
Aku takut... aku takut...
Keajaiban, keberuntungan atau apa saja. Aku membutuhkannya sekarang.
Jarak kami sangat dekat. Dan dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat bekas luka yang ada di dahinya dengan lebih jelas.
Apa yang akan kau lakukan jika ada di posisiku yang sekarang? Apa kau akan melawan? Itu akan jadi opsi yang bagus jika kau memang berniat melakukannya.
Ah, sayangnya aku tak ada niat untuk berkelahi.
"Kenapa menutup mata? Takut?" Ucapnya tepat di telingaku.
Tentu saja iya. Tapi dengar, aku bukannya takut dipukul, hanya saja aku takut hal hal seperti dulu kembali terulang. Aku yang dulunya bodoh dan tidak berdaya hanya bisa diam dan menangis.
Aku tidak mau seperti itu lagi, aku bukan pengecut. Maka, ku buka kedua mataku, lalu menatapnya tajam. Aku mencoba mengusir semua rasa takutku meski ini sedikit sulit.
"Eh, kau berani juga ya, tikus..."
Tepat setelah kalimat terakhir itu, salah satu tangannya naik dan mengepal. Oh, aku sudah tau apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya. Aku pasrah, terima sajalah.
Bukk!!!!
Satu pukulan melayang, menghantam tepat di pipi kiriku. Aku meringis, rasa ngilu menjalar di sekitarnya.
Tidak hanya sampai di situ, pukulan lainnya sudah bersiap dilayangkan padaku. Tangannya kembali terangkat sementara tangannya yang lain masih mencengkeram kerah bajuku.
Ah, sudahlah. Mungkin aku akan pulang babak belur hari ini.
"Eh, apa yang kalian lakukan di sini?" Seseorang muncul dari balik tembok, tubuhnya tinggi dan rambutnya yang hitam. Laki laki itu adalah sosok yang sangat aku kenali.
"Arya!" Teriakku tertahan.
Gavin refleks melepaskan cengkeramannya dari kerah bajuku. Dia kaget, begitu juga dengan Evan. Aku segera menyingkir dari sana, berlari ke arah Arya.
"A...ada apa?" Ucapnya heran.
Aku menghampiri Arya, berdiri di belakangnya. Tanganku memegang ujung bajunya, seperti anak hilang yang terpisah dari ibunya. Syukurlah, dia datang tepat waktu.
"Haha..., tidak ada apa apa. Tadi dia bilang tiba tiba pusing, jadi kami mau membawanya ke ruang kesehatan." Ucap Evan tiba tiba.
"Tapi dia tidak mau." Tambah Gavin.
Hening sejenak, semuanya saling tatap. Suasananya jadi tidak enak. Apa akan terjadi hal yang buruk setelah ini? Apa mungkin akan ada perkelahian?
"Oh, begitu. Terima kasih, biar aku yang mengantarnya." Arya menarik pergelangan tanganku, kami pergi dari tempat itu.
Untunglah tidak terjadi apa pun. Tidak ada kesalahpahaman, kami berjalan pelan menyusuri lapangan sekolah, melewati taman taman kecil.
Di beberapa sudut, banyak siswa yang duduk bergerombol. Ada kegiatan klub atau beberapa acara. Ada juga yang sengaja duduk di sana karena tidak ingin pulang terlalu cepat.
"Sudah ku duga. Kau menyembunyikan sesuatu." Arya memulai percakapan.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun, kenapa kau bisa tau aku ada di sana?" Jawabku.
"Aku mengikutimu. Aku pikir kau marah karena aku mengambil bukumu tadi siang. Dan mungkin saja kau punya masalah dengan awal masa remajamu." Jelas Arya.
"Tidak ada yang seperti itu. Aku tidak marah soal itu, aku senang kau mengkhawatirkanku. Hanya saja..."
__ADS_1
"Hanya saja?"
"Ada suatu hal yang tak bisa aku katakan sekarang."
"Hah... itu namanya kau menyembunyikan sesuatu, bodoh." Katanya sambil menghembuskan napas perlahan.
"Jadi, apa masalahmu dengan mereka? Apa mereka mengganggumu? Aku melihat orang itu memukulmu. Apa itu sakit?" Lanjutnya.
"Itu...ah, kita bicarakan besok saja. Kakakku mungkin sudah menunggu di depan gerbang. Ayo!" Aku langsung mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Kakak?"
"Iya, maksudku Allen. Sekarang sudah jam dua lewat lima belas menit. Dia pasti sudah menungguku."
"Kau sudah memanggilnya kakak? Padahal kemarin lusa kau tidak terlihat senang ketika dia mengantarmu."
"Yah, mungkin dia tak seburuk yang aku kira." Ujarku.
Setelah beberapa menit, kami sampai di depan gerbang sekolah. Di depannya, jalan raya besar melintang. Banyak mobil dan kendaraan lainnya berlalu lalang.
"Yo, Haru. Kau lama sekali." Allen berdiri tepat di samping gerbang sekolah. Dia memakai baju kaos warna hijau botol berlengan panjang, lengkap dengan celana panjang hitam.
Rambutnya disisr rapi, seperti menggunakan sejenis gel rambut.
"A...Allen? Sudah aku bilang tunggu saja aku di mobil. Kau terlalu menarik perhatian tau." Kataku begitu melihatnya.
Itu benar, penampilan Allen terlalu mencolok. Rambutnya pirang, mata hijau dan postur tubuh tinggi.
Wajahnya juga tampan, tentu saja itu akan menarik perhatian orang orang di sekitar sekolah. Dan benar saja, beberapa orang memperhatikan dari kejauhan. Beberapa gadis bahkan terlihat berbisik bisik pada temannya, lantas tertawa kecil malu malu.
