya Dafa menatap serius istrinya itu. Bahagia? Jelas Dafa bahagia. Akhirnya keinginannya akhirnya tercapai. Dengan sadar istrinya itu menampakkan kecemburuannya. Apalagi ini bukan di rumah melainkan kampus tempat dimana banyak orang yang menyaksikan kecemburuan seorang istri lantaran ada seorang gadis bergelayut manja di lengannya.


"Kenapa lo nanya gitu?" Melirik sekilas ke arah suaminya, baru setelah itu menatap jalan raya yang mana mobil tengah memecah ramainya kendaraan lain.


"Gue hanya pengen tahu saja Mbak, lo udah jatuh cinta sama gue 'kan?"

__ADS_1


"Apa lo nggak bisa ngeliat apa yang baru saja gue lakuin di kampus lo? Apa perbuatan gue nggak bikin lo percaya sama gue? Harusnya lo nggak perlu nanya lagi, karena dari itu semua sudah membuktikannya dengan jelas."


Dafa mengangguk. "Sejak kapan lo suka sama gue, Mbak?" tanya Dafa penasaran.


"Mungkin sudah lama kali ya?"


"Iya sejak lamanya itu kapan Mbak, gue serius penasaran loh?"


"Emmm, mungkin sejak lo mau mencium kekasih lo di rumah, iya kalau tidak salah sejak itu,"


"Seriusan Mbak? Itu sudah beberapa bulan yang lalu loh? Kenapa sih lo nggak jujur sama perasaan lo ke gue?"


"Lo kek nggak tahu gimana gue saja Dafa. Malu lah kalau gue ngungkapin perasaan sama lo. Mana tahu lo bakal nolak gue 'kan? Yang ada gue malah malu sama lo," jawab Nirmala jujur.


"Ngapain ko harus malu Mbak? Bukankah sejak awal gue sudah ngomong sama lo kalau gue nikah cuman satu kali seumur hidup. Tapi, jika beneran lo gugat cerai gue 1 tahun setelah pernikahan sudah pasti gue bakal nikah lagi Mbak. Gue juga pengen punya anak-anak yang lucu bersama istri gue," ungkap Dafa jujur. Sungguh dia ingin sekali memiliki banyak anak bersama istrinya. Biar rumah jadi ramai, bukan seperti dirinya yang hanya anak tunggal. Sepi, tak ada penghuni. Apalagi kalau Mama sama Papanya ada urusan bisnis yang tidak bisa di tinggal, yang ada dia hanya bertemankan pembantu di rumah.


"Karena gue nggak yakin dengan ucapan lo. Gue takut saat gue jujur lo malah nolak gue. Dan yang lebih parahnya lagi lo mau mewujudkan permintaan gue, maka dari itu gue lebih memilih mempertahankan ego gue,"


"Kalau lo emang cinta sama gue, lo nggak akan takut dengan yang namanya kegagalan Mbak. Lo nggak akan takut jika gue nolak lo, dan harusnya lo ingat dengan surat perjanjian yang lo buat. Bukankah lo bisa sesuka hati lo buat batalin surat itu? Lantas apa nyang hendak lo takutin Mbak?"


Nirmala terdiam. Apa yang dikatakan Dafa menang benar. Namun saat itu hati dan pikirannya sudah sangat cemburu buta sehingga dia lupa akan surat kontrak itu. "Gue juga lupa dengan surat itu, kalau gue ingat sudah dari dulu gue robek itu surat." ucap Nirmala menggebu.


"Makanya kalau cemburu itu akuin, jangan ego yang digedein Mbak. Asal ko tahu ya Mbak jika saja lo dari awal jujur sama gue sudah dari dulu gue putusin pacar gue karena, gua tidak ingin menghianati pernikahan kita tapi, karena lo menginginkan pernikahan satu tahun makanya gue masih berhubungan sama pacar gue. Gue rela mutusin dia demi lo Mbak, hanya demi lo gue rela. Asalkan rumah tangga kita bertahan sampai akhir hayat kita." jujur Dafa untuk kesekian kalinya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2