Jadilah Milikku

Jadilah Milikku
Tangisan Sabrina


__ADS_3

Rafa meraih ponselnya dan menelfon seseorang


Kau sudah memastikan dia sudah pergi.?


Rafa tersenyum dengan puasa, dan menyadarkan punggung di jok mobil ia tidak akan pergi dari tempat ini karna ia yakin Sabrina akan kembali dengan airmata.



Rafa mengetuk-ngetuk jemarinya di kemudi mobil daan menatap cemas ke arah Apaertement Dirga. diliriknya jam ditangannya dan memgerutkan dahi. sudah tiga puluh menit. tak ada tanda-tanda Sabrina keluar dari sana. apakah terjadi sesuatu.?


Rafa mulai cemas dan memutuskan ia akan masuk ke dalam sana ia khawatir jika gadis itu berbuat hak nekat seperti bunuh diri.?


Pria itu bersiap akan mengikuti Sabrina namun ia mengurungkan niatnya ketika melihat gadis itu keluar dari sana dengan penuh airmata. Sabrina terus berjalan dengan tidak perduli sekitarnya yang sedang menatapnya penuh pertanyaan. Rafa segera melajukan mobilnya perlahan mengikuti gadis itu dari belakang. Rafa terlihat gusar, hatinya nyeri melihat kesedihan mendalam di wajah Sabrina. ia harus mengawasi Sabrina dan memastikan gadis itu baik-baik saja.


Sabrina mengepalkan kedua tangannya, ia sangat marah..mengapa Dirga pergi tanpa bertemu dulu dengannya dan sekarang ponselnya tidak bisa dihubungi.apa yang sesungguhnya terjadi Sabrina merasa bingung. airmatanya tumpah sepanjang perjalanan yang ia lewati ia tidak perduli sama sekali dengan perhatian beberapa orang padanya. ia mau Dirga..ia butuh untuk bertemu dengan Dirga sekarang.


Sabrina melangkah semakin jauh, ia sudah tidak tau ia dimana..melihat sebuah taman yang sepi Sabrina berlari kesana dan menjatuhkan tubuhnya di bangku taman. bagaimana mungkin Dirga meninggalkan dirinya.. bahkan pria itu meninggalkan semua untukknya. apartement, beberapa atm dan semua asetnya. Sabrina tidak butuh itu semua ia hanya butuh bertemu Dirga. mengapa ia buru-buru sekali.


Sabrina masih terisak dengan airmata yang masih menetes diwajah cantiknya. matanya bengkak karna terlalu banyak menangis.


sementara hari sudah mulai gelap dan taman itu sudah sangat sepi dengan cahaya lampu yang remang.


"Sabrina."


Gadis itu tidak mengubris suara panggilan itu yang ia tau itu adalah Rafa. ia masih terisak dengan penuh kepedihan.

__ADS_1


"Sabrina."


"Pergilah,aku ingin sendiri." ucap Sabrina."


"Kau boleh menyendiri sampai pagi juga tidak masalah, yang penting kita pulang sekarang."


"Aku sudah bilang aku tidak mau." jerit Sabrina mulai kesal.


Rafa mulai gusar, ia meraih lengan Sabrina memaksanya berdiri dan menatapnya tajam.


"Mengapa kau keras kepala Sabrina."


Airmata Sabrina menetes....


"Jangan menuduhku Sabrina."


"Pulanglah..karna aku masih ingin disini."


"Sabrina, apa yang terjadi denganmu hingga kau seperti ini."?


"Kau mau tau kenapa."?


"Yah."


"Dirga pergi sebelum aku bertemu dengannya..aku belum sempat memeluknya...aku..."

__ADS_1


"Mengapa kau merajuk seperti anak kecil hanya karna Dirga pergi tanpa pamit."? ucap Rafa kesal.


"Hoh..apa maksudmu, kau tidak tau apa-apa tentang kami jadi kau tidak berhak mengataiku tuan Rafa."?


"Oya, jika aku jadi Dirga aku akan sangat kesal karna kekasihku bukannya mendukung pekerjaanku namun ia malah menangis dan meraung seperti bayi."


"Kau..benar-benar menyebalkan, itu sebabnya sampai saat ini kau belum punya kekasih, aku sangat ragu ada yang mau menikah denganmu."


"Lebih baik aku sendiri namun aku bahagia daripada punya kekasih seperti dirimu, kalau aku jadi Dirga..aku akan menduakanmu." ucap Rafa terus terang.


"Aaahhh...tinggalkan aku."jerit Sabrina marah


Sabrina melangkah setengah berlari meninggalkan Rafa yang memejamkan matanya dengan gusar. ia menoleh dan berlari mengikuti Sabrina. gadis itu terlalu marah hingga ia tidak memperhatikan sekelilingnya hingga sebuah mobil melaju kencang ke arahnnya.


Rafa menjadi panik dan dengan kuat ia menggapai tubuh Sabrina hingga memeluknya dengan kuat. nafasnya naik turun. jantungnya berdebar kencang. hampir saja...


Rafa merasa lemas diseluruh tubuhnya..tubuhnya masih bergetar membayangkan jika ia terlambat sedikit saaja. Sabrina pasti akan ditabrak mobil itu.


Sabrina membeku di pelukan Rafa yang begitu hangat. hampir saja nyawanya melayang karna kecerobohannya. Rafa benar, ia gadis yang ceroboh dan kekanakan..hingga mungkin Dirga enggan menunggunya. airmata Sabrina menetes semakin mengeratkan pelukannya pada Rafa.ia butuh pelukan Rafa saat ini.


"Jangan pernah melakukan hal konyol seperti itu Sabrina."


Sabrina mengangguk masih menangis..


"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf." balas Sabrina menyesal.

__ADS_1


__ADS_2