ISTRIKU MBAK-MBAK

ISTRIKU MBAK-MBAK
IMM 21


__ADS_3

"Habis dari mana lo? Kenapa jam segini baru pulang? Bukankah harusnya sudah 2 jam yang lalu?" Nirmala mengejutkan Dafa yang baru saja masuk ke dalam rumah.


"Astaga Mbak! Kalau ngomong itu nggak usah ngejutin gue kek gini?" Dafa langsung memegang dadanya saking terkejutnya. Bahkan dia sampai terlonjak karena ulah istrinya itu. "untung gue nggak punya riwayat penyakit jantung. Emang lo mau jadi janda di saat lo belum ngerasain yang namanya enak-enak?" lanjut Dafa menatap istrinya sinis.


"Habis dari mana lo?" Bukannya menjawab ucapan Dafa, Nirmala malah kembali menanyakan pertanyaannya yang belum di jawab Dafa.


"Gue ngumpul sama teman-teman gue. Kenapa?" Dafa lebih memilih untuk menjawab pertanyaan istrinya karena, Dafa tahu bagaimana tabiat istrinya yang akan selalu mendesak jawaban atas pertanyaan yang belum di jawab.


"Lo nggak lagi bohongin gue bukan? Lo nggak habis berkencan dengan pacar lo itu kan?" Nirmala mengikuti langkah suaminya yang kini berjalan menuju sofa.


"Nggak Mbak, gue beneran habis ngumpul sama teman-teman gue. Lagian gue juga sudah putusin pacar gue," jawab Dafa membuat Nirmala menutup mulutnya tak menyangka mendengar ucapin suaminya.


"Seriusan lo sudah putusin pacaran lo? Ki nggak lagu ngeprank gue kan?" tanya Nirmala antusias.


Dafa menggeleng. "Nggak Mbak, gue serius sudah putusin kacar gue. Gue sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Gue ngelakuin itu juga demi pernikahan kita. Gue nggak mau hubungan gue sama kacar gue yang akhirnya ngehancurin pernikahan kita." jawab Dafa.


"Sumpah lo?" Saking senangnya Nirmala langsung berdiri dari duduknya.


Dafa sekali lagi menganggukkan kepalanya. "Iya Mbak, sum---, Astaga!!" Dafa terkejut dengan istrinya yang langsung saja melompat ke atas tubunya. Mengalungkan kedua tangan mulus itu pada lehernya. Menyatukan bibirnya pada bibir suaminya yang sedikit terbuka. Memanggut bibir itu dengan ciumannya yang sangat amatiran.


Mendapat serangan mendadak dari istrinya membuat Dafa terkejut. Bahkan bola mata itu sempat melebar sebelum akhirnya membalas permainan kaku sang istri.


Dafa menjadi pemimpin dalam ciuman mereka yang berada di ruang tamu tersebut. Bahkan pikiran mereka tak sampai jika saja ada orang yang lewat dan melihat apa yang tengah mereka lakukan.


Ciuman yang tidak bisa dikatakan biasa saja. Ciuman yang seakan menuntut lebih dari sekedar itu. Pikiran Dafa tak lagi singkron, ingin rasanya tangan itu bermain di tempat lain tapi, dia takut jika sang istri nantinya malah marah kepanya. Sebisa mungkin Dafa tetap menjaga pikirannya agar tidak berkelana kemana-mana.


"Maafin gue," Dengan nafas memburu Nirmala menatap wajah Dafa yang tampak memerah karena sesuatu dalam dirinya tengah bangkit.


Dafa tak menghiraukan ucapan istrinya melainkan kembali menyatukan kedua benda kenyal itu. Memangut semakin dalam bibir sang istri yang terasa sangat manis. Bibir yang seakan candu bagi diri Dafa. Engan untuk melepaskan barang sedetikpun.


Nirmala memukul-mukul dada suaminya karena kehabisan nafas. Namun, suaminya itu tak membiarkan tautan bibir itu terlepas begitu saja. Alhasil bibir Nirmala akhrinya tampak merah dan membengkak.


"Lo mau bunuh gue apa?!" bentaK Nirmala setelah tautan bibir mereka terlepas. Bahkan nafas Nirmala tampak ngos-ngosan. Meraup oksigen yang berada di sekelilingnya dengan kasar.


"Bibir lo enak banget Mbak, bikin gue nagih." jawab Dafa yang sekali lagi menyatukan bibir mereka tanpa menunggu jawaban dari Nirmala.

