
Rafa membuka pintu mobil dan mendekati Sabrina yang sedang menatapnya.
"Sabrina.."
"Aku bersedia." ucap Sabrina tegas.
Dirga akan pergi keluar kota untuk pekerjaannya, Sabrina juga harus mengumpulkan uang yang banyak untuk masa depan mereka. ia tidak ingin Dirga yang memikul bebannya seorang diri. paling tidak sampai mereka menikah Sabrina akan merasa bangga bisa sedikit membantu Dirga.
"Apa kau yakin Sabrina, apa kita sepakat."?
****
"Tentu saja, asal kau menuruti semua perkataanku kau tidak boleh minum lagi dan hanya makan apa yang aku masak." ucap Sabrina menaikan alis.
"Tentu saja..aku akan menuruti semua perkataanmu, dan karna kau sudah setuju malam ini kau langsung ikut kerumahku."
"Sekarang."?
"Yah..apa kau keberatan."?
"Maksudku aku harus menyiapkan diri."
Rafa mendekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. ia tersenyum..
"Aku akan mempersiapkan segalanya untukmu."
Rafa meraih jemari Sabrina dan membawa masuk kemobil sebelum Sabrina berubah pikiran.
__ADS_1
💥
Sabrina turun dari mobil dengan penuh kecanggungan sejenak ia tertegun begitu terpesona dengan keindahan rumah berlantai tiga yang menjulang tinggi dihadapannya. perkataan manager tentang tuan Rafa bukan pria biasa adalah benar. namun rumah sebesar ini sayang sekali hanya tuan Rafa sendirian yang tinggal walau ada banyak pelayan disini.!
"Kau tidak mau masuk Sabrina."? tawar Rafaa lembut
"Maafkan aku, aku hanya kagum dengan rumah tuan Raafa."
"Panggil namaku saja."
"Ini terlalu cepat."
"Aku tidak merasa cepat, aku lebih senang kau tidak memanggilku tuan."
"Baiklah." ucap Sabrina mengangguk.
Mereka sampai di pintu rumah itu dan seorang pelayan membuka pintu dan menunduk hormat kepadanya.meninggalkan mereka berdua sendiri
Wajah Sabrina memutih, ia tertangkap basah oleh Rafa sedang berpikir jauh.
"Aku tidak takut, tunjukan kamarku." pinta Sabrina melangkah lebih dahulu dan membiarkan Rafa hanya menatapnya dengan senyum tipis.
Mereka menaiki lift pribadi untuk sampai di lantai tiga kamar atas. Sabrina hanya terdiam sambil mengagumi kemewahan rumah yang dipenuhi dengan perallatan canggih. pintu lif terbuka dan ruangan bernuansa biru menyambut mereka. disini hanya ada 2 kamar yang terletak bersebelahan.
"Mengapa kamar ini berdekatan."?
"Dulu almarhum nenekku tinggal dikamar ini agar aku bisa mengontrolnya."
__ADS_1
"Cucu yang baik." Sabrina tersenyum ia tidak menyadari jika nenek Rafa adalah nenek yang pernah ia tolong dulu.
Rafa membuka pintu kamar dan mempersilahkan Sabrina masuk. gadis itu langsung tertegun melihat sebuah foto ukuran besar di tengah kamar tidur. ingatannya langsung mengenali foto nenek itu. matanya membulat sempurna ia menoleh pada Rafa.
"Nenek itu adalah nenekmu Rafa."?
"Yah..kau benar..apa kau mengenalnya."?
Tidak mungkin ia jujur, ia takut Rafa berpikir ia memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan dari Rafa.
Sabrina menggeleng,
"Aku tidak mengenalnya Rafa."
"Nenekku meninggal tiga bulan lalu dan kau tau Sabrina, ia selalu mencari seorang gadis yang menolongnya dulu."
Wajah Sabrina menjadi sedih mengetahui nenek baik hati itu sudah meninggal.
"Semoga nenek tenang disana." ucapnya sedih.
"Yah..nenek sudah tidak menderita lagi, itu sebabnya aku mencari gadis penolong itu dan ingin memberinya beberapa aset berharga milik nenek, gadis itu akan kaya jika ia mengetahui aku mencarinya." Rafa sekali lagi ingin menguji Sabrina jika sabrina gila uang maka dia pasti akan mengaku bahwa dirinya yang menolong nenek, lagipula wajahnya terekam jelaas di cctw rumah sakit.
"Aku tidak mengenalnya Rafa, mungkin saja gadis itu tidak butuh apapun dari nenek yang ia tolong karna ia sangat tulus menolongnya."
"Benarkah mengapa kau yakin sekali."?
"Aku hanya menebak." Sabrina memalingkan wajahnya mnghindari tatapan Rafa. matanya kembali terarah pada foto nenek. matanya berkaca-kaca sedih. walau hanya mengenalnya beberapa menit Sabrina merasa nenek itu sangat perhatian dan begitu baik padanya.
__ADS_1
"Sabrina ini kamarmu..kamarku ada disebelah. jika butuh sesuatu ketuk saja pintu kamarku."
"Baik."