Jalan Kedua

Jalan Kedua
Eposode 11: Gerimis di pagi hari


__ADS_3

"Percaya dirilah sedikit. Aku selalu melihat apa yang kau lakukan, dan soal TTS dan sudoku itu aku tak menyangka kau bisa menyelesaikan hampir semuanya."


Kakek menekan klakson, ada sebuah mobil yang tak kunjung bergerak di depan. Padahal lampu lalu lintas sudah berwarna hijau.


Tepat setelah mobil di depan itu bergerak, mobil yang kami naiki juga bergerak.


Cuaca cukup dingin pagi itu. Awan mendung disertai sedikit gerimis berhasil membuat siapa saja malas untuk bergerak. Tapi jalanan tetap dipadati berbagai kendaraan yang lalu lalang.


Setelah sekitar lima menit, mobil pun melambat dan akhirnya benar benar berhenti. Di sebelah kanan, ada sebuah gerbang besar dan temboknya yang bertuliskan :


'Sekolah Menengah Atas Swasta'


Aku membaca tulisannya, lalu secara refleks menoleh ke arah kakek.


"Sepertinya kita salah tempat. Seharusnya kakek berhenti di seberang jalan yang di sana."


Aku menunjuk pada sebuah sekolah menengah pertama yang ada di seberang jalan.


"Tidak, ini sudah benar. Kakek yakin sekali ini tempatnya."


Kakek segera melepas sabuk pengamannya, lalu membuka pintu dan segera keluar. Aku mengikuti kakek di belakang.


"Usiaku baru 14 tahun, kek. Seharusnya aku masih kelas dua atau tiga di sekolah menengah pertama."


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Perasaanku jadi aneh. Bagaimana mungkin aku bisa langsung masuk SMA diusia ini?


Apa yang sebenarnya dilakukan kakek? Apa dia punya kenalan orang dalam? Ini tidak benar. Apa ini ilegal? Atau jangan jangan kakek menyuap seseorang?


Duh...kenapa aku malah berpikir yang tidak tidak? Masa bodo untuk sekarang.


"Ayo, masuklah. Bel akan berbunyi sebentar lagi."


Kakek mendorong punggungku perlahan, menyuruhku untuk segera masuk ke sana.


"Kakek tidak ikut mengantarku sampai ke dalam?"


Aku menoleh padanya. Aku tidak pernah ke sana dan dia malah menyuruhku pergi sendiri.


Ke mana perginya kasih sayangnya semalam? Kemana perginya sosok seorang kakek yang sangat menyayangi cucunya?


"Untuk apa? Aku yakin kau bisa sendiri, aku tak ingin mengganggumu, bertemanlah. Oh, jangan lupa kelasmu adalah kelas 1-B. Jangan sampai salah, belajarlah yang benar. Aku akan menjemputmu nanti."


Dia menarikku ke pelukannya, lalu mengusap kepalaku. Beberapa orang mulai memperhatikan kami. Beberapa orang siswa dengan seragam sepertiku melirik ke arah kami.


Bukankah itu adalah sebuah pemandangan langka di mana seorang anak lelaki masih sering dipeluk oleh kakeknya meskipun dia sudah berada di sekolah?


Duh...malunya


Aku jadi ingin lenyap dari dunia ini

__ADS_1


"Kakek, aku berangkat."


Aku melepaskan pelukannya, lalu memberi salam. Aku berjalan cepat sambil melambaikan tangan ke arahnya.


Hanya dengan melewati gerbang sekolah ini saja sudah membuatku takjub. Gerbang dengan pagar besi yang tinggi berwarna bronze itu tingginya mungkin sekitar tiga meter.


Di balik pagar itu, terdapat lapangan yang luas dengan banyak orang berjalan di atasnya. Ada beberapa bangunan bercat putih di sana sini. Aku yakin kalau itu adalah ruang kelasnya.


Ada taman taman kecil dan bangku juga. Jadi seperti ini kah sekolah itu? Luar biasa. Jantungku jadi berdebar debar. Sampai rasanya mau meledak.


Ah, benar. Pertama tama cari kelas dulu.


Kalau tidak salah kakek bilang aku akan berada di kelas 1-B. Tapi di mana? Apa aku harus tanya seseorang? Tempat ini luas sekali. Aku bisa tersesat.


Akhirnya aku bertanya pada salah seorang kakak kelas. Kurasa memang kakak kelas karena warna bajunya sudah sedikit pudar.


Aku tak tau namanya. Dia laki laki yang cukup tinggi, aku hanya setinggi dadanya. Tapi untunglah dia mau memberitahuku dan mengantarku sampai ke depan kelas.


"Kakak, terima kasih sudah mau mengantarku." Aku sedikit menundukan kepala, berusaha terlihat sopan.


"Tidak masalah, Apa kau baru pindah?" Kakak itu memperhatikanku sambil tersenyum. Apa aku terlihat aneh? Atau mungkin karena tubuhku yang pendek dan kecil?


Belakangan ini aku merasa frustasi ketika menyadari betapa pendeknya diriku ini untuk anak seumuranku.


"Ah, iya. Aku baru masuk hari ini."


"Kalau kau butuh bantuan, aku ada di kelas 2-A. Sampai jumpa."


Kelas ini warnanya juga putih. Apa semua sekolah warnanya seperti ini? Atau apa mungkin warna cat putih memang sedang populer belakangan ini? Rumah kakek warna dominanya juga putih. Ada apa dengan warna putih?


