
Sepanjang perjalanan hanya di isi dengan penuh kebekuan. airmata mengalir dari sudut mata Sabrina, ia benar-benar sudah tidak punya siapapun lagi, ia tak tau harus berlari atau mengadu kemana, semua jalan seakan tertutup baginya. Sabrina merasa sendirian saat ini dan tak punya tempat untuk bersandar apalagi menggantungkan harapan. ia memejamkan matanya dengan rasa sakit di hatinya yang teramat besar.
"Apa kau tidak lelah selalu menangis...hapus airmatamu Sabrina."
"Ini hidupku...milikku sendiri termasuk airmataku, walau harus menangis sampai airmataku kering itu bukan urusanmu Rafa."
"Tapi aku benci kau menangisi pria penghianat itu di depanku Sabrina, seharusnya kau melihatku bukan dirinya."
"Itu bukan urusanmu Rafa." jerit Sabrina dengan kesal..
Rafa melonggarkan dasinya yang terasa mencekik dan kembali menajamkan tatapannya...
"Kau harus disadarkan, mana yang harus kau pikirkan..siapa dirimu, aku dan hubungan kita dari pada memikirkan mantanmu yang telah menghianatimu."ucap Rafa tegas...
Mobil itu meluncur dengan cepat menuju sebuah hotel terdekat, Rafa memarkir mobilnya dan menatap Sabrina.
"Turunlah sekarang."
"Tidak..."
"Aku bilang turun."
Sabrina memejamkan matanya dengan sedih lalu menuruti kata-kata Rafa untuk turun dari mobil mewah milikknya, keduanya melangkah bersama ke arah gedung hotel di hadapannya.
Sabrina tertegun ketika beberapa petugas hotel malah menunduk hormat pada Rafa dan juga dirinya, Sabrina tidak terlalu fokus karna kesedihan yang mengambil alih pikirannya saat ini.
"Tuan Rafa...silahkan masuk ke dalam lift utama." ucap petugas hotel berlari kecil dan menekan tombol lift untuk mereka.
"Silahkan tuan." ucapnya lagi dan kali ini pimti lif terbuka...
Rafa menggenggam jemari Sabrina dan membawanya masuk. pintu lift tertutup dan mengantarkan keduanya pada lantai paling ujung sekaligus kamar milik Rafa.
Pintu lift terbuka dan keduanya keluar dari sana dan menuju sebuah pintu masuk. menempelkan kartu khusus pintu kamar terbuka otomatis dan memperlihatkan kamar mewah di hadapannya.
Sabrina membeku ketika ia melihat beberapa penata rias sudah menunggunya...ia sangat terkejut tentu saja apalagi melihat gaun pengantin yang sudah ada di dalam ruangan itu, airmatanya menetes ia menatap Rafa...
"Ada apa ini Rafa."?
__ADS_1
"Hari ini juga kita akan menikah." ucapnya dengan dingin..
"Apa."? ulang Sabrina melebarkan matanya seakan tidak percaya, pria ini berbicara tentang pernikahan begitu enteng semudah berkata-kata, dan Sabrina tidak terima atas pemaksaan yang dilakukan Rafa padanya seperti ini.
"Cepatlah, kau harus di makeup dan aku juga harus mengganti jass." Rafa hendak melangkah namun Sabrina mencegahnya...
"Kita harus bicara Rafa." ucap Sabrina dengan mata tajam menyala-nyala.
"Baiklah....waktumu 10 menit untuk bicara sayang karna aku...tidak mau membuang waktu." desisnya tajam.
Dan......disinilah mereka di atas atap hotel, mereka saling memandang....
"Apa maksudmu dengan pernikahan bukankah kau bilang bulan depan."?
"Aku berubah pikiran sejak aku tau kau masih menemui mantanmu."
"Itu bukan alasan Rafa, kau yang bilang kami harus bertemu."
"Tapi jangan lupa bahwa jika aku terlambat sedikit saja, mungkin kau sudah melarikan diri dengan Dirga dan apa akibatnya kau akan mempermalukan aku, kau menghianatiku. tidakkah kau berpikir sampai kesana."? ucap Rafa bersedekap...
