
Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Napasku mulai tersenggal-senggal karena takut. Dalam lingkaran keputusasaan ini, sudah sangat jelas bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Entah itu sesuatu yang baik atau pun buruk, tidak ada yang tau.
Aku kembali menoleh pada kak Hana. Dia masih tak bergeming meski sudah diteriaki oleh pria besar tadi. Apa yang dipikirkannya? Apa dia berada di pihakku? Tapi kenapa tadi dia menamparku? Kenapa semua ini jadi sangat membingungkan?
"K-kakak?"
"Kenapa kau tidak pergi juga. Ayo pergilah, tidak apa-apa. Cepatlah, dia akan menangkapmu, selamatkan saja dirimu," desaknya sambil mengusap air matanya yang sudah mulai berhenti menetes.
Di sisi lain, pria berjas hitam itu terlihat bergegas hendak menghampiri kami. Apa yang seharusnya ku perbuat? Apa yang sebenarnya diinginkannya?
Eh, tunggu dulu. Tampangnya terlihat tak asing, tapi aku tak bisa melihatnya dengan jelas dari jarak sejauh ini.
"Hei! Jangan bergerak, serahkan dirimu!" teriak pria dengan jas itu dari kejauhan.
Tubuhnya yang agak gempal seperti bakpau dibawanya berlari. Dengan kumis tebal layaknya seorang pria dewasa, ia menampilkan raut wajah serius sekaligus agak menakutkan. Debu halus berterbangan di setiap langkah kakinya.
Semakin lama jarak kami semakin menipis. Perasaan takut dan panik yang aku alami semakin meluap-luap.
Jika begini terus, mungkin aku akan ikut menangis. Apa aku masih bisa menangis lagi? Air mataku nyaris habis. Aku selalu menangis belakangan ini. Sebelah mataku sudah merah karena iritasi. Bahkan sedikit kabur jika ku pakai untuk melihat. Apa aku harus lari? Aku tidak ingin lari, tapi aku harus.
"Maafkan aku!" teriakku pada kak Hana.
Dengan segera, ku ambil langkah seribu dan lari secepat mungkin meninggalkannya yang masih membatu tak bergeser barang secuil.
Kakiku tak sengaja menapak batu runcing karena sama sekali tidak memakai alas kaki. Aku bisa merasakan kalau kulit di bagian telapak kakiku sudah sedikit robek. Perlahan mulai terasa basah, mungkin sedikit darah keluar dari celah robekan itu. Ngilu merambat dari sana, tapi aku tak bisa berhenti berlari.
Ku tutup mataku rapat-rapat tanpa menoleh lagi. Apa yang aku lakukan? Pikiranku sedang labil dan kacau, tak bisa memikirkan sesuatu dengan tenang. Semuanya terlalu tiba-tiba.
Duarr!!!
Suara keras terdengar dari belakang. Langkahku terhenti karenanya. Tanpa bisa kuduga, pria besar itu telah mengeluarkan pistol berjenis desert eagle dari balik jas hitamnya. Dari kejauhan, tangannya yang besar terampil menembakannya sekali ke langit sebagai tanda peringatan.
Dalam hitungan beberapa detik, tangannya yang memegang pistol itu berubah haluan. Mulut pistol itu diarahkan ke kak Hana yang tengah mematung takut. Hening sejenak, beberapa orang terlihat dari kejauhan, mengintip karena mendengar suara tembakan.
Para penghuni panti berhamburan keluar, ingin tau apa yang sedang terjadi. Aku bisa melihat mereka berdiri dari kejauhan. Hatiku miris melihat mereka yang terlihat sangat berbeda dari yang terakhir kali aku ingat.
Mereka tampak sama payahnya denganku, pakaian yang juga lusuh dan tubuh yang sedikit lebih kurus dari yang terakhir kali ku ingat. Meski sudah beberapa tahun berlalu, aku yakin kalau ingatanku masih kuat. Raut wajah sedih dan takut bertebaran di antara mereka.
Semuanya jadi semakin jelas.
"Kau anak itu kan? Semua orang sibuk mencarimu, kau luar biasa. Hadiah yang ditawarkan untuk menangkapmu juga besar. Aku tak menyangka akan jadi orang yang menemukanmu. Dan apa kau masih mengingatku?" ucap pria itu sambil sedikit terkekeh.
Aku merinding mendengar suara mengerikannya meski kami sudah sedikit jauh, sekitar lima belas meter. Suara kami masih bisa terdengar satu sama lain jika sedikit berteriak.
