
"Apa kau sedang cemburu Sabrina." tatap pria itu tajam.
"Cemburu..aku cemburu kepadamu."? ulang Sabrina mengelak, yah memang ia cukup kesal mendengar Rafa akan pergi melakukan kencan buta, ia tak ingin memikirkan Rafa namun hatinya kembali menghianatinya.
"Bagaimana kalau kau jujur saja Sabrina..katakan jika memang kau cemburu." teriak Rafa tak mampu mengendalikan perasaannya.
Sabrina membeku ia kemudian menggeleng, dia sudah gila jika melupakan tunangannya Dirga.
"Aku punya kekasih Rafa."
"Dan kau...perasaannmu saat ini sudah goyah Sabrina." ucap Rafa menekan Sabrina agar ia jujur.
"Cemburu padamu adalah hal yang tidak mungkin Rafa jangan bermimpi."ucap Sabrina sekali lagi menepis perasaannya.
Rafa mengepalkan tangannya...ia sangat yakin jika Sabrina juga sudah jatuh cinta kepadanya, ia sangat yakin jika hati gadis ini berubah.
Rafa dan Sabrina saling menatap tajam, masing-masing dengan rasa cemburu yang membakar. Sabrina merasa matanya panas...ia tak tau apa yang terjadi kepadanya mengapa ia bersikap seperti itu. mengapa ia harus marah, mengapa harus tidak terima.? mengapa ia harus merasakan perasaan itu, mengapa.....batinnya frustasi, karna semakin ia mengelak maka perasaan itu semakin kuat saja.
Rafa mendekati Sabrina dan menatapnya dengan sangat tajam, "kau tidak tau betapa khawatirnya aku, kau menghilang begitu saja dari rumah, kau pergi entah keman dan menemui siapa."
"Jangan mengkhawatirkan aku Rafa karna kau tidak berhak, aku tidak ingin kau melakukan hal diluar hakmu." Sabrina menatap tegas dan kembali memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Sabrina aku menyukaimu." teriak Rafa jujur ketika Sabrina hendak menaiki tangga pertama...gadis itu membeku, jantungnya berdebar-debar entah mengapa, matanya basah oleh airmata yang menetes diwajahnya. tidak..Sabrina mengepalkan jemarinya dengan kuat, ia terus menaiki tangga seolah tidak perduli betapa kerasnya teriakan Rafa di bawah tangga, rumah yang luas dan sepi ini seolah memantulkan dengan nyaring ungkapan cinta yang di utarakan Rafa. sampai di tangga terakhir Sabrina menoleh dengan airmata yang tertahan..
"Maafkan aku Rafa, aku tidak menyukaimu..aku punya tunangan..dan aku tidak bisa membalas perasaanmu Rafa." airmata Sabrina lolos begitu saja dari matanya.
Rafa melangkah menaiki tangga, menghampiri Sabrina yang membeku disana. kemudian sampai di anak tangga tepat di hadapan Sabrina.
"Jika Dirga bukan tunanganmu, apakah kau masih tidak mencintaiku Sabrina."? ucap Rafa mendekatkan wajahnya, tidak sia-sia ia sedikit minum tadi dan merasa minuman itu membantunya percaya diri dan berani. Sabrina bergerak mundur dengan ekspresi gugup...
"Rafa..jangan mendekat."
"Mengapa..kau takut."? Rafa semakin mendekat..
"Aku ingin kau jujur.. tentang perasaanmu, aku ingin kau tidak membohongiku Sabrina."
"Tidak ada artinya Rafa, semua kejujuranku tak akan merubah apapun."
"Yah..tapi bagiku akan lebih tenang jika aku tau isi hatimu."
Sabrina memejamkan matanya dengan ekspresi bingung dan bersalah, ia sungguh tak ingin menyakiti siapapun walau kenyataannya mereka sudah tersakiti olehnya.
"Yah..aku akan jujur jika aku menyukaimu Rafa, entah sejak kapan aku tak tau..perasaanku berubah, segalanya dan aku merasa sangat bersalah sekarang karna aku....."
