Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 23: Evan dan Gavin


__ADS_3

"Hei, Haru." Suara Arya membuatku tersadar dari lamunanku.


"Kenapa tadi kau lari? Tidak sopan, tau." Ucapnya sambil melipat tangan di depan dada.


"Maaf... aku hanya kebelet dan pergi ke toilet." Jawabku asal.


"Benarkah? Kau berbohong, kan? Apa kau hanya kebelet, atau melakukan sesuatu yang lain? Benar benar mencurigakan."


Aku hanya diam, tak menjawab sepatah kata pun.


"Kau tidak melakukan hal yang aneh atau nakal, kan?" Katanya dengan senyuman menyebalkan yang tak aku tau maksudnya.


Aku menggeleng. Apa maksud dari sesuatu yang aneh atau nakal itu?


Mata Arya menyelidik pada setiap gerakanku, membuat diriku merasa aneh. Dia akhirnya menarik sebuah kursi dan duduk di sebelahku.


"Ya sudahlah, mau makan sesuatu?" Kata Arya sembari merebahkan punggung di sandaran kursi.


Aku berpikir sejenak, setelah bertemu dengan Evan tadi, aku jadi malas untuk pergi keluar kelas. Bahkan kalau bisa, aku tak mau keluar kelas jika itu tidak penting.


"Tidak, aku tidak lapar."


Aku meraih buku di dalam laci meja, memilih untuk membukanya dan membaca beberapa halaman terdepan.


"Kalau tidak makan, kau bisa sakit atau tubuhmu tidak akan tumbuh selamanya." Arya merebut buku yang aku baca.


"Kembalikan." Kataku sambil berusaha merebutnya kembali.


Tapi sayangnya, aku lebih pendek darinya. Sulit bagiku untuk menggapai buku itu.


Dia mempermainkanku, buku itu diangkatnya tinggi tinggi sehingga aku tak bisa meraihnya.


"Lihat, kau tidak bisa mengambilnya. Tau kenapa? Itu karena kau kurang makan. Jadinya pendek." Kata Arya sambil tertawa. Dia sama sekali tidak membiarkanku mendapatkan bukuku kembali.


"Ayo, ambilah." Arya menurunkan tangannya, lalu menaikannya lagi ketika aku berusaha merebutnya.


"Kau menyebalkan!" Ucapku geram.


Dia hanya tertawa melihat reaksiku. Dari ekspresi wajahnya, aku yakin dia sama sekali tidak ada niat memberikannya padaku.


"Arya! Berhentilah mengganggu Haruru!" Teriak seorang gadis yang baru masuk dari dalam kelas. Itu adalah Lily, dia datang di waktu yang tepat.


Ada Yuna di sampingnya, gadis itu tidak terlalu menghiraukan pertengkaran kami.


"Eh, Lily. Aku hanya menyuruhnya untuk makan. Lihat, bukankah dia kecil sekali? Dia bahkan tidak mau disuruh makan." Kata Arya sambil menunjuk ke arahku.


Seorang laki laki berdiri di belakang Lily, dan ada beberapa orang lainnya. Mereka adalah teman sekelas Yuna. Oh tidak, itu Evan. Kenapa dia ikut ikutan ke kelasku?


"Ayo, kita ke kafetaria bersama." Kata Lily dengan bersemangat.


Yang lain mengangguk, menyetujui kalimatnya. Siapa pula yang mau menolak usualan gadis cantik sepertinya.


"A..aku tidak ikut, aku tidak lapar." Kataku buru buru.


"Apa sih yang kau katakan? Ayo!" Arya menarik pergelangan tanganku.


Mau tidak mau aku tetap ikut. Suasananya canggung sekali buatku. Bagaimana tidak? Evan duduk tepat di depanku. Kami hanya dipisahkan oleh meja kantin yang berbentuk persegi panjang.


Percakapan ringan terdengar di berbagai sudut kafetaria. Suara denting sendok dan garpu yang beradu menyelingi percakapan itu.

__ADS_1


"Hei, tikus." Laki laki di depanku itu melirikku, tidak ada yang mendengarnya kecuali aku.


Tikus adalah panggilanku saat masih tinggal di rumahnya, atau lebih tepatnya gudang jika itu hanya aku.


Mereka memanggilku seperti itu untuk mengolok olokku, selain itu aku juga suka bersembunyi di dalam lemari jika Evan dan saudara laki lakinya berniat menggangguku.


