
Dafa membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan perasaan kesal bercampur sedih. Leno yang tadi berdiri dengan kokohnya kini sudah kembali menjadi imut dan lucu. Menutup matanya dengan lengannya yang kokoh.
Sedangkan Nirmala berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lupa gadis itu membawa pakaian gantinya tanpa lupa membawa yang dia butuhkan.
"Daf, lo marah sama gue?" Nirmala menghampiri suaminya yang masih seperti tadi dia tinggal. Bahkan tubuh itu tanpa di tutup sehelai kainpun. Membiarkan dirinya di terpa pendingin ruangan yang menurun ke tulang.
"Buat apa gue marah Mbak? Lagian itu sudah fitrahnya seorang wanita. Marah pun gue sama lo nggak akan membuat tamu bulanan lo bisa di pending, bukan?" Dafa menyingkirkan tangannya dari kedua matanya. Menatap istrinya yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Iya tapi kan lo tersiksa Daf, gue nggak tega liatnya. Padahal tadi gue lohat lo sudah sangat siapa banget," ujarnya tak enak hati.
"Sudahlah Mbak, lagian Leno juga sudah kembali tidur yang artinya sudah kembali lelah. Lagian berapa hari tamu bulanan lo?" tanya Dafa mengelus lembut kulut halus istrinya.
"Semingguan kadang juga lebih 2 hari,"
Dafa menekuk wajahnya dalam. "Lama banget Mbak, mana sanggup gue nahan selama itu Mbak," ujarnya risau. Menguyar rambutnya sampai berantakan.
"Lah biasanya lo sanggup kenapa sekarang sudah tidak sanggup segala? Lagian lo juga belum ceblos kok," Dengus Nirmala heran.
"Ya itu sudah beda kali Mbak, kalau biasanya hanya bibir lo doang tapi tadi itu sudah sangat beda Mbak. Mana lagi pikiran gue yang terus berada pada adegan tadi," ujarnya membuat Leno kembali bereaksi dengan sendirinya.
Mata Nirmala membulat melihat Leno yang sudah kembali bangun dengan gagahnya. Tanpa dapat di cegah tangan itu mengelus lembut Leno yang bergerak-gerak gelisah.
"Eemmmmmmrrr!!!" Dafa mengeram mendapatkan sentuhan tangan istrinya yang hangat serta lembut.
Mata Dafa terpejam menikmati tangan istrinya yang tengah bermain dengan Leno. "Jangan berhenti ya Mbak," pinta Dafa yang mendapat anggukan dari Nirmala.
Hingga akhirnya apa yang diinginkan Dafa terkabul. Membuat Leno kembali berubah imut dan lucu. Setelahnya Dafa bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Terima kasih Mbak, sudah bantu gue," ucap Dafa yang baru ke luar dari kamar mandi. Menemukan istrinya yang tengah duduk selonjoran di atas ranjang."
"Sama-sama, lagian itu juga sudah tugas gue," jawab Nirmala.
*****
Dafa, Nirmala serta kedua orang-tua Dafa datang berkunjung ke kediaman mereka. Wanita itu susah sangat rindu dengan anak bujangnya yang tak pulang-pulang. Semenjak menikah dengan Nirmala bisa di hitung berapa kali Dafa berkunjung kerumah mereka. Bukan mereka menuduh Nirmala melarang anak mereka pulang tidak, hanya saja mereka paham jika kuliah anaknya saat ini tengah padat-padatnya.
"Gimana kabar Mama sama Papa?" tanya Nirmala menatap bergantian kedua mertuanya.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat Mala. Mama sehat," jawab wanita paruh baya itu kepada sang menantu.
"Papa juga sehat Mala,"
__ADS_1
Nirmala menganggukkan kepalanya. "Syukurlah Ma, Pa."
"Mama nggak bawa oleh-oleh buat aku sama Mbak Mala?" tanya Dafa kepada ibunya yang asuk duduk berdampingan bersama suaminya.
Rika mendelik mendengar ucapan anaknya, bukannya menanyakan kabar dirinya malah membahas oleh-oleh. Sungguh kurang ajar anaknya itu.
"Kalau ketemu orang-tua itu jangan makanan mulu yang ada di kepala kamu itu Daf. Tanyain dulu kabarnya kek, atau apalah yang penting basa-basi." Dengus Rika kepada putranya.
"Hehehe maaf Ma, lagian yang ada di kepala aku ya cuma makanan, makanya aku nanyain sama Mama," ujar Dafa cengengesan.
