
"Baiklah, apa kau sudah siap?" Arya menatapku sekali lagi, memastikan bahwa aku sudah siap.
"Ya." Jawabku singkat, sembari mengatur napas. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat, berdebar tidak karuan.
"Jadi, ayo kita mulai." Dia memandangku dengan lebih serius, tatapannya seolah merendahkan keberadaanku.
Aku mengangguk, sebagai persetujuan bahwa diriku sudah siap.
"Baiklah, bakteri penyebab tifus." Kata Arya.
"Salmonella thyposa." Balasku.
"Bakteri penyebab kanker pada pohon jeruk."
"Xanthomono citri."
"Bakteri penyebab batuk rejan."
"Bordetella pertusis."
Kami terus bersahut sahutan membahas pelajaran sebelumnya. Ya, hari ini ada ulangan biologi tentang bakteri, dan Arya sedang membantuku belajar pagi ini sebelum kelas dimulai.
Aku sudah ketinggalan banyak sekali, itu karena diriku yang baru masuk sekolah setelah hampir setengah semester terlewati.
"Kau lumayan juga ya." Dia menutup buku yang sejak tadi dipegangnya. Kami berhenti setelah dia menanyakan sekitar lima puluh jenis bakteri.
"Itu karena kau yang pandai mengajariku." Kataku sambil mengembuskan napas lega karena berhasil menjawab semuanya.
"Dengan begini, kau sudah siap untuk ulangan. Haru, kadang aku heran padamu. Baru baca sekali, tapi kau sudah hafal. Apa kau yakin masih perlu belajar bersamaku?" Arya menopang dagunya dengan tangan di atas meja.
"Tentu, kau sangat membantu." Ucapku lagi.
Kelas masih lengang pagi ini. Hanya beberapa siswa yang baru datang. Cerahnya sinar matahari pagi pun belum terlihat seutuhnya.
Semalam, aku meminta Arya untuk datang lebih awal lewat telepon. Aku butuh bantuannya untuk belajar.
Kemarin, aku sama sekali tidak belajar apa pun. Aku terlalu sibuk dengan Allen, aku bahkan tidur bersamanya. Aku heran, kami bisa jadi cukup dekat hanya dalam beberapa hari.
Krek...
Pintu kelas terbuka, beberapa siswa masuk ke dalam kelas. Dan ada satu wajah yang sangat aku kenali, itu adalah Yuna. Dia membawa tas besar, tidak seperti tas yang biasa digunakannya.
"Yuna, selamat pagi." Kataku begitu dia lewat di depanku.
Gadis berambut sepanjang dada itu akhirnya kembali muncul setelah tidak datang dua hari yang lalu.
Dia terlihat sedikit layu, mungkin kelelahan. Tapi, apa yang dia lakukan sebelum ini sampai sampai dirinya terlihat lesu seperti itu.
"Pagi." Jawabnya singkat.
Yuna terlihat sedikit berbeda dari yang aku ingat, ada kantung mata di wajahnya. Dia membawa tas seperti sebuah kotak persegi panjang berwarna hitam.
__ADS_1
Tas itu tidak terlihat seperti yang sering dipakai olehnya. Tas yang ia bawa diletakkannya di atas meja.
"Kemana saja kau kemarin? Lily mencarimu." Tegur Arya ketika Yuna bersiap duduk di kursinya.
"Hanya kompetisi kecil." Jawabnya sambil menghembuskan napas perlahan, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Kompetisi? Seperti apa? Apakah olimpiade atau sejenis acara olah raga?" Tanyaku penasaran.
Aku tak pernah bisa menebak Yuna orang yang seperti apa. Dia sedikit galak, sering berwajah masam dan berubah jadi super baik jika ada Lily. Sebenarnya Yuna itu cantik, hanya pelit senyum. Orang yang unik, kan?
"Yah, hanya sebuah kompetisi sederhana. Menembak." Ujarnya sambil membuka tas besar yang ada di depannya.
"Ingin melihat sesuatu yang keren?" Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman.
Yuna mengeluarkan sebuah senapan besar yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Warnanya hitam, cukup besar dan terlihat berbahaya.
"Bagaimana menurutmu? Ini TAC-50 McMillan. Buatan amerika, Jarak tembakan terjauhnya bisa mencapai 2,4 km. Menggunakan peluru dengan ukuran paling besar, bahkan bisa menembus tubuh dua orang sekaligus. Keren, kan?" Jelasnya dengan bangga.