Maka dari sanalah julukan tikus itu berasal, sampai aku lupa siapa namaku. Mereka tak pernah menyebut namaku, hanya memanggilku dengan kata hei atau tikus. Miris sekali, kan?


"Setelah sekian lama, kau masih hidup. Lucu sekali." Lanjutnya.


"A...apa maksudmu?" Aku berpura pura tak mengerti, tapi tentu saja aku paham apa maksudnya.


"Sekarang, di rumah mana kau bersarang, hah? Seharusnya kau tinggal di panti asuhan, kan? Apa seseorang mengadopsimu dari sana? Atau mungkin...kau menjual dirimu sampai bisa ada di sini?"


Dia tersenyum licik, membuatku muak melihatnya. Dan apa apaan kalimatnya itu? Dia sangat buruk, hanya penampilan luarnya yang terlihat baik.


"Datanglah ke taman belakang setelah pulang sekolah, kita akan selesaikan semuanya." Katanya sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Semuanya, aku duluan, ya." Dia berjalan meninggalkan meja kami sambil melambaikan tangan. Yang lain membalas lambaian tangannya.


"Hah..."


Aku menghembuskan napas lega karena dia sudah pergi. Rasanya jadi sedikit lebih tenang. Tapi masalahnya adalah nanti. Dia menyuruhku untuk datang ke taman belakang setelah pulang sekolah.


Apa yang diinginkannya? Apa dia ingin minta maaf atas semua yang dilakukannya padaku selama ini? Ah, itu tidak mungkin. Caranya bicara tadi bahkan menggambarkan kalau dia adalah orang yang lebih buruk dari sebelumnya.


Apa yang kira kira dia inginkan? Apa mungkin dia ingin memukuliku lagi seperti dulu? Jika ia, berarti itu adalah jebakan. Aku tak perlu pergi ke sana.


"Haru, apa sudah selesai? Ayo kita pergi." Arya membuyarkan lamunanku.


"Eh, iya. Aku sudah selesai." Aku buru buru berdiri dari kursi.


"Apa kau baik baik saja? Apa sedang sakit? Kau lebih pendiam dari biasanya." Arya menyentuh dahiku dengan punggung tangannya.


"Tidak, aku baik baik saja." Ucapku sambil menyingkirkan tangannya.


"Apa kau baru mengalami sesuatu yang tidak kau pahami? Kau bisa tanya apa saja padaku, kita ini sesama lelaki, jadi tidak perlu malu." Katanya sambil menyamakan langkah kakinya denganku.


Yuna sudah berada sekitar lima atau enam langkah di depan kami.


"Sudah aku bilang, aku baik baik saja. Kenapa kau terus mengatakan sesuaru yang aneh? Sekarang kau yang terlihat mencurigakan, tau." Balasku.


"Aku lebih dewasa dibanding dirimu, le- bih- de- wa- sa-. Makanya aku khawatir. Ada hal hal yang hanya diketahui sesama lelaki. Jika ini karena kau baru memulai masa remajamu, kau bisa tanya apa saja padaku."


"Seperti apa?"


"Ah, lupakan. Sepertinya kau masih terlalu kecil untuk mengerti." Jawabnya.


***


Pelajaran hari ini sudah selesai, semuanya bergegas untuk pulang. Sebagian dari mereka juga ada yang memilih untuk berada di sekolah lebih lama.


Alasannya sederhana, yaitu kegiatan klub. Setelah jam pulang, sekolah masih akan tetap dibuka sampai jam enam untuk kegiatan klub.


Ada banyak klub yang mengadakan kegiatan hari ini. Beberapa sudut terlihat ramai oleh gerombolan siswa.


"Arya, maaf. Hari ini aku akan pulang duluan, sampai jumpa." Aku berlari lari kecil meninggalkannya.


"Tu...tunggu."

__ADS_1


"Maaf, aku buru buru."


Aku bergegas melewati beberapa siswa yang berjalan di lorong kelas. Aku hendak pergi ke taman belakang, sesuai kalimat Evan saat di kafetaria tadi.


Meski aku tau bahwa itu adalah sebuah jebakan, aku tetap pergi ke sana. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Aku juga harus memintanya tutup mulut soal diriku yang dulu.


Cahaya matahari cukup terik siang ini. Angin lebih jarang berhembus sehingga udara terasa sangat kering. Suara derik serangga di pohon pohon besar yang berjajar di beberapa sisi sekolah memenuhi lapangan.


