
"Oh, jadi namamu Haru, ya." Kata lelaki itu dengan senyum yang terlihat horor di mataku.
Aku mundur perlahan, serpihan kenangan masa lalu membanjiri otakku. Rasa takut beserta trauma menghantuiku ketika aku melihat lelaki itu.
Tanpa mempedulikan apa pun, aku lari meninggalkan mereka. Aku tak terlalu yakin tentang apa yang terjadi dengan diriku, tapi aku sudah menemukan kembali salah satu bagian dari buruknya masa laluku sebelum aku tinggal di panti asuhan.
Aku kembali ke kelas seorang diri. Perlahan, ku atur napasku yang tersenggal senggal setelah lari dari kelas 1-E yang berada di lantai satu menuju kelasku, 1-B yang lokasinya di lantai dua.
Perasaan panikku perlahan menghilang. Aku menyandarkan punggung di sandaran kursi, berusaha membuat diriku se-rileks mungkin.
Untuk sejenak, aku kembali memikirkannya, maksudku tentang orang tadi, Evan. Laki laki itu adalah salah satu orang yang dulu aku harapkan untuk pergi dari hidupku selama lamanya.
Jika perlu, lebih baik dia mati saja. Oh, biar aku beritahu hubunganku dengannya. Baiklah, mungkin aku akan memberitahumu dari awal. Dari bagaimana aku memulai hidup, terus tumbuh sampai jadi seperti sekarang.
Apa kau ingin tau? Baiklah, mungkin sedikit gambaran akan membuatmu paham tentang bagaimana aku hidup sebelum ini.
Akan aku ceritakan dengan singkat saja, ya.
Pertama, tentang kedua orang tuaku. Aku tak pernah bertemu mereka. Tapi, dari yang aku dengar, ayahku menitipkanku pada saudara perempuannya yang tak bisa memiliki keturunan saat aku masih bayi.
Aku masih mengingat wanita yang merawatku itu, aku memanggilnya bibi Rika. Dia memperlakukanku dengan baik, merawatku sejak umurku masih dua bulan. Memberiku makan dan menganggapku seperti anaknya sendiri.
Jika aku mengingatnya, maka itu seperti sebuah surga. Aku tak pernah memikirkan apa pun, hanya kesenangan dan bermain. Aku bisa tertawa dan tersenyum setiap saat.
Dia juga mengajariku membaca sejak umurku tiga tahun dan membiarkanku menghabiskan waktu dengan buku. Dia begitu lembut, mungkin seperti itulah definisi seorang ibu.
Sentuhannya yang hangat dan kalimatnya yang lembut. Aku selalu mengingatnya, wanita pertama yang aku sukai. Dialah orang yang memberiku hidup dan cahaya hanya dari melihat senyumnya.
Dan tentang ibuku, aku juga tak tau banyak. Tapi, dari desas desus yang pernah aku dengar, ibuku sudah meninggal. Karena itulah ayahku menitipkanku pada saudara perempuannya.
Dan sekarang, entah di mana keberadaan ayah yang meninggalkan anaknya ini. Yah, meski begitu, aku tak terlalu peduli. Jika dia sudah memutuskan untuk meninggalkanku, maka aku tak lagi punya alasan untuk menginginkannya.
Saat usiaku empat tahun, bibi Rika, selaku wanita yang mengurusku mulai jatuh sakit. Dia sering terbaring di tempat tidurnya, batuk berat dan terkadang juga pusing.
Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. Aku tak tau bahwa jika cahayaku itu padam, maka hidupku akan segera berubah kelam.
Setelah sebulan bibi Rika sakit, aku dibawa oleh seseorang yang tak aku kenali. Orang itu berkata bahwa aku akan dirawat oleh keluarga lain.
Bibi Rika tak bisa terus mengurusku dan aku tau betul akan hal itu.
Saat itu, aku berharap keluarga ini akan menjagaku dengan baik dan memperlakukanku layaknya seorang anak.
Mungkin harapan itu terlalu sulit untuk terkabul. Aku yang mengira semuanya akan baik baik saja telah salah. Aku terlalu naif. Di kediaman baru itu, aku kehilangan senyum dan tawaku.
Dibandingkan sebuah rumah, tempat baru itu lebih cocok jika disebut sebagai penjara buatku.
