
"Iya gue mau, tapi kena---" Dafa dengan segera memasukkan potongan buah yang sudah masuk ke dalam mulutnya itu ke dalam mulut sang istri yang jelas sudah terkena salivanya.
"Makan!!" perintah Dafa membuat Nirmala hanya menurut saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Manis." Satu kata itu keluar dari mulut Nirmala saat telah mengunyah buah apel di dalam mulutnya.
"Iya lah manis Mbak, kan sudah gue hisap tadi. Kalau tidak mana mungkin semanis itu?" jawab Dafa memasukkan potongan lain ke dalam mulutnya.
"Apa?!" Pekik Nirmala saat buah itu sudah di telannya. Tak sadar jika dia mengikuti begitu saja ucapan suaminya. Padahal dirinya melihat sendiri jika buah yang baru saja di makannya sudah masuk ke dalam mulut laki-laki itu.
"Kenapa? Bukankah lo lihat sendiri gue sudah masukin buah itu ke mulut gue? Terus kenapa juga sekarang lo seperti kaget gitu?"
"Kenapa lo nggak nyuruh gue ngehentiin kunyahan gue?"
"Ya elah Mbak, itu aja lo sudah lebay banget. Padahal lebih dari itu sudah lo coba. Nggak usah lo masang wajah imut kek gitu kali Mbak, tetap saja wajah garang lo kelihatan." Dafa lagi-lagi memasukkan buah ke dalam mulutnya. Mengunyah dan meresapi manisnya buah yang berada di dalam mulutnya. Bahkan Dafa tidak melihat bagaimana ekspresi istrinya itu.
"Enak banget lo ngomong wajah gue garang!!! Nih makan!!" Nirmala melemparkan stic kentang kepada Dafa. Memang tidak sakit namun mengenai mata Dafa. Terasa perih karena bumbunya yang pedas.
"Mama!!! Mata anakmu akan rusak ulah KDRT seorang istri!!!" Dafa menjerit karena matanya yang terasa perih. Bubuk cabai memasuki netra terang itu.
Dengan segera Dafa berlari menuju kamar mandi yang berada di dapur. Membasuh matanya dengan air yang dia ambil memakai gayung. Beberapa kali Dafa lakukannya namun, rasa perih itu masih saja terasa. Air mata keluar dengan sendirinya dari mata Dafa. Terasa sangat perih yang menjalar ke seluruh bola matanya.
"Huhu Mama, perih!!!" Dafa berteriak-teriak seperti kesetanan di dalam kamar mandi. Sungguh rasanya tidak bisa Dafa ucapkan dengan kata-kata. Matanya seakan mau meledak karena rasa panas dari bubuk cabai itu.
"Dafa, lo nggak apa-apa?" Nada suara Nirmala terdengar khawatir. Apalagi suaminya menjerit-jerit di dalam kamar mandi. Membuat Nirmala merasa sangat bersalah kepada suaminya.
__ADS_1
Dafa tidak menghiraukan ucapan Nirmala melainkan terus mencuci matanya agar rasa perih itu lekas berkurang. Mungkin saja bubuk cabai itu masih berada di dalam matanya membuat matanya tetap saja terasa panas dan juga perih yang tak berkesudahan.
"Dafa maafin gue, gue beneran nggak sengaja." Nirmala menyentuh bahu suaminya dengan lembut.
"Enak banget lo ngomong nggak sengaja ya? Lo kalau melakukan sesuatu itu harusnya dipikir dulu akibatnya apa? Apa tidak cukup waktu itu lo membuat pinggang gue sakit? Dan sekarang malah mata gue yang jadi sasaran lo? Besok-besok apa lagi yang bakal lo lakuin sama gue, haaaa?" Nada suara Dafa yang tampak marah membuat Nirmala tak berkutik.
Dia merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi pada Dafa. Mungkin memang kelakuannya yang terlalu ceroboh pada suaminya.
"Maafin gue, gue beneran nggak sengaja."
"Sudahlah Mbak, gue muak sama lo." Dafa langsung keluar dari kamar mandi menuju kamarnya. Kamar tempat semula dirinya tidur. Dafa sangat kesal dengan istrinya yang jika melakukan sesuatu tanpa berfikir terlebih dahulu.
Nirmala menatap suaminya yang terus meninggalkan dirinnya. Nirmala merutuki dirinya yang tidak bisa berfikir sebelum bertindak. Inilah suatu kecerobohan yang sering di lakukan Nirmala kepada adiknya, Bintang. Sehingga juga terjadi kepada suami bocahnya itu.
