ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 25


__ADS_3

"ASTAGA MBAK!!" pekik Dafa saat Nirmala malah meloncat naik ke atas tubuhnya yang tengah menyender disofa.


Nirmala mengalungkan tangannya di leher Dafa dengan senyum mengembang di bibir pink itu. "Beraninya lo matiin telpon gue tadi pas di kampus sama di bawah tadi?"


"Lo itu nelpon gue nggak tahu waktu. Masa lo nelpon gue saat gue di jam kuliah apalagi tadi gue itu sedang ulangan Mbak. Harusnya lo mikir dulu dong kalau mau hubungin gue. Sudah untung gue angkat sebentar kalau nggak gimana?" Dafa menaikkan alisnya sebelah.


Nirmala mengerucutkan bibirnya kesal. "Gue mau balas dendam sama lo!" ujar Nirmala turun dari pangkuan Dafa.


"Balas dendam? Balas dendam apa? Lagian gue nggak punya salah sama lo, Mbak," Dafa menatap istrinya itu aneh. Lagian dirinya tidak melakukan apa-apa lalu apa yang yang dimaksud balas dendam oleh istri itu.


Nirmala berjalan menuju meja kerjanya mengambil pinset di dalam laci meja kerjanya. Dengan senyum mengembang Nirmala kembali duduk di pangkuan suaminya.


"Ehh, buat apa lo bawa-bawa pingset Mbak?" Dafa menjauhkan kepalanya saat Nirmala mendekatkan pingset itu ke matanya.


"Lo beneran nggak tahu apa fungsi alat ini?" tanya Nirmala membuat Dafa mengangguk.


"Gue tahu Mbak buat cabut jenggot, buat cabut brewok, buat cabut bulket atau bulu ketek, buat cabut bu---"


"Stopp!!!! Nggak usah lo sebutin semuanya. intinya fungsi benda ini untuk mencabut bulu. Jadi bulu mana di bagian tubuh lo yang akan gue cabut? Pilih sebelum gue yang milih sendiri!" Nirmala memainkan pingset itu didepan mata Dafa yang tampak membola.


"Nggak ada, gue nggak akan milih apapun." tolak Dafa lantang.


Nirmala mengangguk-anggukkan kepalanya. "Gue nggak memberi lo pilihan mau atau tidak tapi, gue hanya memberi lo pilihan salah satu dari semua bulu yang lo punya. Apa mau brewok lo yang belum lo cukur ini gue cabut? Atau bulu yang ba---"


"Pokoknya gue nggak mau!!! Gue nggak mau satupun bulu gue lo cabut Mbak!" ujar Dafa memotong ucapan istrinya. Enak saja istrinya itu mau mencabut bulu di bagian tubuhnya. Dikira enak jka bulu itu di cabut, yang ada malah sakit.


"Pilih sendiri atau gue yang milih?!" Nirmala semakin menyodorkan pingset itu ke depan wajah suaminya.

__ADS_1


"Astaga Mbak, apa nggak ada hal lain apa? Contohnya yang bermanfaat gitu? Kalau ini bukannya enakan malah sakit. Coba saja bulu tangan lo di cabut pakai itu pingset. Kalau sakit itupun yang gue rasain Mbak. Lo kerjaannya aneh-aneh banget deh Mbak."


"Gue nggak butuh saran lo untuk mencoba sama buku tangan gue. Gimana? Gue milih atau lo?"


"Astaga Mbak, gue nggak mau. Lagian apa sih tujuan lo nyuruh gue ke sini? Nggak ada yang berfaedah apa?" Dafa menatap malas istrinya yang masih asik memainkan pingset didepan wajahnya.


"Cepat pilih sebelum gue yang milih. Ntar lo jangan nyesel sama apa yang gue pilih ya?"


"Sudahlah Mbak, gue nggak mau. Lagian letak kesalahan gue dimana sehingga lo mau balas dendam sama gue?"


"Letak salah lo karena lo sudah berani matiin telpon gue tanpa dengerin dulu apa yang mau gue omongin sama lo."


"Yaelah Mbak tadi kan gue sudah jelasin sama lo kalau gue itu sedang ulangan. Nggak mungkin gara-gara asik telponan sama lo malah nilai ujian gue E, kan nggak lucu Mbak."


"Ok alasan itu bisa gue terima tapi, tidak untuk lo dengan lancang matiin telpon gue saat di depan receptionis tadi." Nirmala semakin mendekatkan pingset itu pada wajah suaminya yang langsung saja menghidar.


"Makanya cepat pilih sebelum gue yang milih. Jangan banyak cincong sebelum pingset ini mencabut bulu yang lo jaga dengan baik." Senyum sinis mengembang di wajah Nirmala saat menatap wajah suaminya yang pias.


