
Hari ini Dafa sudah kembali lagi ke kampus karena, dirinya sudah sehat dan sudah bisa kembali mengenakan celana dan tidak membuat miliknya merasakan sakit. Bengkak yang kemaren kini sudah tidak ada lagi. Leno sudah sehat wal afiat, tidak ada lagi flu yang menyerang dirinya.
"Sayang, aku nggak mau putus dari kamu, aku sangat mecintai kamu, Sayang," Lala langsung menghampiri Dafa yang baru saja turun dari motornya. Gadis itu mengapit lengan Dafa posesif seakan takut kehilangan laki-laki itu.
"Kita sudah putus La, maafkan aku. Aku sudah tidak bisa lagi bersama kamu, aku sudah memiliki istri yang harus aku jaga perasaannya. Aku hanya kamu paham dengan apa yang aku katakan La," Dafa melepaskan tangan Lala yang bergelayut di lengannya.
"Tidak Sayang, aku hanya mau kamu. Aku tahu kamu terpaksa menikah sama Mbak itu, jadi aku akan tetap bersama kamu sampai kita menikah dan memiliki anak yang lucu-lucu Sayang," Kembali Lala meraih lengan Dafa. Memeluk erat lengan kokoh itu layaknya seekor kukang yang bergelayut pada pohon kayu. Membenamkan wajahnya pada lengan Dafa persis sekali seperti kukang hitam.
"Meski awalnya aku terpaksa menikah sama Mbak Mala bukan berarti aku akan mempermainkan ikatan sakral itu La. Aku juga tidak pernah berniat mencarikan madu untuk istriku. Cukup dia yang akan memberikan aku seorang keturunan nanti tidak untuk wanita lain. Jadi kamu harus paham sampai di sani La," Kembali Dafa melepaskan tangan Lala di lengannya yang di peluk erat tangan gadis itu.
Lala menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Baiklah, tapi aku tidak masalah jika menjadi simpanan kamu, Sayang. Aku tidak masalah jika hubungan kita tidak di ketahui orang lain terutama istri kamu. Aku rela menjadi yang kedua demi kamu, Sayang. Aku hanya ingin kamu, hanya kamu yang aku inginkan Sayang. Kamu harus percaya aku hanya mencitai kamu, Sayang," ungkap Lala jujur. Karena hanya laki-laki itu yang ada di hatinya kini, hanya laki-laki itu yang berada di dalam pikirannya. Tak ada laki-laki lain selain dirinya.
"Itu namanya kamu buka suka ataupun cinta sama aku, La. Kamu hanya terobsesi atas diriku. Jadi aku harap cukup sampai disini kamu berharap sama aku, aku tidak akan pernah mencari wanita lain di kala istriku tidak ada tandingannya dengan wanita manapun!" tekan Dafa menatap Lala yang menatap dirinya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu harus bahagia La, kamu harus buktikan jika kamu bisa melewati ini semua tanpa kehadiran aku. Aku percaya kamu gadis kuat, tetal semangat La. Banyak laki-laki diluaran sana yang menginginkan kamu, La," lanjut Dafa kepada gadis itu.
__ADS_1
"Aku hanya mau kamu Dafa, hanya kamu kebahgiaan dalam hidupku. Hanya kamu satu-satunya laki-laki yang membuat aku jatuh cinta Dafa, aku mohon kembalilah, kembalilah untuk aku dan cinta kita," Mohonnya.
"Maafkan aku, La. Aku tidak akan bisa lagi kembali sama kamu karena, aku sudah memiliki istri." jawab Dafa menbuat air mata Lala mengalir dengan derasnya.
"Apa secepat itu kamu melupakan kisah kita, Dafa? Apa secepat itu kamu melupakan cinta kamu sama aku? Bukankah kamu mengatakan jika kamu sangat mencintaiku? Lantas sekarang kemana menguapnya rasa cinta itu untuk aku, Dafa? Kenapa kamu tega meningalkan aku seperti ini Dafa? Tak kah kamu berfikir bagaimana perasaan aku? Dan bukankah kamu tidak mencintai Mbak itu?" Lala menghapus kasar air matanya.