Nirmala mengaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Tidak tahu harus melakukan apa kepada suaminya yang kini tampak marah kepadanya. Melihat ke arah pintu kamar yang dulu di pakai Dafa tengah tertutup dengan rapatnya. Ntah pintu itu saat ini di kunci atau tidak Nirmala tidak tahu. Ingin menghampiri suaminya kesana namun Nirmala takut di usir suaminya. Takut suaminya malah semakin marah kepada dirinya.
Malam telah tiba pintu kamar Dafa masih tetap tertutup dengan rapatnya. Kaki Nirmala membawa dia melangkah sampai didepan pintu kamar yang di dalamnya ada sang suaminya. Saat ingin membuka kenop pintu tangan Nirmala seakan berhenti begitu saja. Tak sanggup membuka pintu itu membuat Nirmala memilih turun ke bawah tepatnya ruang makan. Kebetulan perutnya juga sudah minta diisi. Cacing-cacing di perutnya sudah berdemo.
"Bi apa suami saya sudah makan?" tanya Nirmala saat melihat Bibi Keke tengah mencuci piring.
"Sudah Non, tadi Den Dafa nyuruh bibi ngantar makan malam ke kamarnya," Bibir Keke hanya melihat sekilas ke arah Nirmala lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Nirmala menganggukkan kepalanya. "Apa dia baik-baik saja Bi?"
"Maksud Non Mala?" Kini Bibi Keke manatap Nirmala tak paham.
__ADS_1
"Emmm, apa Dafa terlihat baik-baik saja Bi?"
"Hmm, iya Non, Den Dafa baik-baik saja kok,"
Lagi-lagi Nirmala hanya menganggukkan kepalanya. Melanjutkan makan malamnya seorang diri tanpa kehadiran sosok suami cerewetnya itu. Terasa sunyi juga aneh menurut Nirmala. Jika biasana suasana meja makan terdengar ramai karena ulah adu mulut antara dirinya dan juga Dafa namun kini itu tak terjadi. Dengan segera Nirmala menyelesaikan makan malamnya. Perutnya tiba-tiba saja kenyang begitu saja.
Nirmala berguling-guling di atas ranjangnya dengan gelisah. Tidak adanya kehadiran Dafa di kamarnya membuat Nirmala tidak tenang. Bolak-balik kesana-kemari dengan sangat gelisah.
"Astaga, apa apa degan dirimu Nirmala? Tak biasanya kamu akan segelisah ini tanpa kehadiran bocah itu!!" Nirmala merutuki dirinya yang terlihat aneh.
"Kamu pasti bisa Nirmala, biasanya tidak ada dia, kamu akan tetap tidur dengan nyenyak." Lagi Nirmala menghibur dirinya agar tidak gelisah.
"Nirmala kamu ini kenapa?!" Berkali-kali Nurmala berguling-guling seperti cacing diatas ranjangnya. "Astaga bocah itu kenapa memenuhi isi kepalamu Nirmala. Huhhh tidak bisa dibiarkan." Nirmala turun dari ranjangnya, keluar dari kamar itu menuju kamar Dafa yang tepat berada di dekat kamarnya.
Ceklek!!!!
Nirmala berjalan dengan hati-hati menuju suaminya yang terlihat berbaring dengan memejamkan matanya. Nafas teratur Dafa membuat Nirmala bernafas lega. Juga Nirmala sangat besyukur pintu kamar itu tidak di kunci suami. Ntah Dafa sengaja membiarkan atau tidak yang jelas Nirmala tidah tahu.
"ASTAGA!! Lo ganteng banget Dafa? Gue nggak nyangka dapat suami seganteng lo gini," Nirmala menatap wajah damai suaminya yang tengah terpejam. Sungguh pahatan wajah bak dewa Yunani.
Penglihatan Nirmala turun pada bibir tebal suaminya yang tampak merah. Bibir yang membuat dirinya candu, ibaratkan sabu yang semakin di coba malah semakin enak.
Nirmala menundukkan kepalanya agar sejajar dengan wajah Dafa. Sedikit memajukan bibirnya agar bersentuhan dengan bibir milik suaminya.
"Astaga enak banget," ujar Nirmala kegirangan setelah melepaskan tautan bibirnya dari Dafa.
__ADS_1
Lagi Nirmala menautkan bibir itu. Berharap Dafa tidak tebangun karena ulah dirinya yang dengan lancang mencium Dafa saat terlelap dengan pulasnya.
TBC