ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 09


__ADS_3

Satu jam lamanya mereka berada di rumah Kenan. Akhirnya ketiga orang itu pamit kepada pemilik rumah setelah makan siang di rumah sahabat mereka. kebetulan juga sudah masuk waktunya makan siang.


"Kamu langsung pulang Za?" Saat ini mereka sudah sampai di halaman rumah Kenan.


"Nggak Dafa, gue mau ketemu sama cewek gue dulu. Semalam gue sudah janjian sama dia,"


"Baiklah, gue duluan,"


Dafa menjalani motornya dengan pelan. Lili memeluk erat pinggang Dafa sambil menyenderkan kepalanya pada punggung lebar laki-laki itu.


"Kamu mau langsung pulang atau mau mampir dulu, Yang?"


"Langsung pulang saja, Yang. Lagian nggak ada yang mau aku beli," jawab Lala yang masih menyenderkan kepalanya pada punggung kekasihnya.


Motor yang dikendarai Dafa akhirnya tiba di pekarangan rumah Lala. Gadis itu turun dengan memegang bahu Dafa karena, motor itu sangat tinggi untuk ukuran Lala yang lumayan pendek.


"Yang, kemaren aku ke rumah kamu," ungkap Lala menatap kekasihnya.


Terkejut, ya Dafa terkejut dengan apa yang dikatakan kekasihnya itu. Bahkan wajah laki-laki itu tampak agak pucat. "Terus kamu ketemu siapa di rumah?"


"Ketemu sama Tante. Tante ngomong kalau kamu sudah pindah rumah. Tapi kenapa sih kamu nggak ngasih tahu aku, Yang? Padahal aku ingin main ke rumah kamu," rajuknya memukul bahu Dafa dengan gemas.


"Terus apa lagi yang di bilang sama Ibu aku, Yang?"


"Itu saja sih Yang, nggak ada yang lain."


"Ohh gitu, iya aku pindah rumah Yang." jawab Dafa akhirnya.


"Besok aku mau datang ke rumah kamu ya Yang, minta alamatnya dong?" pinta Lala menampilkan puppy eyesnya. Bagaimana wajah gadis itu tampak imut.


"Ahh tidak usah Yang," ujar Dafa gelagapan. Namun pikiran Dafa kembali lagi dengan Nirmala yang tak menganggap pernikahan mereka, dan mereka juga tidak boleh mengusik masalah pribadi masing-masing. "Baiklah Sayang, kamu boleh datang ke rumah aku besok. Nanti aku kirim alamatnya lewat chat, ya. Biar besok kamu nggak lupa," ujar Dafa yang diangguki gadis itu.


"Kamu nggak masuk dulu Yang?"

__ADS_1


"Tidak usah, aku langsung balik saja." tolak Data dengan lembut.


"Baiklah, kamu hati-hati di jalan Sayang,"


Dafa hanya mengangguk saja. Selanjutnya Dafa menjalankan motornya keluar dari perkarangan rumah Lala.


***


Sesuai dengan apa yang dikatakan Lala kemaren saat ini gadis cantik itu sudah berdiri di depan rumah megah. Bahkan tak henti-hentinya gadis itu berdecak kagum dengan rumah yang berada di depannya ini. Meski gadis itu masih berada di luar pagar. Tampak juga disana beberapa pengawal yang berdiri di tempatnya masing-masing.


"Ini beneran nggak sih rumahnya?" Kembali Lala membuka chat yang dikirim Dafa semalam. Benar, ini sesuai dengan alamat yang dikirim laki-laki itu.


"Mau cari siapa Nona?" Seorang penjaga gerbang menghampiri Lala yang celingak-celingguk.


"Ahhh iya Pak, apa benar ini rumahnya Dafa Pak?" tanya Lala dengan sedikit takut. Apalagi wajah laki-laki itu tampak menyeramkan.


"Benar, Nona siapanya Den Dafa?" Laki-laki bertubuh besar itu menatap Lala dengan intens. Sedikit curiga dengan gadis mungil itu. Apalagi sekarang banyak penipu yang berkeliaran mengaku-ngaku namun hasilny nol besar.


"Saya teman kuliahnya Dafa, Pak. Kemaren malam Dafa ngirim alamat ini kepada saya." Lala memperlihatkan isi pesan yang dikirim Dafa kepadanya. Bahkan memperlihatkan foto profil pemuda itu kepada laki-laki itu.


Halaman luas itu membuat Lala sedikit capek agar sampai di depan pintu. Rumah yang tampak sangat mewah dari kediamannya bahkan juga bisa di bilang lebih dari kediaman orang tua Dafa. Banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Lala saat ini. Kenapa kekasihnya bisa tinggal di rumah semegah ini.


