
"Aku juga tak begitu ingat, dan aku juga tak terlalu mengerti. Tapi rasanya, seperti ada yang mengendalikan diriku sampai aku bisa pergi dari sana."
Aku menhembuskan napas perlahan. Lega rasanya bisa mengatakan hal seperti itu pada seseorang. Ternyata memang benar memendam sesuatu itu tidak baik untuk tubuh.
"Kurang lebih aku mengerti sejauh ini. Tapi mengenai sesuatu yang mengendalikanmu itu, apa maksudnya?"
Sudah kuduga kakek akan menanyakan itu, tapi aku juga tak begitu paham situasi saat kejadian itu sebelumnya.
"Entahlah, kek. Saat itu, pikiranku kacau dan tiba tiba pandanganku kabur dan kepalaku sakit sekali. Tubuhku seolah bergerak tanpa kendaliku. Aku sudah lupa sebagian besar detailnya. Hanya saja saat aku sadar, aku sudah berada di tempat yang jauh."
"Hmm..., begitu ya. Apa itu karena ada semacam hantu di tempat itu? Kau tau, seperti kerasukan. Ada arwah yang masuk ke dalam tubuhmu dan mengendalikanmu."
Kakek tertawa pelan. Dia malah menjadikannya bahan candaan, padahal aku sudah bercerita dengan serius. Aku menggembungkan pipi, tak terima ditertawakan seperti itu.
"Jangan terlalu dianggap serius, aku mengerti. Sekarang Haru tak perlu khawatir pada hal seperti itu lagi, kakek akan membantumu. Kalau mereka menginginkanmu kembali, aku akan menyembunyikanmu."
Dia mengusap kepalaku perlahan. Dia berusaha membuatku merasa nyaman. Apa seperti ini rasanya punya seorang kakek? Sial...,aku malah terpengaruh kata katanya.
"Kakek tak akan biarkan siapapun menyakitimu, bahkan menyentuhmu sekalipun."
Entah kenapa aku refleks memeluknya setelah dia berkata seperti itu.
Rasanya aku ingin menangis. Ternyata di dunia ini masih ada banyak orang baik. Kenapa aku selalu terlambat menyadarinya?
Bodohnya aku...
Kalau aku bertingkah seperti ini maka aku semakin terlihat seperti anak anak saja.
"Mm...Haru, malam ini kau mau makan apa? Aku akan memasak makan malam."
Aku melepaskan pelukanku. Sepertinya aku sudah melakukan itu terlalu lama.
Duh...malunya.
"Aku tidak mau makan. Aku sudah kenyang makan cookies tadi."
"Tidak bisa begitu, itu hanya cemilan. Pokoknya kau harus makan sesuatu. Aku akan masak yang ringan saja untukmu."
Aku mengangguk. Kalau urusan makan kakek memang tegas. Dia selalu bilang kalau aku sangat kurus, padahal itu hanya karena pertumbuhanku yang terhambat. Aku tak bisa tumbuh tinggi dan dewasa.
Maaf perutku, bertahanlah sedikit...
"Ada satu hal lagi yang ingin aku tau. Itu...tentang rambutmu. Di foto ini rambutmu warnanya putih dan sekarang..."
Kakek memperhatikan selembar foto di tangannya. Itu adalah foto yang diberikan maheer tadi siang. Di foto itu ada diriku dengan wajah tanpa ekspresi dan rambut putih layaknya uban.
"Rambutku...dulu warnanya hitam, seperti kebanyakan orang. Perlahan lahan ada beberapa helai saja yang putih, mungkin karena aku sedikit stres di sana. Lalu, setelah nona Agnes bilang aku tak akan pernah kembali ke panti rambutku langsung memutih semua saat paginya."
__ADS_1
Aku memperhatikan lantai, berusaha mengingat ingat kejadian itu.
"Setelah berhasil lari dari sana, perlahan lahan rambutku menghitam lagi seperti sekarang."
Aku meraba kepalaku sendiri. Memastikan rambutku masih berwaran gelap seperti orang pada umumnya.
"Tapi, kalau diperhatikan, warnanya ini bukan hitam."
Kakek menatap kepalaku dengan lebih dekat, lalu menyentuh rambutku.
"Ini seperti...coklat? Ya, coklat tua. Apa kau yakin sebelum jadi putih warnanya hitam?"
Aku segera berdiri menuju cermin. Kakek benar, rambutku bukannya hitam, tapi coklat tua. Ini sedikit aneh.
Setelah makan malam, aku pun tidur. Berusaha melupakan orang bernama maheer dan temannya yang tengah mencariku.
Tapi aku malah teringat kak Hana. Dia sekarang sedang apa ya?
***
Keesokan paginya
"Haru, Haru...ayo bangunlah."
Aku berusaha membuka mata ketika seseorang memanggil namaku.
