Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 30: Gagal sudah


__ADS_3

Menurutmu, kenapa manusia saling berinteraksi? Kadang manusia saling mencintai, kadang saling menyakiti. Terkadang saling percaya dan kedustaan pun juga tak pernah luput darinya.


Teka teki tentang keberadaan manusia dan apa saja yang mereka lakukan sungguh sebuah misteri. Ya, aku juga manusia, dan ada banyak hal yang ingin aku ketahui.


Seiring zaman yang terus berkembang, manusia juga tak pernah merasa cukup. Mungkin itu sudah menjadi sebuah insting walau seberapa modern pun mereka.


Dan mungkin, insting yang merasa tidak pernah cukup ini jugalah yang membuat dunia berubah secara terus menerus. Manusia ingin sesuatu yang lebih, lebih dan lebih. Tak ada kata cukup.


Dan aku rasa...mungkin diriku juga begitu. Ada begitu banyak hal yang aku inginkan dan itu terus berkeliaran di kepalaku. Aku ingin berubah, aku ingin hidup bebas.


Mataku terbuka perlahan. Aku kembali terbangun dari tidur yang terasa tidak nyaman. Tidurku tidak nyenyak, aku terus terbangun setiap beberapa saat.


Kedua mataku melirik jendela yang terbuka, langit jingga keemasan terlihat berkilau indah di sana. Bisa ku simpulkan bahwa sekarang sudah sore, mungkin sekitar pukul enam.


Aku berusaha duduk meski masih sedikit lemas. Aku sudah lelah tidur seharian, dan jika aku masih memaksakan diri untuk tidur, maka aku akan terjaga sepanjang malam.


Dan sepertinya ada kabar baik, tubuhku sudah tidak terlalu sakit, semuanya sudah lebih baik sekarang. Aku mulai percaya bahwa tidur dapat mengubah segalanya. Ah, ideologi konyol.


Bajuku terasa sedikit lembab karena terkena keringat yang terus bercucuran saat aku tidur. Mungkin sebaiknya aku segera mandi, tidur yang panjang tadi membuatku merasa kembali sehat.


Maka langsung saja, aku turun dari tempat tidur dan bersiap menyambar handuk. Oh, dan mungkin setelah itu aku akan makan sesuatu. Aku mau makan puding juga setelahnya.


Brukk!!


Baru saja aku berdiri di lantai, tapi keseimbanganku sudah hilang. Langsung saja aku jatuh memeluk lantai yang dingin dan keras. Ini pelukan terburuk yang pernah aku alami, memeluk lantai bukan ide yang bagus, lututku langsung nyeri dibuatnya.


"Eh...apa yang terjadi? Kau baik baik baik saja?"


Kebetulan Allen lewat, dia langsung membantuku untuk berdiri. Kakiku gemetar, sepertinya aku belum pulih total. Ini semua karena kejadian tadi siang yang sangat menyebalkan.


"Kenapa sampai jatuh? Apa ada yang sakit?" Tanya Allen.


Aku menggeleng pelan. Tidak ada yang sakit, hanya saja...aku kesulitan berdiri.


"Apa kakek sudah selesai? Apa yang aku minum tadi obat yang benar?" Tanyaku pada lelaki itu.


"Ya, kakek sudah selesai dan dia sudah pergi satu jam yang lalu, dan yang kau minum itu..."


"Kemana? Jadi, apa yang aku minum tadi siang?"


Aku sedikit panik, jika menilik dari ekspresi wajah Allen, sepertinya itu bukan obat yang benar. Apa jangan jangan itu memang pertamax? Atau mungkin biosolar? Atau mungkin semprotan anti nyamuk?


"Ke tempat temannya, membahas obat yang kau minum. Soalnya ada yang tidak beres dengan itu. Dan yang kau minum itu... sebaiknya kau tidak mengetahuinya."


"Kenapa? Beri tahu aku. Aku mohon..." Ucapku memelas.


"Kau bisa muntah lagi jika mendengarnya, aku sudah muak membersihkannya, jadi sebaiknya tidak usah."

__ADS_1


"Aku janji tidak akan muntah lagi, beri tahu aku."


Aku memasang wajah memelas, berharap agar dia mau memberi tahuku. Memangnya apa sih yang aku minum sampai dia berpikir aku akan muntah mendengarnya. Bola matanya yang hijau menatapku ragu, tapi aku yakin kalau dia akan mengatakannya.


"Kau benar benar tidak akan muntah, kan?"


"Iya."


"Kau berjanji?"


"Iya, aku berjanji."


"Oke, dengar. Kata kakek, ada beberapa bahan yang bisa teridentivikasi dan ada bahan lainnya. Itu obat yang salah, entah siapa yang menukarnya. Jadi yang berhasil terverivikasi adalah spiritus, racun tikus, dan bahan bakar jenis pertamax. Ada beberapa bahan lagi yang belum terverivikasi, jadi jangan muntah ya." Jelas Allen.


Mataku langsung membulat mendengarnya. Spiritus? Racun tikus? dan pertamax? Sudah kuduga, memang ada pertamax di dalamnya, dari melihatnya saja aku sudah langsung terpikir seperti itu. Tapi, yang benar benar tidak terduga adalah racun tikus.


