Jadilah Milikku

Jadilah Milikku
Dibawah Ancaman


__ADS_3

Sabrina menatap sekali lagi suat perjanjian di hadapannya dengan mata yang terpejam bingung, bagaimana bisa Rafa memanfaatkan dirinya, dan bagaimana bisa dia sebodoh dan sepolos itu, dan langsung percaya begitu saja dengan seorang Rafa.


Kepala Sabrina seakan Mau meledak karna terlalu bnyak berpikir. ia masih terbaring di ranjang karna Rafa tidak membiarkan dirinya kemanapun. selang infus juga masih menghiasi tangannya. namun di sebelah tangannya sudah ada lembaran surat perjanjian yang sudah di hiasi tanda tangannya dan bahkan cap jempolnya. ya ampun, Sabrina tak mampu membayangkan hidupnya ada di tangan Rafa saat ini.


Pintu kamar terbuka......


Rafa melangkah masuk dengan wajah tampannya yang tersenyum ramah. memakai jas yang melekat pas di tubuhnya Rafa teroihat sangat tampan sekaligus menakutkan.


Pria itu mendekati Sabrina, menarik kursi lalu duduk di hadapan gadis yang masih tertidur di ranjang.


"Apa kabarmu sayang."


"Rafa.. aku ingin bicara."


"Katakanlah aku siap mendengarnya." ucap Eafa menaikan alisnya..


Sabrina memejamkan matanya dengan sedih, betapa ia sangat tertekan saat ini.


"Perjanjian ini sangat kejam Rafa..tolonglah." ucap Sabrina dengan kesedihan yang dalam.


"Ssttt....sayangku, jangan menyalahkan aku atau kenyataan yang saat ini terjadi.. aku adalah pria yang adil dalam mengambil sikap dan keputusan."tegas Rafa.


"Tapi ini tidak adil untukku Rafa, kau tau jika aku sudah punya tunangan." desah Sabrina dengan berat hati yah.. sebenarnya ia memang ragu dengan pertunangannya dengan Dirga yang ternyata telah tidur dengan gadis lain. mungkin juga Dirga telah melupakannya, entahlah sampai saat ini Sabrina belum sempat menanyakan tentang kebenaran foto yang sungguh menyakitinya.


Luka hatinya bahkan masih menganga, kini masalah seakan tak ingin pergi darinya. ia kembali terjebak dengan pria yang semula hanya ini di tolongnya.


"Anggap saja itu adalah takdir untukmu." ucap Rafa tersenyum tenang.


"Takdir apa..kau menjebakku dengan sangat kejam." ucap Sabrina dengan tajam.


"Benarkah...aku sudah bilang kalau aku mencintaimu dan aku hanya menawarkan sesuatu yang normal padamu yaitu pernikahan dan kau setuju dengan semua syarat yang aku ajukan." tegas Rafae memincingkan matanya.


Airmata Sabrina menetes...memandang Rafa yang seolah tidak tersentuh sama sekali dengan kesakitannya.


"Kau jahat."


"Aku tidak perduli sama sekali Sabrina, bagiku kau harus menepati janjimu untuk bersedia menikah denganku..karna apa kau telah berjanji." ucap Rafa dengan ketegasan yang terlihat di wajahnya.


"Kita tidak saling mengenal dengan lama, kita tidak cukup punya waktu." jerit Sabrina..


"Maka berusahalah mengenalku mulai dari sekarang." ucap Rafa membalikan tubuhnya bersiap pergi."


"Tunggu." jerit Sabrina mencegah..

__ADS_1


"Ada apa."?


"Beri aku waktu sedikit lama...aku tidak bisa menikah dengan cara seperti ini."


"Sayangnya kau telah kehilangan kesempatan." ucap Rafa lalu memilih pergi meninggalkan kamar dengan wajah yang begitu mengerikan.


Sabrina kembali tertunduk dengan airmata yang mengalir deras...


💝💝


Sabrina telah pulih sepenuhnya dan telah membersihkan dirinya. memakai pakaiannya kembali Sabrina bersiap untuk pergi.


Membuka pintu kamar gadis itu pun menuruni tangga, tepat waktu karna ia bisa melihat Rafa disana sedang menunggunya sarapan. Sabrina menghela nafas sebelum mendekati pria yang tampak diam seperti patung.


"Selamat pagi Rafa."


Pria itu menoleh dan menganggukan kepalanya, wajah Sabrina sudah kemerahan tak ada lagi jejak wajah pucat di wajahnya. tidak ada lagi sorot mata sayu yang kelelahan, dia pulih dengan baik. batin Rafa puas.


