Jadilah Milikku

Jadilah Milikku
Pertengkaran


__ADS_3

Sabrina bangun di pagi hari dengan tubuh yang aneh, yah.. mengapa di bagian ujung dadanya terasa sakit.? apakah karna cumbuan Rafa semalam, tapi bahkan mereka tidak lama bercumbu. Sabrina hanya menggeleng bingung, entahlah lebih baik ia cepat membarsihkan diri lalu pamit dari rumah ini, kebetulan hari ini Rafa libur.


Sabrina segera bergegas ke kamar mandi, ia mandi dengan cepat lalu kembali ke kamar, memakai pakaiannya dengan terburu-buru, sesaat ia menatap seluruh isi kamar ini dan menemukan perasaan kosong, apakah dia sudh terlanjur nyaman disini.? tapi seharusnya ia tak boleh merasakan itu, semua ini hanyalah semu baginya. yah..Rafa dan rumah ini bukanlah milikknya ia harus sadar sebelum jatuh terlalu dalam.


Sabrina menguatkan hatinya, menutup tas pakaian milikknya yang tidak terlalu besar dan hanya mampu menampung beberapa baju miliknya yang ia bawa dulu, Sabrina tak ingin mengambil satu bajupun yang di belikan Rafa kepadanya. baginya ia tak akan mengambil atau menerima yang bukan hakknya.


Sabrina menatap dres sederhana miliknya di kaca dan tersenyum, inilah dia yang sebenarnya. Sabrina menundukan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. lalu segera keluar dari sana dengan kekuatan yang tersisa.


Langkah Sabrina terhenti ketika menatap Rafa yang sedang duduk di ruang tv dengan tatapan serius, Sabrina terdiam meremas jemarinya dengan sedikit takut yah..bagaimana jika Rafa marah, bagaimana kalau pria ini tidak menerima kepergiannya, tapi setelah yang terjadi semalam, wajar jika Sabrnia yang lebih dahulu memutuskan pergi bukan..jika terus berada di rumah ini, Sabrina ragu ia akan kuat, hari demi hari godaan Rafa terlalu kuat mempengaruhi hatinya. dan Sabrina tidak sekuat itu untuk bertahan.


"Ehem.." Sabrina meminta perhatian Rafa dan pria itu menoleh seketika. dahinya membentuk kerutan yang dalam.


"Ada apa ini."? ucapnya dengan suara yang tajam.


"Aku ingin bicara." ucap Sabrina dengan tekat yang kuat, walau dalam hatinya ia begitu ketakutan.


Rafa bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Sabrina dengan tatapan tajam.


"Ikut keruang kerjaku sekarang." ucap Rafa dengan dingin lalu melangkah melewati Sabrina dengan aura kemarahan yang kentara di wajahnya.


***^^***


"Aku ingin pergi dari sini." ucap Sabrina dengansuara yang tercekat.


Ruangan kerja yang luas itu, entah mengapa terasa sempit bagi Sabrina, yah.. ia merasa tak bisa bernafas dengan baik karna tajamnya tatapan Rafa kepadanya saat ini.


"Pergi."? ulang Rafa.


"Iya..aku ingin pergi..."


"Mengapa."?


Sabrina kehilangan suaranya lalu memandang Rafa yang masih menatapnya begitu tajam seakan menusuk hatinya yang terdalam.


"Aku....."

__ADS_1


"Apa karna semalam, aku sedikit memaksamu dan kau merasa tidak nyaman, begitu."?


Yah..bolehkah ia jujur, bahwa ia tidak tenang tinggal satu atap dengan Rafa bahwa setiap saat ia selalu tergoda, bahwa hari demi hari ia semakin hatinya mulai mencair dengan semua sikap Rafa, sebelum hatinya makin tidak terkendali, maka pergi adalah jalan paling baik yang pernah dia pikirkan saat ini.


"Aku hanya ingin kembali ke restoran, dan..mungkin menunggu Dirga pulang..lalu kami akan menikah."


Sabrina tak menyangka jika perkataannya menyulut api cemburu yang membakar Rafa dengan cepat, Rafa mendekati gadis itu meraihnya dalam satu tarikan dan akhirnya tenggelam dalam pelukan posesif Rafa..


"Kau akan menikah dengannya, apakah kau yakin." desah Rafa dengan geram.


"Mengapa aku harus ragu, dia calon suamiku..aku bahkan percaya kepadanya meski seribu kebohongan datang padaku, aku tidak akan goyah.." ucap Sabrina dengan suara lantang.


"Oya..lantas, bagaimana ciumannya apakah lebih baik dariku, sentuhannya seperti sentuhanku..."


