ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 47


__ADS_3

Dafa mengejar istrinya yang sudah keluar dari ruangannya. Dengan perasaan kalut Dafa meninggalkan Rima di dalam ruangannya. Yang jelas sekarang istrinya, istrinya yang sudah pasti marah kepada dirinya karena sebuah kesalah pahaman yang di lihatnya.


"Sayang!!!" Dafa memanggil istrinya sudah memasukki lift. Berharap sang istri berhenti saat mendengar dirinya memanggil, namun Nirmala bukannya malah berhenti tapi malah lanjut menekan tombol pada bagian samping lift. Dengan langkah besar segera Dafa berlari menuju lift yang hampir tertutup rapat.


Dada menendang pintu lift lantaran sudah kehilangan istrinya yang dibawa lift ke lantai dasar. Beberapa kali Dafa mengumpat dan menendang-nendang angin dengan kesal.


Sedangkan Nirmala saat ini sudah sampai pada lobi kantor. Dengan air mata yang terus merembes keluar dari matanya, Nirmala melangkah menuju sopir yang setia menunggu dirinya.


"Jalan Pak," pinta Nirmala dengan segera, takut jika suaminya sampai dan menahan dirinya. Dirinya kecewa saat melihat apa yang terjadi di dalam ruangan suaminya. Saat ini pikiran Nirmala mengatakan jika suaminya itu berselingkuh di belakangnya.


"Baik Non," Pak Koko langsung saja menjalankan perintah majikannya. Tanpa bertanya sedikitpun kepada sang majikan yang tengah menangis.


"Jangan pulang ya Pak, kita ke danau kecil dulu,"


"Baik Non," balasnya.


Akhirnya Nirmala sampai di danau kecil tempat dimana dirinya dulu sering menenangkan diri. Menenangkan diri kala putus dengan Hadi sang mantan pacar. Semenjak dirinya sudah memantapkan hatinya untuk membina rumah tangga bersama Dafa, Nirmala tak lagi pernah datang ke danau itu. Bahkan Dafa tidak tahu danau yang kini di datangi Nirmala.


"Kamu jahat Mas!! Kenapa kamu malah duain aku? Dimana letak salah aku Mas? kenapa kamu tega sama aku, Mas!!" Nirmala melempar batu kerikil yang dia ambil ke dalam danau buatan itu. Tak ada lagi air mata yang mengalir di pipi Nirmala. Jujur memang dirinya sedih, namun jika terus menangis sudah pasti wajahnya akan sembab dan Nirmala tidak mau jika suaminya nanti malah bertanya macam-macam. Nirmala harus kembali membentengi egonya seperti dulu lagi.


Pak Koko hanya dapat menggeleng kepala kala melihat majikannya yang asik melempar batu ke danau. Meski jaraknya agak jauh namun laki-laki paruh baya itu dapat melihat dengan jelas apa yang di lakukan Nirmala.


Pak Koko hanya bisa menunggu sampai kapan sang majikan akan tetap berada di tepi danau itu. Bahkan sampai kapanpun Pak Koko pasti akan setia menunggu majikannya.


Berbeda dengan Dafa yang kini tengah melajukan mobilnya menuju kediaman dirinya dan Nirmala. Tak terlihat oleh mata tegas itu keberadaan mobil Pak Koko yang membawa sang istri. Maka dari itu Dafa melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang agar cepat sampai di kediaman mereka.


"Bi..., Bibi!!!" Dafa berteriak dengan kencangnya kala memasuki rumah. Memanggil-manggil asisten rumah tangga di sana dengan suara yang memekakkan gendang telinga.


"Iya Den, ada apa?" Bibi Kekek berlari dengan tergopoh-gopoh mendekati Dafa yang berdiri di depan ruang tamu. Karena tak mungkin Dafa akan langsung ke kamar karena tak mendapati mobil yang di kendarai Pak Koko di depan.


"Mbak Mala mana Bi?" tamat Dafa langsung pada intinya.


"Bukannya Non Mala sama Aden di kantor? Tadi katanya berkunjung ke kantor karena rindu dengan Aden," jawab Bibi Keke bingung.


"Apa Mbak Mala belum pulang sama sekali Bi?" tanya Dafa mengusap wajahnya dengan kasar.


Bibi Keke menggeleng. "Belum Den, bahkan Pak Koko juga belum pulang sama sekali."


Lagi-lagi Dafa meraup wajahnya dengan kasar. Ada rasa gelisah, sedih, menyesal bercampur menjadi satu. Hanya sebuah kata andaian yang bisa Dafa katakan saat ini. Andai saja dia mengusir dengan segera Rima dari ruangannya maka ini semua tidak akan terjadi, andai dirinya tak menolong Rima untuk berdiri mungkin saat ini dia dan istrinya baik-baik saja.


"Apa Bibi tahu kemana biasanya Mbak Mala kalau lagi sedih? Atau tempat favorit yang memang sering di kunjungi Mbak Mala?" Kini Dafa menatap penuh harap kepada Bibi Keke. Hanya wanita paruh baya itu satu-satunya harapan Dafa untuk kali ini.


"Maaf Den, Bibi nggak tahu. Tapi kalau Pak Koko pasti tahu Den, karena biasanya Pak Koko yang mengantar Non Mala kemana yang dia inginkan," jawab Bibi Keke jujur.

