
Waktu bergulir begitu cepat. Sampai terkadang kita tak menyadari sudah banyak hal yang telah berlalu. Semakin lama, maka kita juga akan semakin dewasa. Waktu yang tak terhentikan itu selalu membawa banyak hal, banyak perubahan.
Waktu tak bisa dicegah, bagai suara melody yang terus merambat di udara. Ada, tapi tak terlihat. Kau hanya bisa yakin ia ada karena dapat mendengarkanya tanpa bisa melihat atau menyentuhnya.
Waktu pun terus berputar di sekelilingku. Mungkin sudah sekitar satu minggu aku bersekolah dan sudah ada banyak hal yang mulai berubah, kecuali tinggiku. Dan juga ada beberapa hal lainnya yang tak bisa diubah oleh waktu seperti rasa kasih yang sejati.
Sekarang sudah sekitar jam dua siang. Waktunya untuk pulang dan melupakan beban sekolah untuk sesaat. Aku membereskan buku dan alat tulis, lalu dengan cepat memasukannya ke dalam tas.
Pelajaran telah berakhir untuk hari ini, beberapa orang sudah duluan keluar kelas. Beberapa ada yang masih berada di kelas untuk menjalankan agenda piket atau hanya sekedar mengobrol.
"Haru, pulang bareng yuk."
Arya menyapaku, dia sudah selesai membereskan barang barangnya. Dia berdiri santai di sebelahku. Istilah 'pulang bareng' bagi kami hanyalah berjalan bersama dari kelas sampai gerbang depan karena aku akan naik mobil jemputan kakek setelahnya.
"Tunggu!"
Seseorang berteriak ketika aku dan Arya sudah hampir mendekati pintu. Aku merasa deja vu. Seperti yang kuduga, itu adalah Yuna. Gadis dengan rambut sepanjang dada itu buru buru mendekati kami.
"Aku mau bicara."
Dia menatapku dengan serius. Kali ini apa lagi yang telah kulakukan sampai dia memandangku seperti itu? Terakhir kali dia seperti itu ketika aku masuk ke kelas tanpa diketahui seorang pun dan itu membuatnya marah. Dia ketuanya, mungkin karena itu.
"Apa aku melakukan kesalahan? Maafkan aku."
Aku buru buru minta maaf sebelum dia mendesakku seperti sebelumnya. Yuna berbeda, dia sebenarnya punya wajah cantik, tapi sayangnya lebih sering memasang tampang dingin atau masam.
"Bukan, apa kau tidak ingin ikut kegiatan klub atau sejenisnya? Apa tak ada yang membuatmu tertarik? Ini sudah satu minggu."
Dia bicara sedikit lebih tenang. Tidak ada wajah masam atau suara yang berapi api. Jika dia selalu seperti ini pasti akan lebih baik. Bisa bisa dia akan jadi sangat populer dan menarik banyak hati siswa laki laki.
"Kegiatan klub? Apakah harus?" Aku menjawab ragu ragu. Sepertinya menyenangkan sih, tapi pasti akan merepotkan juga. Kegiatan klub melibatkan banyak orang dan aku tak pernah cocok dengan hal itu. Aku tak terlalu suka keramaian.
"Tentu saja, setidaknya kau harus ikut satu klub setiap semester. Kau tau kan, mereka melakukannya sepulang sekolah. Lagi pula dua bulan lagi akan ada ujian, apa kau mau lapormu kosong karena tak ikut kegiatan klub?" Yuna menjelaskan dengan lebih rinci.
"Maaf, aku biasanya langsung pulang. Jadi tidak tau ada yang seperti itu. Dan kenapa ujiannya cepat sekali?" Aku menggaruk kepala sambil tersenyum.
Arya malah tertawa di sampingku. Aku menatapnya tak mengerti. apa ada yang salah?
"Bukannya kau masuk setelah empat bulan sekolah? Tentu saja ujian dua bulan lagi. Ujian diadakan setiap enam bulan."
Arya menggeleng geleng. Aku bahkan tidak tau kalau aku masuk ke sekolah ini setelah empat bulan semester pertama berjalan. Lalu bagaimana dengan pelajaran sebelum aku mulai? Sepertinya aku sudah ketinggalan banyak.
"Arya, klub apa yang kau ikuti?"
Baru saja aku bertanya, seseorang masuk ke dalam kelas dan berlari menghampiri Yuna. Dia adalah seorang gadis cantik berambut panjang, rambutnya yang cantik diikat kebelakang dengan rapi. Roknya yang hanya selutut bergoyang goyang saat dia berlari.
Dia tersenyum lebar sekali sampai matanya terlihat menutup. Lesung pipit melengkapi senyumnya yang indah itu. Singkat kata dia terlihat sangat riang dan cantik.