"Makan belajar yang pinter kek istri kamu itu. Ketemu orangtua langsung nanyain kabar nggak kek kamu. Cuman makanan, makanan, dan makanan yang ada di kepala kamu,"
"Yee, apa susahnya sih Ma jawab itu doang berat banget rasanya. Wajar dong aku nanyain makanan sama Mama, lagian Mama juga tahu bagaimana aku, bukan?" tanya Dafa.
"Emm iya iya Mama tahu bagaimana kamu." jawab Rika pasrah. Lagian dirinya malas bedebat dengan putranya yang dia yakini tidak akan ada habisnya. Apalagi Dafa cukup cerewet sebagai laki-laki menurut Rika. Persis seperti dirinya yang nyinyir.
"Mama sama Papa nginap di sini malam ini?" tanya Dafa.
"Kenapa kamu nanyanya gitu Daf? Emang kamu nggak suka kalau Mama sama Papa nginap di sini apa?" pertanyaan Dafa membuat Rika tersinggung. Seakan dirinya memang tidak di perbolehkan untuk menginap di rumah menantunya itu.
"Astaga! Mama kok pikirannya negatif mulu sama aku sih? Lagian aku nanyanya juga baik-baik kali Ma,"
"Ya pertanyaan kamu aneh-aneh saja tahu nggak." protes Rika tidak suka.
"Terserah kamu mau ngomong apa Dafa, malas Mama debat sama kamu yang pastinya tidak akan ada ujungnya."
"Lagian nggak ada juga yang mau debat sama Mama kok. Aku kan cuman nanyain doang Mama saja yang sensitif." ujar Dafa tidak suka.
Nirmala dan Ayah mertuanya hanya menjadi saksi dari perdebatan antara Dafa dan juga Rika. Mau ikut campur juga tidak akan ada gunanya. Kedua orang itu tampak mempertahankan ego mereka masing-masing.
"Ma nginap sini saja malam ini ya?" pinta Nirmala kepada ibu mertuanya yang hendak pulang bersama suaminya.
"Maaf Sayang, Mama tidak bisa nginap sini untuk malam ini. Soalnya Papa masih ada pekerjaan kantor yang belum di selesaikannya. Lain kali pasti Mama sama Papa akan nginap di sini," bujuk Rika kepada menantunya.
__ADS_1
"Hmmm baiklah Ma, aku juga nggak bisa maksa Mama untuk nginap di sini. Tapi lain kali janji ya Ma nginap di sini bareng aku sama Dafa?"
Rika mengangguk. "Iya Sayang, Mama janji lain kali Mama akan nginap di sini. Jangan lupa kasih Mama bulan depan kado terindah ya?" pinta Rika menatap penuh maksud kepada menantu serta sang putra.
"Maksud Mama?" tanya Nirmala bingung. Tidak menggerti dengan apa yang dimaksud ibun mertuanya.
"Cucu, Mama pengen punya cucu. Bulan depan beri Mama kabar bahagia itu ya? Sudah lama sekali Mama nungguin kalian ngasih Mama cucu," ujarnya membuat Nirmala bersemu.
'Boro-boro dapat cucu, ceblos saja belum sama sekali. Saat sudah siap malah si palang merah datang!' gumam Dafa mendapat cubitan pada pinggannya oleh Nirmala. Masalahnya Nirmala takut jika ibu mertuanya itu mendengar gumaman Dafa.
"Heheh iya Ma, do'ain saja semoga keinginan Mama terkabul," ujar Nirmala dengan salah tingkah.
"Pasti Sayang. Ya sudah Mama sama Papa pulang dulu," pamit Rika yang diangguki Dafa maupun Nirmala.
Sepeninggal ke-dua orang-tua Dafa, Nirmala menatap sinis suaminya yang tampak acuh tak acuh. "Ngapain lo ngomong kek tadi ha? Kalau orang-tua lo dengan gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana lah Mbak, lagian apa yang gue bilang juga tidak bohong kan? Itu nyata loh Mbak,"
"Ya harusnya lo nggak usah bergumam sampai seperti itu juga kali. Ntar kalau tamu gue sudah habis pasti gue akan kasih sama lo. Lagian kemaren juga gue mana ingat kalau itu harinya dia datang," Dumel Nirmala melangkah dari hadapan suaminya. Malas berdebat dengan suaminya yang bermulut emak-emak.
"Ya ya ya ya," ujar Dafa mengikuti langkah istrinya.
__ADS_1
TBC