
Semenjak Dafa tahu jika istrinya tengah hamil, semenjak itu pula mereka memutuskan untuk Nirmalan berhenti bekerja di perusahaan. Sesuai dengan keputusan awal mereka saat Dafa masih menduduki bangku kuliah jika, Nirmala hamil maka Dafa yang akan mengantikan Nirmala memimpin perusahaan.
Sudah dua bulan lamanya Dafa mengantikan posisi Nirmala di kantor. Meski awalnya sedikit berat namun, Dafa dapat mengatasinya dengan baik.
"Mas, aku ikut ke kantor ya?" pinta Nirmala bergelayut manja seperti kelabang di lengan Dafa. Wanita hamil itu sesekali menduselkan kepalanya pada lengan kekar itu.
"Sayang ku, cintaku, periku, isteriku, kamu di rumah saja ya? Nanti kamu kelelahan gimana, hamm? Mas nggak mau itu terjadi Sayang. Apalagi akhir-akhir ini kamu sering kelelahan meski tidak bekerja. Bahkan jalan sedikit jauh saja kamu sudah capek duluan, Mas nggak mau itu terjadi sama kamu, Sayang," Dafa mengusap lembut pipi Nirmala yang kini sudah seperti bakpau.
"Tapi aku takut kamu di kantor di goda-goda sama karyawan tidak tahu diri itu Mas," rajuknya yang masih bergelayut di lengan Dafa. Bahkan kini tangan itu semakin erat memeluk lengan Dafa.
"Buat apa kamu takut, hmm? Bukankah kamu tahu jika di dalam sini hanya ada nama kamu? Tak ada ada lagi wanita yang bisa masuk selain kamu, Sayang. Buat apa Mas nyari wanita lain jika istri Mas saja tidak ada tandingannya dengan wanita lain," Dafa memegang dadanya meyakinkan istrinya jika dirinya berkata jujur.
"Kamu janji Mas?" Nirmala memberikan jari kelingkingnya yang kini sudah gemuk-gemuk seperti ulat cabe.
"Iya Sayang, Mas janji," jawab Dafa menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking sang istri.
Nirmala tersenyum dengan cerahnya dan langsung memeluk tubuh kekar suaminya. Mendaratkan kepalanya tepat pada bagian dada Dafa sambil mengendus-endus bau maskulin yang keluar dari tubuh Dafa. "Mas, kamu harum banget. Aku suka," ucap Nurmala memperdalam menghirup bau maskulin itu.
"Jangan gini Sayang, Mas bentar lagi juga mau ke kantor," lirih Dafa mengigit bibir bawahnya. Istrinya seakan memancing dirinya di pagi hari ini. Padahal istrinya itu tahu jika bagian sana adalah titik sensitif dirinya.
"Kenapa sih Mas? Padahal aku nyaman banget loh seperti tadi?" Nirmala mendongak mengajukan protes atas tindakan Dafa yang tak dia suka.
"Kamu tahu itu bagian apa kan Sayang? Dan kamu pasti juga akan tahu apa yang terjadi jika kamu seperti itu terus di bagian sana?" Dafa mengusap surai hitam istrinya dengan lembut. Mendaratkam ciuman pada pipi bakpau istrinya dengan gemas. Ingin Dafa menggigit pipi itu agar habis di makannya, tapi sayang itu daging mentah yang tak bisa dia makan selain di nikmati dengan bibirnya.
"Ya sudah, Mas tidak usah saja hari ini ke kantor. Kita di rumah saja menghabiskan waktu berdua?" ajak Nirmala semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Dafa.
__ADS_1
Dafa menggeleng tidak suka dengan ide istrinya. "Tidak bisa Sayang, pagi ini Mas ada meeting yang tidak bisa di undur. Apalagi meeting itu seharusnya dua hari yang lalu karena Mas nemenin kamu dua hari yang lalu jadi meeting itu di undur hari ini. Tak mungkin lagi akan di undur dilain waktu sedangkan dia juga sudah di undur dua hari," ujar Dafae membuat Nirmala mengerucutkan bibirnya.
"Jadi Mas nggak mau nemenin aku di rumah? Jadi Mas lebih memilih pergi ke kantor di bandingkan aku?" Dengan wajah memelas Nirmala menatap suaminya.
