ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 27


__ADS_3

Nirmaka menutup matanya dengan rapat saat suaminya telah berdiri tepat di depannya. Namun, dengan spontan kaki jenjang Nirmala menendang milik suaminya hingga suara teriakan Dafa membuat Nirmala membuka kedua kelopak matanya dengan sempurna.


Nirmala menyaksikan Dafa yang berguling-guling di lantai sambil memegang inti tubuhnya yang kesakitan.


"Dafa," Nirmala mendekati suaminya yang mengerang kesakitan serta wajah yang berubah pucat. Air mata membasahi pipi suaminya.


"Dafa maafin gue, gue benar-benar nggak sengaja. Gu-gue takut!" Nirmala berusaha meminta maaf kepada suaminya yang lebih dulu pingsan karena menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Dafa lo jangan bercanda!! Ini nggak beneran lucu banget Dafa!!! Lo jangan bikin gue takut kek gini dong Daf!! Dafa!!!" Nirmala menguncang tubuh suaminya yang sudah tak lagi bergerak. Mata Nirmala membulat ketika melihat inti tubuh suaminya yang membengkak ulah dirinya.


Degan segera Nirmala membungkus tubuhnya dengan baju seadanya. Berusaha sekuat tenaga memakaikan pakain suaminya yang lumayan sulit. Tak mungkin Nirmala menyuruh bawahamnya untuk memakaikan baju suaminya, yang ada dirinya akan merasa malu. Apalagi suaminya pingsan ulah dirinya yang tidak memikirkan apa akibat yang akan di alami suaminya. Hingga akhirnya Nirmala meminta bawahannya untuk membawa Dafa keluar dari perusahaan agar segera di bawa ke ruang sakit.


*****


"Dok, bagaimana keadaan suami saya? Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Nirmala cemas saat dokter laki-laki yang mungkin usia sekitar 45 tahunan itu keluar dari ruangan diaman suaminya berada. "emmm, apa itunya baik-baik saja Dok?" tanya Nirmala tersipu malu.


"Alhamdulillah suami anda baik-baik saja. Bagian yang bengkak sudah kami kasih salep pengurang bengkak serta rasa nyeri. Mungkin untuk beberapa hari ke depan Anda dan suami belum bisa untuk melakukan hubungan suami istri. Dan jangan sampai lagi hal seperti ini terjadi, karena bisa saja suami anda tidak bisa memberikan anda keturunan." jawab dokter.


"Emm baiklah Dok, terima kasih. Apa saya sudah bisa menemui suami saya, Dok?"


"Tunggulah sebentar lagi suami anda akan di pindahkan keruangan rawatnya." jawab dokter itu yang di angguki Nirmala.




"Dafa maafin gue, gue benar-benar tidak bermaksud nendang milik lo. Gue takut, sumpah gue hanya takut ngelakuin itu." Nirmala berdiri di samping brankar suaminya yang sudah terbangun.



Dafa malas menatap istrinya yang tidak juga bisa berubah. Awalnya pinggangnya yang merasakan sakit, lalu matanya dan sekarang sesuatu yang akan memberikan dirinya seorang keturunan juga ikut jadi sasaran Nirmala. Besok-besok ntah kesialan apa lagi yang akan di alami Dafa.



"Kalau memang lo belum siap lo bisa ngomong sama gue, Mbak. Gue juga tidak akan maksa lo yg buat ngelakuin kewajiban lo saat itu juga." Marah juga Dafa percuma, karena miliknya tidak akan sembuh karena dirinya memarahi istrinya.



"Maafin gue, gue benar-benar nggak sengaja. Gue takut lo marah sama gue karena nggak gue kasih." jawabnya cemberut.

__ADS_1



Dafa melenggos mendengar ucapan istrinya. "Apa bedanya dengan sekarang Mbak, bahkan gue juga belum mencobanya dan sekarang gue malah berada di rumah sakit. Itupun karena ulah lo yang nggak berfikir sebelum melakukan." ungkap Dafa menatap istrinya.



"Sumpah pengen banget gue marah sama lo Mbak, tapi gue sadar milik gue nggak akan kembali seperti semula sampai gue menjalani pengobatan sampai sembuh." Rasa nyeri masih teras di bagian tubuh Dafa. Meskipun sudah di beri obat pereda nyeri tetap saja rasa negeri itu ada.



"Maafin gue, gue nggak akan ngulangin hal yang sama lagi. Gue janji."



