
Sabrina melangkah membuka pintu flat dan tersungkur dengan airmata yang menetes, masih bersama gaun pengantin yang membungkus tubuhnya Sabrina tertunduk dengan wajah yang basah oleh air mata...
Pernikahan yang seharusnya menjadi pernikahan sekali seumur hidup malah membuatnya mengalami rasa sakit yang luar biasa...dan ironisnya dalam 3 bulan ia akan mendapat predikat janda di usia yang masih sangat muda. yah....ada lagikah hidup yang lebih berat dari ini,
Lama Sabrina di sudut pintu sambil memeluk kedua lututnya dengan gemetar, bahkan orangtua saja ia tak punya, apalagi saudara, ia benar-benar sebatang kara di dunia...
"Menangislah Sabrina...menangislah...dan lupakan saja semuanya, telan saja walau itu menyakitkan seperti menelan duri....besok jangan ada airmata lagi...."bisik Sabrina pelan isakannya semakin terdengar pilu, bagi siapapun yang bisa mendengarnya.....
**^^**
Rafan membuka pintu apartement dengan wajah yang lelah, ia langsung disambut sang kekasih Ela yang tersenyum puas menyadari kemungkinan yang terjadi pada Sabrina..entah gadis itu telah pergi atau dibuang dijalan entahlah...itu bukan urusannya. yang pasti Ela tidak akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan,,ia akan merayu Rafa agar terikat padanya...
Ela mendekati Rafa dan menuntun pria itu, namun tanpa di duga Ela, tangannya di tepis oleh Rafa hingga ia terkejut..
"Mengapa sayang."?
"Tidak...aku hanya lelah, jangan mengangguku Ela, suasana hatiku sedang tidak baik dan aku...tidak ingin menyakitimu."
Rafa melangkah menuju kamar dan menutupnya dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang mengerikan...
"Kasar sekali sih...dasar Sabrina, untunglah gadis itu sudah tersingkir jadi Ela tidak perlu repot menguras tenaganya. untuk sementara ia akan membiarkan Rafa sendiri dulu agar pria itu lebih tenang....
**^^**
Tengah malam........
Sudah berkali-kali ia memejamkan matanya namun sama sekali matanya tidak bisa terpejam..
pikirannya tertuju pada Sabrina, apakah dia sudah makan...?Rafa tau dia acara pesta yang begitu lama Sabrina belum makan sama sekali.
Rafa duduk di tepi ranjang...tidak, ia tak boleh seperti ini, setidaknya ia harus memastikan kalau Sabrina baik-baik saja... gadis itu sama sekali tidak memiliki uang. setidaknya Rafa memberinya sedikit pegangan uang dan gadis itu bisa bertahan. Sabrina yatim piatu ia bahkan tidak punya teman untuk dimintai tolong...
Rafa sekali lagi berdiri dan meraih jassnya, dan memakainya lalu keluar dari kamar, Ela kembali terikejut melihat Rafa keluar kamar, wanita itu menghadangnya...
"Mau kemana."
__ADS_1
"Aku harus ke kantor, maaf Ela besok aku akan datang lagi." Rafa mencium pipi sang kekasih dan segera melangkah keluar...
Ela menatap tajam...
"Biasanya dia menciumku di bibir, mengapa dia berubah."?
**^^**
Rafa mengemudikan mobilnya dengan cepat, hatinya cemas karna ia mengkawatirkan Sabrina...hingga ia hampir sampai di flat Sabrina dan melewati sebuah jajanan dan melihat Sabrina tengah membeli sebuah roti kecil dan sebuah air mineral, dan di dekat flat ada sebuah taman kecil tempat para penghuni flat bersantai.
Rafa tertegun memperhatikan Sabrina yang duduk di sudut bangku taman, gadis itu menunduk sambil membuka roti dan memakannya sdikit- sedikit sambil meminum banyak air. gadis itu sengaja mengisi perutnya denganair yang banyak agar cepat kenyang, karna tak mungkin Sabrina hanya memakan roti kecil untuk makan malam.
Rafa memejamkan matanya penuh rasa bersalah, bagaimanapun, ia yang masuk ke dalam hidup Sabrina dan mengacaukannya....