"Lo jangan aneh-aneh Mbak. Lagian apa untungnya lo nyabut bulu gue?"


"Untungnya? Ya gue senang lah lihat lo sengsara. Gue bahagia lihat wajah pias lo seperti ini. Apalagi suara teriakan lo yang amat gue sukai." Dengan suara lantang Nirmala mendekatkan mulutnya pada telinga Dafa.


"Pilih cepat atau lo bakal nyesel?"


"Gue nggak ma..., MAMA!!!!!" Belum sempat Dafa meneruskan ucapannya, rasa sakit sudah menyerang dirinya lebih dulu. Istrinya dengan cepat mencabut tiga helai bulu kakinya yang kebetulan tersingkap celana bahan yang dipakainya.


"Mau pilih sendiri atau gue yang milih?" Lagi-lagi Nirmala menampilkan senyum sinis kepada suaminya.

__ADS_1


"Nggak!!! Gue nggak bakal mau. Bulu gue sudah gue rawat dengan penuh cinta, dan sekarang seenak jidat lo, lo malah menca..., MAMA BULU ANAKMU HAMPIR HABIS!!!" Lagi-lagi teriakan Dafa memenuhi ruangan Nirmala. Bahkan Nirmala sampai terkekeh melihat reaksi suaminya yang tampak mengemaskan.


Itu bukan lagi bulu kaki yang dicabut Nirmala melainkan bulu yang terdapat di balik baju kaos yang dipakai Dafa. Kebetulan kaos yang digunakn suaminya terangkat ke atas hingga memperlihatkan perutnya yang kekar serta bulu-bulu halus yang tumbuh di atas pusarnya.


"Masih tidak mau memilih? Atau lagi-lagi gue yang bakal memilih sesuai dengan yang gue inginkan?" Nirmala memainkan bulu-bulu Dafa yang berhasil dicabutnya menggunakan besi kecil itu.


"Nggak!!! Gue ngejaga ini bulu dengan sepenuh hati. Dua kali sehari selalu gue sabunin buat mereka tumbuh dengan subur. Tapi kini karena lo mereka sedikit tandus. Tetap, gue nggak akan memilih apa yang lo minta." jawab Dafa menurunkan kaosnya yang tertangkat.


"Ok kalau lo nggak mau milih biar gue sendiri yang milih. Sesuai dengan apa yang k. Gue katakan ok jangan nyesek hujan pilihan gue malah buta lo nggak rela."


"Sudahlah Mbak, lo ngak lucu kalau main seperti ini. Kek anak kec..., MAMA!!!" Kembali Dafa berteriak dengan kencang karena rasa sakit yang dia rasakan di dadanya. Nirmala dengan secepat kilat menarik baju Dafa membuat dadanya yang di tumbuhi bulu remang itu merasakan sakit lantaran di cabut dengan tidak manusiawi oleh istrinya sendiri.


Dafa mengusap-ngusap dadanya yang terasa sakit. Ntah kenapa bulu itu bisa tumbuh mekar di dadanya meski tidak lebat. Hanya saja kenapa harus tumbuh dan sekarang sudah agak tandus karena ulah tangan nakal istrinya.


Mata Dafa kini beralih menatap istrinya yang tersenyum dengan lebarnya. Seakan memenangkan undian mencabut perbuluan di tubuh seorang suami.


"Ehhh, lo ngapain?!" Nirmala terkejut karena suaminya itu mengambil pingset yang berada di tangannya lali melempar jauh ntah kemana.


"Sudah cukup lo membuat bulu-bulu kesayangan gue mati karena lo cabut. Sekarang giliran gue membuat hal lain sama lo." Senyum sinis kini terbit di bibir Dafa. Membalikkan dengan segera tubuh istrinya hingga terlentang di atas sofa.


Degan segera Dafa melahap habis bibir pink milik istrinya tanpa memberikan jeda, membuat mata Nirmala membola dengan sempurna. Bahkan pukulan-pukulan yang diberikan Nirmala pada dadanya tak diindahkan Dafa. Laki-laki yang masih berstatus seorang pelajar itu tak membrikan ruang untuk istrinya hanya sekedar menghirup oksigen.


"Lo mau bunuh gue kira-kira dong!!" bentak Nirmala saat Dafa melepaskan tautan bibir mereka. Mengambil demgan rakus oksigen di sekitarnya


Dafa tak menghiraukan ucapan Nirmala namun, kembali menautkan bibir mereka. Me*u*m* bibir itu dengan lembut sehingga Nirmala sendiri merasa terbuai.


"Astagfirullah, Bu Nirmala!!!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2