
Dafa mengendarai motornya menuju perusaan sang istri. Karena rasa rindu membuat laki-laki yang sudah berstatus seorang suami itu rela datang ke perusahaan istrinya siang-siang begini. Padahal jam banyaknya unjuk kekuatan pukul setengah dua siang. Hanya tinggal 2 setengah jam lagi sudah pasti istrinya itu pulang. Tapi dirinya malah tidak sabar untuk bertemu sang istri. Memeluk erat tubuh istri yang sangat di rindukannya.
Dafa memarkirkan motornya di tempat parkir perusahaan. Langkah kaki panjang itu langsung masuk tanpa menghampiri receptionist terlebih dahulu. Dafa yang sudah beberapa kali datang ke perusahaan membuat karyawan yang ada di sana menghormatinya seperti menghormati bos mereka, Nirmala.
Dafa memasuki lift menuju lantai di mana ruangan istrinya berada. "Apa Mbak Mala ada di dalam Mbak?" tanya Dafa kepada Sina sekretaris Nirmala.
"Ada Mas, tapi--"
"Tapi apa Mbak?" Potong Dafa saat melihat wajah sekretaris istrinya itu berubah pucat. Padahal dirinya hanya mau menanyakan keberadaan istrinya. Seakan ada sesuatu didalam ruangan istrinya itu.
"Emm itu Mas, a-ada---"
Dafa tak lagi menghiraukan ucapan sekretaris istrinya melainkan berjalan menuju pintu ruangan istrinya yang kebetulan tidak di kunci.
"Mas, Bu Nirmala ada tamu penting yang tidak bisa di ganggu Mas," teriak Sina menghentikan pergerakan tangan Dafa yang hendak membuka pintu kaca itu.
"Benarkah Mbak? Lalu kenapa wajah Mbak malah pucat gitu?" Dafa kembali lagi ke arah Sina dengan mata memicing.
"Emm, itu itu Mas--"
"Mbak nggak usah bohong sama saya. Saya hanya ingin bertemu sama istri saya," tekan Dafa mencondongkan wajahnya ke arah Sina membuat wanita itu memundurkan tubuhnya.
"Saya tidak berbohong Mas, didalam ruangan itu memang ada rekan bisnis Bu Nirmala," jawabnya dengan gemetar.
"Baiklah, saya akan buktikan sendiri ucapan Mbak. Jangan halangi saya untuk memasuki ruangan istri saya," Dafa meninggalkan meja Sina dengan langkah panjang menuju ruangan istrinya.
Ceklek!!!!
"Mbak Maka!!!" teriak Dafa mengagetkan dua orang di dalam ruangan Nirmala.
Satu jam yang lalu Sina memasukinya ruangan Nirmala dengan membawa berkas kerja sama yang sudah di tandatangani Nirmala dua hari yang lalu. Hari ini rekan bisnis Nirmala akan berkunjung ke kantornya untuk membahas hasil kerja sama mereka.
"Bu, hari ini jadwal anda bertemu dengan klien kita yang dari perusahaan HW," ujar Sina.
"Hmm, jam berapa dia akan datang Sin?" tanya Nirmala.
"Nanti sekitar jam 1 lewat Bu,"
"Baiklah, semuanya sudah siap bukan? Tidak ada lagi kendala nanti saat saya bertemu dengan klien kita, bukan?" tanya Nirmala diangguki Sina. "Nanti jika dia sudah sampai suruh saja masuk keruangan saya,"
__ADS_1
"Baik Bu, saya permisi." Sina meninggalkan ruangan Nirmala.
Sina sudah duduk di meja kerjanya dengan komputer yang hidup didepan matanya. Mengerjakan beberapa tugasnya yang masih tertinggal.
"Permisi Mbak, apa Bu Nirmalanya ada?" Suara bas seorang laki-laki membuat Sina mengangkat kepala.
Menatap laki-laki yang merupakan mantan kekasih bosnya kini tengah berdiri dengan gagahnya didepan meja Sina. Mata Sina melotot melihat kehadiran laki-laki yang sudah dua tahun ini tidak di lihatnya.
"Emm ada Pak, maaf apa Bapak dari perusahaan HW?" tanya Sina memastikan. Takutnya saat Sina mempersilahkan laki-laki itu memasuki ruangan Nirmala malah dirinya nanti yang kena semprot wanita itu.
"Iya, apa Ibu Nirmala ada?" ulangnya.
