Jalan Kedua

Jalan Kedua
Episode 31: Orang aneh


__ADS_3

"Lalu, apa kakek sudah tau siapa yang melakukannya?" tanya Allen.


"Entahlah, aku belum tau. Saat itu, ada sekitar delapan orang yang membantuku mengerjakannya di sana. Aku tak bisa tiba tiba menuduh seseorang, kan?" jelas kakek.


"Lalu bagaimana sekarang? Apa tidak apa apa seperti ini?" tanyaku.


Berita ini membuatku memikirkan banyak hal. Apa saja bisa terjadi, meski pun sebelumnya aku berpikir semuanya akan berjalan dengan lancar. Dan inilah yang ku dapat. Bingo! selesai sudah.


"Mungkin tidak apa apa, apa boleh buat. Tapi yang pasti, kita akan segera tau siapa pelakunya, tak perlu khawatir, jika kau memang ingin segera tumbuh, aku akan mengusahakannya lagi," terang kakek.


Aku menundukan kepala, mencerna kalimat yang dilontarkan kakek barusan. Tidak ada yang tau siapa yang mengambilnya dan tidak ada yang tau apa yang mungkin terjadi selanjutnya.


"Yang terpenting adalah dirimu. Kau yakin baik baik saja, kan? Ada banyak bahan di dalamnya. Jika kau merasa ada sesuatu yang mengganjal, katakan saja," tambah kakek.


Aku mengangguk pelan, mengiakan kalimatnya. Tak ada banyak hal yang bisa dilakukan tentang ini. Yah, apa boleh buat.


"Ngobrolnya sudah selesai? Masakanku sudah dingin nih. Mau makan atau tidak?" Allen segera memotong pembicaraan kami.


Langsung saja aku masuk ke formsi meja makan. Aku duduk di kursi yang biasa ku tempati, begitu juga kakek dan Allen, sang koki kita yang sedang gila gilanya memasak belakangan ini.


Seperti biasanya, masakan yang dibuat Allen tak pernah mengecewakan. Semuanya seolah terlihat berkilauan di setiap sisinya, membujuk siapa saja untuk segera memakannya.


Jika makanan punya mulut, maka mereka akan berkata, "Hei...makanlah aku, aku ini lezat. Tak ada ruginya jika kalian memakanku."


Dan untunglah aku tak pernah mendengar makanan bicara. Bukannya lapar, aku malah akan kehilangan selera makanku.


"Eh, makan malam kali ini kau memasak ikan? Dan yang ini digoreng? Bukannya kau takut menggoreng ikan?" celetukku begitu aku menyadari ada sesuatu yang berbeda malam ini.


Itu benar, ikan goreng yang dibaluri dengan sambal merah itu terlihat menggiurkan. Ah, tapi kelihatannya pedas, apa aku bisa memakannya? Aku tak pernah bisa akur dengan makanan pedas sejauh ini.


"Hmm? Sudah aku katakan, aku bisa membuat apa saja. Jika hanya sekedar menggoreng ikan, itu bukan hal yang besar. Aku hanya perlu sedikit berjuang," jelas Allen bangga.


"He~ aku jadi menyesal tidur sepanjang hari. Aku yakin kalau tadi kau berteriak teriak saat mau membalik ikannya. Aku berharap bisa melihatmu melakukannya," godaku sambil tersenyum jahil.


Aku meraih piring porselen yang ada di depanku, lantas mengambil nasi dan meletakannya ke atas piring dengan hati hati. Nasinya masih panas, uap keluar dari tiap butirnya.


"Kau mulai menyebalkan ya. Tunggu saja nanti, akan ku buat kau menangis. Dan saat itu terjadi, akan ku rekam wajahmu yang merah dan penuh air mata itu, aku akan tertawakan kau seumur hidup," tantang Allen.


Aku hanya sedikit tertawa. Memangnya apa yang bisa dilakukannya sampai membuatku bisa menangis? Itu tidak akan pernah terjadi, dia tidak akan pernah bisa melakukannya.

__ADS_1


Tok tok tok


Tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu di sela sela nyaring dentingan sendok dan piring. Sepertinya ada seseorang yang datang. Siapa yang mau berkunjung di jam seperti ini?


"Biar aku saja yang buka," ucapku sembari bangkit dari kursi, meninggalkan meja makan.


Aku berlari lari kecil menuju pintu depan. Suara ketukan pintu masih terdengar beberapa kali, si pengetuk sepertinya memiliki urusan penting, sampai tak mau berhenti mengetuk pintu. Atau mungkin, dia memang suka melakukannya.


Begitu aku sampai, ku tarik engsel pintu itu perlahan. Maka pintu itu pun mulai terbuka, seseorang sudah berdiri di sana.