Siapa pula yang tidak akan merasa tertarik padanya? Bahkan jika seandainya aku adalah seorang perempuan, aku mungkin juga akan tertarik. Dan tentu saja aku tau hal itu tidak akan pernah terjadi.
"Allen, berhentilah. Ini masih di sekolah." Ucapku.
"Ah, selamat siang. Saya Arya, teman sekelasnya Haru, anda pasti kakaknya Haru, dia bercerita banyak padaku." Arya memperkenalkan diri begitu Allen meliriknya.
"Begitu, ya. Baguslah, aku pikir kau tak punya teman." Ujar Allen sambil melirikku.
"Baiklah, ayo pergi." Lanjutnya.
Dia berjalan menuju mobil yang diparkirkan di pinghir jalan raya yang luas. Ada sekitar delapan lajur, jadi tidak akan menimbulkan macet jika kau menaruh mobilmu di sana.
"Arya, aku pulang duluan ya." Kataku sambil melambaikan tangan.
Dia juga balas melambaikan tangan. Aku masuk ke mobil, Allen memasang kunci mobil dan menyalakannya.
Mobil kembali ke jalanan, bergabung dengan kendaraan lainnya. Angin sepoi sepoi masuk dari jendela, meniup rambutku dan membuatnya bergoyang goyang.
Aku menyandarkan punggung ke kursi mobil, lantas menghembuskan napas lega.
"Apa sekolahmu begitu berat sampai kau bernapas seperti itu?" Allen memulai pembicaraan.
"Tidak juga, aku hanya sedikit lelah." Balasku.
"Bau apa ini?" Kataku begitu hidungku mendeteksi aroma yang berbeda dari mobil ini.
"Bau? Apa mobil ini bau? Aku akan membawanya ke tempat pencucian mobil nanti." Jawab Allen. Dia memutar kemudi, melewati beberapa mobil yang ada di depannya.
__ADS_1
"Bukan, baunya ini seperti... parfum?" Kataku ragu ragu.
" Kalau begitu pasti itu aku. Aku mandi dulu sebelum menjemputmu, sekalian saja aku pakai parfum. Sejak kemarin aku belum mandi." Katanya dengan santai.
"Jorok sekali." Gumamku.
Mobil yang kami naiki masih melaju dengan kecepatan standar, melewati beberapa belokan dan persimpangan.
"Allen, ini bukan jalan yang biasa kita lewati." Aku menegur Allen yang sedang fokus dengan kemudinya.
"Ulangi, pakai kata kakak. Kau sudah berjanji memanggilku begitu kan?"
"Kapan aku berjanji?"
"Saat kau tidur di tempatku, kau berjanji akan memanggilku kakak." Jawabnya.
"Saat itu, kau sudah setengah tidur. Aku memintamu berjanji untuk memanggilku kakak, dan kau mengiakannya. Yah, begitulah." Dia mengangkat bahunya, memberi penjelasan.
"Kau licik juga, melakukannya saat aku tidak sadar. Baiklah kakak. Kenapa kita tidak lewat jalan yang biasa?" Ucapku dengan penuh penekan pada kata 'kakak' agar dia mendengar bahwa aku sudah menurutinya.
"Haru, bisa bicara dengan nada yang lebih imut?" Jawabnya.
"Lupakan, anggap aku tak pernah bertanya." Kataku sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela.
"Aku mau belanja bahan makanan dulu. Kakek akan kembali besok siang, jadi mungkin kita tak bisa belanja besok." Jelasnya.
Aku mengangguk, ini sudah satu minggu semenjak kakek pergi dan bilang ingin menginap di rumah temannya.
Kata kakek, dia hanya akan melakukan reuni dan beberapa pertemuan dengan teman lamanya yang juga sekarang bekerja di bidang serupa.
"Kau rindu pada kakek, kan?" Allen kembali mencomot topik pembicaraan.
Dia benar benar membaca pikiranku. Dan tentu saja aku rindu.
"Bagaimana denganmu?"
"Mungkin saja. Tapi tak terlalu sih, sekarang kan aku sudah punya Haru." Jawabnya sambil tertawa renyah.
Mobil melambat, lalu berhenti setelah sampai di area parkir, berbaris bersama beberapa mobil lainnya.
Aku menatap keluar jendela. Sebuah swalayan besar berdiri di sana.
"Apa sudah boleh keluar sekarang?" Tanyaku ketika Allen memutar kunci mobil, membuat mobil ini mati total.
"Tunggu dulu." Ucapnya.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Pipimu...sedikit bengkak dan membiru. Apa tadi terjadi sesuatu di sekolah?"
"Benarkah? Tadi baik baik saja." Kataku mengelak.
Aku menyentuh pipiku sendiri, terasa sedikit nyeri ketika ujung jemariku menyentuhnya. Rasanya sedikit berdenyut. Pukulan tadi itu lumayan kuat.
"Kau berkelahi? Tidak mungkin, apa kau di bully?"
"Ti...tidak. Mungkin ini karena aku tidak sengaja menabrak tembok tadi siang. Aku hanya kurang hati hati."
__ADS_1
"Apa kau yakin? Kau adik yang ceroboh. Nanti akan aku kompres agar bengkaknya hilang." Allen membuka pintu mobil, keluar dari dalamnya. Aku mengikutinya dari belakang.
Entah sudah berapa kali aku berbohong selama ini. Aku hanya tidak ingin Allen tau hal hal seperti ini. Aku harus menyelesaikannya sendiri, aku sudah besar.