__ADS_1


"Makasih Mbak," ujar Dafa setelah kembali melepaskan bibirnya dari bibir Nirmala yang semiskin membengkak. Bahkan ada garis luka yang terdapat di bibir istrinya itu.


Dafa mengusap saliva yang tertinggal di sekitar bibir mungil milik sang istri. Mendaratkan ciuman pada pipi mulus istrinya dengan sedikit lama.


Nirmala turun dari pangkuan Dafa saat ada sesuatu yang bebeda dari sana. Takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dirinya. "Maafin gue, gue terlalu senang tadi," ujar Nirmala dengan pipi bersemu merah karena merasa malu.


"Tidak apa Mbak, gue seneng kok," balas Dafa menampilkan senyum manisnya. "Lo nggak kerja Mbak? Tumbenan lo jam segini sudah berada di rumah?" Dafa menatap istrinya bingung. Tak biasanya Nirmala pada jam segini sudah berada di rumah. Paling cepat pun dia akan berada di rumah pada jam 4 sore dan paling lamanya pulang pada jam setengah 6.


"Gue malas di kantor. Kenapa?" Nirmala mendudukan tubuhnya tepat di samping Dafa.


"Ya gue penasaran aja sih Mbak, lagian biasanya lo pulang jam 4 atau jam setengah 6,"


Nirmala hanya menganggukkan kepalanya. "Gue hanya pengen celat pulang saja. Malas lama-lama di kantor," jawab Nirmala.


"Lo rindukan sama gue? Makanya pulang cepat?" tebak Dafa menaik-turunkan alisnya.


"Lo kalau ngomong suka ngaco!!" Nirmala menoyor kepala Dafa. Jujur saja apa yang dikatakan Dafa menang benar. Dia sangat merindukan suaminya itu, namun karena egonya yang terlalu tinggi membuat Nirmala malas untuk mengakuinya.


"Apa susahnya sih Mbak buat ngaku? Ego itu jangan terlalu di gedein yang ada ntar Li juga yang nyesel." ujar Dafa membuat Nirmala menatap dirinya.


"Ya elah Mbak, gue tahu lo itu rindu sama gue. Nggak mungkin lo tiba-tiba berada di rumah di jam segini padahal waktu kantor masih panjang." ucap Dafa dengan suara keras, lantaran istrinya itu sudah meninggalkan dirinya. "Gengsi itu jangan terlalu digedein Mbak. Ingat penyesalan itu datangnya di akhir!"


"Bacot lo!!" teriak Nirmala yang masih dapat bf i dengar Dafa.


Dafa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya yang terlalu memiliki ego tinggi. Dafa beranjak dari ruang keluarga menuju kamar untuk membersihkan dirinya.




"Mbak bagi dong makanannya," pinta Dafa saat melihat Nirmala tengah memakan stick kentang yang dibaluti bumbu barbeque.



"Beli sendiri!!" Nirmala menggeser piringnya kehadapan dirinya. Malas memberikan miliknya pada suaminya yang tampak menatap dirinya melongo.

__ADS_1



"Astaga pelit banget sih lo, Mbak. Lagian gue juga cuman minta sedikit nggak semuanya juga."



"Kalau lo mau ya beli sendiri. Ngapain lo minta punya gue," Nirmala menatap sengit ke arah suaminya. Tak suka dengan apa yang dikatakan suaminya.



Malas bertengkar dengan istrinya Dafa memilih membuka kulkas dan mengambil buah pir dan juga apel. Mengupas kedua buah itu dan di potong rapi lalu di tata tapi di atas piring kecil.



Nirmala menatap suaminya yang tengah menikmati potongan buah yang berada di depannya. Air liur Nirmala seakan berlomba untuk menerima kedua buah itu. "Bagi dong." ucap Nirmala membuat Dafa menghentikan gigitan yang berada di depan mulutnya.



Dafa menyodorkan buah yang tadi sudah di makannya setengah kepada Nirmala.



"Gue nggak mau yang itu, itu sudah bekas gigitan lo. Gue maunya yang baru," jawab Nirmala menolak membuat Dafa menatap Nirmala sinis.



"Giliran buah ini saja dikatain bekas, lah tadi lo telan saliva gue apa nggak jijik?" tanya Dafa membuat wajah Nirmala kembali bersemi merah. Mungkin saja dia malu dengan ucapan frontal suaminya. "Ya sudah kalau lo nggak mau," lanjut Dafa memasukkan buah itu ke dalam mulutnya.



"Iya gue mau, tapi kena---"



TBC

__ADS_1


__ADS_2