"Kau sudah lebih baik dari kemarin." ucap Rafa mempersilahkan Sabrina duduk.


"Aku bersyukur atas semua yang kau berikan padaku Rafa."


"Kau calon istriku."!! guman Rafa mengingatkan.


"Mengapa...kau tidak ingin lari dari pernikahan ini kan."? ucap Rafa dengan curiga.


"Aku tidak, aku hanya ingin tinggal disana sebelum kita menikah dan aku butuh waktu untuk bicara dengan Dirga." ucap Sabrina dengan tatapan iba...


Rafa menghela nafas, sejujurnya ia ingin Sabrina tinggal bersamanya namun ia sadar sudah cukup memaksa gadis ini, toh...mereka akan menikah...namun Rafa juga khawatir kalau membiarkan Sabrina kembali ke flat yang hampir dibilang tak ada pengamanan yang berarti, semua yang tinggal disana dicampur dan Sabrinna seperti sekuntum bunga yang dikeliling para kumbang. mungkin Rafa akan mengirim orang untuk mengawasi Sabrina, dan memastikan gadisnya akan selalu aman. Rafa kembali menatap Sabrina, ia kemudian meletakan ponsel keluaran terbaru di atas meja makan dan menatap gadis itu.


"Ambil ponsel ini dan pastikan kau selalu mengaktifkan ponselmu karna aku tidak bisa 24 jam menjagamu Sabrina."


"Ponsel ini sangat mahal...aku..."


"Kau calon istriku dan aku tak ingin penolakan Sabrina."


"Rafa..,tapi..."


"Pilih mana, tetap tinggal disini denganku atau kembali ke flatmu dan kau harus mengikuti semua aturanku." ucap Rafa tegas.


Sabrina mencibir kesal...di raihnya ponsel itu dan memaasang wajah senyumnya..


"Ponsel yang sangat bagus." ucap Sabrina memuji..

__ADS_1


Rafa hanya tersenyum dingin..


"Rafa...."


"Yah.."


"Bisakah pernikahan kita di undur."?


"Tidak...apa alasanmu."?


"Aku rasa kau terlalu buru-buru, dan kita terlalu cepat."


"Aku bahkan sudah mengenalmu sejak lama, kebiasaanmu dan semua yang kau suka atau tidak, semua terekam jelas di daam kepalaku Sabrina."


"Apakah kau benar-benar mencintaiku."? tanya Sabrina..


Rafa terdiam sebentar....


"Aku ingin kau menjadi milikku aku ingin kau...selalu d di dekatku dan kau hanya bercokus padaku Sabrina, menurutmu..semua peryataanku mewakii defenisi cinta itu sendiri."? tanya Rafa dengan tatapan tajam..


"Hah."? Sabrina kehilangan kata.


Sementara Rafa sudah selesai dengan sarapannya, ia kemudian menatap gadis itu lagi.


"Pernikahan kita satu bukan dari sekarang Sabrina kuharap kau...mempersiapkan dirimu." Rafa mengecup bibir Sabrina dengan singkat lalu meninggalkan gadis itu termenung sendirian sembari berfikir...


"Mengapa sikap Rafa kali ini sangat aneh."?


Sabrina meraih segelas susu dan kemudian keluar dari rumah itu dengan pikiran yang masih menggantung.


Rafa memhuka sebuah pintu di ruangan rahasia yang dimilikinya. pria itu melangkan dengan sangat pelan menuju sebuah lorong panjang, dan sedikit gelap dengan santai. wajahnya terlihat begitu dingin dan tatapan mata membunuh yang begitu twrlohat di wajahnya...


Sebuah foto yang tergantung di hadapannya menggantung dengan senyuman teduhnya...


"Nenek....sebentar lagi, aku akan mendapatian semua kekayaan dan kekuasaanmu yang besar, dengan menikahi si bodoh dan lugu itu, tapi maaf...cinta...aku tidak akan bisa memberikannya." desis Rafa tersenyum dengan kejam...


Seorang anak buah kepercayaannya menunduk di hadapannya dengan menundukan kepala..


"Tuan Rafa, setelah menikah maka anda akan mewarisi semua kekayaan nenek anda yang begitu besar, anda akan menyingkirkan para sepupu anda yang pasti tidak akan pernah puas...


"Aku akan mendapatkan segalanya Leo, Sabrina juga kekayaan nenekku....hahahahhaha." tawa Rafa tak sabar...


Pria bernama Leo adalah kaki tangan Rafa, pria itu hanya menundukan wajahnya dengan patuh....

__ADS_1


__ADS_2