"Yun Yun! Pulang bereng yuk."
Gadis itu tertawa, dia memeluk Yuna dari belakang. Kelihatannya mereka sangat dekat. Dan tunggu dulu, tadi dia memanggil Yuna dengan sebutan apa? Yun Yun?
"Lily, tunggu sebentar ya." Yuna tersenyum seperti gadis normal kebanyakan. Tapi kenapa sebelumnya terlihat sangat berbeda? Kemana perginya Yuna yang garang seperti banteng mengamuk itu? Apa gadis berambut panjang ini adalah counter sifat masamnya Yuna?
__ADS_1
"Aku mau ke kafe juga, Yun Yun yang traktir ya."
Aku hanya diam menatap mereka berdua. Dan siapa gadis ini? Yuna memanggilnya Lily. Siapa dia? Apakah teman dekat Yuna?
"Ah, aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
Dia melepaskan pelukannya dari Yuna, lalu menghampiriku sambil tersenyum. Dia terus mendekatiku. Dari jarak yang dekat ini, aku bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas, bahkan aroma parfum yang dipakainya sampai tercium. Aku refleks sedikit mundur. Dia cantik, sampai aku sedikit berdebar dibuatnya.
"Lily, perkenalkan ini Haru. Dia baru masuk minggu ini. Dan Haru, ini Lily dari kelas 1-E." Yuna segera memperkenalkan kami. Aku sedikit kikuk, tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Dia mengulurkan tangan, lalu aku menjabat tangannya.
"Kalau begitu, kupanggil Haruru saja, ya?" Dia kembali tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Dan itu rasany seperti aku baru pertama kali melihatnya tersenyum, begitu lepas tanpa beban.
"Haruru?" Aku bingung, kenapa dia mengubah namaku? Dan itu terdengar sedikit aneh. Arya tertawa di sebelahku.
"Nama itu cocok sekali denganmu. Terdengar sangat imut."
Tawanya semakain menjadi jadi, itu membuatku sangat malu. Dan aku yakin bahwa sekarang pipiku sudah memerah. Apa apaan gadis ini? Seenaknya saja mengubah namaku.
"Apa kamu tidak suka?"
Lily menatapku, ekspresinya langsung berubah.
"Ti...tidak apa apa."
Aku buru buru menjawabnya. Aku sebenarnya sangat keberatan. Bahkan sangat sangat keberatan. Tapi apalah daya.
"Arya, jangan menertawakan Haruru terus."
Lily menatap Arya dengan jengkel. Akhirnya dia berhenti tertawa. Gadis ini juga terlihat cantik saat marah. Dia adalah definisi gadis berpenampilan sempurna. Mata besar, kulit cerah dan rambut panjang yang terawat. Kurang lebih seperti itu.
Debu sedikit berhamburan ketika para gadis di belakang itu menggerakan sapunya. Hidungku seolah dipenuhi dengan partikel partikel kecil yang bisa menyebabkan gatal atau gejala alergi.
"Lily suka memberi panggilan kesayangan, jadi tidak masalah, kan? Itu tandanya dia senang bertemu denganmu." Yuna ikut tersenyum, auranya langsung berubah 180 derajat. Ternyata benar, Lily adalah counter sifat garangnya Yuna.
"Aku teman dekatnya Yun Yun. Haruru, ayo kita berteman baik juga. Rambutmu cantik sekali, apa kamu mewarnainya?"
Lily kelihatan sangat tertarik. Beberapa orang di kelas juga menanyakan hal yang sama. Dan sedikit aneh bagi seorang laki laki sepertiku menerima pujian dari seorang gadis yang mengatakan kalau rambutku cantik.
Mereka pikir aku mengecat rambut jadi coklat, tapi itu tidak benar. Rambutku memang seperti itu. Awalnya hitam, lalu putih karena terkena syndrome marie antonitte. Setelah itu aku sadar kalau warnanya jadi coklat.
"Tidak, ini memang sudah seperti ini." aku ikut tersenyum saat melihatnya. Entah kenapa dia seperti peri pembawa senyuman bagi setiap orang sehingga siapa pun akan tersenyum saat melihatnya.
"Lalu, kenapa tidak memanggil Arya dengan nama kesayangan juga?"
Aku menceletuk, karena masih tak terima ditertawakan dengan panggilan 'Haruru'. Kalau dipikir pikir, sepertinya Arya juga berteman baik dengan Lily, juga Yuna. Mereka terlihat santai sekali saat bicara seperti itu.
"Tidak ada, Arya pernah jahat padaku?"
"Kenapa?" Aku refleks bertanya.
"Dia pernah menolakku, jadi aku mencabut nama panggilan spesialnya. Aku tak mau memanggilnya dengan nama yang spesial."
