Jadilah Milikku

Jadilah Milikku
Menyelamatkanmu


__ADS_3

"Lepaskan dia." seru Rafa dengan suara lantang.


Pria yang memegang tangan Sabrina tak mau melepaskannya, susah payah ia mendapatkan gadis ini dan ia tidak akan menyerahkannya pada Rafa.


"Kau siapa..mengapa kau ikut campur, aku mengincarnya dan dia harus jadi milikku." tegas pria itu dengan tatapan tajam.


Rafa melangkah dengan santai ia tidak sedikitpun takut apalagi gentar, melepaskan jassnya dan menggulung kemeja putihnya, Rafa bergerak maju mendekati pria itu dengan tatapan dingin, pria itu lalu mengeluarkan pisau dari sakunya dan mengarahkannya dengan lurus pada Rafa dan bermaksud untuk menakuti Rafa.


"Pisaumu tidak akan mampu melukaiku." ucap Rafa dengan santai..


Sementara semua yang ada di ruangan itu menjadi hening dan ketakutan, mereka memandang Rafa dengan tatapan kagum dan juga jatuh hati. masing-masing berharap menjadi Sabrina yang ditolong oleh Rafa.


Pria itu kemudian semakin mengeraskan genggamannya pada lengan Sabrina yang membuat gadis itu menjerit.


"Rafa...hati-hati." jerit Sabrina cemas..


Rafa mendudukan tubuhnya dengan santai di atas salah satu meja tempat makan dan masih dengan santai meraih sesuatu dari dalam sakunya.


Mata pria itu bersama-sama temannya yang membuat onar menjadi gemetar. masing-masing saling menatap dengan ekspresi ketakutan.


sebuah pistol kecil namun sangat mematikan digenggam Rafa, para pria itu tau betul itu adalah pistol keluaran terbaru dengan edisi yang langka, mampu membunuh tanpa mengeluarkan bunyi.


"Lepaskan kekasihku atau kalian akan merasakan peluru ini dengan penuh rasa sakit." desah Rafa menimbang.


"Gadis ini kekasihmu."? ulang pria yang masih memegang lengan Sabrina dengan kuat.


Kekasih Sabrina, astaga yang benar saja..pria tampan dan kaya itu kekasih Sabrina? terdengar bisik-bisik di antara pengunjung maupun karyawan yang ada di restoran itu.


Mereka saling menatap lalu kemudian melepaskan Sabrina dengan berat hati, dan segera berlari keluar dari sana dengan wajah ketakutan. Sabrina sangat terkejut hingga kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya. airmatanya menetes dan menatap Rafa dengan tatapan kosong.


Rafa mendekatinya ketika akan sampai..ia melihat tubuh Sabrina melemah dan kemudian jatuh, namun beruntung, Rafa mampu menangkapnya tepat waktu, hati Rafa menjadi nyeri, menyadari tubuh Sabrina sangat ringan di pelukannya, apakah dia sudah makan dan baik-baik saja.


Manajer restoran berlari ke arah Rafa dan menundukan kepala seperti seorang penjilat.


"Tuan Rafa apakah anda baik-baik saja."?


"Kau...dipecat." desis Rafa lalu meninggalkan restoran ini dengan Sabrina di dalam pelukannya, sementara wajah sang manager sangat pucat..ia masih ingin mengejar tuan Rafa namun asisten tuan Rafa menghadangnya.


"Jangan berani-berani mengejar tuan Rafa atau..kau akan mendapat pelajaran yang tidak akan kau lupakan seumur hidupmu." desis Doni sang asisten dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Baik tuan, maafkan aku.'


"Kemasi barang-barangmu sekarang juga." ucap Doni dengan tatapan dinginnya.


"Baik tuan." ucap Manager dengan wajah tertunduk lesu. sementara dari jauh Sinta hanya menatap cemas. bagaimana keadaan Sabrina..baik-baikkah dia.?


**^^**


Rafa menatap Dokter yang sedang memeriksa Sabrina, ia terlihat cemas, ketika dokter itu menyuntikan cairan melalui cairan infus.


"Bagaimana keadaannya."? tanya Rafa dengan cemas.


"Dia kekurangan gizi, anemia yang parah dan kelelahan dan juga stres yang berlebihan, asam lambungnya naik, tapi tuan tidak perlu khawatir karna saya sudah menyuntikan vitamin, namun saya akan memberi resep untuk di tebus." ucap sang dokter menjelaskan.