Dan ya, aku tau siapa pria besar itu. Aku pernah beberapa kali melihatnya berkeliaran di pusat penelitian Chincilla, tempatku dikurung waktu itu. Jika yang aku duga benar, maka pastilah dia salah satu orang yang bertanggung jawab menjaga tempat itu.
"Jika kau tak kembali kemari, kepala nona ini akan berlubang," ancam pria yang memegang pistol di tangannya itu.
__ADS_1
Kepanikanku makin tersulut, pria itu membawa senjata api. Dan jika dibiarkan, aku akan benar-benar kehilangan kak Hana. Aku tak bisa pergi, aku tidak mau kalau kepalanya dilalui timah panas dari tembakan pistol kecil itu.
"Tidak apa-apa. Pergilah, ini kesempatan terakhirmu," ucap kak Hana setengah berbisik. Sangat jelas tergambar di wajahnya kalau dia takut setengah mati.
"Diam!" gerang pria itu.
Orang-orang yang ada di sekitar sini hanya diam dan menonton. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kalau aku akan mendapatkan sedikit bantuan dari mereka.
"Siapa saja, aku mohon telpon polisi!" teriakku keras.
Seperti yang kuduga, mereka memang tak peduli. Tak ada satu pun yang bergerak mnegeluarkan telpin genggam mereka. Dunia ini...egois sekali.
"Hahaha...tidak ada yang akan mendengarkanmu. Kembalilah kemari dan gantikan nona ini. Jika kau mau menyerahkan diri, kau akan diperlakukan dengan baik nanti, mungkin nona Agnes juga akan memberimu keringanan."
Segala bujuk rayu dilancarkannya agar aku mau kembali, sementara tangannya yang memegang pistol masih tidak bergeser sama sekali, masih kokoh menodong dan siap memuntahkan peluru kapan saja.
"Dan bagimu nona ini sangat penting, kan? Kau tidak mau kalau kepalanya sampai berlubang hanya karena kau terus-terusan lari, kan?" tambahnya.
"Kenapa? Ayo, kemarilah. Kau tidak mau aku menarik pelatuk ini, benar begitu kan?" ucapnya yang disertai dengan seringai menjijikan, khas seorang penjahat yang pernah ku tonton di tv tabung milik panti dulu.
Ini menyebalkan, tak ada pilihan lain. Aku berjalan mendekat. Langkah demi langkah tetap kusertai dengan kewaspadaan. Sedikit harap-harap cemas dan lebih banyak lagi rasa takut.
Hahaha... Aku memang seorang pecundang. Aku mudah sekali merasa takut, dan diriku mudah sekali untuk dibuat berlutut. Apa aku masih bisa disebut sebagai laki-laki? Menyedihkan sekali, aku bahkan mulai jijik dengan diriku yang sekarang.
Aku tak tau cara melawan, hanya pasrah pada keadaan. Lucu sekali, kan? Aku bisa lolos sampai sejauh ini dari banyak orang di Chincilla dan aku akan berakhir hanya karena satu orang dengan tampang tak meyakinkan sepertinya.
"Bagus, ayo, lebih dekat," ucapnya sambil tersenyum puas begitu melihatku yang hanya tersisa beberapa langkah darinya.
"T-tapi..." ucapku ragu-ragu.
"Ada apa? heh?" tatapnya tajam.
"B-berjanjilah kalau kau akan benar-benar melepaskannya!" pintaku setengah berteriak. Aku masih sedikit was-was pelatuk itu bisa ditariknya kapan saja dan jika itu terjadi, maka semuanya berakhir sudah.
"Hm? Baiklah, itu bisa diatur. Serahkan dulu dirimu." jawabnya, seringainya semakin lebar, membuatku semakin takut.
Maka, aku maju selangkah lagi. Kini aku berdiri tepat di depannya, menyerah tanpa perlawanan yang berarti. Pistol itu diturunkannya perlahan. Kak Hana langsung luruh terduduk lega di tempat, merasa kalau nyawanya terselamatkan. Tapi siapa yang bisa menyelamatkanku?
Ahh... biarlah, tidak apa-apa. Asalkan dia selamat.
Itulah yang bisa terpikir olehku untuk sekarang, tidak lebih dan tidak kurang. Apa yang penting bagiku sudah aman. Pria itu tersenyum lebar, lantas dia langsung mencengkeram bahuku erat dan pistol desert eagle itu malah di arahkannya padaku.