__ADS_1


"Apa Bibi memiliki nomor ponsel Pak Koko? Biar saya bisa menelpon Pak Koko dan mengetahui keberadaan istri saya,"


"Maaf Den, bukannya Bibi tidak mau memberikan nomornya Pak Koko tapi, hp Bibi terendam di dalam air bersama baju semalaman, bahkan katur sim cartnya juga rusak," sesal Bibi Keke yang memang tak bisa membantu majikan laki-lakinya itu. Kesal kenapa dirinya yang melupakan hp di berada di sakunya sehingga terendam semalam suntuk.


Raut ceria Dafa kini berubah di tekuk. Harapan satu-satunya juga tidak bisa membantu dirinya. Dafa bahkan tidak tahu harus mencari kemana istrinya itu. Bahkan teleponnya sedari tadi tidak di jawab istrinya dan terakhir kali dirinya menelpon nomor istrinya berada di luar jangkauan.


"Ya sudah terima kasih Bi, Bibi silahkan kembali bekerja,"


"Baik Den," Bibi Keke meninggalkan Daf di ruang tamu seorang diri.


"Sayang kamu kemana sih? Kamu bikin Mas cemas tahu nggak?!" Dafa duduk di sofa yang ada di sana dengan raut wajah yang tak berbentuk. Rambut yang tadi pagi di tata tapi kini sudah berantakan seperti orang hutan.




Sekitar dua jam Dafa duduk menunggu kepulangan sang istri di ruang tamu akhirnya deru mesin mobil membuat Dafa bergegas menuju luar rumah. Dafa yakin itu adalah istrinya bersama Pak Koko karena, Dafa sangat hafal dengan deru mesin mobil itu.



"Sayang!!" Senyum Dafa mengembang kala melihat istrinya yang keluar dari dalam mobil dengan membawa perut buncitnya yang hendak meledak.



Nirmala tak menghiraukan suaminya melainkan terus berjalan menuju dalam rumah. Untuk melihat wajah Dafa saja tak Nirmala lakukan. Nirmala sudah kembali pada mode awalnya yang menahan rasa ego yang memang sudah mendarah daging pada dirinya.




Nirmala masih kesal dengan suaminya bahkan Nirmala sangat cemburu dengan apa yang tadi dilihatnya saat di kantor. Dengan jelas Nirmala melihat Dafa yang hendak menolong Rima yang berjongkok di depannya untuk berdiri. Bahkan terlihat di mata Nirmala jika tangan suaminya itu memegang lembut pundak wanita itu. Wanita yang membuat Nirmala muak.



"Sayang, tolong dengerin dulu penjelasan Mas agar masalahnya tidak semakin runyam. Kamu hanya salah paham saja Sayang," Dafa mengikuti langkah istrinya hingga sampai pada kamar.



"Lepas!!" bentak Nirmala saat tangan Dafa menyentuh jari-jarinya yang lembut. Spontan saja Dafa melepaskan tangan istrinya.



"Sayang kamu dengerin dulu penjelasan Mas ya? Apapun tanggapan kamu nanti pasti akan Mas terima," pinta Dafa dengan wajah memelas seperti anak-anak kecil yang minta permen.

__ADS_1



Nirmala menarik Nafasnya dalam. Tak sanggup Nirmala melihat wajah memelas suaminya, ntah karena hormon dirinya yang hamil membuat Nirmala dengan mudah memaafkan Dafa, padahal jika saat dirinya tak sedang hamil maka Nirmala tidak akan semudah ini memaafkan laki-laki itu.



"Ya sudah Mas bisa jelasin, tapi aku kasih waktu 10 menit jika lewat dari itu Mas nggak boleh lagi ngomong."



"Terima kasih Sayang," ujar Dafa antusias. Meski waktunya hanya 10 menit, setidaknya dia bisa menjelaskan kepada istrinya.



Akhirnya Dafa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat di kantor tadi kepada sang istri. Sampai-sampai senyum mengembang di bibir Dafa saat telah selesai menceritakan apa yang terjadi di kantor, meski waktunya berlebih 15 detik. "Nah itulah yang terjadi Sayang. Jadi kamu tidak usah marah atau ngambek sama Mas ya Sayang? Mas kan sudah menjelaskan sejujurnya sama Sayang,"



Nirmala mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pokoknya Mas besok harus pecat dia dari kantor, jika tidak jangan harap Mas bisa tidur bareng aku lagi!!" ancamnya.



"Baiklah Sayang, Mas janji besok Mas akak kecam dia demi Sayang," jawab Dafa.



"Mas, mau ulat-ulat keong," ucap Nirmala malu-malu. Semakin besar kandungannya malah hormon dalam diri Nirmala untuk melakukan hubungan suami-istri semakin menjadi. Membuat Dafa dengan senang hati meladeni apa yang memang dia juga ingin.



"Ayok Sayang, apalagi sedari tadi Leno sudah hidup," ujar Dafa menarik tangan istringa pada Leno yang sudah bergerak di balik bajunya.



"Wahhh, iya Mas." Nirmala antusias saat memegang calon pencipta ulat-ulat keongnya. Bahkan tanpa malu Nirmala malah mengeluarkannya dari dalam baju dengan mata penuh binar.



"Mas boleh?" tanya Nirmala menundukkan kepalanya.



Dafa mengangguk tanda mempersilahkan istrinya mau melakukan apa pada Leno. Bahkan Dafa hanya bisa menutup matanya keenakan kala bibir lembut istrinya sudah bermain dengan lihainya.

__ADS_1



TBC


__ADS_2