
"Aku tidak mengenalnya Rafa, mungkin saja gadis itu tidak butuh apapun dari nenek yang ia tolong karna ia sangat tulus menolongnya."
"Benarkah mengapa kau yakin sekali."?
"Aku hanya menebak." Sabrina memalingkan wajahnya menghindari tatapan Rafa. matanya kembali terarah pada foto nenek. matanya berkaca-kaca sedih. walau hanya mengenalnya beberapa menit Sabrina merasa nenek itu sangat perhatian dan begitu baik padanya.
"Sabrina ini kamarmu..kamarku ada disebelah. jika butuh sesuatu ketuk saja pintu kamarku."
"Baik."
🤍
Rafa bersiap untuk ke kantor, hari ini ia lebih bersemangad dari hari-hari sebelumnya. yah..walau baru semalam Sabrina tinggal disini namun rumah ini terlihat lebih hidup sejak Sabrina disini. entah jam berapa gadis itu bangun. dia memasak dan membangunkan Rafa dikamar. pria itu tersenyum cukup puas sejauh ini rencananya berjalan dengan sangat mulus. besok Dirga sudah pergi dari kota ini dan waktu yang tepat baginya untukknya merebut cinta Sabrina.
Pria itu melangkah dengan percaya diri menemui Sabrina.
"Selamat pagi." ucapnya dengan ramah.
"Selamat pagi Rafa, ayo sarapan dulu." ucap Sabrina seraya mempersiapkan peralatan makan Rafa. dan tersenyum puas saat Rafa menurut.
"Masakanmu enak sekali."
"Aku terbiasa masak ketika di panti dulu, maaf yah jika ini hanya menu sederhana."
"Aku menyukai semua yang kau masak Sabrina terimakasih."
"Oya Rafa, jangan lupa kau harus memulai menghentikan kebiasaan minum-minummu."
__ADS_1
"Aku ingin, tapi bagaimana caranya."
"Aku ingin kau membantuku menanam bunga."
"Bunga."? ulang Rafa tak percaya. menanam bunga adalah hal yang pantang bagi pria. apa kata para pelayan jika mereka melihatnya menanam bunga.
"Tenanglah kau hanya perlu melihatku menanam." seru Sabrina terkekeh menyadari pikiran Rafa.
"Jangan memintaku membantumu Sabrina, aku tidak pernah melakukannya seumur hidup."
"Aku tau seorang tuan muda Rafa mana pernah menyentuh tanah dengan jarinya."
Rafa hanya menggeleng menyerah menghadapi ledekan Sabrina. ia terus makan sambil tersenyum senang. melihat Sabrina bercanda dan begitu santai dengannya semakin membuat Rafa menginginkan Sabrina lebih. ia sudah tidak sabar ketika suatu saat Sabrina menjadi istrinya.
"Rafa, setelah memasak, aku ingin pergi sebentar kerumah tunanganku Dirga."
Senyum Rafa menguap begitu saja dibibirnya. ia mulai merasa kesal. namun tentu ia tidak bisa melarang Sabrina untuk menemuinya. pria itu berdehem masih terlihat tenang.
"Tidak usah Rafa, aku bisa naik taxi dan aku baik-baik saja."
"Jangan membantah Sabrina, pagi ini jalanan begitu sibuk dan kau akan lama sampai disana begitupun sebaliknya kau akan terlambat pulang.
Setelah berpikir sesaat Sabrina mengangguk setuju.
"Baiklah terimakasih Rafa. aku akan siap- siap dulu."
Rafa mengangguk menatap tubuh Sabrina menghilang dibalik lift.
__ADS_1
ia lalu memukul meja dengan kuat.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian bertemu.. Sabrina kau tidak akan pernah bisa menemuinya lagi."
❤
Rafa menatap apartemen sederhana di sampingnya.apartement sedang yang terlihat sempit. astaga ia tidak akan membiarkan Tania hidup tersiksa disini.
"Terimakasih Rafa."
"Jam berapa kau pulang, aku akan menjemputmu."
"Tidak usah..aku bisa..."
"Perpisahan itu akan menguras emosi dan aku yakin kau akan menjadi tontonan gratis pengguna jalan yang lain."
"Kau ini ingin meledekku yah."
"Tentu saja, kau terlihat menggemaskan lucu, simpan nomorku bukan"?
"Yah..aku menyimpannya dengan sangat baik tuan Rafa."
"Bagus." ucapnya dengan dalam.
Sabrina keluar dari mobil dan segera menjauh memasuki apartement.
Rafa meraih ponselnya dan menelfon seseorang
__ADS_1
Kau sudah memastikan dia sudah pergi.
Rafa tersenyum dengan puasa, dan menyadarkan punggung di jok mobil ia tidak akan pergi dari tempat ini karna ia yakin Sabrina akan kembali dengan airmata.