
Di suatu Pulau....
Dirga menatap buku tabungannya dengan kerutan di dahinya ia sekali lagi memperjelas matanya. ada transferan dari Sabrina sebesar 500 juta. pria itu masih terpaku di meja kerjanya. ia bekerja di bank jadi langsung mengecek kebenaran transferan itu dan ternyata benar..Dirga meraih ponselnya dan mulai menelfon sebelum seseorang menyenyuh bahunya hingga ia meletakan lagi ponsel milikknya. Dirga menoleh...
"Sania."? ucapnya tersenyum..
Sania adalah teman kantornya, berusia 22 tahun sangat seksi dan cantik ia sudah lama menyukai Dirga namun Dirga tidak meresponnya, namun jangan panggil Sania kalau dia tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Sania membungkukan badan agar sejajar dengan Dirga, ia sengaja sedikit menempelkan tubuhnya agar Dirga meresponnya. bukan tanpa alasan, Dirga adalah pria paling kaku yang di temui Sania selama ini. ia bahkan tak ingin di dekati oleh seorang wanitapun di lingkungan kantor, dan cenderung menjaga jarak agar tidak terlalu dekat.
"Dirga..apa kau sibuk hari ini."?
Dirga menatap wajah Sania dan sedikit menarik dirinya, yah...Dirga sudah berusaha membentengi dirinya agar kuat dan tidak tergoda dengan Sania. namun entah mengapa hampir setiap saat wanita ini selalu berusaha mendobrak pertahanan Dirga. sebagai lelaki normal ia berusaha kuat menahan diri. berada jauh dari sang tunangan Sabrina membuatnya frustasi, di tambah lagi rencana pernikahan yang tak kunjung di laksanakan membuat Dirga semakin gelisah. yah...ia merindukan Sabrina sebagai seorang pria yang sudah saatnya menikah, ia merindukan Sabrina dengan sangat besar. apalagi di tambah dengan transferan misterius dari sang kekasih. Dirga semakin dilanda kebingungan.
"Aku sedang sibuk, maaf aku tidak bisa membantumu Sania." ucap Dirga memijit pelipisnya.
Sania menatap jumlah transferan 500 juta dan matanya tidak beranjak dari sana. uang Dirga banyak sekali. batin Sania dengan senyuman licik.
"Kau jahat sekali sih..aku selalu meminta bantuan tapi kau selalu menolak." Sania mulai merengek.
Dirga menyadarkan tubuhnya di kursi kerjanya dan menatap Sania.
"Baiklah..katakan apa yang kau inginkan, jika bisa aku akan membantumu." ucap Dirga menyerah..
Sania menganggukan kepala dengan penuh rencana, ia lalu mengeluarkan sebuah undangan dari dalam sakunya dan meletakannya di meja kerja Dirga.
"Apa ini."?
"Undangan, aku tidak punya teman dan aku ingin kau menemaniku ke pesta ulangtahun temanku." ucap Sania tersenyum penuh harap.
"Aku tidak suka pergi ke pesta Sania, maaf."
"Kau sudah janji Dirga."
"Tidak aku bilang jika aku bisa aku akan membantu." Dirga menatap dengan tajam ke arah Sania, hingga wanita itu terdiam.
Ia menganggukan kepala dengan rasa malu yang terlihat jelas dimatanya, sementara matanya sudah mulai memerah hampir menangis..Dirga terdiam, ia terlalu banyak pikiran akhir-akhir ini dan malah melampiaskannya pada orang lain.
__ADS_1
"Jangan menangis..." ucal Dirga dengan suara lembut.
"Aku sudah berharap banyak, namun kau sedikitpun tidak meresponku.."
Dirga menatap Sania dengan rasa iba yang kentara di wajahnya, ia merasa sungguh tidak enak jika menolak Sania dan menyakiti hatinya, mereka satu kantor, bahkan satu ruangan akan sangat tidak nyaman jika di antara mereka terjadi suatu kesalahpahaman. Dirga tampak berpikir sejenak, menimbang tawaran Sania dan kembali menatap mata gadis cantik itu.
"Baiklah..aku menemanimu, puas."? lirik Dirga tanpa ekspresi.
Wajah Sania langsung diliputi bahagia, ia lalu melompat senang.
"Aku menunggumu nanyi malam jam 7 oke, Dirga."