Rafa memanggil seorang anak muda dan berbisik padanya sambil memberikan uang yang sedikit tebal untuk diberikan pada Sabrina...
**^^**
Sabrina menghela nafas melihat roti kecil yang sama sekali tidak bisa memenuhi rasa laparnya, walau sudah berusaha minum air yang banyak namun tetap saja Sabrina masih lapar...sementar keringat mulai terbit didahinya...
"Yah...ada apa."? tatap Sabrina tersenyum...
"Aku sudah berkeliling untuk mencari model untuk di foto dan aku akan memberinya uang 5 juta rupiah."ucap pemuda itu tersenyum ramah...
Dalam keadaan lapar dan di tawari uang maka Sabrina tidak mampu memikirkan apa-apa lagi selain ia bersedia untuk di foto, dengan uang 5 juta ia bisa hidup beberapa minggu sambil mencari pekerjaan.
"Jadi maksudmu adalah kau menawariku."?
"Yah..hanya beberapa foto saja, dan kau bisa ambil uangnya lebih dahulu jika kau tidak percaya."ucap pemuda itu meyakinkan Sabrina...
"Baiklah...aku mau."
Pemuda itu memberi Sabrina uang dan gadis itu mengucap terimakasih..
"Lalu aku harus bergaya seperti apa."? tanya Sabrina bingung...
__ADS_1
Pemuda itu tersenyum..
"Aku suka foto yang natural, seperti kau memakan roti dan minum air."
"Hah...hanya itu saja."?
"Yah......" senyum pria itu sungguh-sungguh...
Meski terasa janggal namun pria itu tidak membiarkan Sabrina berpikir lama, ia segera mengambil beberpa foto dan membuat Sabrina sibuk...
Setelah selesai..pria itu menatapnya..
"Kau cantik juga...terimakasih ya, sampai jumpa."
"Hey...terimakasih." Sabrina masih melambaikan tangannya...
Ia kembali menatap senang ke arah uangnya...
"Aku bisa membeli makanan enak." senyum Sabrina sembari mengambil selembar uang seratusan dan melangkah ringan menuju tempat penjal makanan.
Sementara Rafa menatap dari jauh ketika Sabrina menikmati makanannya dengan penuh rasa syukur, senyum tak pernah lepas dari bibirnya...
"Setidaknya aku tau kau baik-baik saja Sabrina, kau bisa tidur dengan tenang dan tanpa berpikir akan kelaparan lagi....maafkan aku." ucap Rafa menundukan wajahnya....
Setelah Sabrina selesai makan ia melangkah pelan menyusuri trotoar dengan langkah pelan.....dan berhenti sebentar di pinggir jalan ketika matanya terasa panas....airmatanya menetes lagi...
Sabrina menatap pada langit malam yang di penuhi bintang dan berbisik lirih...
"Tuhan...terimakasih sudah menolongku, aku mohon kuatkan aku..agar aku bisa menjalani semuanya dengan sabar..karna selalu ada pelangi setelah hujan." ucap Sabrina menghapus airmatanya dan kembali melangkahkan kakinya pulang menuju flat sederhananya.....
Rafa masih menatap Sabrina sampai istrinya masuk ke dalam flat kecilnya.... dan tenggelam disana..
Rafa menyandarkan tubuhnya, sepertinya ia tak bisa pulang, toh ia tak akan bisa tertidur dan akan selalu memikirkan Sabrina, lebih baik ia tidur di mobil, mungkin ia akan nenyak jika tidur tempat yang terdekat saat ini.
Rafa menekan tombol hingga kaca bagian atap mobil sedikit terbuka dan ia bisa mendapat udara segar, pria itu memejamkan matanya..mengapa ia merasa mengantuk...aneh, tadi di apartemen ia susah untuk tertidur....
__ADS_1
Apakah..karna ia merasa tenang hanya didekat Sabrina...entahlah, Rafa tak pernah tau itu..ini pertama kali dalam hidupnya ia merasa begitu damai walau harus tidur di kursi mobil yang mempunyai ruang gerak terbatas. Rafa tersenyum, memejamkanmatanya dan merasa sangat mengantuk, Sabrina juga pasti sudah tidur..