Tatapan Rafa terlihat dingin...ia pun menganggukan kepala dan mengucap terimakasih. lalu iapun membiarkan Dokter keluar dari kamar bersama pelayan yang mengantarrnya.


Pandangan Rafa tertuju pada Sabrina yang masih belum sadar, gadis ini terlihat menyedihkan dengan wajah pucat yang terlihat menakutkan, walau masih terlihat cantik tak dapat di pungkiri kalau Sabrina terlihat lelah, ia tidur dengan sangat nyenyak.


Pria itu mendekati Sabrina, duduk di sisih ranjang lalu menyentuh wajah Sabrina dengan sentuhan yang lembut. ada rasa penyesalan Rafa terlalu menekan Sabrina dengan uang yang harus diganti Sabrina itu dan akhirnya membuat Sabrina menjadi stres dan mengambil banyak pekerjaan lembur.


Rafa menghela nafasnya...


Pria itu menatap seluruh kamar Sabrina, semuanya masih sama seperti sebelum Sabrina meninggalkan rumah ini. dan akhirnya Rafa mengangguk puas.. iapun bergerak naik menuju sebelah Sabrina dan tidur disampingnya. jemarinya memeluk tubuh Sabrina secara posesif dan kembali memejamkan matanya. Rafapun tertidur dengan nyenyak dengan posisi memeluk Sabrina. untuk pertama kalinya ia bisa nyenyak setelah hampir setiap malam tak bisa memejamkan matanya karna merindukan Sabrina.


Pagi harinya...........


Sabrina membuka matanya perlahan, ia merasa tubuhnya menjadi lebih ringan, sakit dikepalanya hilang dan juga ia merasa lebih segar.


Pandangan mata Sabrina terbuka lebar ketika menyadari dia berada di kamar milikknya namun kali ini ia berada dirumah Rafa.


"Selamat pagi."


Terdengar suara yang menegurnya, lalu Sabrina terkejut melihat Rafa sedang duduk di hadapannya dengan senyum kemenangan...


"Rafa,"? bisik Sabrina langsung teringat perjanjiannya, sontak Sabrina memeriksa pakaiannya dan menghela nafas lega ketika menyadari ia tidak kekurangan apapun.


Rafa tertawa geli atas pikiran Sabrina yang polos..


"Aku tidak bergairah menyentuh tubuhmu yang terlihat menyedihkan itu sekarang Sabrina." ucap Rafa dengan jujur.

__ADS_1


Wajah Sabrina merah padam mendapatkan pernyataan langsung dari Rafa.


"Terimakasih Rafa...kau selalu datang disaat yang tepat ketika aku membutuhkan bantuan." ucap Sabrina dengan mata berkaca-kaca.


Rafa tersenyum dengan dingin....


"Jangan berterimakasih dulu Sabrina, sesungguhnya aku tidak sebaik itu." ucap Rafa dengan senyuman licik.


"Apa."?


Rafa bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Sabrina yang terdiam seakan di paku di tempat.


Pria itu menundukan badan dan menyentuh dagu Sabrina lalu tersenyum dingin.


"Kau tidak melupakan kenyataan bahwa kau sekarang adalah milikku kan."?


Sabrina melonggarkan tenggorokannya, bisakah dia pingsan saja dan tidak mendengar kenyataan ini.?


"Rafa...aku tidak melupakan semua dalam perjanjian itu..aku menjadi milikkmu semalam bukan, lakukannlah aku siap." ucap Sabrina dengan suara yang bergetar..


"Hahahaaha.....semalam, aku rasa kau lupa,,aku tidak bilang kau menjadi milikku hanya semalam Sabrina."


"Rafa..jangan bermain-main dengan hidupku, aku mohon."


"Itu salahmu sendiri Sabrina, bukankah aku menyuruhmu membaca seluruh isi perjanjian kita.? tapi kau percaya begitu saja dan aku...hanya bisa menerima dengan bahagia sayang."


"Rafa..apa maksudmu...aku..."


"Kau harus menikah denganku dalam waktu sebulan dari sekarang."ucap Rafa dengan tawa yang begitu terdengar lantang..


"Kau sudah gila." jerit Sabrina dengan airmata yang menetes..


Rafa sungguh tidak perduli dengan tangisan Sabrina...


ia bersedekap dengan tajam.


"Waktumu cuma 1 minggu untukk memutuskan hubunganmu dengan tunanganmu Dirga." ucap Rafa dengan nada yang tegas tak terbantah..


"Rafa......." jerit Sabrina dengan tangisan yang pecah....

__ADS_1


__ADS_2