Aku memperhatikan senapan itu. Tak pernah terpikir olehku bahwa gadis seperti Yuna sudah terbiasa bermain dengan senapan pembunuh seperti itu.
"Ini senapan favoritku, kecepatannya juga bagus untuk ukuran senapan runduk. Dan aku memenangkan kompetisinya dengan ini." Lanjutnya sambil menyentuh bagian ujung senanapn itu dengan ujung jemarinya.
"Jangan sembarangan mengeluarkannya, orang orang bisa mengira kalau kau adalah seorang penjahat." Ucap Arya bercanda.
"Aku tau, lagi pula mereka sudah tau ini, kan." Yuna kembali memasukan senapan besar itu ke dalam tas besarnya dengan hati hati.
Itu benar, tidak ada siswa di kelas ini yang terlihat syok atau takut ketika Yuna mengeluarkan senapan itu. Semuanya terlihat santai, sepertinya semua orang sudah tau bakat menembak Yuna.
"Oh, Haru. Apa kau tau apa julukan Yuna sebagai seorang penembak jitu? Mereka menyebutnya Si Peluru Gila. Keren kan? Julukan itu didapatnya karena akurasi tembakannya yang luar biasa." Arya kembali menceletuk, membuat pipi Yuna merah merona. Gadis itu sepertinya malu dengan julukan itu.
Dibanding keren, julukan Si Peluru Gila itu lebih terkesan seperti seorang maniak membunuh dibanding seorang sniper hebat. Meski begitu, tetap saja itu adalah pencapaian yang bagus.
"Yuna, kenapa kau membawanya ke sekolah? Ah, maksudku senapan itu. TAC-50 McMillan. Kau bisa terkena masalah." Kataku lagi.
"Aku belum sempat pulang, aku baru sampai ke mari jam lima pagi dengan jemputan sekolah. Tanggung kalau pulang, jadi aku menumpang mandi di sekolah dan langsung ke kelas. Tidak masalah, kan? Lagi pula aku adalah utusan sekolah untuk kompetisi ini." Jelas Yuna.
Oh, jadi begitu. Yuna adalah utusan sekolah. Dan alasan dirinya tidak hadir saat kelas berlangsung adalah ini, mengikuti kompetisi menembak. Dan dia juga mengaku sudah memenangkan medali kompetisi itu.
Entah sejak kapan dia belajar menembak. Aku benar benar iri. Aku tak punya bakat, atau mungkin aku tak tau apa bakatku. Yuna luar biasa untuk ukuran gadis sepertinya.
Teng...Teng...Teng...
Suara lonceng sekolah menggema di seluruh ruangan. Itu adalah tanda bahwa jam pertama akan segera dimulai.
Jam pertama adalah biologi, ulangan dilaksanakan tepat setelah guru mengabsen para murid satu per satu.
Ulangan itu berjalan lancar, dua puluh soal tentang berbagai hal terkait bakteri aku kerjakan dengan lancar. Biologi bukan hanya soal hafalan, tapi tentang bagaimana kau mengenal dan tau tentang banyak hal yang hidup di dunia ini.
Aku cukup suka dengan pelajaran yang satu ini. Hanya perlu satu atau dua kali baca, aku sudah ingat dan mengerti. Mungkin itu adalah kemampuan spesialku, mudah mengingat sesuatu.
__ADS_1
Aku suka membaca dan mengingat setiap bagian dari bacaan itu adalah bagian dari membaca. Aku bahkan masih ingat buku pertama yang aku baca saat masih kecil dulu.
Saat jam istirahat...
Pukul setengah sebelas siang, kau tau apa artinya, kan? Pelajaran akan terhenti sejenak dan kau bisa melakukan apa saja untuk mengisinya.
Seharusnya aku datang ke kantin bersama Arya begitu lonceng pertanda jam istirahat berbunyi dua menit yang lalu. Sayangnya, kami tak bisa ke sana sekarang untuk sekedar mengisi perut yang lapar.
Yuna memintaku dan Arya menemaninya ke kelas Lily tepat satu detik setelah bel itu berbunyi. Dua hari yang lalu, Lily ingin bertemu Yuna dan mencarinya ke kelas kami.
