
"Ya, anak ini sangat penting. Karena dia adalah objek terbaik kami untuk sekarang dan kami harus segera menemukannya." Pria yang dipanggil maheer itu memasang tampang serius.
Tidak...ini gawat. Apa aku akan segera berakhir di sini? Keajaiban, kumohon datang dan bantulah aku...
"Seorang anak? Seperti apa rupanya? Mungkin aku bisa sedikit meringankan pekerjaanmu." Kakek melipat tangan di depan dada.
Maka, langsung saja pria yang ada di sebelah maheer mengeluarkan selembar foto dan mengulurkannya kepada kakek.
Matilah aku, mungkin kakek akan menyerahkanku pada mereka karena kakek mengenal mereka. Apa aku harus lari dari sini sekarang? Tapi pasti akan langsung ketahuan. Jadi, sekarang harus bagaimana?
"Ini..., tidak mungkin." Kakek memperhatikan foto itu dengan seksama. Apa mungkin itu adalah fotoku? Aku tak bisa melihatnya dari jarak sejauh ini. Dan jika itu benar, mungkin semua akan berakhir.
Jantungku berdetak begitu cepat karena takut. Napasku jadi sesak, seakan udara tak mau masuk lagi ke rongga dada.
"Bagaimana bisa? Rambutnya... putih?"
Apa aku tak salah dengar tadi? Rambut putih? Berarti... bagus, mereka belum tahu rupaku yang sekarang.
"Ya, anda pasti pernah mendengarnya tuan aries. Rambut putih dalam usia belia, syndrom marie antonitte." Maheer menjelaskan dengan singkat.
"Jadi syndrome marie antonitte ya. Dan tak kusangka dia bisa lari dari kalian. Bukankah agnes adalah orang yang sangat ketat sebelumnya? Tapi kurasa... aku tak pernah melihat anak seperti ini."
Syukurlah, kakek tidak memberi tahu mereka tentangku. Atau apa mungkin kakek memang tak menyadarinya? Warna rambut bisa membuatmu terlihat sangat berbeda. Apalagi jika warnanya sangat kontras.
"Begitukah, tuan? Terima kasih sudah mau meluangkan sedikit waktumu. Oh, dan anda selalu diterima jika anda mau bergabung dengan kami." Pria yang bernama maheer itu menatap kakek dengan senyum ramah.
"Ya, mungkin aku akan memikirkannya nanti. Dan bolehkah aku membawa foto yang satu ini? Syndrome ini sangat langka. Kau tau maksudku kan? Ah, dan tolong tinggalkan nomor telponmu juga jika nanti aku berubah pikiran."
Pria itu mengeluarkan sebuah pena dari saku dan menuliskan sesuatu di belakan foto.
"Senang bertemu anda, tuan aries. Dan satu lagi, jika anda bertemu dengan anak itu, maka anda harus berhati hati. Sebenarnya dia itu...adalah monster."
Maheer menyipitkan matanya dan memasang senyum yang terkesan misterius. Lalu mereka berdua berlalu, keluar dari area parkir.
Sekitar lima menit, kakek tak bergerak dari tempatnya berdiri. Aku akhirnya kembali ke tempat kakek setelah memastikan mereka telah benar benar pergi.
__ADS_1
Kakek memandangku yang mendekat kearahnya. Aku tak tau harus bilang apa jadinya jika seperti ini. Situasinya jadi benar benar cangguang.
"Anu, kakek...aku..."
"Tak apa, masuklah dulu ke mobil."
Kakiku melangkah dengan patah patah, dalam keadaan canggung ini mobil yang kami naiki terasa sangat pelan. Bahkan radio pun tak dinyalakan.
Aku hanya diam menatap kakiku sendiri. Kesenangan sehari ini rasanya lenyap seketika hanya karena bertemu kedua orang itu.
"Kita masih punya waktu, bagaimana kalau ke taman kota sebentar?"
Kakek memulai percakapan, dan itu membuatku sedikit terkejut. Aku mengangguk tanpa mengeluarkan kata.
Dia tak menanyakan apa pun padaku terkait orang yang ditemuinya ataupun alasan aku lari meninggalkannya. Atau apa mungkin kakek hanya berpikir kalau aku takut pada orang asing? Otakku tak bisa diajak berpikir. Semuanya jadi runyam.
Setelah sepuluh menit, mobil pun melambat. Lalu menepi dan berhenti sepenuhnya. Kakek turun dari mobil dan aku mengikuti tepat di belakangnya.
"Apa kau pernah kesini?"
"Mungkin...tidak." Aku menjawab dengan singkat.