Memang sedikit ngeri, ujung pistol yang dingin itu menyentuh bagian belakang telingaku. Mungkin itu hanya sebagai antisipas agar aku tidak lari lagi. Dia sudah berjanji tidak akan menembak, jadi tidak apa-apa.
"Bagus, jika begini aku bisa dapat uang hadiahnya sekaligus naik pangkat. Tidak sia-sia aku datang kemari," gumamnya senang.
"Oh, dan setelah ku pikir lagi, sepertinya ini kurang menarik. Aku berubah pikiran,"
__ADS_1
Eh, apa maksudnya? Berubah pikiran?
Belum sempat aku paham perkataannya itu. Pistol yang ditodongkannya ke kepalaku berpindah arah, kembali teracung pada kak Hana yang masih terduduk di tanah.
"T-tunggu dulu, tadi kau sudah berjanji," cegahku.
"Aku tidak berjanji, aku hanya bilang kalau itu bisa diatur. Dan aku berubah pikiran, kau paham?"
Perlahan, jari telunjuknya menarik pelatuk. Dan dalam sepersekian detik yang mendebarkan itu, instingku seolah aktif. Aku melompat sekuat tenaga, sehingga kepalaku menyundul dagunya cukup keras. Pistol desert eagle itu terlempar dari tangannya. Lantas ku lanjutkan dengan menggigit tangannya yang mencengkeram bahuku sehingga dia melepaskanku.
Dengan segera, ku ambil pistol yang terlempar olehnya tadi dan mengarahkannya pada pria menyebalkan yang kini mulai terlihat panik. Tanganku sedikit gemetaran, aku tidak pernah mengarahkan pistol pada orang sungguhan sebelumnya.
Meski begitu, aku coba untuk meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya bentuk pembelaan diri saja. Lagi pula aku tidak akan benar-banar menembakan ini pada orang, kan? Kecuali...jika itu harus.
"H-hei, berani sekali kau. Kembali kemari dan serahkan pistol itu. Anak kecil sepertimu tidak boleh memegang benda seperti itu," perintahnya.
Tapi aku sama sekali tidak akan mendengarkannya lagi. Dia sudah berbohong dan bermain-main dengan nyawa seseorang. Aku sudah punya senajata, aku tidak perlu lagi merasa takut. Benar, ini adalah giliranku.
"Hei, kau mendengarku?!"
Aku masih tak mengacuhkannya. Tanganku masih kokoh memegang pistol berjenis desert eagle tadi. Dan entah apa yang merasuki pikiranku, jari telunjukku menarik pelatuk itu dengan mulus tanpa keraguan.
Duarr!!!
Duarr!!!
Satu tembakan ku lepaskan, timah panas menembus kepalanya. Dan tembakan berikutnya menembus tepat di bagian perut kirinya. Matanya melotot tak percaya atas apa yang dilakukan anak sepertiku.
"Arrgghhhh..." erangnya kesakitan.
Darah memercik keluar dari tubuhnya, merembes dan menetes jatuh ke tanah yang kering dan gersang.
"K-kau... akan m-menyesali ini...," ucapnya sambil memegangi perutnya yang sudah ku buat berlubang. Perlahan-lahan, dia mulai tumbang dan jatuh.
Brukk!!!
Matanya masih terbuka, tapi ia sudah tidak lagi terlihat bernapas. Ku pikir dia sudah tewas tak bernyawa.
"Aku tidak akan menyesal. Ya, aku sama sekali tidak menyesal," jawabku meski aku tak yakin kalau dia masih bisa mendengarku.
Suasana kembali hening, angin berhembus pelan memainkan rambutku yang kotor penuh debu. Pistol yang masih ku genggam erat kembali ku arahkan padanya. Meski aku berpikir kalau dia sudah tidak bernyawa, tapi pelatuk itu kembali ku tarik.
Duarr!!!
Duarr!!!
Dua tembakan kembali lolos menembus dada dan bahunya. Darah memercik dan mulai menggenang. Sebuah sensasi luar biasa memenuhi diriku, aku sampai merinding. Sudut bibirku naik, lantas tersenyum dalam kekosongan. Senyum itu perlahan melebar berubah menjadi tawa kecil.
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, aku tertawa di atas kematian seseorang. Dengan ini, aku sudah mengotori tanganku sendiri. Aku sudah jadi makhluk penuh dosa. Keputusasaan ini memberiku ketenangan. Rasanya menyenangkan sekali. Mungkin aku sudah gila.