Ekspresi Lily kembali berubah, tapi masih terlihat cantik. Sementara Arya hanya nyengir, tak terlalu mempedulikan. Ada apa dengan mereka?
__ADS_1
"Menolakmu? Apa dia tak mau berteman denganmu?" Aku kembali bertanya. Yuna menepuk dahinya.
"Ah, kami duluan ya. Sampai jumpa besok."
Arya buru buru berlari sembari menarik pergelangan tanganku. Kami berdua akhirnya meninggalkan kedua gadis itu di kelas. Setelah melewati beberapa ruang kelas, Arya akhirnya memperlambat langkahnya. Kami kembali berjalan dengan kecepatan normal.
"Kenapa kau menarikku?"
Aku meliriknya, masih tak mengerti maksud dari tindakannya itu. Lorong lorong antar kelas masih ramai. Ada banyak siswa yang berjalan hilir mudik kian kemari. Ini wajar, mengingat sekarang adalah jam pulang sekolah.
"Itu... sedikit sulit dijelaskan. Dan sebaiknya kau juga tidak perlu tau."
Arya tertawa kecil. Kami berjalan bersisian melintasi ruang ruang kelas dan taman kecil di beberapa sudut lapangan. Taman taman kecil itu dipenuhi dengan tanaman hijau dan berbagai macam bunga.
"Kenapa?" Aku masih tak puas dengan jawabannya. Ini adalah salah satu sifatku, tidak akan berhenti sampai mendapat jawaban.
"Kau masih terlalu kecil, ini masalah orang dewasa tau..."
Arya mengusap kepalaku dengan gemas. Sejak beberapa hari ini dia mulai suka melakukannya, seperti kakek. Mungkin karena penampilanku yang masih terlihat seperti anak umur dua belas tahun, padahal usiaku yang sekarang sudah empat belas tahun.
"Oh, besok hari minggu. Mau pergi hang out?"
Arya masih konsisten dengan langkah kakinya. Beberapa orang lalu lalang di depan kami dan menyapa sekilas lalu. Dia sepertinya cukup terkenal di sekolah ini. Mengingat dia punya wajah tampan menawan dan tubuh yang tinggi.
Baru baru ini aku juga sadar kalau dia pandai menulis puisi dan bermain gitar. Dia juga bagus dalam pelajaran dan olahraga. Maka gadis mana yang bisa menolak dirinya?
"Hang out?"
Aku bertanya balik. Aku tak pernah mendengar istilah itu. Apakah itu sesuatu yang bisa dimakan? Atau mungkin judul buku?
"Iya, kita bisa pergi keluar dan jalan jalan. Pergi ke kafe atau menonton. Kau tau, seperti kencan." Arya terlihat bersemangat, tapi kencan itu apa?
"Eh, maksudku bukan kita yang pergi berkencan, itu singkat katanya agar kau mengerti. Kita ini laki laki. Kita bisa habiskan waktu bersama sebagai teman dekat. Jadi bagaimana? Atau apa mau main ke rumahku saja?"
Angin bertiup pelan siang itu, begitu lembut dan elegan. Tapi tetap mengumbar kesejukan. Dahan pohon dan daun dibuatnya menari nari. Hari ini tidak hujan, lebih ke arah panas dan cerah. Cuaca yang seperti ini membuatku merasa sedikit tenang.
"Mungkin aku harus tanya kakek dulu."
Kami akhirnya sampai di depan gerbang setelah melewati lapangan yang panjang. Mobil hitam kakek sudah terparkir di sana sejak tadi.
"Arya, aku duluan ya. Sampai jumpa."
Aku berlari meninggalkannya sambil melambaikan tangan. Lalu langsung saja kubuka pintu mobil itu dan masuk ke dalamnya. Kakek sudah siap sedia di dalam mobil.
Hari ini menyenangkan sekali. Aku baru saja mendapat teman baru, seorang gadis cantik bernama Lily. Oh, dan aku lupa menanyakan nama lengkapnya.
Tapi sama sekali bukan masalah, ternyata punya teman itu tidak buruk, mungkin dulunya aku yang sangat buruk sampai tak ada yang mau berteman denganku. Bukan masa lalu yang baik, bukan?
Masa lalu berganti menjadi masa sekarang, dan masa sekarang akan segera bertransformasi menjadi masa depan.
Hidup terkadang tak seburuk yang kau kira. Tapi jika kau terlalu enteng menanggapinya, maka kau juga yang akan rugi.
Singa selalu mengincar mangsa yang lengah, tapi bukan berarti mangsa yang waspada tidak akan pernah masuk ke dalam target perburuannya.
__ADS_1
Jadi, berhati hatilah...