"Tau apa kau tentang bahagia...bukankah sama saja lebih baik bersamaku dan kau akan merasa nyaman, seharusnya kau bersyukur bisa lepas dari kebohongan Dirga....? jika aku tidak menikahimu mungkin kau sekarang masih jadi gadis bodoh yang mudah di tipu."
"Hentikan....Dirga bukan pria seperti itu aku yakin dia hanya sedang khilaf melakukan semua yang diluar kesadarannya." Sabrina menutup kedua telingannya dengan kuat..
"Kau tidak mau menerima kenyataan yah." Rafa semakin kesal saja, ketika Sabrina begitu bebal ketika di beri tahu.
"Rafa aku mohon kepadamu, mengapa kau ingin sekali menikah." jerit Sabrina histeris.
Rafa tersenyum mendekati Sabrina dengan cepat meraih lengannya mendekat hingga tubuh keduanya bersentuhan, Rafa memeluknya.....
"Kalau aku bilang menikah sekarang maka itulah yang akam terjadi Sabrina...kau tidak perlu tau alasanku."
Sabrina menganggukan kepalanya ia sudah pasrah dengan jalan hidupnya yang mengejutkan dan belajar untuk menerima semua yang terjadi kepadanya. Sabrina menatap Rafa dengan tatapan pasrah....
"Baiklah...ayo, lakukan saja kita menikah saat ini juga, aku sangat lelah dengan hidupku dan aku tidak perduli atas dasar apa kau menikahiku, tapi aku mohon padamu jangan pernah membohongiku aku hanya ingin tau saja...agar aku tau masa depanku seperti apa dan jangan memberikan harapan kosong padaku, aku tau jika kau sudah punya kekasih wanita yang kemarin ada dirumah bersamamu." ucap Sabrina dengan mata yang basah..
Rafa terdiam...mungkinkah ia harus mengatakan denan jujur alasan ia menikahi Sabrina agar gadis ini tau posisinya.?
__ADS_1
Rafa melepaskan pelukan dan membuka ponselnya lalu memperlihatkan wajah sang nenek yang sedang memegang surat wasiat.. Sabrina menoleh..
"Apa hubungan nenek denganku."?
Rafa duduk di bangku atap dan tersenyum lirih...
"Nenek mewariskan semua harta atas namamu Sabrina padahal kau bukan siapa-siapa keluarga kami, kau bukan cucunya atau keluarganya, tapi ketika kau menolongnya walau itu hanya hal kecil tapi bagi nenek itu sangat berarti baginya dengan mudah dia menghapusku dari daftar pewaris." ucap Rafa marah..
Sabrina membeku, oh,.nenek..mengapa melibatkannya dalam hal serumit ini. tak tahukah nenek semuanya hancur karna namanya ada di dalam surat wasiat..
"Itu sebabnya kau mengikutiku, menggodaku, dan membujukku dengan segala cara semua ini untuk warisan ini."? Sabrina merasa kecewa entah mengapa, sebagian hatinya tidak terima menyasari sikap manis Rafa selama ini mempengaruhinya...
"Ya kau benar...aku sudah punya kekasih tapi nenek tidak setuju, jadi aku butuh..."
"Berapa lama setelah kita menikah lalu kau akan sah menjadi pewaris nenek."? tanya Sabrina dengan wajah sendu.
Rafa terdiam..mengapa hatinya menjadi nyeri melihat kesakitan di mata Sabrina, seharusnya ia baik-baik saja.
"3 bulan Sabrina..setelah itu kau baru bisa mengalihkan hak waris kepadaku." ucap Rafa pelan.
Sabrina menganggukan kepala dengan airmata yang menetes namun selalu di hapusnya dengan segera..
"Baiklah...aku akan menolongmu Rafa...lagipula aku sama sekali tidak tertarik dengan harta oranglain apalagi bukan hakku..aku akan membantumu naik dan mengembalikan semuanya padamu."
"Sabrina aku tidak menyangka jika kau akan...."
"Aku punya syarat Rafa."
"Syarat."? ucap Rafa mengerutkan keningnya....
"Yah..jika kau setuju maka semua tidak akan menjadi masalah."
"Katakan." ucap Rafa tak sabar..
"Setelah kau mendapatkan warisanmu ceraikan aku, dan aku ingin kita tidak saling melakukan kontak fisik." ucap Sabrina dengan tegas...
Rafa menghela nafas......
__ADS_1