Rafa melirik bibir Sabrina yang tampak ranum dan sesaat kemudian, pria itu melum** dengan kasar bibir Sabrina, mencecapnya seolah menghukum.. tidak, tak ada yang bisa lepas darinya tanpa seijinnya termasuk Sabrina., gadis itu meronta berusaha melepaskan ciuman Rafa yang membuatnya pusing,.. antara keinginan dan penolakan yang saling bertentangan di hatinya. Sabrina terlena sesaat, Rafa membawanya pada kenikmatan baru yang sulit untuk ditolaknya hingga di detik terakhir, gadis itu tersadar dan mendorong tubuh Rafa hingga pelukan mereka terlepas dengan dramatis...


Keduanya saling menatap tajam masing-masing berusaha meredam perasaannya, airmata Sabrina menetes.


"Apakah seperti ini kau menganggapku hah."? seru Sabrina merasa terhina..


"Aku membayarmu dengan sangat mahal untuk mengurusku disini, braninya kau meninggalkan aku seperti ini..kau tidak tau siapa aku ya.."? desis Rafa mengepalkan tangannya.


Rafa terdiam, sepertinya Sabrina sudah salah paham dengan tindakan spontannya, tadinya ia memang marah namun mencium Sabrina, adalah dorongan dari dalam hatinya. dan Rafa tak mampu membendung perasaanya ketika bersama Sabrina saat ini.


"Baiklah....aku mengalah, pergilah...lagipula aku akan menikah sebentar lagi dan mungkin aku memang tidak membutuhkanmu lagi Sabrina." ucap Rafa dengan dingin.


Sabrina mengepalkan tangannya mengumpulkan kekuatannya, ia mendekati tasnya dan meraih dompat kecil dari dalam tasnya mengeluarkan sebuah kartu ATM kecil dari dalam sakunya dan meletakannya di atas meja kerja Rafa.


"Aku akan mengembalikan semua uangmu Rafa, di antara kita tidak ada lagi hubungan, anggap saja kita tidak saling mengenal." ucap Sabrina dengan susah payah menahan debaran jantungnya...


Rafa menatap kartu tipis itu dengan senyuman puas..


"Ambillah mungkin itu akan berguna untukkmu Sabrina, anggap saja itu hadiah pernikahan dariku." ucap Rafa membalikan tubuhnya membelakangi Sabrina.


"Tidak...aku tidak membutuhkannya Rafa."

__ADS_1


"Aku tidak suka jika aku di bohongi Sabrina." ucap Rafa menekan.


"Apa maksudmu...kau menuduhku memakai uangmu."?


"Aku hanya ingin kau jujur, lagi pula uang itu milikkmu."


"Tidak..aku tidak membutuhkannya Rafa."


Pria itu kemudian memutar tubuhnya kembali...iapun tersenyum dengan penuh arti.


"Baiklah...bagaimana jika uang yang ada di dalam ATM ini berkurang atau malah habis.? ucap Rafa menebak..


"Tidak mungkin Rafa, aku tidak pernah menggunakan uang itu." ucap Sabrina dengan wajah pucat...apakah pria ini benar-benar menuduhnya.? batin Sabrina dengan sedih.


"Aku hanya ingin bertaruh saja." Rafa bersedekap.


"Aku akan menggantinya."


"Kau akan mengantinya dua kali lipat dari jumlah yang hilang." ucap Rafa menyeringai...


Sabrina mengangguk tanpa berpikir...


"Aku ingin kau menggantinya dalam waktu satu bulan, jika kau tidak juga bisa melunasinya maka.......kata-kata Rafa terhenti."


"Maka apa."?


"Maka kau harus mau melayaniku satu malam di tempat tidur." ucap Rafa dengan ekspresi dingin.


"Kau gila."


'Tentu saja Sabrina, 500juta di tambah bunga maka 1 miliar itu bukan uang yang sedikit, dan aku hanya meminta semalam bersamaku, dan kau bebas.." desis Rafa misterius.


Sabrina mengangguk dengan cepat walau ia bagitu kesal dengan penawaran gila Rafa, bahkan ketika pria itu memintanya untuk tanda tangan Sabriba menyanggupinya dengan cepat.


Rafa kemudian meminta anak buahnya untuk mengecek isi saldo dari Sabrina. sementara Sabrina duduk dengan santai karna ia sangat yakin ia tidak pernah menyentuh uang Rafa sedikitpun.

__ADS_1


Anak buah Rafa sudah selesai memeriksa saldo Sabrina dan menyerahkannya pada Rafa. pria itu menatap dengan tajam...lalu memandang ke arah Sabrina yang menunggu jawabannya..


"Sabrina..apa yang kau lakukan." teriak pria itu dengan suara yang keras......


__ADS_2