Orang itu adalah seorang lelaki muda, ia menatapku heran begitu pintu itu terbuka lebar. Tubuhnya tinggi, berambut hitam dan sedikit acak acakan. Matanya terlihat sedikit bengkak dengan lingkaran hitam di sekitarnya. Apa mungkin dia kurang tidur?


Jika aku kurang ajar, aku akan menyebut penampilannya seperti seorang gelandangan. Bagaimana tidak? Rambutnya acak acakan dan pakaiannya lusuh seperti belum disetrika, sangat tidak terurus.


Dia juga membawa sebuah tas ransel besar, seperti seorang anak yang baru saja kabur dari rumah karena bertengkar dengan keluarga atau suatu masalah.


Tapi, begitu aku melihat jam tangan bagus yang dipakainya di tangan kiri dan smartphone yang ada di genggamannya, aku langsung membuang jauh semua pikiran itu.


"H-halo?" sapaku pada lelaki itu.


Dia hanya diam beberapa saat sambil memperhatikanku. Apa ada yang salah denganku?


"Kau... siapa?" ucapnya lirih.


Hmm...aku seperti pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya. Kenapa semua orang selalu bertanya aku siapa setiap kali aku membukakan pintu? Allen juga begitu waktu itu.


Tapi pada kesempatan kali ini, aku yakin hal yang sama tidak akan terjadi lagi. Ini berbeda, aku yakin kalau dia bukan saudara Allen, karena Allen mengaku bahwa ia tidak punya saudara atau pun sepupu.


"Haru, kenapa lama sekali?"


Allen datang, ia menghampiriku yang tengah mematung di depan pintu, ia ikut memeriksa siapa yang datang.


"Ha! Akhirnya ketemu! Kenapa kau selalu seenaknya saja?! Jangan membuatku mengurus segalanya! Aku juga punya kehidupan tau!"


Pria itu langsung marah marah tak jelas pada Allen begitu melihatnya. Namun sayanganya, wajah Allen terlihat tidak peduli, sepertinya mereka saling kenal. Tapi siapa dia?


"Haru, tutup saja pintunya. Abaikan saja dia," perintah Allen.


"Tapi...dia..." ucapku ragu.

__ADS_1


"Aku sudah susah susah kemari dan ini yang aku dapatkan?! Aku harap kau hilang saja dari peradaban, kenapa tuhan menciptakan makhluk sepertimu?! Ini tidak adil!" jeritnya.


"Sudah, tutup saja pintunya, Haru," tegas Allen.


Lelaki yang berdiri di depan pintu itu terlihat makin kesal, dia tidak mempedulikan apa pun, dan langsung menyelosor masuk ke rumah kami. Dengan masih memakai sepatu, dia menginjak lantai sehingga lantai keramik putih itu pun kotor dibuatnya.


"Woy, blonde! Kau tidak mendengarkanku?!" teriak lelaki itu.


"Berhentilah menyebutku blonde, dasar benang kusut!" balas Allen.


"Kau playboy paling menjijikan di dunia!"


"Kau jomblo paling menyedihkan yang pernah ku kenal!"


"Aku bukan jomblo! Aku single dan aku tidak menyedihkan, dasar blonde!"


"Berhentilah menyebutku blonde, dasar benang kusut tak laku!"


"Kau pikir kau siapa?! Dasar blonde playboy menyebalkan, kau masih bisa berkeliaran seperti ini karena aku, tau!"


"Aku tidak butuh bantuan jomblo kusut sepertimu!"


Maka, adu mulut yang tak terhindarkan pun akhirnya pecah antara si blonde playboy dan benang kusut tak laku. Aku tak bisa berbuat apa apa sekarang.


Tapi cukup menyenangkan melihat mereka bertengkar seperti ini, terkesan lucu. Mungkin aku punya sedikit jiwa iblis karena senang melihat pertengkaran mereka, hehe...


Saat salah satu dari mereka mulai mengejek, maka yang lainnya akan membalas dengan hinaan terus menerus. Baiklah, ini mulai berlebihan. Kenapa mereka belum berhenti juga? Dan anehnya, hanya perang ejek, tak ada main pukul dan tangkis.


Aku menelan ludah, apa yang harus ku perbuat agar mereka berhenti?


"Ada apa ribut ribut?"


Kakek telah bergabung di ruang tamu. Ucapannya yang singkat itu berhasil menenangkan adu bacot antara Allen dan lelaki muda yang tak ku kenal tadi.


"Ternyata kau, lama tidak bertemu, Liam, apa kabar?" sapa kakek.


"Oh, kakek. Lama tidak bertemu," ujar lelaki muda itu.


Eh, jadi mereka memang saling kenal?

__ADS_1


__ADS_2