__ADS_1
"Jangan pernah keluar dari ruangan ini."
Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut nyonya besar pemilik rumah yang akan aku tinggali.
Raut wajahnya seolah berkata bahwa dia tidak senang bahwa aku aa di sini.
"Jika masih bersikeras keluar, buatlah dirimu tak terlihat oleh kami. Makanan akan diantar ke dalam dua kali sehari oleh asisten rumah tangga. Kau boleh pergi ke toilet dan mandi. Tidak boleh mengambil makanan atau barang di luar ruangan ini."
Sang nyonya rumah yang bertubuh bulat gempal itu menyebutkan aturan di rumahnya. Dia menatapku dengan malas, seolah melihat sesuatu yang menjijikan.
Rambutnya yang pendek dan bergelimbang membingkai wajah bulatnya, membuat dirinya dua kali lebuh menakutkan.
"Lalu, kau tidak boleh bicara pada siapa pun, tidak ada bermain di luar, tidak ada menonton tv dan tidak boleh mengganggu anak anakku. Dilarang bersuara dan menyentuh apa pun. Jika kau melanggar, kau akan menerima akibatnya."
Wanita itu membalikan badannya setelah memasukanku ke dalam sebuah ruangan pengap. Dari pada disebut sebagai kamar, ruangan ini lebih mirip cocok jika disebut sebagai gudang.
Pencahayaannya kurang bagus karena penerangannya yang hanya menggunakan lampu murah berdaya 5 watt. Udaranya sedikit pengap dan ada banyak debu di sana sini.
Aku duduk di kasur tipis yang terbentang di lantai. Sedikit keras, tapi masih bisa untuk dipakai tidur.
Ada sebuah bantal tua dan selimut yang warnanya pudar, sudah tidak jelas apakah warnanya biru, atau justru abu abu.
Banyak kardus dan barang barang lama yang ditumpuk di tiap sudut ruangan. Ditambah lagi, ukuran ruangan ini yang hanya 3×3 meter membuatnya terkesan sempit dan padat.
Aku berlapang dada menerima semua itu, aku menuruti aturan sang nyonya rumah selama dua sampai tiga tahun dan itu adalah waktu yang sangat panjang.
Aku bisa berkeliling rumah atau sekedar pergi ke taman belakang secara diam diam. Begitulah aturannya, asal aku tidak terlihat oleh mereka.
Hal itu membuat aku terbiasa berjalan mengendap endap, langkah kakiku jadi ringan dan aku bisa memperkirakan di mana saja posisi setiap orang dalam radius belasan meter.
Tubuhku juga jadi lebih kurus dan kulitku pucat karena jarang terkena sinar matahari. Aku pernah beberapa kali keluar diam diam setelah memastikan tak ada orang di rumah, hanya untuk menghirup udara segar dan merasakan hangatnya sinar matahari.
Makanan yang aku makan juga jauh dari kata bergizi. Terkadang aku diberi satu atau dua potong roti tanpa selai. Atau jika beruntung, aku bisa makan nasi dengan tahu atau ikan.
Asisten rumah tangga yang mengantarkan makanan padaku terkadang menambahkan sesuatu untuk dimakan seperti buah atau kue.
Dia adalah orang baik, terkadang juga mengajakku bicara secara diam diam dan membersihkan gudang tempatku tidur. Kadang dia juga memberiku beberapa pakaian bekas anaknya yang masih bagus untuk aku kenakan.
Setiap harinya aku habiskan untuk bermain dengan barang barang lama yang ada di dalam gudang. Atau membaca buku buku tua yang ada dalam kardus, mengeja sedikit demi sedikit sampai aku hafal tiap kata dan tanda bacanya.
Masalah yang muncul adalah anak anak dari nyonya rumah. Dua orang anak laki laki bersaudara yang mendapatkan segalanya, dan itu memang berarti segalanya. Apa saja yang mereka minta pasti mereka peroleh.
Anak anak lelaki dari nyonya rumah itu adalah dua bersaudara, sang kakak bernama Gavin, berumur tujuh tahun. Dan sang adik Evan, yang berumur enam tahun. Saat itu, umurku baru sekitar lima tahun.
Dua saudara ini tau keberadaanku di rumah itu setelah sebulan lamanya aku tinggal di sana. Aku hidup tanpa suara, hening dan tenang.
