
"Intinya gue nanya lo habis dari mana tadi?" Bukannya menjawab ucapan Dafa, Nirmala malah kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
"Habis main sama pacar gue. Kenapa?" jawab Dafa yang masih menatap istrinya itu intens.
"Kemana?" Nirmala balas menatap suaminya. Seakan-akan kedua orang itu memang sangatlah dekat. Baru kali ini selama mereka menikah berbicara saling tatap seperti ini. Bahkan Dafa yang melihat itu cukup terkejut, namum laki-laki itu berusaha untuk tidak terjadi apa-apa. Meskipun mulutnya sudah gatal ingin mengatakan kepada istrinya itu.
"Kenapa lo ingin tahu kemana gue pergi?"
"Gue cuman nanya doang," ketus Nirmala.
"Ooh, yaudah,"
"Apa lo bilang?!" Suara Nirmala membuat gendang telinga Dafa sakit. Suara itu seperti bom yang tengah meledak di dekat telinganya.
"Astaga Mbak, suara lo kenapa keras banget sih? Kalau telinga gue jadi sakit emang lo bakal tanggung jawab apa?" Dafa menjauhkan tubuhnya dari Nirmala. Mengusap-ngusap telinganya yang agak sakit karena ulah suara gadis itu.
"Emang gue pikirin!!" Nirmala melenggos mendengar ucapan Dafa. "jawab kemana lo tadi? Kenapa baru pulang?" Nirmala tampaknya sangat kepo dengan urusan pribadi Dafa.
"Lo nggak perlu tahu kemana pun gue pergi Mbak. Ingat dengan surat perjanjian yang sudah gue tandatangani. Jangan lupakan juga itu atas keinginan lo." Dafa mengingatkan Nirmala jika saja gadis itu saat ini tengah lupa.
Nirmala terdiam mendengar ucapan Dafa. Seperti menjilat ludah sendiri. Rasa penasaran yang mengebu membuat Nirmala hilang akal. Bahkan dia sampai melupakan poin-poin yang sudah dia tulis dalam surat perjanjian pernikahan mereka.
"Sudah ya Mbak, gue masuk ke kamar. Gerah mau mandi," Dafa beranjak dari duduknya.
"Ehh, gue belum selesai ya ngomong sama lo." Nirmala menahan Dafa yang hendak pergi. Bahkan tangan gadis itu memegang pergelangan tangan Dafa. Membuat Dafa menatap pada tangannya yang tengah di pegang Nirmala.
"Gue mau mandi Mbak, tubuh gue rasanya sudah lengket." Mata Dafa tidak teralihkan dari tangan Nirmala yang masih setia memegang erat pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Gue belum selesai ngomong. Lo harus duduk lagi!!" Nirmala menarik tangan Dafa sekuat tenaga membuat Dafa kembali duduk di sofa. Bahkan kini laki-laki itu duduk tepat di samping Nirmala tanpa jeda, alias nempel.
"Lo mau ngomong apa lagi Mbak? Bukannya gue sudah jawab pernyataan lo tadi? Sumpah badan gue gerah banget pengen mandi Mbak," Dafa duduk dengan gelisah. Tubuhnya benar-benar sangat gerah serta lengket. Hanya air yang bisa mengobati keadaan tubuhnya saat ini.
"Ngapain saja lo tadi saka pacar lo?"
"Lo sekarang kok aneh banget sih Mbak? Ngapain juga lo ingin tahu urusan pribadi gue? Gue saja tidak pernah tuh ingin tahu urusan lo,"
"Pokonya gue pengen tahu ngapain saja lo tadi sama dia?"
"Ingat surat perjanjian yang sudah gue tandatangani. " Dafa langsung saja pergi dari sana. Sungguh dia sudah tidak tahan untuk berendam di dalam air. Membiarkan Nirmala bersungut-sungut seorang diri di sana. Siapa suruh untuk membuat surat perjanjian jika akhrinya dilanggar.
"Dafa!!!! Gue belum selesai ngomong sama lo!!" Nirmala berteriak seperti orang kesetanan di ruang tamu. Bahkan suara itu sampai keluar rumah dimana penjaga tengah berdiri di tempatnya masing-masing.
Dafa tak menghiraukan suara Nirmala. Yang terpenting saat ini berendam untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa sangat lengket. Terserah apa yang akan dikatakan istrinya itu nanti setelah dirinya selesai mandi.
