
Rafa berdiri dengan tatapan tajam ia mengusap kasar wajahnya.
"Aku tidak akan lagi minum ditempat ini, masih banyak tempat lain bukan."?
Rafa membalikan tubuhnya dan meninggalkan Sabrina yang sudah meneteskan airmata.
☆
Sabrina menatap nanar sosok Rafa yang pergi meninggalkan dirinya. kursi kosong dan meja dipenuhi minuman beralkohol itu seakan menertawakan dirinya. jemarinya terkepal, ia tidak bisa membiarkan Rafa menghancurkan hidupnya sendiri.
tidak ketika ia bisa menghentikan semuanya. Sabrina mengangkat wajahnya dengan satu tekad yang membulat dihatinya.
Rafa membuka pintu mobil namun jemarinya tertahan seketika. Sabrina menahan sebelah lengannya dengan erat, hingga seringai tipis muncul disudut bibirnya
ia menoleh.
"Sabrina, apa yang kau lakukan."?
"Jangan pergi tuan Rafa, aku mohon."
Rafa sengaja melepas pegangan Sabrina dan menutup pintu mobil ia menyandarkan tubuhnya seraya menatap tajam kepada Sabrina.
"Ada apa lagi, bukankah aku sudah memaafkanmu."?
"Berhentilah minum seolah kau ingin membunuh dirimu sendiri tuan Rafa."
"Kau benar sekali aku akan terus minum sampai aku mati, apa kau puas jawabanku nona Sabrina."? Rafa bersedekap.
"Tapi mengapa, setidaknya kau pasti punya keluarga..apa kau tidak sedkitpun memikirkan perasaan mereka."?ucap Sabrina dengan lantang.
Sabrina merasa berani mengatakan semua yang selama ini ia rasakan, ia juga tidak tau mengapa ia seberani ini..apa karna ia sudah sedikit mabuk. ia tersenyum paling tidak ia bisa mengeluarkan semua rasa kesalnya pada tuan Rafa. menyaksikan pria itu minum setiap malam membuat jiwa Sabrina tidak tenang.
__ADS_1
"Keluarga."? Rafa tersenyum ada rasa sakit yang menghantamnya ketika menyadari ia kini hidup sendiri.
"Yah..seperti orangtuamu atau istri dan anakmu." tebak Sabrina.
"Aku tidak seberuntung itu Sabrina, aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain pekerjaanku, uang dan minumanku." ucapnya tertawa.
Mata Sabrina memanas ia merasa sangat sedih, ternyata nasip mereka sama. hanya membedakan adalah tuan Rafa adalah pengusaha kaya, hidup dalam kemewahan sejak lahir. sedangkan mereka hidup dalam kesederhanaan di panti.
"Tuan Rafa, suatu saat kau pasti akan punya kekuarga sendiri jangan sedih."
"Tidak usah menghibur, aku tidak butuh rasa kasihan."
"Katakan jika kau butuh bantuanku tuan Rafa..aku akan melakukannya untukkmu."
"Benarkah, apa kau berjanji."?
"Tentu saja."
"Menolongmu."?
"Rafa mengangguk...
"Aku akan melakukannya.
"Aku ingin kau bekerja untukku."
"Bekerja untukkmu."?
"Iya Sabrina, kau bekerja dirumahku sebagai pelayan khusus untukku, kau hanya bertugas mengatur segala menu makanku."
"Tuan tapi..."
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin menolongku."?
"Aku perduli kepadamu tuan Rafa, tentu aku ingin menolongmu semampuku."
Rafa terdiam, untuk pertama kalinya ia merasa hangat. tidak ada yang pernah menghawatirkan dirinya selama ini selain neneknya. orang-orang sekitarnya bahkan teman tidak ada yang perduli dan mengingatkannya tentang hidupnya. hanya Sabrina gadis pertama yang menyentuh hatinya dan membuatnya jatuh cinta.
"Kau harus tinggal dirumahku selama kau bekerja untukku." sambung Rafa tidak perduli.
"Tu..tuan...aku rasa."
"Sudahlah, jika kau tidak bisa menolongku maka jangan pernah perduli lagi kepadaku Sabrina."
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu, aku hanya merasa ini semua terlalu mendadak."
Rafa terkekeh melihat wajah polos Sabrina yang begitu terbaca bagai buku yang terbuka.
"Simpan saja rasa khawatir omongkosongmu itu jangan pernah lagi kau menunjukannya kepadaku."
Rafa membuka pintu mobil dan membantingnya dengam keras. menghidupkan mesin mobil ia akan meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa yang besar.
namun ia tertegun melihat Sabrina yang keras kepala sudah berdiri di depan mobil. merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi dirinya pergi. rafa mengukir senyum diwajahnya. Sabrina adalah gadis yang penuh perhatian. dan Rafa akan mengunakan kelemahan Sabrina untuk merebut gadis itu. lagipula Dirga akan meninggalkan kota ini dalam waktu yang lama.
Rafa membuka pintu mobil dan mendskti Sabrina yang sedang menatapnya.
"Sabrina.."
"Aku bersedia." ucap Sabrina tegas.
Dirga akan pergi keluar kota untuk pekerjaannya, Sabrina juga harus mengumpulkan uang yang banyak untuk masa depan mereka. ia tidak ingin Dirga yang memikul bebannya seorang diri. paling tidak sampai mereka menikah Sabrina akan merasa bangga bisa sedikit membantu Dirga.
"Apa kau yakin Sabrina, apa kita sepakat."?
__ADS_1