Namun, Yuna sedang tak ada di tempatnya. Jadi sekarang Yuna-lah yang menghampiri Lily. Aku tak mengerti hubungan pertemanan mereka. Aku jarang melihat Yuna bicara dengan hadis lain selain Lily. Apa Lily se-istimewa itu?
Dan karena Yuna yang tak terbiasa bicara dengan gadis lain di kelas kami, maka Aku dan Arya yang dimintanya untuk menemaninya.
Aku rasa aku paham kenapa Yuna jarang bicara dengan gadis lain di kelas kami. Yuna sedikit galak, berwajah masam dan juga sering berdekatan dengan sesuatu yang berbahaya seperti senapan.
Itu bukan ciri khas seorang gadis. Kau tau maksudku, para gadis biasanya lembut, sering tersenyum dan melakukan apa yang seorang gadis biasa lakukan.
Lalu, Yuna dan Arya sudah berteman lama, sejak sekolah dasar. Begitulah kata Arya. Orang tua mereka juga saling kenal sehingga mereka terbilang dekat dan berteman dengan baik.
Dan tentang Lily, aku tak tau banyak. Arya tak pernah mengatakan apa pun dan aku tak pernah bertanya langsung pada mereka.
"Apa kita harus mengetuk pintu dulu?" Gumam Yuna begitu kami sampai di depan kelas Lily, kelas 1-E.
"Lily biasanya langsung menerobos begitu saja." Jawab Arya dengan nada suara yang tak terlalu peduli. Dia kesal karena dipaksa ikut, padahal dirinya sudah ingin duduk di kafetaria dan makan paket makan siang spesial dengan menu udang tempura hari ini.
"Ingin aku panggilkan seseorang? Atau jika mau, kalian boleh masuk." Seorang gadis berambut pendek membuka pintu kelas itu dan menyambut kami dengan ramah.
"Te..terima kasih." Jawab Yuna buru buru.
Kami bertiga melangkah masuk dan berusaha mencari Lily. Semoga saja dia masih ada di kelas dan belum pergi ke kafetaria.
"Hai! Di sini!" Dan benar saja, Lily masih ada di kelas. Dia melambaikan tangannya, seilah meminta kami untuk datang ke tempatnya.
Gadis itu sedang bercakap cakap dengan dua orang laki laki dan seorang perempuan. Kami menghampirinya yang sedang tersenyum lebar ke arah kami. Yah, begitulah Lily, selalu terlihat bersinar di tiap situasi.
"Wah, Yun Yun sudah datang, ada Arya dan Haruru juga." Katanya dengan gembira.
"Ah, aku ingin memperkenalkan kalian pada teman sekelasku. Ini Yuna, teman baikku. Di sebelahnya Arya dan yang ini Haru."
Lily menyebutkan nama kami satu persatu. Syukurlah dia memperkenalkanku sebagai Haru, bukan Haruru. Bisa malu aku kalau hal itu terjadi.
"Dan mereka teman sekelasku. Yang ini Tania, itu Jun dan ini Evan." Ucap Lily bersemangat.
Gadis itu terlihat senang bisa mempertemukan teman sekelasnya dengan temannya yang lain. Tapi sejujurnya aku tidak senang. Sejak masuk ke kelas ini, aku menyadari sesuatu.
Laki laki yang disebut Lily sebagai Evan itu membuatku diriku seolah membeku. Aku yakin, kalau dia adalah seseorang yang aku kenal. Ya, itu adalah dirinya karena sejak tadi dia terus menatapku, yang berarti dia juga mengenaliku.
Jantungku berdetak lebih cepat, membuatku berdebar tidak karuan. Berbagai potongan ingatan bermunculan di kepalaku. Napasku jadi terasa berat, keringat dingin pun mulai terbentuk.
"Oh, jadi namamu Haru, ya." Kata lelaki itu dengan senyum yang terlihat horor di mataku.
__ADS_1
Aku mundur perlahan, serpihan kenangan masa lalu membanjiri otakku. Rasa takut beserta trauma menghantuiku ketika aku melihat lelaki itu.
Tanpa mempedulikan apa pun, aku lari meninggalkan mereka. Aku tak terlalu yakin tentang apa yang terjadi dengan diriku, tapi aku sudah menemukan kembali salah satu bagian dari buruknya masa laluku sebelum aku tinggal di panti asuhan.