Kepalaku langsung membayangkan tentang benda benda itu, dan masalah terbesarnya adalah racun tikus, untung aku belum mati karenanya. Oh, bagaimana dengan bahan lainnya yang belum teridentivikasi itu? Aku langsung harap harap cemas.


Membayangkan hal itu kembali membuatku sedikit mual. Hanya mual, aku tidak muntah lagi. Mungkin karena perutku sudah kosong, tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan oleh lambungku.


"Lalu, kenapa bisa sampai jatuh?" Ucap Allen. Dia berhasil membuyarkan lamunanku.


"Aku tidak bisa berdiri, kakiku gemetar dan aku jatuh begitu saja." Jawabku.


"Eh? Coba kau berdiri lagi, akan aku pegangi." Suruhnya.


"Sepertinya tidak apa apa." Gumamku.


"Aku mau mandi." Ucapku sambil berjalan meraih handuk yang digantung di belakang pintu.


"Jangan, tadi siang tubuhmu panas sekali. Besok saja. Kalau sakit lagi bagaimana?" Cegah Allen.


"Tidak mau, gerah. Kalau aku sakit lagi, kan ada kau yang akan mengurusku. Apa fungsi seorang kakak kalau tidak untuk dimanfaatkan?" Ucapku iseng.


"Oh, begitu ya. Kau mau bermain memanfaatkan dan dimanfaatkan? Kalau begitu..." Allen mendekatiku yang sudah ada di depan pintu.


Terukir senyum jahil diwajahnya. Aku menelan ludah, apa yang akan dilakukannya? Dan sepertinya aku tak perlu berpikir tentang itu, dan seharusnya memang tidak aku pikirkan.


Salah satu tangannya mengunci pergerakanku, sementara tangannya yang lain menggelitikiku. Aku sampai gugur dibuatnya, aku tak tahan geli.


"Ah...haha... maafkan aku, aku cuma bercanda. Lepaskan..."


Aku berusaha memberontak, tapi perbedaan ukuran tubuh dan tenaga kami berbeda. Aku sudah kalah sejak awal.


"Tidak mau..." Ucapnya.


"Aku mau muntah nih, ayo lepaskan..."

__ADS_1


" Kalau mau muntah lakukan saja. Aku akan membersihkannya lagi, gampang kan."


"A-aku menyerah..., maaf...maafkan aku, kakak maafkan aku..."


"Ucapkan sekali lagi, ayo ucapkan."


"Kakak, maafkan aku..."


Akhirnya dia melepaskanku. Napasku agak tersenggal karenanya. Seandainya tubuhku bisa sedikit lebih besar, aku mungkin bisa melawan.


Kenapa ini terjadi padaku? Kenap tuhan tak membiarkanku mendapat obat yang benar? Kenapa aku harus minum yang salah? Kenapa?


Rasanya ingin sekali aku berteriak dari atas ketinggian agar suaraku memantulkan kaliamat yang aku ucapkan. Ingin sekali aku mengeluh di sana, mengeluarkan segala hal yang mengganjal di hati dan pikiranku.


"Masih mau mandi?" Tanya Allen.


"Ya." Jawabku singkat.


"Mau ku bantu?" Tawarnya.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


Aku menghabiskan waktu sepuluh menit di kamar mandi. Mungkin ini mandi terbaikku selama ini. Saat aku selesai membilas tubuh, aku merasa seolah terlahir kembali.


Rasanya seolah segala macam dosaku luruh terbawa aliran air mandi yang hangat. Setelah berpakaian, hal berikutnya yang terpikir olehku adalah masalah perut. Aku ingin makan sesuatu.


Harusnya aku berkata "Dapur... i'm cooming..." Tapi aku terlalu malu untuk melakulannya. Aku akan terlihat bodoh, kan? Padahal selama ini aku selalu berusaha menjaga sikapku.


"Eh, kakek sudah kembali?" Ucapku begitu sampai di dapur.


Kakek duduk di salah satu kursi meja makan yang ada di dapur.


"Haru, kemarilah. Sudah baikan? Apa ada yang masih terasa sakit?" Tanya kakek sekaligus.


Tangannya langsung menyentuh kepalaku, seperti yang biasa dia lakukan. Aku mengangguk, meski masih sedikit nyeri di kakiku dan sedikit rasa tidak enak di perut, tapi ini sudah masuk kategori baik.


"Lalu, bagaimana kek? Maksudku obat yang aku minum. Allen memberi tahuku tadi." Ucapku.


"Obat itu...seseorang menukarnya. Lalu mencuri yang asli. Maaf Haru, kau jadi keracunan karenanya. Kita jadi kehilangan kesempatan untuk membuatmu tumbuh." Sesal kakek.


Aku juga sangat menyayangkannya. Aku sudah lama ingin segera tumbuh tinggi dan dewasa. Aku juga tak terlalu suka dengan diriku yang sekarang. Kecil, pucat, dan agak kurus. Aku ingin jadi lebih tinggi, aku tidak puas dengan diriku yang sekarang.


"Tidak apa apa. Aku baik baik saja." Jawabku pelan.


Huh...padahal aku sudah berharap banyak. Tapi apa boleh buat, kan? Tidak segalanya bisa berjalan dengan baik. Ada banyak hal yang tak bisa aku dapatkan secara instan.


"Lalu, apa kakek sudah tau siapa yang melakukannya?" Tanya Allen.

__ADS_1


Benar, kira kira siapa yang melakukannya?


__ADS_2