
Jam enam sore.
Aku sudah berada di rumah, setelah satu jam menemani Allen berbelanja bahan makanan, dan sayangnya, kami terjebak macet setelah itu.
Jalanan padat sekali, cuacanya juga panas. Jika kau mengidap mabuk kendaraan, tentunya kau tau apa yang terjadi jika terlalu lama di dalam mobil.
Yah, pokoknya kurang lebih seperti apa yang bisa kau bayangkan.
Dan hal itu jugalah yang terjadi padaku. Kepalaku pusing dan berakhir dengan terkulai lemas setelah hampir semua makanan yang aku makan tadi pagi keluar dari mulutku.
Sekarang, aku hanya berbaring di ranjangku, berusaha menenangkan diri. Rasa mual itu sudah mulai pergi, tapi pusing di kepalaku tak kunjung hilang.
Allen memberiku teh yang dicampur dengan garam. Katanya, itu adalah obat mujarab untuk mengatasi mabuk kendaraan.
"Ekspresi macam apa itu? Habiskan! Jangan menatapku seperti itu, pokoknya kau harus jadi adik yang baik dan minum semuanya." Perintah Allen.
Dia memarahiku ketika aku tak mau meminumnya. Saat melihat tampilannya saja, aku sudah tidak yakin. Apa bisa teh yang dicampur dengan garam membuatmu merasa lebih baik?
Kalau boleh jujur, rasanya sangat tidak enak, aneh malahan. Aku mati matian meminumnya sampai habis, dia terus memaksaku.
Ekspresi wajahku terus berubah ditiap tegukan. Bukannya merasa lebih baik, aku malah merasa buruk.
Setelah itu aku hanya berbaring, tak bisa melakukan apa pun. Keringat dingin membasahi punggungku karena rasa mual itu masih muncul sesekali.
"Sudah baikan?" Kata Allen yang baru muncul dari balik pintu.
Untuk yang kesekian kalinya, Allen menanyai keadaanku. Aku sudah malas menjawab pertanyaan itu.
Kedua bola mataku hanya meliriknya sekilas, memberi tanda bahwa situasiku masih sama seperti beberapa menit yang lalu ketika dia bertanya.
"Istirahatlah yang banyak. Kau payah banget, langsung K.O hanya dengan duduk di mobil sebentar." Ucapnya.
Sebentar apanya? Dia ngawur. Terjebak macet selama dua jam itu menurutnya hanya sebentar? Aku tak mengerti fisik orang dewasa sepertinya. Dia terlihat baik baik saja, sangat baik bahkan.
Sementara aku? Satu jam saja duduk di mobil sudah membuatku lemas, perutku juga jadi mual dan pusing ikut ikutan muncul bersamaan dengannya. Aku mulai berfikir kalau aku terlalu lemah.
"Malam ini mau makan apa? Apa pun akan aku buatkan." Tawar Allen.
Dia duduk di samping tempat tidurku sambil meregangkan tangannya. Gayanya itu seolah mengatakan:
"Aku sudah pro memasak, apa saja bisa ku buat. Jangan remehkan aku, katakan saja." Kira kira begitu maksudnya.
"Apa saja. Terserah kau saja, aku sedang tidak nafsu." Balasku. Aku menyingkirkan helaian rambut di dahi yang mengganggu penglihatanku.
"Tidak bisa begitu, katakan apa yang kau suka." Ulangnya.
Mata hijaunya masih menatapku, wajahnya masih terlihat tak puas.
"Aku sedang tidak nafsu, tidak perlu memasak untukku, buat saja makanan untuk dirimu sendiri." Lanjutku dengan tak terlalu mempedulikannya.
"Kau ini...apa segitu susahnya bilang apa yang kau suka?" Dia masih ngotot.
__ADS_1
Aku mengabaikan kalimat terakhirnya itu, lalu berusaha untuk tidur kembali.
Tangannya mendekati wajahku, lalu dengan cepat langsung mencubit pipiku dengan ganas. Dia menarik pipiku sampai terasa sakit.
"Aku sudah bersabar menghadapimu, Jadi...jangan mengabaikanku. Ini kesempatan terakhirmu, katakan, atau aku tidak akan melepaskannya." Ucapnya dengan gemas.
"Ini sakit. Allen, lepaskan. Ah, maksudku, kakak, tolong lepaskan." Pintaku.
Dia tetap tak melepaskan cubitannya itu. Tangannya masih menarik narik pipiku, bisa bisa pipiku jadi melar.
"Da...daging. Aku mau daging. Tolong masakan makanan dari daging, apa saja boleh." Ucapku cepat. Pipiku serasa mau rontok.
"Daging? Baiklah, aku akan langsung memasak sekarang. Istirahatlah, nanti aku bangunkan." Allen melepaskan cubitannya, dan langsung melangkah keluar.
Hah...
Aku menghembuskan napas lega, sembari menyentuh kedua sisi pipiku. Rasanya masih sedikit sakit, apa lagi yang sebelah kiri.
Kau tau kenapa? Karena tadi siang Gavin memukulnya dan itu lumayan sakit. Aku bahkan lupa mengkompresnya karena terus terusan muntah sejak di jalan.
Untunglah kantong kresek selalu tersedia di dalam mobil. Jika tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan mobilnya.
Dan beginilah akhirnya, aku memilih tidur kembali. Semoga saja saat aku bangun, pusing dan mual ini sudah pergi.