__ADS_1
Sampai suatu ketika, mereka melihat asisten rumah tangga itu membuka pintu gudang sambil membawa makanan.
Mereka menemukanku dan itu bukanlah hal yang baik. Mereka tidak mengajakku bermain ataupun berteman. Mereka mulai menggangguku dan mengusik ketenanganku.
Ini bukan usikkan biasa, bisa dibilang, kalau aku dibully oleh mereka. Terkadang mereka memukuliku, atau melempariku dengan barang barang dalam gudang sehingga semuanya jadi berantakan.
"Memohonlah, mungkin kami akan meninggalkanmu lebih cepat hari ini." Kata Gavin, sang kakak. Dia menyeringai dan melayangkan satu pukulan menggunakan penggaris berbahan besi.
Plak...
Penggaris itu telak mengenai punggungku dan itu terasa sangat sakit. Bagian tubuhku yang terkena pukulan penggaris itu berdenyut denyut.
"Aku juga, menangislah dan aku akan berhenti mengerjaimu." Ucap Evan sambil sedikit tertawa. Dia menggunakan sebuah lidi sebagai pemecut.
Aku yang terduduk berusaha melindungi diriku dari pukulan mereka berikutnya. Aku sendirian dan tidak berdaya. Semua orang seolah membenciku. Aku hidup tanpa tau apa tujuanku hidup.
Aku yang masih berusia lima sampai enam tahun saat itu tak pernah memberikan perlawanan. Aturan yang diberikan oleh nyonya rumah seolah mencekik leherku. Aku tak boleh mengganggu anak anaknya.
Fakta bahwa aku tak pernah mengganggu mereka itu adalah benar. Tapi sayangnya, aku yakin kalau nyonya rumah ini akan lebih percaya pada anak anaknya sendiri jika seandainya aku mengadu. Lagi pula, statusku hanya menumpang tinggal.
Mereka pernah mengurungku di kamar mandi, mengikatku di dalam keranjang sampai beberapa kali menggigit atau menamparku. Tubuhku dipenuhi memar dan luka karena mereka.
Mereka senang menyiksaku dan membuatku menangis sampai aku memohon pada mereka.
Terkadang, aku menangis sendiri saat malam, dan merenungi nasibku sendiri. Bagaimana mungkin anak berumur lima tahun sepertiku mengalami hari yang buruk, sementara anak lain bisa dengan bahagia bermain dan mendapat kasih sayang.
Itulah alasan aku membenci mereka, sangat benci sampai sampai aku berharap mereka mati dan pergi dari hidupku.
Asisten rumah tangga yang pernah beberapa kali melihat perlakuan dua saudara itu padaku tak bisa berbuat banyak.
Sampai suatu ketika, tanganku bergerak sendiri dan tidak sengaja mendorong salah satu dari mereka, yaitu Gavin sang kakak sampai kepalanya terbentur dan mengeluarkan darah.
Itu sudah cukup untuk membuat sang nyonya rumah marah dan mengirimku ke panti asuhan.
"Kau sudah selesai di sini, dasar psikopat!" Nyonya rumah itu memegangi kepala putra sulungnya yang mengeluarkan darah.
"Sudah aku katakan, jangan mengganggu anakku! Berani sekali kau melukainya! Pergilah dan nikmati hidupmu yang tak berharga itu! Dasar tidak tau terima kasih! Tidak tau malu!" Nyonya besar itu menghampiriku dan membentakku, sambil sesekali mendorong tubuh kurusku yang ringkuh.
Dan akhirnya, aku dikirim ke panti asuhan saat itu juga. Tak ada kesempatan kedua untuk tinggal di sana dan aku juga sudah tak ingin berada di tempat itu.
Di panti asuhan, setidaknya ku bisa merasakan kehidupanku sendiri, tanpa harus berdiam diri di dalam gudang sepanjang hidupku.
Dan setelah itu, kau tau kelanjutannya, kan? Aku tak perlu membahasnya lagi, karena setiap aku mengingatnya, napasku sesak dan dadaku terasa sakit.
Begitulah yang terjadi, aku kembali bertemu dengan Evan. Orang yang sering menggangguku dulu, saat aku masih kecil. Aku merasa sedikit takut jika kembali mengingat masa masa itu.
__ADS_1