"Maafkan aku, La. Kamu benar aku tidak mencintai Mbak Mala," jawab Dafa menerawang namun menerbitkan senyum manis di bibir Lala.
"Maka dari itu kembalilah sama aku, Dafa. Aku akan memberikan segenap rasa cinta itu hanya untuk kamu. Aku akan menumpahkan segala rasa cinta yang tidak di berikan Mbak itu sama kamu, Sayang," ucap Lala dengan senyum semakin mengembang. Seakan ada harapan di depan matanya saat ini.
"Kamu salah La, kamu salah mengira jika Mbak Mala tidak mencintai aku, dia sangat mencintaiku La, seluruh hatinya sudah aku genggam tanpa ada cela untuk laki-laki lain masuk." jawab Dafa jujur. Lagian memang itukan yang dikatakan istri waktu itu. Aahhhh, membayangkan itu rasanya Dafa ingin mendatangi kantor istrinya dan memberikan ciuman di seluruh wajah cantik istrinya.
"Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku, Dafa? Dimana janji kamu saat itu jika kamu akan menikahi aku? Dimana janji itu sekarang Dafa?" Tagih Lala menatap Dafa dengan sorot mata yang sayu.
"Maafkan aku yang ingkar akan janji aku waktu itu La. Ketahuilah jika kita memang bukan berjodoh La. Maafkan aku, maafkan aku sudah membuat kamu kecewa. Tapi aku yakin kamu pasti akan bahagia ditangan laki-laki yang tepat." ujar Dafa meminta maaf. Memang dia mengakui dirinya salah, tapi Dafa juga tidak bisa menyalahkan takdir Allah untuk dirinya bukan? Dafa hanya seorang hamba yang akan menjalankan setiap garis takdir dari Allah dengan ikhlas.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Dafa. Tak kah kamu melihat betapa dalam aku mecintai kamu? Kenapa dengan mudah kamu berkata seperti itu seakan-akan aku memang tak pernah singgah di hati kamu?" Lala menatap kecewa wajah Dafa.
"Aku tahu kamu mencintai aku, La. Tapi kita memang tidak ditakdirkan bersama makanya aku menikah dengan wanita lain. Sekarang mari kita hidup dengan kebahagiaan masing-masing. Bukalah lembaran baru di dalam hidup kamu, La. Begitupun dengan aku,"
Dengan derai air mata Lala menganggukkak kepala berat. Rasanya sungguh dirinya belum sanggup untuk kehilangan laki-laki itu dari hidupnya. Namun, kini kenyataan jika matan kekasihnya itu sudah menikah membuat Lala tidak bisa berbuat apa-apa. "Baiklah jika itu yang kamu mau Dafa, aku juga tidak mungkin akan terus maksa kamu. Terima kasih atas cinta serta luka yang kamu berikan secara bersamaan. Semoga kamu bahagia didalam pernikahan kamu,"
"Aku berharap kamu menemukan kebahagiaan di dalam hidup kamu, La juga dengan diriku."
"Baiklah aku pamit," Lala meninggalkan Dafa yang masih berdiri di samping motornya.
Dafa menatap kepergian mantan kekasihnya itu. Dafa tahu jika matanya itu hanga terlalu terobsesi akan dirinya. Gadis itu tidak benar-benar mecintai dirinya, gadis itu hanya membohongi hatinya sendiri dengan dalih mecintai Dafa begitu dalam. Jikapun dia memang mencintai Dafa tak mungkin gadis itu berkata sepeti itu. Bukankah cinta itu tak harus memiliki? Bukankah cinta akan membiarkan cintanya bahagia dengan pilihannya sendiri?
Dafa baru melangkah menuju kelasnya setelah tak melihat lagi tubuh Lala yang sudah di telan tembok kampus. Mengambil benda pipih di dalam sakunya lalu membuka galeri untuk melihat potret dirinya dan Nirmala yang tadi pagi diambilnya saat bangun tidur. Tampak wajah istrinya itu saat cantik dengan rambut kusutnya. Membuat Dafa tersenyum begitu bahagianya.
TBC
__ADS_1