Dafa mengusap wajahnya dengan kasar. Inilah sifat istrinya yang membuat Dafa tidak tega. "Sayang dengerin Mas ya? Rapat kali ini tidak mungkin akan Mas undur lagi, apalagi rapat ini bukan dengan karyawan kantor melainkan dengan perusahaan asing yang bekerja sama dengan perusahaan kita. Kamu tidak mau bukan jika kerja sama yang perusahaan lakukan akan batal yang otomatis banyak kerugian yang kita alami?" ujar Dafa lembut kepada istrinya. Berharap istrinya kali ini paham dengan kondisinya.
Semenjak hamil Nirmala memang lebih manja dari biasanya. Bahkan wanita itu lebih kayak di sebut bertingkah seperti anak kecil.
"Tapi Mas, ak--"
"Ya sudah gini saja, Mas izinin kamu datang ke kantor bareng Mas. Tapi kamu harus janji dulu jika hanya duduk saja di dalam ruangan selama Mas meeting dan tidak boleh keluar yang membuat tubuh kamu lelah, gimana?" tawar Dafa yang memberikan ide agar istrinya itu tak lagi sedih. Dafa sungguh tak akan tega melihat kesedihan terpancar dari dua bola mata Nirmala yang membuat dirinya goyah.
"Beneran aku boleh ikut kamu, Mas?" tanya Nirmala antusias.
"Baiklah-baiklah aku janji tidak akan kemana-mana selama kamu meeting Mas. Aku akan terus berada di ruang kerja kamu," Nirmala mengangguk antusias kala dirinya berangkat ke kantor bareng suaminya. Sudah lama Nirmala tidak pergi ke kantor semenjak jabatannya di gantikan suaminya.
"Ya sudah kamu siap-siap dulu tuh, Mas tunggu," ucap Dafa di angguki Nirmala dengan cepat.
Dafa hanya menggelengkan kepalanya saat sang istri yang seperti takut ditinggalkan. Padahal istrinya itu bisa melakukannya dengan perlahan tanpa harus terburu-buru seperti itu.
"Sayang jangn buru-buru seperti itu, ingat bayi kita yang di dalam kandungan kamu. Mas nggak mau bayi kita merasakan guncangan karena kamu, Sayang," peringat Dafa yang diangguki Nirmala.
******
Nirmala dan Dafa akhirnya sampai di perusaan. Menaiki lift khusus petinggi perusahaan akhirnya mereka sampai di lantai di mana ruangan Dafa berada.
__ADS_1
"Sayang kamu tunggu di sini ya, Mas akan rapat sebentar di ruangan sebelah. Ingat kamu ngak boleh kaluar dari dalam sini Sayang. Jangan bikin Mas khawatir ya?" pinta Dafa di angguki Nirmala.
"Iya Mas, aku nggak akan keluar kok dari sini. Aku juga mau tidur sebentar Mas, lelah," Jujur Nirmala yang memang merasakan lelah.
"Baiklah Sayang, Mas tinggal dulu ya? Sina sudah menunggu Mas di depan," Dafa melangkah meninggalkan istrinya setelah mendaratkan ciuman pada bibir serta pipi bakpau istrinya.
Sepeninggal Dafa, Nirmala langsung saja menuju kamar pribadi yang ada di dalam ruangan itu. Memilih untuk menidurkan dirinya yang merasakan lelah. Meski dirinya tidak mengalami yang namanya ngidam, tetap saja rasa lelah itu kadang kala menghampiri Nirmala. Seakan tenaganya terkuras habis padahal tidak melakukan apa-apa.
Setelah dua jam melakukan rapat, kini Dafa sudah berada di belakang istrinya. Memeluk tubuh yang kini tengah mengandung anaknya diri dari belakang. Sesekali mengusap lembut perut istrinya yang sudah mulai tampak membuncit.
"Anak Ayah jangan nakal ya di dalam sana, jangan bikin Bunda terlalu kelelahan ya?" pinta Dafa yang masih setia mengusap perut istrinya yang tengah tertidur.
Cukup lama Dafa mengusap perut istrinya hingga Dafa juga ikut masuk ke alam mimpi bersama istrinya. Tangan Dafa lepas dari pinggang sang istri. Memeluk tubuh itu dengan erat selama dirinya ikut tertidur.
TBC
__ADS_1