Aku sampai di taman belakang sekolah. Tak ada seorang pun di sana. Hanya ada aku dan bayanganku. Apa dia hanya mencoba mempermainkanku?


"Wah, kau benar benar datang ya." Seseorang muncul di belakangku. Itu adalah Evan.


"Kau masih sama jeleknya dengan dulu, dasar tikus." Kata seseorang yang muncul di samping Evan.


Orang itu sedikit lebih tinggi dari Evan, paling hanya dua atau tiga senti saja. Aku juga mengenali orang itu, dia adalah Gavin, saudara laki lakinya Evan. Maksudku, tentu saja dia kakaknya Evan. Setahuku, mereka hanya berselisih satu tahun.


Aku menelan ludah, berusaha terlihat tenang tanpa sedikit pun ketakutan yang terpancar dari diriku. Ku pasang tampang senetral mungkin, aku tak akan takut lagi seperti dulu.


Aku tak akan menangis, aku sudah besar.


Itulah yang terus terbesit di kepalaku. Apa pun yang terjadi dulu tidak ada hubungannya dengan yang sekarang, meski pun masa depan ada karena masa lalu. Tapi tetap saja, aku sudah tidak seperti dulu.


"Kau takut? Aku hanya ingin kau melihat ini." Gavin berjalan ke arahku, semakin dekat dan terus mendekat.


Dia berhenti tepat di depanku, tangan kanannya menyibak rambutnya. Di sisi kiri dahinya, terlihat bekas luka yang memperlihatkan kulit yang sedikit tidak rata, seperti ada garis garis halus di sana. Bagian itu selalu tertutupi oleh poni.


"Kau tau ini apa?" Katanya sembari menatapku dengan lebih intens. Mata kami bertemu.


Aku hanya diam, tapi aku tau apa maksudnya. Bekas luka itu karena aku. Itu terjadi di hari terakhirku tinggal di sana.


Aku tidak sengaja mendorongnya karena dia terus terusan menakut nakutiku dengan seekor ulat. Aku yang baru berusia enam atau tujuh tahun tentu saja takut. Ulat itu menggeliat, sangat menjijikan.


Kedua tanganku refleks terangkat dan mendorongnya dengan sedikit keras. Sampai akhirnya dia terjatuh dan kepalanya menabrak sudut meja. Darah menetes dari kepalanya dan dia langsung pingsan di tempat.


Sementara itu, aku langsung dikirim ke panti asuhan saat itu juga tanpa diberi penjelasan.


"Kau lihat, kan? Ini perbuatanmu. Tidak ada yang mau kau katakan, tikus kecil? Atau harus aku panggil dengan namamu? Haru, benar begitu kan?" Gavin masih meraba dahinya.


Aku masih tak mengerti apa yang dia inginkan, sampai akhirnya tangan kananya maju dan menarik kerah bajuku.


"Jika tak ada yang ingin kau katakan, apa sebaiknya aku membuatmu bertanggung jawab? Waktu itu tidak menyenangkan saat kau pergi setelah membuatku terluka." Lanjutnya.


Dia mencengkeram kerah bajuku erat sekali, sampai tubuhku sedikit terangkat. Dan tentu saja itu karena perbedaan tinggi kami, aku hanya setinggi dadanya.


"Kau pergi dengan kemenangan dan itu sangat menjengkelkan. Dan biar bagaimana pun juga, ayo kembali seperti dulu. Seperti saat kau menangis ketakutan sambil memeluk lututmu sendiri." Ucapnya.


Salah satu sudut bibirnya terangkat, memperlihatkan seringai yang menakutkan.


Jantungku berdetak hebat, aku takut. Ya, aku takut kejadian dulu akan terulang lagi. Aku tak mau jadi bahan kesenangan dua bersaudar itu.


Tangan Gavin masih mencengkeram kerah bajuku erat, sementara Evan bersandar di tembok sebuah bangunan. Wajahnya seolah tidak peduli.


Tempat ini sepi, aku tak mungkin bisa lepas dari sini dengan selamat. Aku tak mungkin berteriak minta tolong atau sebagainya.


Kamera pengawas juga tidak bisa menjangkau tempat ini. Aku takut, sangat sangat takut. Jika hal seperti dulu kembali terulang, sebagian kebahagiaanku akan kembali direnggut.


Aku takut... aku takut...


Keajaiban, keberuntungan atau apa saja. Aku membutuhkannya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2