Saat pertama kali masuk ke kelas itu, aku merasa takjub. Atmosfernya langsung berubah. Ada banyak kursi dan meja yang berderet. Kelas ini cukup luas dan ada beberapa hiasan dindingnya juga.


Beberapa orang sedang berkutat dengan buku dan tulisan mereka. Sebagian besarnya adalah laki laki. Entah apa yang sedang mereka lakukan.


Beberapa orang lainnya terlihat sedang mengobrol dan ada juga yang sedang bermain ponsel. Sisanya sedang duduk dan melipat tangan di meja, lalu menyandarkan kepala di sana. Baiklah, mereka tidur.


Aku melangkah pelan, berusaha untuk tidak menarik perhatian. Aku mencari kursi kosong yang tidak di tempati oleh seseorang, lalu duduk di sana.


Seorang pria masuk ke kelas itu sekitar tiga menit kemudian. Dia tinggi dan berkaca mata dengan kemeja biru dan celana panjang. Sepertinya dia adalah gurunya.


Seseorang memberi aba aba ketika guru itu masuk. Semuanya berdiri dan memberi salam. Aku yang tidak begitu mengerti hanya mengikuti dengan sedikit bingung. Setelah itu, semuanya duduk seperti sedia kala.


"Baiklah, selamat pagi semua. Hari ini seharusnya ada siswa baru, tapi sepertinya belum datang. Pertama tama kita akan mengabsen dulu."


Lelaki itu membuka sebuah buku, lalu menyebutkan nama siswa satu persatu sesuai abjad. Jadi, sepertinya ada seorang siswa baru selain diriku.


Rasanya sedikit melegakan ketika tau kau tidak sendiri. Ada orang lain yang seperti dirimu. Walau pada dasarnya semua orang itu berbeda. Orang yang kembar pun juga memiliki perbedaan. Tak ada di dunia ini yang bisa dikategorikan sama persis.


"Baiklah, apa ada yang namanya belum dipanggil?"

__ADS_1


Pria itu menutup buku yang dipegangnya dan meletakkannya di atas meja.


"A...anu. Namaku belum."


Aku ragu ragu mengangkat tangan. Ya, namaku memang belum tersebut. Seisi kelas langsung melihatku dengan wajah terkejut.


"Siapa kau? Sejak kapan ada di sana?"


Guru itu pun berjalan ke arahku dengan tampang yang tak kalah terkejut. Apa ada yang aneh dengan diriku?


"Na...namaku Haru. Aku sudah ada di sini sebelum anda masuk."


Aku bisa melihat beberapa orang mulai berbisik bisik. Beberapa di antaranya masih memandangiku dengan tak percaya.


Apa tak ada seorang pun yang menyadari keberadaanku sebelum ini? Apa keberadaanku benar benar tak dianggap? Mereka tega sekali.


"Haru? Oh, kau Haru yang itu ya. Kenapa tidak bilang?"


Pria itu menatapku sambil menggelengkan kepala. Lalu tersenyum saat melihatku lebih dekat.


"Kupikir anda sudah tau aku ada di sini dan ku pikir ada siswa baru selain aku."


"Hah...ada ada saja. Hanya kau yang baru masuk. Kalau begitu, Haru Miguel. Perkenalkan dirimu."


Pria itu kembali ke depan kelas.


"Apa?" kata itu refleks melompat dari mulutku.


"Apanya yang apa?"


"Maaf, tadi anda memanggilku apa?"


"Haru Miguel. Apa ada yang salah dengan itu? Atau jangan jangan kau lupa namamu sendiri? Kalau merasa tidak sehat, kau boleh pergi ke UKS."


Pria itu tersenyum sambil menyipitkan mata padaku. Apa dia meledekku? Dan kenapa namaku jadi seperti itu? Kalau tidak salah Miguel adalah nama belakang kakek. Arias Miguel.


Jadi, nama itu juga diberikan padaku?


"Baiklah, namaku Haru Miguel, 14 tahun. Ini pertama kalinya aku bersekolah. Jadi mohon bantuannya."


Aku memperkenalkan diri dengan sedikit kikuk. Orang orang masih memperhatikanku. Wajahku rasanya panas sekali. Sangat memalukan rasanya ketika orang orang terus menatapmu dalam waktu yang lama.


Tapi aku masih memasang tampang kalem dan tenang. Ini adalah salah satu cara agar mudah bergaul yang pernah ku baca di sebuah artikel di majalah lama.


Seseorang akan terlihat natural dan keren ketika mereka tetap terlihat tenang. Aku ingin untuk seterusnya mereka tidak menganggapku sebagai orang aneh.


Hari ini segalanya terasa begitu tiba tiba. Ada banyak hal yang tak terduga yang terjadi dengan begitu cepat.


Apa mungkin aroma gerimis dari hujan sudah membuatku bingung? Atau apa bau udara yang basah sudah mengendalikan pemikiranku?

__ADS_1


Jantungku masih berdebar debar sampai sampai aku tak bisa merasakan kakiku sendiri. Tanganku serasa beku, bukan hanya karena dinginnya udara. Tapi juga karena perasaanku saat ini.


Ada banyak hal yang akan menanti di depan sana. Dan mungkin hal hal luar biasa juga akan terjadi. Apa pun yang akan terjadi nanti, akan kuhadapi.


__ADS_2