Jalan Kedua

Jalan Kedua
prolog


__ADS_3

Ada satu hal yang harus kau ingat sepanjang hidupmu: jangan pernah mempercayai orang lain.


Bahkan ketika hanya tersisa beberapa orang di dunia ini, dan kau ada di dalamnya. Dan bahkan jika ujung pedang sudah hampir menyentuh leher dan perutmu. Tetaplah tutup mata dan telingamu.


Ini bukan hanya soal kepercayaan, tapi juga soal harga diri dan juga hidupmu. Kau tak akan pernah tau apa yang dipikirkan orang lain dan kau juga tak pernah tau seperti apa jalan takdir yang akan menuntunmu nanti.


Dan jika ku katakan bahwa dunia ini sangatlah kejam, mungkin kau tak akan percaya pada kalimatku sepenuhnya. Tapi ada saatnya nanti, ketika kau ingin meruntuhkan langit dan meleburkan gunung. Kau akan berkata, "dunia ini kejam" atau "dunia ini tak adil." Seakan akan kau telah dikutuk oleh semesta untuk menerimanya.


Menyakitkan bukan?


Takdir bergerak seperti benda langit yang memutari orbitnya, dan akan selalu memaksamu menerima apa yang telah ditentukan untukmu.


Dan jika kau ingin keluar dari siklus mengerikan itu, maka kau juga akan dipaksa untuk mengorbankan hal besar lainya.

__ADS_1


Apa kau mulai berfikir bahwa itu tak adil ? Atau apakah kau tengah berfikir bahwa aku hanya seorang pembual kecil? Itu terserah pada dirimu saja.


Karena ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa hanya kau lihat dengan rumus dan ilmu pasti. Kawan, keberadaanmu saja adalah sebuah misteri.


Dan ada banyak hal yang telah terjadi tanpa kau tau apa itu. Semuanya terjadi tanpa persetujuan darimu. Maka, angkatlah kepalamu dan tantanglah dunia. Katakan padanya bahwa kau yang akan mengungkap rahasia gelap dibalik kedamaian palsu ini.


***


Berada lima belas menit di ruang persegi bercat putih setiap minggunya adalah hal yang paling kubenci.


Jika aku boleh mengutuk seseorang, maka aku akan mengutuk penemu ilmu eksak yang seenaknya saja memadukan berbagai macam hal rumit dan mengubahnya sesuka hati. Baiklah, mungkin itu berlebihan. Tapi sungguh, aku membencinya.


Terjebak dalam bayang bayang kematian setiap saat bukanlah hal yang baru buatku. Dan kini aku harus melewatinya lagi.

__ADS_1


Memangnya menurutmu, seperti apa bayang bayang kematian itu? Jika kau bisa merasakannya, maka kau akan berpikir dua kali untuk mati.


Mungkin sudah sekitar lima menit aku berbaring di ruangan ini. Napasku sudah mulai terputus putus. Keringat menetes seperti pancuran dan teriakan yang tak tertahankan dari mulutku memecah keheningan malam. Air mataku bercucuran tanpa dapat kubendung. Suaraku yang pilu bersahut sahut dengan suara mesin disel model lama yang terletak di sudut ruangan.


Sakit...aku sudah tidak kuat lagi


Di sampingku, seorang pria tua yang kupanggil kakek hanya bisa melihatku secara prihatin. Aku tau betul dari sorot matanya yang terlihat iba.


Dengan kesadaran yang hampir hilang dan tenaga yang sudah terkuras habis, lima belas menit itu berhasil kulewati dengan napas yang sudah sangat berat. Kesadaranku mulai memudar.


Pria tua itu bergegas melepas ikatanku dan melepas segala macam kabel dan selang yang sejak tadi menyiksaku. Dengan cepat, dia memeluk tubuh kurusku sembari berkata


"aku tau, kau adalah anak yang kuat," dia mengelus rambutku dengan sayang.

__ADS_1


Entah apa yang diharapkan kakek tua ini dariku. Tapi percaya atau tidak, aku kembali berhasil lolos dari kematian.


__ADS_2