__ADS_1
Kata-kata Sabrina terputus ketika Rafa sudah menyerbunya dengan ciuman pada bibirnya pria itu tdiak melepaskan Sabrina dengan sekali dorong maka pintu kamar Rafa terbuka, Rafa kembali melum** bibir Sabrina tidak terkendali, sementara jemarinya sudah mencari-cari kenikmatan yang tersimpan di balik kaos Sabrina gadis itu memekik tak mampu meronta, sebagian dirinya menerima dengan keinginan yang sama yaitu menyentuh dan disentuh oleh pria asing yang baru saja ia kenal. tubuh Sabrina terhempas ke atas ranjang dan Rafa langsung menindihnya dengan hasrat yang sudah naik, pakaiannya sudah terlepas dan pria itu sudah banyak meninggalkan jejak cumbuan di permukaan kulit mulus Sabrina. yah..tubuh Sabrina begitu indah dan pasrah di bawahnya, pria itu terus membisikan kata rayuan penuh cinta hingga Sabrina hampir kehilangan kendali.. dua anak manusia sedang bergulung mencari kepuasan atas nama cinta...
Suara ponsel Rafa berdering hingga saat itu juga menghempaskan hasrat Rafa yang sedang menggebu-gebu. Rafa dan Sabrina saling menatap sesaat, pria itu tersenyum melihat hasil karyanya di setiap bagian sensitif tubuh Sabrina yang kemerahan, ia mengecup bibir Sabrina yang seolah kehilangan jiwa. dan beranjak dari ranjang meninggalkan Sabrina dengan wajah pucat, bahkan semua pakaiannya terlepas. dengan cepat Sabrina meraih pakaiannya dan berlari ke kamarnya, tak lupa ia mengunci pintunya....
"Kau sudah gila Sabrina, apa yang terjadi kepadamu..mengapa kau bodoh." isak Sabrina tersungkur di balik pintu.
Meski ia belum sampai melakukan hubungan terlarang itu, namun tubuhnya telah tercemar. Rafa telah menyentuh seluruh tubuhnya dengan kesadarannya. bagaimana jika Dirga tau, bagaimana mungkin ia bodoh..bagaimana mungkin.? Sabrina menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ekspresinya benar-benar hancur. Dirga sedang berjuang mencari uang, disini malah Sabrina mencemarkan dirinya sendiri, bagaimana mungkin ia bisa memaafkan dirinya sendiri. Sabrina menatap lemarinya dan mendekatinya, meraih tas tangan berupa baju-bajunya dengan gemetar.. yah..ia tak bisa tinggal lagi disini, tidak lagi..meski Rafa sudah membayarnya di depan namun Sabrina akan mengembalikan uang itu, bahkan ia belum menyentuh uang itu sepeserpun.
Setelah selesai berkemas, Sabrina mendekati ranjang dan tertidur di sana karna terlalu lelah...
Tengah malam, pintu kamar terbuka dan Rafa melangkah masuk, tentu ia tau apa yang terjadi melalui cctv, ia mendengar tangisan Sabrina dan semua perkataan gadis malang ini. namun ia tidak akan membiarkan Sabrina lolos darinya, karna Sabrina adalah miliknya.
Rafa meraih dompet kecil milik Sabrina dan meraih kartu ATM berisi saldo tabungan yang diberikan Rafa pada Sabrina sebagai pemabayaran gajinya sebesar 500juta dan Rafa mulai mengetik sesuatu di ponselnya kemudian, selesai...
Pria itu meletakan kembali kartu ATM itu di dalam dompet milik Sabrina dan mendekati gadis cantik itu, jemarinya naik menyentuh wajah Sabrina yang halus seperti kulit bayi, secara perlahan jemarinya turun sampai di kancing piyama Sabrina dan membuka kancing itu satu demi satu.
Rafa tersenyum puas karna telah berhasil melepaskan semua penghalang di tubuh Sabrina yang begitu indah lalu meraih sesuatu dari dalam sakunya, sebuah stempel kecil dengan tinta yang permanen berukirkan nama Rafa, stempel ukiran sangat kuat dan tidak akan hilang walau Sabrina akan mencoba berusaha menghapusnya.
Rafa tersenyum misterius dan segera melakukan sesuai dengan rencananya. yaitu memberi tanda di tubuh Sabrina jika Sabrina adalah miliknya.
Lalu Rafa kembali mendekatkan wajahnya dan menikmati lembut dan halusnya kulit Sabrina..membiarkan tubuh mereka menyatu dan saling melepaskan dahaga....
__ADS_1