Dirasa selesai Dafa baru maka ia bajunya. Menyisir ribut berantakan itu dengan rapi. Menambah kegantengan Dafa berkali-kali lipat.
"Bi apa masih ada jus sirsak kemaren?" Dafa menghampiri Bibi Keke yang berada di dapur. Tak terlihat di mata Dafa keberadaan istrinya.
"Masih Deh, Bibi tarok di dalam kulkas," jawab Bibi Keke yang tengah membersihkan sayur bayam.
Dafa mengambil jus sirsak yang masih tinggal setengah. Menuangnya ke dalam gelas hingga tak tersisa di dalam botol tersebut. Dafa membawa jus itu ke ruang tamu. Tak lupa gawai yang tengah dia mainkan di tangan sebelahnya lagi.
Dafa sesekali tersenyum membalas pesan Lala. Bahkan tak jarang Dafa juga tertawa karena pesan mereka yang terbilang cukup lucu.
Dafa menyesap jus sirsak yang dia bawa. Menikmati rasa asam manis yang terasa di lidahnya.
__ADS_1
"Ngapain lo duduk dekat-dekat gini ke gue, Mbak?" Dafa menatap bingung istrinya. Tak biasanya Nirmala mau berdekatan duduk dengannya bahkan biasanya Nirmala akan mengambil jarak lumayan jauh darinya, bisa di bilang juga dengan jarak satu sofa.
"Suka-suka gue dong, lagian ini juga sofa milik gue." Nirmala membalas dengan sinis.
"Iya gue tahun ini sofa milik lo tapi, apa harus juga lo duduk mepet-mepet gini ke gue? Sumpah gue heran dengan lo Mbak? Lo kesambet setan dari di mana sih?" Dafa menggeser tubuhnya dari Nirmala. Istrinya itu terlalu dekat duduk dengannya yang bisa saja memancing dirinya.
Kalau dilayani ya tidak apa-apa, lah ini boro-boro dilayanin, yang ada istrinya itu akan menendang dirinya dari rumah. Lebih parahnya lagi kalau di usir gimana? Kan berabe urusannya.
"Suka-suka gue dong," Nirmala kembali menggeser tubuhnya pada Dafa. Mengintip suaminya yang chattingan ntah dengan siapa. Sungguh jiwa kepo Nirmala tengah meronta-ronta.
"Lo apa-apa sih Mbak," Dafa menoyor kepala Nirmala menjauh dari dekatnya. Bahkan Dafa dapat merasakan hembusan nafas hangat Nirmala yang menerpa lehernya.
"Sumpah aneh banget lo sekarang Mbak. Mau lo apa, hmm?" Dafa meletakkan benda pipih itu di atas meja kaca di depannya. Menatap istrinya yang kini menjauhkan kepalanya dari dekat bahu Dafa.
"Ngapain lo nanya-nanya?" sewot Nirmala.
"Karena lo mepet-mepet ke gue makanya gue nanya Mbak. Kan aneh tiba-tiba lo berubah kek gini, padahal biasanya lo nggak begini Mbak. Apa lo sudah jatuh cinta sama gue?" Dafa mendekatkan kepalanya pada Nirmala membuat istrinya itu mendorong dahinya dengan jari telunjuk.
"Jatuh cinta? Yang benar saja lo. Yakali gue akan jatuh cinta sama bocah ingusan kek lo."
"Ya mana tahu Mbak, lagian gue juga nebak doang. Mana tahu juga lo sudah terpikat sama pesona gue kan? Secara gue itu ganteng," Dafa semakin mendekatkan dirinya kepada Nirmala. Membuat hembusan nafas bau sirsak itu terasa di indra penciuman Nirmala. "Bocah ingusan ini juga sudah bisa bikin bocah kali Mbak, apa lo pengen nyobain?" Dafa berujar tepat di depan wajah Nirmala.
Nirmala mengerjakan matanya. Sungguh apa yang dikatakan Dafa membuat Nirmala cukup menegang. "Apa-apaan sih lo!" Nirmala menjauh dengan segera dari samping Dafa. Mengambil jarak beberapa jengkal dari suaminya itu.
"Kenapa lo malah pindah Mbak? Apa lo takut dihamili bocah ingusan ini, hmm?" Dafa kembali mendekati Nirmala yang mana istrinya itu semakin menjauhinnya.
"Aahhhhhkkk!!!"
__ADS_1
TBC