"Oke Sania." Dirga sedikit tersenyum, menatap punggung Sania yang menjauh dengan memejamkan matanya. Sania sangat seksi dan menggoda jiwa lelakinya dan Dirga hanya mampu terdiam..
Sabrina....kalau seperti ini terus bagaimana bisa aku menjaga hatiku...batin Dirga cemas.
💓💓
Dirga berdiri di pintu rumah Sania dan menunggu disana dengan tenang, sejenak ia melirik penampilannya dan merasa puas, sebuah jass mahal berwarna hitam membuatnya sangat tampan dan juga berkelas. setelah lama menunggu pintu ruangan terbuka dan Sania muncul disana dan membuat Dirga hanya mampu melonggarkan tenggorokannya.
Memakai gaun malam berwarna hitam dan berdada rendah, kulit mulus dan indahnya dibiarkan terbuka dengan seksi.
"Cantik." ucap Dirga singkat.
Sania lalu menggendeng tangan pria itu dengan intim dan melangkah mesra menuju mobil. malam ini ia harus menjalankan aksinya. Dirga harus jatuh di dalam pesonanya.
Membuka pintu mobil, Dirga menuntun Sania untuk masuk lebih dahulu dan menyusulnya, mobil lalu melaju pelan menuju pesta.
❤❤
Sabrina melepaskan sarung tangannya dan menghela nafas panjang usai mencuci setumpuk piring kotor bekas makan para pelanggan. ia sengaja lembur untuk mendapat uang tambahan. Gadis itu menepi sebentar untuk duduk di samping restoran dan menghitung uang lembur yang di dapat hari ini. lumayan ia mendapat 300 ribu. Sabrina tersenyum dan kembali menyimpan uang di sakunya sambil melirik ponselnya. ia ingin menelfon Dirga dan menanyakan kebenaran tentang uang itu.
Sabrina mengetik di ponselnya dan segera menelfon, ia tersenyum ketika ada nada sambung yang masuk, berarti Dirga sedang aktif sekarang. jarang Sabrina bisa menghubungi Dirga.
Sabrina: Halo...
__ADS_1
Dirga: Hallo..(suara wanita)
Sabrina: Siapa kau...dimana Dirga.? (mulai cemas)
Dirga: Aku adalah kekasihnya kau siapa? Dirga sedang tidur dan sangat lelah..( suara mendesah.)
Sabrina: Apa maksudmu.?
Dirga: Jangan menghubunginya lagi yah, aku tak tau entah kau siapa tapi perlu kau tau jika kami sudah tidur bersama..jadi jangan mengganggu hubungan kami.
Tiiiiiiittttt........................
Telp di putus sepihak oleh Dirga. Sabrina terkejut..sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar..apa yang terjadi pada Dirga, mengapa wanita itu terdengar sangat intim dengan Dirga...
Mungkinkah.....Dirga sudah menghianatinya.?
Sabrina menundukan wajahnya sambil menangis dengan sedih, ia tak menyangka jika Dirga akan menghianatinya.
Sabrina menyentuh dadanya dan merasa nyeri disna..tidak, bagaimana ini...bagaimana jika benar Dirga telah menghianatinya...bagaimana...? airmata Sabrina menetes dengan kesedihan yang dalam.
"Sedang apa kamu disini."? suara bentakan keras dari arah belakang membuat Sabrina terkejut bukan main. ia pun berdiri dan membalika tubuhnya. mendapati Manajer restoran menatapnya dengan tajam.
"Apa kau mendapat gaji hanya untuk menangis saja."? ucapnya dengan suara lantang.
Sabrina menundukan wajahnya dalam-dalam.
"Maafkan aku..aku hanya beristirahat sebentar." ucap Sabrina dengan tatapan minta maaf.
"Masih ada piring bekas makan dan ruangan yang belum di bersihkan, ini sudah jam 9 malam."
"Aku mengerti aku akan mengerjakannya sekarang."Sabrina menunduk dengan senyuman yang dipaksakan.
Lalu segera kembali menuju ke dalam restoran....
Jam 11 malam....
__ADS_1
Sabrina akhirnya mampu melaksanakan semua pekerjaannya. ia kembali melangkah ke arah jalan dengan wajah lelahnya. hampir seluruh tubuhnya merasa kesakitan...
Sementara dari arah belakang sebuah mobil mewah berwarna hitam mengikutinya dengan pelan.......