
Setelah pergulatan yang dilakukan Dafa dan Nirmala kini kedua orang itu sudah dalam perjalanan pulang. Apalagi waktu sekarang sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Mbak gue cinta sama lo," ucap Dafa saat mereka masih dalam perjalanan pulang.
Nirmala menatap suaminya sekilas sebelum kembali pada jalan raya. "Gue juga cinta sama lo, Daf. Bahkan gue sudah cinta banget sama lo," jujurnya.
"Mbak lo mau kan hamil ulat-ulat sawah gue bulan depan?"
Citt!!!!!!
Nirmala mengerem mendadak kala mendengar ucapan suaminya yang terdengar menjijikkan. "Masa lo nyuruh gue hamil ulat-ulat sawah?" Protes Nirmala tidak sudah dengan ucapan suaminya.
"Ya kan memang benar Mbak, apa yang tadi kita lakuin di kantor lo bakalan jadi anak. Nah sebelum dia jadi anak pasti dia masih jadi ulat-ulat sawah sebelum berkembang menjadi janin Mbak?"
"Gue tahu, tapi nggak harus ulat-ulat sawah juga namamya kali Daf. Masa anak lo sendiri di bilang ulat-ulat sawah. Jijik banget gue dengernya tahu."
"Suka-suka gue dong Mbak, lo kalau mau ngasih nama juga itu hak lo Mbak. Kecuali jika dia nanti sudah lahir baru namanya hanya satu." jawab Dafa yang tetak kekeh dengan mana ulat-ulat sawah.
"Terserah lo deh. Mendingan namanya anak-anak nyamuk, biar nanti kalau sudah besar dia suka gigit lo!" Nirmala kembali melajukan mobilnya menuju rumah. Malas rasanya berdebat dengan suaminya yang terlalu nyinyir itu.
"Itu malah jelek banget namanya Mbak, mana itu anak-anaknya berenang terus dalam air. Nggak dingin apa?" ujar Dafa bergidik membayangkan larva nyamuk yang menari-nari lincah di dalam genangan air kotor dan bau.
__ADS_1
"Ya suka-suka gue dong,"
"Terserah lo Mbak. Jadi gimana keputusan lo Mbak? Lo masih mau undur untuk memiliki anak atau bulan depan kita sudah punya ulat-ulat sawah di perut lo?" tanya Dafa yang sudah kembali pada intinya pertanyaannya.
"Emmm, gue maunya bulan depan perut gue sudah isi anak kita Daf. Gue juga sudah pengen banget punya anak biar gue nggak ngurusin kantor yang bikin kepala gue pusing," ungkap Nirmala jujur.
"Terus siapa yang akan ngartiin lo di kantor kalau lo nggak ada Mbak? Daddy juga nggak akan mungkin bolak-balik kantor lo dan kantor Daddy bukan?"
"Ya nggak lah Daf, masa Daddy yang akan ngurusin kantor gue. Lagian gua sudah punya suami yang otomatis gue harus di gantiin sama lo." jawab Nirmala enteng yang membuat Dafa melongo.
"Astaga Mbak, ko kalau ngomong jangan ngada-ngada deh. Lagian lo tahu kalau gue itu masih kuliah Mbak," protes Dafa.
"Tapi gue kan masih mau fokus sama kuliah gue, Mbak? Masa lo tega ngebebanin gue sama pekerjaan kantor yang segunung itu?"
"Tegaan mana sama gue yang hamil ulat-ulat sawah lo? Emang lo mau ulat-ulat sawah lo itu keluar lagi dari perut gue?" ujarnya membuat Dafa menatap tajam ke arah istrinya itu.
"Gue nggak suka ya lo ngomong gitu ya Mbak. Ulat-ulat sawah gue harus tetap ada di perut lo bahkan gue sama lo akan nambah ulat-ulat sawah lagi kita dia sudah lahir. Gue pengen punya banyak anak dari lo, Mbak,"
Nirmala mendelik menatap suaminya. Enak saja suaminya itu ngomong seringan itu. Yang hamil dia, yang melahirkan dia yang juga ngerasain sakit juga dia. "Enak banget lo ngomong gitu ya? Nggak mikirin jika juga ngerasain sakitnya apa?" Nirmala mendengus menatap suaminya.
"Ya kan sakitnya saat awal doang Mbak, nanti kalau anak kita sudah lahir rasa sakit lo pasti juga bakal hilang sendirinya. Lagian nih ya Mbak, gue yakin banget pasti setelah masa nifas lo habisnya lo bakal rindu banget sama belaian gue, lo bakal rindu banget sama gue Mbak. Bahkan gue yakin lo pasti bakal hamil anak gue lagi," Dafa menatap istrinya itu dengan bangga. Padahal sekarang saja istrinya itu belum hamil namun ucapannya sudah terlalu jauh.
__ADS_1
"Lo mikirnya jangan terlalu jauh deh, hamil saja gue belum tapi lo sudah bahas anak selanjutnya," Nirmala menoyor kepala suaminya membuat Dafa tergelak. Lagian apa yang dikatakan istrinya itu menang benar. Tapi, itulah isi pikiran Dafa yang sudah membayangkan rumah tangga mereka penuh dengan canda tawa anak-anak mereka nantinya.
"Makanya sampai rumah kita masukin ulat-ulat sawah gue ke perut lo lagi Mbak, biar dia cepat berkembang jadi bayi yang lucu." ujar Dafa menggerlingkan matanya.
"Yeee, itu enak di lo lelah di gue. Gue nggak mau!" tolak Nirmala yang langsung saja turun dari dalam mobil karena saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah.
"Ya mana bisa gitu Mbak? Lagian lo juga ngerasain enaknya. Bahkan sering kali lo minta nambah seakan nggak ada puasnya!" teriak Dafa membuat Nirmala kembali berlari menuju suaminya. Membekap mulut cerewet itu dengan tangannya. Menatap tajam wajah Dafa meminta agar suaminya itu tidak berkata dengan suara keras seperti tadi. Dia malu dengan beberapa pergawai rumahnya yang menatap mereka dengan cekikikan.
"Ngapain lo ngomongnya keras-keras gitu ha? Lo nggak maku apa di sama mereka?" Nirmala menatap suaminya dengan kesal.
"Ngapain lo salahin gue, Mbak? Lagian itu juga salah lo sendiri yang ninggalin gue. Kalau gue ngomongnya kecil mana mungkin terdengar sama lo Mbak. Apalagi lo itu sudah lumayan jauh dari gue."
"Ya kan lo bisa ngejar gue dan ngomong ngak perlu pakai intonasi besar kek tadi." Nirmala masih kesal segala kelakukan suaminya yang menurutnya tak bisa menjaga privasi.
"Sudahkah Mbak, lagian ini juga sudah terjadi kok. Lo nggak perlu lagi marah," ujar Dafa menarik pinggang ramping Nirmala semakin mendekat ke arah tubuhnya.
"Nyenyenye. Serah lo!!" Nirmala semakin kesal dengan suaminya itu. Bukannya minta maaf tapi lihatlah apa yang dilakukan Dafa kepandanya. Meski begitu seulas senyum tetap terbit di bibir Nirmala.
"Mbak, bikin ulat-ulat sawah yang banyak yuk?" ajak Dafa mendekatkan mulutnya pada leher jenjang istrinya yang terdapat tanda kepemilikan sebanyak dua buah disana. Jika saja istrinya itu tak memperingati dirinya saat di kantor, mungkin cap gagak di leher istrinya itu sudah seperti kain batik yang di ukir oleh bibir tebal Dafa.
TBC
__ADS_1