"Kau kelihatan tak yakin, apa kau masih memikirkan kejadian tadi? Ayo kita duduk dulu. Ah, apa kau mau crepes? Tunggulah di sini sebentar."
Kakek meninggalkanku dan pergi menuju truk makanan. Aku memilih mencari bangku taman terdekat dan duduk. Suasananya sangat nyaman, aku bisa merasakan tiupan angin sore dan cahaya matahari yang sudah mulai redup. Suara tawa anak anak kecil dari area bermain terdengar jelas.
Mereka terlihat senang sekali menaiki perosotan dan ayunan. Aku merasa sedikit iri, aku tak pernah tertawa seperti itu saat seusia mereka.
Untuk sesaat, ada rasa penyesalan yang menyeruak dan menerobos keluar dari dada. Rasanya sedikit sakit dan sesak. Aku yang sekarang hanya bisa menerima itu. Ternyata aku memang orang yang lemah. Aku mudah iri, mudah marah dan mudah terlena. Semua yang ku punya hanya sifat buruk yang tak berarti.
"Nih, aku pilihkan yang pisang untukmu." Kakek mengulurkan salah satu dari crepes gulung yang dibawanya. Diatasnya ada es krim dan potongan pisang. Aku tak pernah makan ini sebelumnya.
"Ayo, cobalah."
"iya, hm...ini...enak..."
__ADS_1
Mataku membesar saat suapan pertama meluncur ke dalam mulutku. Es krimnya meleleh saat menyentuh lidah dan crepesnya juga manis. Rasanya seperti ada di surga, karena aku adalah pecinta makanan manis.
"Syukurlah kalau kau suka. Mm... Haru, tentang masalah yang tadi...aku ingin kau mengatakan sesuatu tentang itu."
Deg, kenapa harus sekarang? Di saat aku sudah mulai melupakannya?
"Aku yakin kau adalah anak di foto ini." Kakek mengeluarkan selembar foto dari sakunya. Ada seorang anak laki laki berambut putih dan bermata besar dengan iris berwarna hitam di sana. Ya, itu memang aku.
Tapi tunggu dulu, bagaimana kakek tau? Bukankah seharusnya dia tak berpikir itu aku karena warna rambutnya berbeda?
"Apa maksudmu, kek? Bukankah rambutnya saja sudah berbeda?" Aku berusaha membuat alasan.
"Haru, dengar. Aku adalah kakekmu sekarang dan kau adalah cucuku. Aku yakin ini adalah dirimu. Awalnya aku tak mempermasalahkan latar belakangmu, tapi ternyata masalahnya lebih besar. Jadi sekarang jujurlah padaku."
Kakek menyebut semua maksudnya dengan sangat jelas. Aku jadi tak bisa mengelak. Aku hanya bisa menunduk sambil membisu. Aku tak yakin bisa jujur padanya, jujur pada diri sendiri saja sedikit sulit. Dasar, aku memang pengecut.
"Haru, aku akan membantumu. Aku tak akan membiarkanmu seperti ini terus. Bukankah aku sudah berjanji padamu akan membarikan apa pun yang kau butuhkan?"
Aku masih terdiam, tak tau harus memberikan respon yang seperti apa. Aku jadi tak bisa berpikir dengan tenang.
" Jadi beritahu aku semuanya agar aku tau apa yang kau butuhkan. Ceritakanlah dari awal dan itu berarti benar benar dari awal. Ini juga demi dirimu. Jika kau tak suka ada di sana maka aku tak akan membiarkan mereka membawamu."
Kakek mengelus kepalaku perlahan.
"Tak apa, Haru. Katakan saja semuanya." Kakek mulai melunak, dia menunjukan senyumnya dengan tulus.
Memang tak ada pilihan lain, akan aku beritahukan saja semuanya.
"Baik, aku mengerti kekek mengkhawatirkanku. Terima kasih, tapi bisakah aku memberitahumu di rumah saja? Aku merasa... sedikit tidak nyaman."
"Hah..., baiklah. Jika itu membuatmu senang."
Semua kejadian masa lalu yang tak ingin ku ungkap akan segera terlukis jelas. Kenangan yang bagai mimpi buruk itu akan terus mengekang hidupku. Dan jalan takdir yang menghubungkan hari ini dan kemarin akan mengeras sehingga tak bisa terpatahkan lagi.
Dunia yang fana ini terus merenggut hari hari bahagia, sehingga cahaya keemasan pun tak lagi dapat ku sentuh. Entah akan seperti apa hidup ini nanti.
__ADS_1