Jadilah Milikku

Jadilah Milikku
Ikut campur


__ADS_3

Tapi hati Sabrina menjadi sangat sedih, kota itu sangat jauh dari sini, butuh perjalanan laut yang memakan waktu berhari-hari. karna lokasi bank itu berada di kota kecil.


"Sabrina."


Sabrina lagi-lagi terkejut dengan kehadiran managernya.


"Manager."?


"Mengapa kau melamun disini, pulanglah."


"Aku pulang,apa Restoran ini sudah mau tutup."?


Managernya menggeleng seraya menunjuk seseorang yang ia kenal


"Tuan Rafa."?


💔


"Bukankah aku harus melayani tuan Rafa."?


"Tidak, Sally yang akan melayani tuan Rafa."


"Mengapa."?


"Tuan Rafa tidak ingin kau yang melayaninya minum."


Manager langsung membalikan tubuhnya dan meninggalkan Sabrina seorang diri. airmatanya menetes..mengapa semua kesedihan hari ini bersatu untuk menyakitinya.Dirga akan meninggalkannya dan tuan Raffa membencinya, apakah kali ini tuan Rafa sangat marah dan tidak ingin melihatnya lagi, apakah ia keterlaluan karna telah menghina pemberian tuan Rafa.


Sabrina menundukan wajahnya dalam-dalam ia mengenang, walaupun mereka baru saling mengenal tapi ia telah berhutang budi pada tuan Rafa. Sabrina kembali melirik kearah meja tamu yang memperlihatkan Sally sedang berdiri dan tuan Rafa sedang duduk dengan berbotol botol minuman yang memenuhi meja.


matanya menyipit tidak suka, yang benar saja..tuan Rafa sama saja dengan bunuh diri jika terus menghabiskan semua itu.


Sabrina melangkah mendekati meja tempat Rafa sedang menikmati minumannya entah darimana keberanian Sabrina sehingga dia menemui pria itu, namun yang pasti hatinya tidak ingin berhenti menyadarkan tuan Rafa.


"Selamat malam tuan Rafa, bisakah aku bicara dengan anda."?

__ADS_1


Sally memutar bola matanya dengan kesal..


"Beraninya kau menganggu tuan Rafa, apa kau tau siapa tuan Rafa."? jerit Sally kasar.


Rafa mengangkat jemarinya meminta Sally berhenti, dalam hatinya ia senang melihat Sabrina. betapa dia merindukan gadis ini setelah beberapa hari memutuskan menjauhi Sabrina.


Pria itu menatap dingin kearah Sabrina yang menundukan wajahnya.


"Pergilah, dan tinggalkan aku dengan Sabrina." ucap Rafa dingin.


Sally mengepalkan tangannya tidak suka, namun ia tidak bisa membantah kata-kata Tuan Rafa.


"Baiklah tuan Rafa." gadis itu meninggalkan mereka berdua dan tak lupa memberi tatapan membunuh pada Sabrina.


Sabrina hanya menatap punggung Sally yang menjauh dengan tatapan tidak enak.


"Apa kau akan berdiri saja."?


Sabrina buru-buru menggeleng, ia masih merasa trauma karna berdiri sangat lama malam itu, Sabrina lagsung menjatuhkan dirinya di sofa persis dihadapan Rafa. hingga Rafa hanya menggeleng dan tersenyum tipis.


pria itu tidak menatapnya sedikitpun dan terus menikmati minuman ditangannya.


Namun Rafa sepertinya lebih asik dengan minuman ditangannya. ia tidak sedikitpun memperhatikan Sabrina hingga gadis itu kesal.


"Tuan Rafa, apa kau mendengarkanku."?


Rafa hanya menatapnya dengan sangat dingin. namun ia tak bergeming dan malah menatap gelas berisi minuman beralkohol itu dengan senyuman. pria itu baru saja akan meneguk minuman itu namun ia terkejut ketika gelas itu berpindah tangan daan seketika ia membeku melihat Sabrina yang meneguknya dengan ekspresi aneh.


"Sabrina apa yang kau lakukan..kau tidak boleh minum ini."? bentak Rafa merebut kembali gelas itu dan memecahkannya hingga menimbulkan bunyi yang nyaring ketika gelas menyentuh lantai.


Sabrina menggeleng merasakan sensasi pusing dan pahit diliidah dan tenggorokannya. lalu ia menatap wajah Rafa masih menatapnya lalu tersenyum.


"Akhirnya kau melihatku juga." ucap Sabrina mencibir.


Rafa meraih jemari Sabrina hingga keduanya saling menatap dengan perasaan asing yang sama-sama menyapa dengan hangat.

__ADS_1


"Jangan pernah melakukannya lagi, bersama orang lain." ucapnya mengeraskan rahangnya.


"Mengapa..kurasa lumayan juga rasanya." bisik Sabrina tertawa.


"Sabrina." Rafa kembali menggenggam jemri Sabrina dengan sedikit lebih kuat.


"Mengapa kau mengabaikan aku tuan Rafa, aku sedih sekali..aku tidak bisa tidur kau tau."? Sabrin merasa lebih percaya diri dan sedikit berani untuk menghadapi Rafa.


Rafa tersenyum menyadari Sabrina mulai mabuk,tentu saja pemula sepertinya akan gampang mabuk.


"Bukankah kau sendiri yang ingin kita tidak bertemu lagi."?


"Aku kan sudah minta maaf."


"Ya sudah, aku memaafkanmu..pergilah."


"Kau mengusirku."?


"Kau menggangguku."


"Berhentilah meracuni dirimu sendiri dengan semua minuman ini tuan Rafa."


"Siapa kau Sabrina, kau bukan istriku kau bukan kekasihku dan kau tidak berhak mengaturku." lirik Rafa marah.


"Kau masih muda..bukankah kau punya keluarga..apa kau tidak ingin menikah dan punya anak."


"Kurasa kau sudah melewati batasanmu."


Sabrina merasa ia sudah gila dengan ikut campur urursan tuan Rafa namin hatinya tidak bisa berbohong kalau ia perduli pada Rafa.


"Aku tidak perduli, aku tidak ingin melihatmu menghancurkan hidupmu sendiri."


Rafa tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ketika Sabrina mulai menunjukan perasaannya, dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Sabrina akan mencintainya ia yakin.


Rafa berdiri dengan tatapan tajam ia mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan lagi minum ditempat ini, masih banyak tempat lain bukan."?


Rafa membalikan tubuhnya dan meninggalkan Sabrina yang sudah meneteskan airmata.


__ADS_2