***
"Hei, bangunlah. Haru...apa kau mendengarku? Ayo bangun."
"Allen?" Ucapku begitu aku sadar bahwa dialah yang sejak tadi membangunkanku.
Aku mengucek mata, berusaha mengumpulkan kesadaran.
"Sudah baikan?" Tanyanya.
Aku mengangguk. Pusing dan mual yang aku rasakan tadi sore sudah tidak ada. Kurang lebih, perasaanku jauh lebih baik sekarang.
Apa mungkin ini karena teh garam yang aku minum sehingga aku bisa pulih dengan cepat?
"Makan sekarang, yuk. Aku sudah selesai memasak. Oh, coba tebak, siapa yang baru saja datang?" Katanya lagi.
"Apa mungkin...kakek?" Ucapku dengan sedikit ragu.
Allen tersenyum, lalu mengiakan kalimatku. Aku langsung bangun, berjalan keluar dari kamar.
Kakek sedang duduk di sofa tua ruang tamu. Melihat dari wajahnya dan matanya yang sayu, sepertinya dia baru mengerjakan hal besar yang memakan banyak waktu, dan tentu saja terlihat melelahkan.
"Haru, kemarilah." Ucapnya begitu menyadari aku sudah berdiri di seberang ruangan.
"Senang melihatmu lagi, Apa Allen memperlakukanmu dengan baik?" Tanya kakek sembari mengelus kepalaku.
Aku mengangguk. Kurang lebih, dia baik padaku. Dan belakangan ini, dia suka berlebihan terhadap beberapa hal.
__ADS_1
Contohnya saja, dia akan marah jika aku tidak menghabiskan makananku atau tidur sedikit larut. Ku pikir dia mendekati sifat dari sosok seorang ibu.
"Baguslah, aku pikir kalian akan kacau saat aku tinggalkan. Ternyata kalian baik baik saja." Tutur kakek.
"Tentu saja, aku kan menjaganya dengan baik. Makan dulu yuk, aku sudah memasak makan malam."
Maka, malam itu kami bertiga makan masakan Allen. Dia memasak banyak makanan. Sepertinya dia memasak rendang dan beberapa makanan lainnya.
Entah apa yang membuatnya bersemangat untuk memasak. Padahal seminggu ini dia hanya memesan makanan di restoran cepat saji atau hanya memasak mi instan.
Dan siapa sangka bahwa Allen adalah koki yang baik. Makanan yang dibuatnya terasa enak, apa lagi rendangnya. Meskipun warnanya tidak segelap rendang yang pernah aku lihat, tapi tetap saja lezat.
"Bagaimana? Enak?" Allen melirikku ketika aku mengambil lagi makanan yang aku duga sebagai rendang itu.
"Iya, kau pandai memasak. Rendang buatanmu enak." Jawabku.
"Rendang?" Tanyanya heran.
Aku menunjuk ke salah satu wadah berisi makanan yang ku pikir sebagai rendang.
Ada daging dan kentang di dalamnya, dilumuri bumbu yang sedikit pedas, tapi aku masih bisa memakannya.
"Ini bukan rendang tau, namanya beef burguinon. Masakan perancis, ibuku pernah membuatnya." Jelas Allen.
"Rendang ya rendang." Balasku.
Dia hanya menggeleng gelengkan kepala mendengar jawabanku.
***
Malam itu, setelah selesai makan, kakek memanggilku ke ruang kerjanya.
"Haru, seminggu ini aku sudah bekerjasama dengan beberapa temanku yang sesama profesi denganku. Kami membahas tentang gejalamu dan meneliti sampel darahmu yang waktu itu aku ambil." Ucap kakek.
"Aku tidak memberitahu mereka tentang siapa dirimu, dan kami sudah mengembangkan sesuatu yang lebih baik dari terapi sekali seminggu yang biasa kita lakukan. Itu sangat sakit, kan?" Kakek menatapku sekilas, meminta persetujuanku.
"Ya, seperti mimpi buruk." Ucapku pelan.
"Jadi, ada cara lain yang bisa membuatmu tumbuh dewasa sekaligus menghilangkan efek sakitmu dengan lebih cepat." Kakek langsung bicara pada intinya.
Saat ini, hanya ada kami berdua di sini. Allen sedang menonton televisi. Lagi pula, dia tidak tau apa pun tentang apa yang selama ini aku alami.
Aku tak ada niat mengatakannya, dan mungkin sebaiknya memang tak aku katakan.
"Ada satu metode yang lebih cepat, tapi beban yang kau terima lebih besar dan resikonya juga lebih besar. Aku tak akan memaksamu menjalani metode ini karena memang berbahaya bagi dirimu." Kakek menjelaskan efeknya padaku.
Tapi, sebesar apa pun resikonya, mungkin bisa aku hadapi. Aku tak mau kecil selamanya dan jika aku bisa menghilangkan semua bahan yang dimasukan ke tubuhku, mungkin aku bisa bebas selamanya.
Mungkin mereka akan berhenti mencariku dan aku bisa keluar dari area 10 kilometer ini. Dan tentang area 10 kilometer, aku masih belum tau apa maksud jelasnya. Yang aku tau, aku akan tetap aman jika tetap berada di dalamnya.
__ADS_1
"Jadi, apa kau mau mencoba metode ini?"