ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 28


__ADS_3

Dua hari satu malam Dafa berada di rumah sakit. Selama itu pula Nirmala tidak masuk ke kantornya. Menyerahkan pekerjaan kantor pada sekretarisnya, Sisi.


"Buntuh bantuan gue?"tanya Nirmala saat mereka sudah sampai di depan teras rumah.


"Nggak perlu Mbak, gue masih bisa sendiri," tolak Dafa halus. Lagian dirinya masih bisa berjalan sendiri tanpa bantuan siapapun meski jalannya agak aneh karena, itunya masih sakit dan sedikit membengkak.


"Ya sudah lo duluan saja masuk, gue kau masukin mobil ke garasi dulu," ucap Nirmala yang di angguki Dafa.


Dafa duduk seorang diri di ruang tamu karena istrinya belum juga sampai ke dalam rumah. Padahal Dafa sudah duduk selama 2 menit di sofa cantik itu.


"Den, mau bibi ambilin minum?" Bibi Keke menghampiri majikannya yang memejamkan mata dengan damainya.


"Iya Bi, tolong ambilin air putih hangat sama biskuit kacang yang waktu itu," pinta Dafa setelah membuka matanya saat mendengar ucapan Bibi Keke. "Jangan lupa juga ambilin buat Mbak Mala sekalian ya Bi,"


"Baik Den,"


Nirmala menghampiri suaminya dengan membawa tas kecil yang berisi kebutuhan Dafa selama di rumah sakit. Ditangan sebelahnya lagi ada paper bag yang Dafa tidak tahu apa isinya.


"Lo lapar nggak?" Nirmala mendudukkan tubuhnya di samping Dafa, menyenderkan kepala itu pada bahu suaminya.


"Belum Mbak, gue kasih kenyang. Nanti saja dua jam lagi," Jujur Dafa.


"Baikkah,"


"Ini minumannya Den, Non," Bibi Keke meletakkan minuman itu di depan majikannya.


"Terima kasih Bi. Tolong bawa paper bag itu ke dapur ya Bi, dua jam lagi tolong panaskan karena itu berisi makanan," Nirmala memberikan paper bad itu kepada Bibi Keke. Jika dilihat sepintas bukan seperti berisi makanan tapi baju, ntah kenapa paper bagnya sekarang sudah berubah. Mungkin saja toko itu sudah menganti dengan model terbarunya.


"Baik Non Mala," Bibi Keke meraih paper bag itu dari tangan Nirmala. Beranjak meninggalkan sepasang suami istri itu menuju dapur.


*****


"Assalamu'alaikum mantu kesayangan Mommy?!!!!" Rinia yang baru saja masuk ke kediaman Nirmala langsung mengeluarkan suara cemprengnya yang memekakkan gendang telinga.


Dafa dan Nirmala yang masih berada di ruang tamu sampai terkejut mendengar suara ibu mertuanya. Tampak wanita paruh baya itu membawa satu tas lumayan besar yang isinya sangat padat. Intinya Dafa maupun Nirmala yang berada disana tidak tahu apa isinya karena, tidak kelihatan sama sekaki.


"Wa'alaikumsalam Mom. Tidak usah teriak-teriak napa sih Mom? Lagian aku sama Dafa juga nggak tulu, telinga kami masih berfungsi." Kesal Nirmala menatap ibunya itu.

__ADS_1


Sedangkan Rinia hanya menampilkan deretan giginya yang putih. Langsung saja Rinia duduk di depan anak dan menantunya itu setelah menyodorkan tangannya untuk di cium mereka berdua.


"Mommy datang sendiri? Daddy mana?" tanya Dafa.


"Iya, Mommy datang sendiri. Daddy mana sempat datang kesini Dafa. Pekerjaan Daddy itu sangat banyak sehingga Daddy jarang memberi waktu sama Mommy," Adunya sendu.


"Sabar Mom, lagian Daddy seperti itu juga untuk Mommy, bukan? Biar Mommy itu bahagia hidup dengan Daddy, biar Mommy tidak memiliki kekurangan dalam hal materi," Hibur Dafa.


"Aahhhhhh, kamu benar sekali Daf. Mommy hampir setiap haei menghabiskan uang Daddy tapi sialnya tidak pernah habis bikin Mommy kesal saja."


Nirmala hanya melenggos menatap ibunya. bagaimana bisa uang itu habis hanya dalam satu haei jika kekayaan mereka tidak akan habis selama tujuh turunan.


"Ehhh, kok kamu pakai sarung Dafa?" Rinia menatap menantunya heran. Jikapun siap sholat zuhur ini waktunya saja belum masuk atau sudah terlewat.


Dafa mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana cara dirinya menjelaskan kepada ibu mertuanya itu jika dia hanya baik-baik saja. Mata Dafa kini menatap istrinya, menuntut sebuah jawaban. Tak mungkin Dafa akan mengatakan jika ini ulah istrinya yang belum sanggup untuk memberikan haknya. Bisa-bisa Rinia akan semakin murka apalagi pernikahan mereka sudah setengah tahun lebih.