Aku langsung bangun dan duduk ketika menyadari orang yang memanggil namaku adalah kakek. Mataku masih mengantuk, kenapa kakek membangunkanku sekarang.
Tunggu dulu, sekarang baru jam enam tepat. Aku segera memastikannya sekali lagi, ada sebuah jam dinding di kamarku.
"Ada apa, kek? Bukankah ini masih terlalu pagi?"
Aku berusaha mengumpulkan nyawa dan kesadaranku sendiri. Tak biasanya kakek membangunkanku sepagi ini. Biasanya aku bangun sendiri sekitar jam setengah tujuh.
"Ya, Haru. Tapi butuh setengah jam untuk sampai ke sekolah dengan mobil. Dan kau juga harus mandi dan sarapan juga. Aku tak mau kau terlambat."
Kakek memandangiku yang masih setengah sadar. Tunggu, sekolah? Mobil? Setengah jam?
"Maksud kakek apa?"
"Hah..., apa semalam aku tak bilang kalau kau akan masuk sekolah hari ini? Bukankah kemarin kita sudah berbelanja?"
Aku menggeleng. Kakek memang bilang akan menyekolahkanku. Tapi aku tak pernah menyangka akan secepat ini.
"Sepertinya aku lupa bilang, ya? Maaf soal itu. Tapi kau harus ke sekolah hari ini juga. Aku sudah bilang ke guru di sana bahwa cucuku akan masuk hari ini."
Kakek mengusap punggungku, lalu memperlihatkan pakaian seragam yang sepertinya baru saja disetrika. Itu terlihat jelas karena kainnya masih terasa hangat.
__ADS_1
"Pergilah mandi dulu, pakai seragammu dan kita sarapan bersama. Setelah itu aku akan mengantarmu."
Kakek segera berdiri dan pergi keluar kamar. Aku juga segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi sambil menyambar handuk di gantungan belakang pintu.
Pagi itu rasanya aneh sekali. Semuanya terasa begitu tiba tiba. Aku jadi bingung harus bereaksi seperti apa. Ini adalah pengalaman pertamaku untuk bersekolah.
Sebelum ini aku tak pernah masuk Tk atau SD. Bahkan tidak dengan sekolah paket jenis apa pun. Bagaimana cara kakek bisa mendaftarkanku?
Aku segera pergi ke meja makan setelah berpakaian. Kakek sudah duduk sendiri di sana. Dia langsung berdiri ketika melihatku datang.
"Bukan seperti ini memakainya. Kenapa kau mengikatnya seperti pita? Ini dasi Haru..."
Kakek berusaha menahan tawa ketika melihat dasi di kerah bajuku. Lalu dia melepaskannya dan memakaikannya lagi. Dasi yang tadinya ku ikat seperti pita sudah menguntai ke bawah.
"Begini lebih baik, ayo makan."
Aku segera mengambil tempat. Pagi ini ada roti dan selai yang terhidang di meja. Belakangan ini ketika aku melihat roti, aku jadi teringat ketika aku diam diam mencuri roti di lemari kakek.
Tak perlu berlama lama, kakek segera mengantarku dengan mobil. Pagi itu rasanya dingin sekali, sehingga aku harus pakai jaket yang dibelikan kakek kemarin.
Jaketnya tidak terlalu tebal, tapi cukup untuk menahan hawa dingin yang menyelinap masuk ke sela sela tubuh.
"Mm...kakek..."
Aku menoleh pada kakek yang sedang mengemudikan mobil.
"Ya, Haru. Apa kau mau bilang sesuatu?"
"Apa kakek yakin dengan semua ini?"
Aku ragu ragu mengatakannya. Jujur saja ini terasa sangat tiba tiba dan aku merasa belum siap.
"Tentang apa?"
Kakek memutar kemudi, membuat mobil berbelok ke kanan di perempatan jalan. Pagi ini jalanan masih belum terlalu ramai karena kami keluar sedikit lebih awal.
"Aku...tak pernah sekolah sebelumnya. Jadi ku pikir aku akan terlihat sangat bodoh nantinya."
Aku menghela napas perlahan. Uap putih keluar dari mulutku, lalu menghilang tanpa jejak.
"Tapi kau suka membaca, kan? Aku selalu melihatmu membaca buku buku di lemariku dan kau juga diam diam mengisi TTS dan sudoku di koran lama yang di gudang, kan?"
*Note: -TTS (teka teki silang)
-Sudoku (Permainan mengisikan angka 1 sampai 9 ke dalam kotak yang tidak boleh ada angka yang sama dalam kotak dan jika ditarik garis secara vertikal dan horizontal harus ada angka yang berbeda.)
Aku menunduk, bagaimana kakek tau tentang TTS dan sudokunya juga?
__ADS_1