"Lo memang bukan ngulangin hal yang sama Mbak, tapi tetap saja lo lakuin hal yang lain di bagian tubuh gue. Coba deh lo bayangin sejak kita menikah lo sudah 3 kali bikin gue berteriak kesakitan. Yang pertama lo nendang gue pas gue cium lo di sofa, yang ke-dua lo lemparin gue dengan stick kentang dengan bumbu pedas di meja makan dan yang ketiga, yang sekarang. Belum lagi waktu lo nendang gue dari atas ranjang sebanyak dua kali saat masih di rumah orang-tua lo. Lebih dari tiga kali Mbak, tapi yang di rumah orang-tua lo masih bisa gue maklumi karan itu tak seberapa dari yang 3 kali lo lakukan di rumah lo yang sekarang Mbak. Bayangin jika itu terjadi sama lo,"



Mulut Nirmala terkatup mendengar ucapan suaminya. Semuanya memang benar, dia melakukan tanpa pernah berfikir sebelum bertindak. Padahal saat dikantor Nirmala sangat teliti dalam segala hal. Namun, saat bersama dengan Dafa Nirmala tidak pernah berfikir jernih bahkan itu pun berlaku pada adik laki-lakinya yang kini berada di luar negeri.




Dafa menarik tubuh istrinya yang berada di sampingnya. Memeluk tubuh langsimg itu dengan tubuhnya yang lumayan besar meski umurnya belum gelap 20 tahun tapi, tubuh Nirmala cukup kecil untuk ukuran tubuhnya.



"Baiklah sekarang gue maafin lo, Tapi ingat ini yang terakhir kalinya lo bikin tubuh gue serasa mau mati. Untuk selanjutnya gue nggak akan maafin lo. Apapun itu bentuk kesalahan fatal yang lo lakuin ke gue," Dafa melepaskan pelukannya dari istrinya. Menghapus air mata yang keluar dari netra cantik itu.



"Jangan nangis lagi, gue nggak suka lihat lo nangis kek gini Mbak. Gue lebih suka lo yang tegas seperti biasanya dari pada manis kek gini. Lo nggak cocok untuk nangis karena jelas terlihat dari aura lo yang kejam, Mbak,"



"Lo kalau ngomong jangan seenak jidat dong. Enak banget lo ngomongin gue memiliki aura kejam." Nirmala memukul lengan Dafa cukup keras membuat laki-laki itu malah tertawa renyah.


__ADS_1


"Nggak usah tertawa, nggak ada yang lucu juga kok."



"Gue lebih suka lo yang kek gini Mbak. Sumpah gue suka banget mulut ketus lo itu. Yok sini gue cium, gue masih pengen Mbak." Dafa menarik tangan istrinya yang sedikit jauh darinya.



"Sakit gini nyatanya fikiran mesum lo tetap saja ada ya. Heran gue?" Nirmala menatap suaminya tidak percaya.



"Ya nggak apa-apa lah Mbak, lagian yang sakit itu yang bawah sana bukan bibir gue. Lagian bibir gue masih bisa di gunain untuk ciuman sama lo Mbak. Dekat sini Mbak, gue masih ingin nyium bibir manis lo." Dafa semakin menarik tangan Nirmala yang tidak beranjak sedikitpun.



"Nggak mau, dasar mesum!!!" tolak Nirmala.



"Mesum sama istri sendiri itu wajar kok Mbak. Yang nggak wajah itu mesum saja tetangga. Ingat loh Mbak, lo bakal dapat dosa kalau nolak keinginan suami?" ancam Dafa yang membuat Nirmala mendekat pada suaminya.



"Awas saja kalau lo berani mesum sama tetangga! Ntar gue potong sosis lo terus gue kasih sama itu tetangga biar dia nggak bisa lupain sosis potong karya gue!!" ancam Nirmala balim. Dafa hanya meringis mendengar ucapan istrinya. Tidak terbayang bakal jadi apa miliknya jika itu terjadi.



"Gue nggak bakal lakuin itu kok Mbak. Lagian istri gue sudah cantik gini ngapain juga di duain. Belum tentu itu tetangga lebih canti dan menarik dari lo. Meskipun ntar dia memang lebih cantik dari lo, gue bakal tetap milih lo Mbak, istri gue," Jujur Dafa yang langsung menarik tubuh istrinya merapat pada tubuhnya.



Langsung saja Dafa meraup bibir manis istrinya. Menyecaci manisnya bibir itu dengan bibirnya yang tebal. Bahkan rasa nyeri yang dirasakan bagian bawah tubuh Dafa menghilang seketika. Ciuman itu sedikit menuntut meski Dafa tidak bisa melakukan hel lebih. Namun itu cukup untuk memenuhi keinginan batinnya.



'Leno, lo sabar dulu ya untuk beberapa hari kedepan. Sekarang gue nggak bisa menuhin keinginan lo karena lo lagi flu,' batin Dafa kepada miliknya sendiri.


__ADS_1


TBC


__ADS_2