"Emmm, itu Mom emm---"


"Apa sih Dafa? Jangan bikin Mommy semakin penasaran. Suami kamu kenapa Mala?" Kini Rinia menatap putrinya intens. Seperti ada yang tidak beres dari kedua suami istri itu.


"Emmm, Dafa terjatuh di kamar mandi Mom," jawab Nirmala asal. Lagian dirinya juga tidak tahu harus menjawab apa. Takut jika dirinya jujur malah menambah masalah nantinya.


Keduanya lekas menganggukkan kepalanya. "Iya Mom,"


"Kalau jatuh ngapain pakai sarung?" Rinia tidak akan mudah percaya dengan ucapan sepasang suami istru itu yang jelas di buat-buat.


"Itunya Dafa terbentur di bibir bathub Mom," Nirmala memicingkan matanya. Berharap sang ibu percaya dengan ucapannya.


"Apa?! Terus sekarang bagaimana? Apa sudah di obati? Atau mau Mommy panggil dokter pribadi kita?" Rinia langsung duduk di sebelah menantunya. Khawatir dengan keadaan menantunya itu.


"Sudah kok Mom, sekarang juga tidak sakit lagi kok Mom," Dafa berusaha menampilkan senyumnya.


"Beneran Dafa? Mommy takut milik kamu tidak berfungsi lagi? Mommy pengen punya cucu secepatnya." Kekhawatiran Rinia terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Ehhh, Mommy mau apa?" Nirmala menghentikan tangan Rinia yang hendak membuka sarung bagian atas milik Dafa.


"Mommy mau lihat Mala, mana tahu masih terlihat bengkak atau ada yang lecet di sana," jawab Rinia yang kembali ingin membuka sarung Dafa. Namun, usaha itu di hentikan Dafa karena tidak ingin ibu mertuanya melihat miliknya yang sudah tampak sangat imut dan juga agak tembem alias bengkak.

__ADS_1


"No Mom, Mommy tidak boleh lihat milik suami Mala. Yang boleh melihat itu hanya Mala," Nirmala menyingkirkan tangan Rinia dari sarung Dafa. Tak ingin tangan tua itu sampai menyentuh milik suaminya yang pasti akan memekik lagi karena masih sakit. Apalagi tadi Nirmala sempat melihatnya.


"Isss pelit banget kamu, Mala. Lagian Mommy cuma mau liat dikit doang bagaimana bentuknya karena habis kebentur." ujarnya Mencebik.


"Mommy kalau mau lihat punya Daddy saja, jangan punya suami Mala yang dilihat." Sinis Nirmala tidak terima. Enak saja ibunya itu ingin mlihat harta beharga suaminya padahal memiliki suami sendiri.


"Sudahlah, apa yang Mommy bawa itu? Aku mau lihat?" Dafa mengalihkan pembicaraan karena malas akan berkahir semakin melebar entah kemana.


Rinia langsung mengambil tas yang tadi dia bawa. "Ini ada baju untuk kamu dan juga Mala. Ada juga cemilan ringan kesukaan Nirmala dan punya kamu juga Dafa. Pokoknya masih banyak di dalam sini. Nanti kalian masih bisa melihatnya." jawab Rinia.


Nirmala dan Dafa hanya menganggukkan kepalanya. Setelahnya tak ada lagi pembicara yang keluar dari mulut ketiga orang itu. Hanyut dalam pikiran masing-masing.




"Mommy nggak nginap di sini?" tanya Dafa saat melihat ibu mertuanya yang sudah hendak pulang dengan memegang tas kecil ditangannya.



"Nggak Dafa, nanti Daddy sama siapa tidur jika Mommy tidak ada di rumah. Mommy pamit dulu ya Dafa, Mala," Dafa dan Nirmala mencium tangan Rinia dengan takzim sebelum wanita itu pergi dari kediaman mereka. "Oh ya Mala, kamu jagain tuh suami kamu biar cepat sembuh biar kamu dan Dafa bisa cepat memberikan Mommy seorang cucu."



"Nanti kalau sudah waktunya pasti Mommy akan memiliki cucu." jawab Dafa.



"Pokoknya mommy mau kalian cepat-cepat bikin bayi yang banyak biar Mommy ada temannya. Mommy malas sendirian terus. Tahulah Daddy itu sangat sulit untuk membagi waktu bareng Mommy." keluhnya.



"Tidak usah membahas anak sekarang Mom, lagian kami juga masih ingin menikmati masa berdua. Mendingan sekarang mommy pulang, aku sama Dafa juga mau istirahat." usir Nirmala.



"Tanpa kamu suruh pergi pun, Mommy pasti akan pergi Mala," Rinia beranjak keluar dari rumah megah Nirmala.

__ADS_1



TBC


__ADS_2