"Den Dafa, itu ada temannya di ruang tamu." Bibi Keke mengetuk pintu kamar suami majikannya.


"Iya Bi, sebentar lagi saya akan kebawah. Tolong ambilkan minum untuknya ya Bi?" teriak Dafa dari dalam kamar.


Bibi Keke meninggalkan kamar majikannya. Mengikuti apa yang di perintahkan Dafa kepada dirinya.


"Silahkan diminum Non, Den Dafa saat ini masih di dalam kamar. Sebentar lagi akan turun." Bibi Keke meninggalkan Lala dengan segala kecanggungan di ruang tamu. Sungguh rasanya sangat asing di rumah ini.


"Sudah lama Sayang?" tanya Dafa mendudukkan tubuhnya tepat di samping Lala.


"Lumayan Yang. Ini rumah siapa Yang?" Lala menatap kekasihnya itu dengan intens. Sungguh dia sangat penasaran rumah siapa yang kini dia kunjungi.

__ADS_1


"Oh, ini rumahnya sepupu aku, Yang. Kenapa?" Dafa menaikkan alisnya menatap kekasihnya itu.


"Terus kenapa kamu malah tidur disini Yang? Kenapa nggak dirumah orang-tua kamu?"


Dafa mengaruk kepalanya yang tak gatal. Mencari cara agar apa yang akan dia katakan membuat kekasihnya itu percaya.


"Ahh iya Sayang aku itu tinggal disini karena, sepupu aku hanya sendirian disini. Yang lainnya hanya penjaga sama pembantu doang. Makanya aku tinggal di sini itupun atas permintaan orang-tuaku," Bohong Dafa. Tak mungkin dia akan mengatakan jika dia tinggal di rumah istrinya. Istri yang tidak mau menganggap dirinya seorang suami. Jika saja Nirmala mengakuinya seorang suami maka, dia akan melepaskan Lala hanya demi dirinya. Tapi jika angan hannyalah angan yang tak bisa jadi kenyataan.


Pernikahan yang sering di sebut orang pernikahan kontrak. Pernikahan yang hanya bertahan satu tahun. Bahkan kini umur pernikahanya hanya tinggal 10 bulan lagi. Sudah dua bulan dia menjadi suami kontrak gadis itu. Dafa hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Jika saja boleh jujur Dafa ingin sekali memberi gadis itu seorang anak. Hasil buah keringat mereka berdua. Huhhh, itupun hanya sebuah hayalan yang tidak akan Jadi kenyataan.


"Oh gitu, terus sampai kapan kamu akan tinggal di sini Sayang?" Lala menatap kekasihnya itu. Menunggu jawaban kekasihnya.


Dafa mengedikkan bahunya. "Belum tahu Yang, aku juga nggak bisa memprediksi sampai kapan aku berada disini." jawab Dafa menyisipkan anak rambut kekasihnya kebalik telinga gadis itu.


Lala hanya menganggukkan kepalanya. "Gitu ya Yang? Apa sepupu kamu itu sama besar dengan kita atau gimana?"


"Nggak Sayang, dia lebih tua dari kita. Umurnya sudah 25 tahun Yang," jawab Dafa jujur.


"Kalau gitu sudah kerja dong Yang?" Lala sungguh penasaran dengan gadis itu.


"Sudah Yang, dia kerjanya sebagai CEO di perusahaannya." Lagi-lagi Dafa menjawab dengan jujur. Bahkan terbit sebuah senyum di bibir laki-laki itu.


"Wauuu, hebat banget dia, Yang. Masih muda namun sudah memiliki perusahaan?"


"Ya gitulah Yang, sudah rezkinya di sana," jawab Dafa bangga. Ya dia sanggat bangga dengan istri kontraknya itu.


Kadang Dafa juga membayangkan jika mereka memiliki anak, pasti anak-anak mereka akan sangat cantik dan ganteng. Bahkan kecerdasan otak Nirmala pasti akan menurun kepada buah hati mereka. Ahhh, lagi-lagi Dafa hanya bisa menghayal sesuatu yang tidak pasti.


"Kok jusnya nggak diminum Yang?" Dafa mengambil jus yang di suguhkan Bibi Keke. Memberikan kepada kekasihnya agar lekas di minum.


"Heheh iya Yang terima kasih. Karena keasikan ngobrol dengan kamu jadinya aku lupa untuk minum jusnya," Lala menerima jus dari tangan kekasihnya. Meneguk jus itu hingga tandas setengahnya.


"Ehhh, ngapain lo?!" bentak Nirmala saat gadis itu memasuki rumah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2