"Ada Pak, silahkan Bapak masuk," ujar Sina diangguki laki-laki itu. Sina menatap mantan kekasih bosnya yang kini sudah memasuki ruangan Nirmala.
Nirmala yang sibuk dengan pekerjaannya mengangkat kepalanya menatap suara yang sangat familiar di telinganya.
"Kau?" Nirmala terkejut melihat mangan kekasih yang sudah 2 tahun ini tidak di jumpai. Dua tahun sudah hubungan mereka kandas karena keinginan laki-laki itu sendiri. Namun kini laki-laki itu malah berada di dalam ruangannya dengan setelan jas mahal yang membalut tubuh kekar laki-laki itu.
Hadi menampilkan senyum khas dirinya. "Kamu apan kabar?" tanyanya duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Nirmala.
"Seperti yang kau lihat, saya sehat." jawabnya.
"Syukurlah, aku senang dengarnya. Apa kita bisa bicara masalah hubungan kita?" pintanya lembut.
__ADS_1
"Hubungan kita?" tanya Nirmala menaikkan satu sudut bibirnya yang diangguki Hadi. "hubungan mana yang kau maksud? Bukanlah kita sudah putus dua tahun yang lalu? Lantas apa lagi yang mau kau bahas?" tanya Nirmala menatap tajam laki-laki yang pernah membuatnya terpuruk. Laki-laki yang menawarkan cinta namun juga yang memberinya luka terdalam.
"Maafkan aku, bukan maksud aku untuk memutuskan hubungan kita kala itu. Aku hanya tidak punya pilihan lain. Mari kita perbaiki hubungan kita yang kandas, mari kita jalin hubungan kita ke jenjang yang lebih serius," pintanya penuh harap.
"Perbaiki hubungan yang kandas setelah sekian lama? Semudah itu kau meminta hal mustahil yang akan terjadi. Semudah itu kau meminta saya untuk menjalin hubungan dengan laki-laki seperti dirimu?" Nirmala menggeleng-gelenggkan kepalanya.
"Kenapa mustahil? Bukankah aku masih bisa membuat kamu jatuh cinta lagi padaku?" tanyanya penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Ckckckck, mustahil untuk kau mendapatkan wanita yang sudah bersuami!!! Karena tidak mungkin saya akan berpisah dari laki-laki yang saya cintai, laki-laki yang membuat saya tidak akan pernah berpaling darinya sedikitpun. Cam kan itu baik-baik di otak kau!!" ujar Nirmala sengit menatap Hadi yang mematung mendengar ucapannya.
"Menikah? Kamu jangan membual Nirmala, aku yakin kamu masih sendiri karena aku tidak pernah mendengar kabar pernikahan kamu," Hadi tidak bisa mempercayai ucapan Nirmala. Tak mungkin wanita yang masih dicintainya itu sudah memiliki suami. Apalagi selama ini tidak pernah ada rumor jika wanita itu dekat dengan laki-laki lain kecuali terlahir bersama dirinya.
"Lihat, gunakan mata itu melihat dengan jelas," Nirmala memperlihatkan cincin pernikahan kepada Hadi yang masih duduk di depannya.
"Tidak, aku yakin itu bukan cincin pernikahan." bantahnya dak percaya.
"Kenapa? Apa ini kurang menjamin jika saya sudah menikah? Apa kau buta sehingga tidak bisa membedakan antara cincin asli atau cicin biasa?" tanya Nirmala menyunggingkan senyum manisnya kala teringat akan suaminya.
Ahh, Nirmala jadi rindu sama suami kecilnya itu. Ingin sekali Nirmala bertemu dengan suaminya dan melakukan hal yang iya-iya seperti kemaren malam.
Hadi beranjak dari kursinya melangkah menuju mantan kekasihnya. "Aku mohon, bilang ini hanya bohong. Aku masih mencintai kamu, Mala. Aku mohon kembalilah padaku dan perbaiki hubungan kita yang sudah kandas 2 tahun lalu. Mari kita bentuk hubungan baru dengan sebuah pernikahan impian seperti yang kita katakan dulu." pintanya dengan meraih tangan Nirmala.
"Mbak Mala!!!"
Teriakan Dafa membuat Nirmala melepas paksa tangan mantan pacarnya itu. Menatap suaminya yang sudah mematung di depan pintu dengan wajah memerah dan tangan terkepal erat.
__ADS_1
TBC